Selama satu hari penuh, mulai puku1 07.15 hingga 16.00 WIB, Sabtu (11/2) SMK N 1 Panjatan menggelar Pelatihan Pendidik Sebaya (PS) dan Konselor Sebaya (KS) yang dilaksanakan yang dilaksanakan di ruang pertemuan sekolah bersangkutan. Kegiatan pelatihan yang dibuka oleh Kasek Drs. E Sigit Nursugiantoro ini merupakan kegiatan rutin tahunan dalam rangka menjaga kesinambungan dan eksistensi Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolah tersebut yang telah mencapai tahap Tegak sejak tahun 2011 lalu. Tahap Tegak adalah tahap menengah dalam klasifikasi PIK Remaja, di mana kelompok tersebut dari sisi materi yang diberikan, kegiatan yang dilakukan dan dukungan serta jaringan yang dimiliki telah cukup lengkap dan mendekati kesempurnaan. Di kelompok ini selain telah ada KIE juga telah ada pelayanan konseling yang dilakukan oleh konselor sebaya.
Menurut Koordinator kegiatan Budi Sumartiningsih, SPd yang didampingi pembina PIK Remaja Skimsa Tri Anjani, SPd, materi yang diberikan pada peserta sebanyak 9 siswa yang terdiri dari calon PS 4 calon KS 4 berupa materi Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (Triad KRR) dan materi terkait. Materi yang dimaksud terdiri dari Pendewasaan Usia Perkawinan disampaikan oleh Drs. Mardiya dari BPMPDPKB Kabupaten Kulon Progo, Penyakit Menular Seksual (PMS) dan HIV/AIDS oleh dr. Melly dari Puskesmas Panjatan I, Perilaku Seksual dan Problematika Remaja oleh Dra. Nukmah Fakhiyati dan Drs. Paseran dari PLKB Kecamatan Panjatan, Penyalahgunaan Narkoba dan Zat Adiktif oleh Suharsoyo dari Polres Kulon Progo dan Kecakapan Hidup/Live Skill oleh Drs. Suramanto dari SMK N 1 Panjatan.
Latar belakang dilakukannya kegiatan pelatihan tersebut antara lain karena kurangnya kemampuan para PS dan KS dalam menyampaikan materi penyuluhan maupun dalam pelayanan konseling. Selain itu juga kurangnya pemahaman PS dan KS tentang Triad KRR yang berakibat pada kurang optimalnya peran mereka dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

SMA N 2 GELAR PELATIHAN PS DAN KS

Posted: Februari 12, 2012 in Berita

Selama empat hari sejak Senin (9/1) hingga Kamis (12/1,) SMA N 2 Wates menggelar Pelatihan Pendidik Sebaya (PS) dan Konselor Sebaya (KS) yang dilaksanakan bersamaan dengan Pelatihan Pengelola Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kegiatan pelatihan ini merupakan kegiatan rutin tahunan dalam rangka menjaga kesinambungan dan eksistensi Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) SMA N 2 Wates yang telah mencapai tahap Tegar sejak tahun 2009 lalu. Tahap Tegar adalah tahap tertinggi dalam klasifikasi PIK Remaja, di mana kelompok tersebut dari sisui materi yang diberikan, kegiatan yang dilakukan dan dukungan serta jaringan yang dimiliki telah lengkap dan mendekati kesempurnaan.
Menurut Kepala SMA N 2 Wates Drs. H. Mudjijono, materi yang diberikan pada peserta sebanyak 44 siswa yang terdiri dari calon PS 12 calon KS 12 dan Pengelola UKS 20, terdiri dari materi teori, diskusi dan praktek. Materi teori terdiri dari Kesehatan Reproduksi Reproduksi (KRR) disampaikan oleh Sugita AMK dari Puskesmas Wates, Narkoba oleh Rr. Esti Sutari, SPd dari SMA N 2 Wates dan Pendewasaan Usia Dini oleh Drs. Mardiya dari BPMPDPKB Kabupaten Kulonprogo. Sementara materi diskusi dan praktek antara lain masalah gender, konseling dan P3K dipandu oleh Simo Alam P, SPd, Drs. Suhardono, Khusnul Khotimah, SPd dan Drs. P. Sarjiyanta.
Kegiatan pelatihan sendiri dilakukan mulai pukul 12.15 hingga 15.15 WIB dengan maksud tidak banyak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Sementara peserta terdiri dari siswa kelas X dan XI dengan maksud selain untuk peremajaan juga untuk memberi kesempatan pada siswa kelas XII agar dapat lebih konsentrasi belajar menghadapi ujian akhir sekolah.

