PERAN TP PKK DALAM MEMBANGUN KELUARGA SEJAHTERA

Posted: Agustus 7, 2009 in Artikel
Tag:

Keluarga sejahtera yang bercirikan ketahanan dan kemandirian yang tinggi, sudah barang tentu menjadi dambaan kita semua, baik sebagai anggota keluarga maupun sebagai pribadi atau individu. Bukan saja karena dengan mencapai tingkat kesejahteraan tertentu, seseorang akan dapat menikmati hidup secara wajar dan menyenangkan karena tercukupi kebutuhan materill dan spirituilnya, tetapi dengan kondisi keluarga yang sejahtera kita sebagai anggota keluarga di dalamnya akan mendapat kesempatan untuk berkembang sesuai dengan potensi, bakat dan kemampuan yang dimiliki.

Sayangnya, upaya untuk mencapai keluarga sejahtera dimaksud tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, banyak tantangan dan kendala yang bakal kita hadapi untuk mencapai kesejahteraan yang menjadi dambaan itu. Dalam lingkup internal keluarga misalnya, hubungan antar anggota keluarga sekarang ini tidak seharmonis dulu. Baik antara suami isteri sebagai orangtua, orangtua dengan anak maupun antara sesama anak.  Kita akui, perbedaan pandangan dan pendapat saja sekarang ini sering menjadi pemicu kurang harmonisnya hubungan suami isteri yang berujung pada terjadinya perselisihan yang tidak perlu. Bila hal ini terus dibiarkan tanpa kendali, maka akan terjadi berbagai kasus yang tidak diinginkan, seperti tidak setia pada pasangan, terjadinya perselingkuhan yang berujung pada terjadinya keretakan rumahtangga dan perceraian. Hal tersebut jelas akan mengurangi hubungan baik antara suami isteri di satu sisi, dan penghormatan anak terhadap orangtua di sisi lainnya mengingat orangtua (baca: ayah dan ibu) adalah sebagai figur panutan sekaligus teladan bagi anak-anaknya..

Kasus-kasus seperti ini tidak hanya terjadi di kalangan keluarga miskin, tetapi juga terjadi pada keluarga berada, pejabat dan publik figur seperti artis, seniman dan lain-lain. Retaknya hubungan orangtua akan berdampak pada kurang harmonisnya hubungan antara orangtua dan anak maupun sesama anak. Anak menjadi kehilangan pegangan sehingga tidak jarang mengakibatkan kegoncangan jiwanya.

Dalam kasus yang lebih ringan, meskipun tidak terjadi keretakan rumah tangga, terjalinnya komunikasi yang baik antara orangtua dan anak sekarang ini sudah menjadi barang yang mahal. Ketatnya persaingan dan perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup seiring dengan semakin modernnya kehidupan, telah mengakibatkan para orangtua lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari nafkah daripada mengurus anak sehingga anak menjadi kurang terperhatikan. Mereka merasa sendiri dan kesepian. Bahkan tidak sedikit anak yang merasa asing dan tidak nyaman di tengah-tengah orangtuanya, manakala setiap bertemu ibu bapaknya selalu hanya dimarahi, kurang ini itu, dan sebagainya. Dampaknya perkembangan emosi dan jiwa anak menjadi terganggu. Karena merasa kecewa, sebagian anak mencari pelampiasan dengan melakukan tindakan untuk menarik perhatian orangtua. Sayangnya, upaya yang dilakukan cenderung negatif dan melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Atas dasar kenyataan tersebut memang sudah saatnya kita khususnya para orangtua harus lebih peduli terhadap kondisi keluarganya. Keluarga harus dipertahankan sebaik mungkin agar tetap dapat melaksanakan fungsi-fungsinya terutama yang berkaitan dengan fungsi reproduksi  dalam keluarga. Kasus-kasus  yang terjadi, terutama yang terkait dengan kehidupan seks bebas pada remaja yang telah menyebabkan kehamilan dan banyaknya kasus aborsi, harus segera ditindaklanjuti oleh keluarga dengan upaya antisipatif agar hal-hal yang menghancurkan masa depan keluarga tidak terjadi lagi.

Program-program Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang bertujuan untuk memberdayakan keluarga sekaligus meningkatkan kesejahteraanya, menjadi sangat relevan untuk mengatasi berbagai kemelut persoalan keluarga, apapun bentuknya. Hal ini mengingat, kesejahteraan keluarga yang dimaksud adalah keluarga yang sehat, bahagia dan sejahtera lahir  batin. Bahagia, sejahtera lahir dan batin itu sendiri dalam konteks operasional ditandai dengan ketahanannya yang tinggi seiring dengan dapat dilaksanakannya 8 fungsi keluarga. Maka tidalah terlalu salah bila sasaran akhir dari kegiatan PKK adalah mencapai keluarga yang sehat dan berketahanan. Ketahanan keluarga yang dimaksudkan di sini adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materiil dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir maupun kebahagiaan batin.

Selama ini, PKK sudah begitu melembaga baik di tingkat pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan maupun desa. Bahkan PKK dengan berbagai kegiatannya pelaksanaannya telah merambah hingga ke tingkat dusun, RT dan Dasa Wisma. Agar pengelolaannya efektif maka di tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa telah dibentuk Tim Penggerak (TP) PKK yang fungsinya selain menggerakkan dan mengkoordinir kegiatan,  juga memfasilitasi berbagai kegiatan dalam rangka menunjang berbagai kegiatan pembangunan yang dilaksanakan di wilayahnya masing-masing, termasuk di antaranya adalah dalam rangka membangun keluarga yang sehat berketahanan.

PKK memiliki sepuluh program pokok yaitu: (1) Penghayatan dan pengamalan Pancasila; (2) Gotong royong; (3) Pangan; (4) Sandang; (5) Perumahan dan tata laksana rumah tangga; (6) Pendidikan dan ketrampilan; (7) Kesehatan; (8) Pengembangan kehidupan koperasi