Didukung oleh berbagai institusi dan perusahaan swasta, Pemerintah Desa Sentolo menyelenggarakan Seminar Peran Serta Kader dalam Menyukseskan Program KB yang Berwawasan Kependudukan, di Balai Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Rabu (25/1). Seminar yang diikuti tidak kurang dari 200 orang yang terdiri dari kader KB dan kader Posyandu se Desa Sentolo, Kepala Desa, TP PKK, Koordinator PPKBD dan PPKBD serta Dukuh se Kecamatan Sentolo ini menghadirkan pembicara dr. Hasto Wardoyo, Sp OG(K), Suripto, SH, MSi dari Perwakilan BKKBN DIY, dan Nelly Tristiana, S Kep dari BPPM DIY.
Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Agus Sutrisno, STP, latar belakang diselenggarakannya penyelenggaraan seminar ini adalah adanya penurunan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya KB serta banyaknya regenerasi kader di Desa Sentolo yang belum mendapatkan pelatihan maupun pembekalan secara intensif.
Sementara tujuan dari kegiatan ini secara umum adalah meningkatnya pengetahuan kader tentang program KB serta meningkatnya cakupan kesertaan KB bagi masyarakat baik peserta KB baru maupun peserta KB aktif. Sedangkan secara khusus, tujuannya selain memberikan pembekalan pada kader-kader baru tentang program KB, juga sebagai refreshing bagi kader-kader senior sekaligus sosialisasi tentang perubahan kelembagaan maupun program KB yang saat ini harus berwawasan kependudukan.
Kegiatan seminar mendapat dukungan penuh dari seluruh Penyuluh KB Kecamatan Sentolo, Ikatan Penyuluh KB, Puskesmas Sentolo I dan II serta aparat desa dan kecamatan Sentolo. Di akhir seminar, selain ada diskusi dan tanya jawab, juga ada pembagian doorprize dari sponsor seperti PT Sari Husada Cabang Yogyakarta, Bank Pasar Kulon Progo, Apotik Enggal Waras, dll.

PIK Remaja Hargomulyo, Mantapkan Pengurus

Posted: Februari 12, 2012 in Berita

Bertempat di Balai Desa Hargomulyo, Senin (23/1) Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap dibawah kepemimpinan Rahma Latif dan Agung Budi, menyelenggarakan pemantapan pengurus dengan substansi pokok seputar pengembangan materi KIE, pengelolaan kelompok dan administrasi. Hadir dan ikut memberi masukan dalam acara tersebut Kades Hargomulyo Ir. Sugiyanta, Kabag Kesra R. Tri Haryono, SH Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan KB dan Kesehatan Reproduksi BPMPDPKB Drs. Mardiya, dan Penyuluh KB Kecamatan Kokap Asmilah. Peserta pemantapan adalah seluruh pengurus inti, seksi-seksi dan pendidik sebaya.
Menurut ketua PIK Remaja Desa Hargomulyo Rahma Latif, kegiatan pemantapan ini dilaksanakan dalam rangka menyiapkan kelompok untuk menghadapi tantangan seputar kesehatan reproduksi remaja di Desa Hargomulyo khususnya dan Kecamatan Kokap pada umumnya pada tahun 2012. Oleh karena itu, kegiatan pemantapan akan segera ditindaklanjuti dengan pembuatan program kerja dan kegiatan selama tahun 2012. Program dan kegiatan ini setelah jadi akan segera diusulkan penganggarannya kepada pemerintah desa sehingga harapannya semua kegiatan akan terdanai dan terlaksana dengan baik. Target yang ingin dicapai di tahun 2012 adalah melakukan kunjungan dan sosialisasi masalah seksualitas, napza, HIV dan AIDS ke seluruh dusun di Desa Hargotirto.

Selama tahun 2012, pembinaan terhadap Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja di Kulonprogo baik jalur sekolah maupun non sekolah akan semakin diintensifkan. Pertimbangannya, selain untuk meningkatkan kualitas kegiatan, juga dalam rangka meningkatkan peran dan fungsi PIK Remaja yang ada di Kulonprogo dalam rangka ikut membendung maraknya perilaku negatif remaja baik yang terkait dengan seksualitas seperti pacaran tidak sehat, perilaku seks bebas maupun, penyalahgunaan Napza yang memiliki pengaruh terhadap rentannya penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS) serta HIV dan AIDS. Bentuk pembinaannya selain dengan kunjungan ke kelompok, juga akan dilakukan pendampingan dalam pengelolaan kegiatannya agar lebih terarah dan terencana.
Demikian dikatakan oleh Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan KB dan Kesehatan Reproduksi BPMPDPKB Drs. Mardiya saat ditemui di kantornya, Rabu (18/1). Di tambahkan oleh Mardiya, saat ini di Kulonprogo terdapat 33 kelompok PIK Remaja yang tersebar di 12 kecamatan. Dari jumlah tersebut 16 kelompok di antaranya adalah PIK Remaja jalur sekolah yakni PIK Remaja SMA N 1 Temon, SMA N 1 Wates, SMA N 2 Wates, SMA Maarif Wates, MAN 2 Wates, SMK N 1 Panjatan, SMA N 1 Lendah, SMA N 1 Sentolo, SMA N 1 Pengasih, SMK N 1 Pengasih, SMA N 1 Kokap, SMA N 1 Girimulyo, SMK N 1 Nanggulan, SMA N 1 Kalibawang, SMA N 1 Samigaluh, dan PIK Remaja SMK N 1 Samigaluh. Dalam waktu dekat, akan terbentuk lagi PIK Remaja SMK N 2 Pengasih dan PIK Remaja MAN 1 Wates. Sementara PIK Remaja jalur non sekolah ada 17 kelompok yakni PIK Remaja Kecamatan Temon, Kecamatan Wates, Kecamatan Panjatan, Kecamatan Galur, Kecamatan Lendah, Desa Sukoreno, Desa Kaliagung, Kecamatan Pengasih, Desa Tawangsari, Kecamatan Kokap, Desa Hargotirto, Desa Hargomulyo, Kecamatan Girimulyo, Kecamatan Nanggulan, Kecamatan Kalibawang, Desa Ngargosari, dan PIK Remaja Kencana.
Menurut Mardiya, agar kualitas dan fungsi PIK Remaja berjalan optimal, disarankan untuk masing-masing PIK Remaja, terutama yang jalur sekolah melakukan pelatihan Pendidik Sebaya (PS), Konselor Sebaya (KS) dan Pengelola PIK Remaja sebagai upaya regenerasi kader yang dilakukan setiap tahun. Kemudian agar pendanaan kegiatan tidak menjadi masalah, di jalur sekolah, PIK Remaja diharapkan menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang pembinanya dapat diambilkan dari guru Bimbingan Konseling (BK) sekolah yang bersangkutan, dokter Puskesmas, Polsek, petugas KUA, atau dari unsur lain seperti Forum PIK Remaja, PKBI, KPA, BNK, dll.
“Sekarang ini baru kita susun Panduan Materi PIK Remaja yang melibatkan lintas sektor dan institusi lain sebagai pegangan Pendidik Sebaya jalur sekolah dan non sekolah dalam melakukan penyuluhan dan KIE pada kelompok sasaran. Diharapkan buku ini bias selesai pada akhir bulan Februari ini sehingga pada bulan Maret 2012 nanti sudah dapat digunakan oleh seluruh PIK Remaja yang ada di Kulonprogo”

MENYOAL PENYALAHGUNAAN OBAT TERLARANG OLEH REMAJA Oleh: Drs. Mardiya

Posted: Januari 18, 2012 in Tak Berkategori

Bentuk perilaku sebagian remaja yang cukup mencemaskan kalangan orangtua  dan masyarakat umum sekarang ini adalah penyalahgunaan obat terlarang/narkoba. Istilah penyalahgunaan obat merujuk pada pengertian setiap penggunaan obat yang menyebabkan gangguan fisik, psikologis, ekonomis, hukum atau sosial, baik pada individu pengguna maupun orang lain sebagai akibat tingkah laku pengguna obat tersebut. Sebenarnya alkohol yang terkandung dalam minum-minuman keras termasuk dalam kategori ini, karena alkohol termasuk kategori depressan yang merupakan obat yang dapat mengurangi rasa cemas dan membuat tertidur (sedatif). Namun alkohol dapat menyebabkan ketergantungan secara fisik maupun psikologis.

Secara spesifik I Gusti Lanang Sidiartha dan I Wayan Westa (dalam Soetjiningsih, 2004) mengklasifikasikan zat atau obat yang sering disalahgunakan orang termasuk remaja adalah sebagai berikut:

Pertama, Cannobinoids, yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah marijuana dan hashish.

Kedua, Depressan, yang termasuk kategori ini adalah: (1) Sedatif, obat untuk mengurangi rasa cemas dan membuat tertidur (alkohol, barbiturat, methaqualohe/qualude, gluthetimide/doriden, flunitrazepam/rohipnol, gamma-hydroxybutyrate/GHB); (2) Tranquilizer minor, obat untuk mengurangi rasa cemas serta dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis(diazepam/valium, alprazolam/xanax, chlordiazepoxide/ librium, triazolam/halcion dan lorazepam/ativan); (3) Transquilizer mayor (fenotiazin dan klorpromazin).

Ketiga, Stimulan, yang dapat menyebabkan ketergantungan psikologis yang sangat kuat. Yang termasuk kategori ini adalah: (1) Amfetamin, yang termasuk kelompok ini adalah clandestin, methamphetamine, pharmaccutical, dll (2) Nikotin (3) Kafein (4) Kokain (5) Ritalin

Keempat, Halusinogen, yang dapat mempengaruhi sensasi, emosi dan kewaspadaan, dan menyebabkan distorsi persepsi realitas. Obat ini menyebabkan ketergantungan psikologis, namun tidak menyebabkan ketergantungan fisik. Yang termasuk kelompok ini adalah LSD, mescaline, DMT (dimethyltryptamine), DOM, PCP, psilocybin, dsb.

Kelima, Derivat opiun dan morfin, yang dapat menghilangkan rasa nyeri dan dapat menyebabkan ketergantungan secara fisik maupun psikologis. Yang termasuk kelompok ini adalah morfin, heroin, kodein, meferidin, methadon, fentanil dan opium.

Keenam, Anestesi, obat yang termasuk kelompok ini adalah ketamin dan phencyclidine dan analognya.

Peristiwa makin banyaknya penyalahgunaan obat-obatan terlarang khususnya narkoba di kalangan pelajar saat ini benar-benar telah menggelisahkan masyarakat dan keluarga-keluarga diIndonesia. Betapa tidak, meskipun belum ada penelitian yang pasti berapa banyak remaja pengguna narkoba, namun dengan melihat kenyataan di lapangan bahwa semakin banyak remaja kita yang terlibat kasus narkoba menjadi indikasi betapa besarnya pengaruh narkoba dalam kehidupan remaja di Indonesia. Yang perlu diwaspadai, kasus penyalahgunaan narkoba yang terjadi di kalangan remaja kita ibarat fenomena gunung es dimana kasus yang terlihat hanya sebagian kecil saja, sementara kejadian yang sebenarnya sudah begitu banyak.

Hasil Survai Badan Narkoba Nasional (BNN) Tahun 2005 terhadap 13.710 responden di kalangan pelajar dan mahasiswa menunjukkan penyalahgunaan narkoba usia termuda 7 tahun dan rata-rata pada usia 10 tahun. Survai dari BNN ini memperkuat hasil penelitian Prof. Dr. Dadang Hawari pada tahun 1991 yang menyatakan bahwa 97% pemakai narkoba adalah para remaja.

Di DIY sendiri kasus peredaran narkoba sudah begitu marak. Dinas Sosial Propinsi DIY hingga akhir tahun 2004 menemukan 5.561 orang pengguna narkoba. Di tahun 2005 saja, Polda DIY menangani 181 perkara narkoba., yang meliputi 85 perkara psikotropika dan 96 narkoba, dengan 210 tersangka (201 orang laki-laki dan 9 orang perempuan).  Yang mengerikan, dari kasus itu 28 % di antara mereka yang terlibat adalah remaja berusia 17 – 24 tahun. Menurut dr. Inu Wicaksono dari RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta telah menjadi kota nomor dua penyebaran narkoba di Indonesia setelah Jakarta.

 Khusus di Kabupaten Kulon Progo, berdasarkan data Sat Narkoba Polres Kulon Progo dapat di ketahui bahwa pada tahun 2007 terdapat 1 kasus narkoba. Namun  hasil patroli minum-minuman keras pada bulan Maret 2008 telah menemukan  11 kasus anak minum-minuman keras yang kemungkinan besar juga terlibat dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Persoalannya, seberapa besar kasus remaja yang sebenarnya terlibat dalam kasus narkoba , tidak ada yang mengetahui. Namun kasusnya diperkirakan juga mengikuti fenomena “gunung es”.

Mau tidak mau kita harus mengakui, narkoba akan menjadi bahaya laten bagi remaja kita dan masa depan keluarga, masyarakat dan bangsa bila tidak segera dicari cara-cara penanggulangan yang efektif dan efisien. Ada dua alasan mendasar hal itu bisa terjadi. Pertama, karena narkoba dapat merusak kesehatan remaja kita. Remaja yang kecanduan narkoba akan mengalami kemunduran fungsi organ tubuh dan system kekebalannya. Daya pikir sangat berkurang, kehilangan minat/semangat untuk melakukan mengikuti pelajaran sehingga prestasi belajarnya akan terus menurun. Bahkan bila tingkatannya sudah sangat tinggi, bila mereka berumah tangga kelak keturunannya bisa menjadi anak idiot ataupun perkembangan jiwanya terbelakang, mendekati debil dan embisil karena sistem sarafnya terganggu.

Kedua, penyalahgunaan narkoba telah menyeret remaja pada perbuatan buruk lainnya tanpa memikirkan dampaknya lebih jauh. Karena terdorong oleh kenikmatan yang sebenarnya semu sebagai efek sesaat penggunaan narkoba segera setelah merasuk ke tubuhnya, sang remaja akan terus berupaya mendapatkan barang tersebut bagaimanapun caranya. Tidak peduli harus menipu, mencuri, mengompas, merampok atau bahkan dengan membunuh sekalipun. Bahkan untuk remaja putri akan dengan  mudah menyerahkan keperawanan dan tubuhnya untuk “disantap” pria hidung belang atau teman sejawatnya sekedar guna mendapatkan barang haram tersebut.

Semuanya itu jelas akan memburamkan masa depan keluarga, masyarakat, dan bangsa termasuk masa depan remaja itu sendiri. Logika yang dapat ditarik sangat sederhana. Remaja yang menyalahgunakan narkoba sudah menjadi generasi yang rusak dan sulit dibenahi. Tubuhnya tidak lagi fit dan fresh untuk belajar dan bekerja membantu orangtua, sementara mentalnya telah dikotori oleh niat-niat buruk untuk mencari cara mendapatkan barang yang sudah membuatnya kecanduan. Bila sudah demikian, apa yang dapat diharapkan dari mereka? Sudah produktifitasnya rendah, kemampuan berpikirnya lemah, masih ditambah perilakunya liar tanpa kendali. Apalagi mengindahkan nilai moral, etika hukum dan agama. Artinya, mereka tidak dapat diharapkan lagi menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas yang mampu mengangkat harkat diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya ke arah yang lebih baik.

Khusus dalam lingkungan keluarga, remaja pengguna narkoba akan memporakporandakan ketahanan keluarga yang dengan susah payah dibangun oleh kedua orang tuanya. Keluarga menjadi tidak lagi mampu mencapai ketenangan hidup, komunikasi antar anggota keluarga terganggu, tumbuh rasa was-was serta kondisi ekonomi yang morat-marit karena ulah sang anak. Belum lagi timbulnya rasa saling curiga saat terjadi peristiwa kehilangan uang/barang karena dicuri oleh anaknya yang telah kecanduan narkoba. Atau munculnya sikap saling menyalahkan, menyesal atau bahkan bersumpah serapah melihat perilaku anaknya yang bak binatang karena tanpa perasaan. Disini bisa dibayangkan betapa pedih dan perih hati orang tua yang akan mengganggu perasaan dan aktifitas sehari-hari, sehingga bisa pula diramalkan betapa fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih dan melindungi serta fungsi pendidikan dalam keluarga akan menjadi luntur dan sirna. Sementara pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut secara baik menjadi pilar utama untuk dapat membangun keluarga berketahanan sebagai syarat pokok untuk dapat menjadi keluarga yang berkualitas.

Sementara kita pun tahu bahwa betapapun kecil kontribusinya, ketahanan keluarga akan mempengaruhi ketahanan bangsa. Karena sebuah negara terdiri dari kumpulan-kumpulan keluarga yang membentuk lingkungan masyarakat dan lingkungan kewilayahan yang menjadi bagian dari negara dimaksud. Jadi bila keluarga-keluarga sebagai institusi terkecil dalam masyarakat ketahannya hancur akibat remajanya banyak yang menggunakan narkoba, ketahanan bangsa pun akan hancur pula tanpa menunggu waktu lama.

Perlu dimengerti bahwa sebenarnya narkoba yang merupakan akronim dari narkotika dan obat-obaran terlarang sebenarnya bukan merupakan hal baru dalam dunia medis. Narkotika merupakan zat atau tanaman/bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat mengakibatkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (UU No 22 tahun 1997). Sementara obat-obatan terlarang (psikotropika) yang dimaksud adalah zat atau obat, baik alamiah maupun  sintetik bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku (UU No 5 Tahun 1997).

Narkoba bila digunakan pada takaran tertentu menurut resep dokter akan memberikan resep kesegaran dan dapat menghilangkan rasa sakit pada pasien. Namun apabila dikonsumsi secara berlebihan yang dalam hal ini diistilahkan dengan penyalahgunaan, akan menimbulkan berbagai efek negatif sebagaimana telah dipaparkan di muka.

Itu pun baru sebagian kecil dari bahaya narkoba. Sebab secara detil, pecandu narkoba akan mengalami penderitaan lahir batin yang luar biasa. Mulai dari mata nerocos, hidung meler-meler, mual-mual sampai muntah, diare, tulang dan sendi nyeri, tidak bisa tidur serta tidak doyan makan, selalu curiga, mudah emosi, hingga selalu gelisah, kacau dan sering mengalami halusinasi penglihatan. Penderitaan ini masih harus ditambah dengan adanya rasa hampa, depresi, ingin mati, tekanan darah meningkat sampai bisa stroke.

Dengan mengingat segala efek negatif penyalahgunaan narkoba tersebut, sudah selayaknya remaja-remaja di Indonesia dibebaskan dari narkoba. Karena dampaknya sungguh-sungguh tidak sepadan dengan manfat yang diperoleh.

Kita tahu bahwa remaja adalah generasi muda harapan bangsa. Mereka yang akan mewarisi tanah air kita berikut segala potensi sumber dayanya. Hal ini berarti remaja suka tidak suka dan mau tidak mau harus siap memikul tanggung jawab yang tidak ringan namun mulia tersebut. Sehingga mereka harus dibebaskan dari narkoba yang nyata-nyata memiliki efek merusak.

Upaya membangun remaja bebas narkoba menjadi semakin penting untuk saat ini, karena kita telah memasuki era millenium tiga yang penuh persaingan akibat kehidupan yang mengglobal. Dunia sekarang ini tidak lagi disekat oleh ruang dan waktu. Bekat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, semua orang dapat mengakses segala informasi dari belahan bumi lain. Dengan diterapkannya pasar bebas, maka bangsa-bangsa yang memiliki SDM majulah yang mampu bersaing. Apa makna dari semuanya itu ? Bangsa kita akan terus terjebak dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan tanpa harapan masa depan bila generasi remajanya banyak yang terbelenggu oleh narkoba. Sehingga upaya mewujudkan remaja bebas narkoba menjadi upaya strategis yang tidak bisa ditawar ataupun ditunda.

Remaja adalah generasi penerus bangsa yang akan menentukan masa depan keluarga, masyarakat dan negara. Sebagai generasi penerus, remaja  harus memiliki motivasi kuat untuk belajar dan terus belajar agar kelak akan mampu menjadi generasi yang tidak saja sehat, cerdas dan terampil, tetapi juga bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa. Sementara dalam lingkungan keluarga akan memberi dukungan positif membangun keluarga yang harmonis dan berketahanan. Oleh karena itu, membangun remaja yang bebas narkoba menjadi tuntutan yang tidak bisa ditunda dan ditawar-tawar.

Membangun remaja bebas narkoba hendaknya dilakukan dengan mengintegrasikan tiga langkah penting, yakni melalui upaya pencegahan dalam lingkugan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat serta melalui gerakan bebas narkoba yang dicanangkan pemerintah untuk diimplementasikan di semau tingkatan masyarakat. Pihak pemerintah juga perlu mensosialisasikan UU No 22 tahun 1997 dan UU No 5 Tahun 1997  secara luas berikut sanksinya dan berupaya keras agar kegiatan/aktivitas yang memberi peluang terhadap peredaran narkoba dapat dihilangkan atau ditekan seminimal mungkin.

 

 

PIK REMAJA SEHATI, INTENSIFKAN KIE KRR

Posted: Oktober 31, 2011 in Berita

Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja “Sehati) Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo sejak terbentuk kepengurusannya 5 Agustus 2011 lalu dan dikuatkan dengan SK Kepala Desa No 11 Tahun 2011, telah berupaya mengintensifkan KIE Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) melalui berbagai kegiatan yang variatif. Di antaranya melalui pertemuan penyuluhan di Balai Desa, pelatihan dan pemantapan bagi pengurus dengan mengundang nara sumber dari Puskesmas, Polsek, Komisi Penanggulangan AIDS, dan dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPDP & KB) Kabupaten Kulonprogo, dan terakhir pada hari Sabtu malam (29/10) melakukan KIE massa dengan melakukan pemutaran film KB dan Kesehatan Reproduksi.
Menurut Ketua PIK Remaja Sehati Nita Arfiyani yang dididampingi wakilnya Widyayanti menyatakan bahwa berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PIK Remaja Sehati didorong oleh keprihatinan para pengurus terhadap derasnya arus globalisasi yang membawa dampak negative terhadap sikap dan perilaku remaja yang cenderung mengarah pada perilaku seks bebas, kekerasan, minum-minuman keras dan penyalahgunaan narkoba. Mereka tidak ingin para remaja Tawangsari mengalami kejadian serupa tanpa ada upaya pengendalian. Oleh karena itu, mereka melakukan upaya pencegahan dengan berbagai kegiatan yang positif dan menarik minat mereka untuk mendengarkan, memahami, mengambil makna dari pesan-pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Harapannya, mereka dapat mengimplementasikan berbagai upaya positif tersebut dalam kegiatan sehari-hari.
“Kami dari pengurus PIK Remaja tidak ingin terjadi degradasi moral pada para remaja di Desa Tawangsari. Oleh karenanya, kami akan terus melakukan KIE tentang KRR ini sehingga seluruh remaja akan terjangkau informasi ini dan mau peduli terhadap kesehatan reproduksinya” katanya.

Sumber berita: Drs. Mardiya
Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan KB dan Kesehatan Reproduksi pada BPMPDP & KB Kabupaten Kulonprogo.
HP. 087738048525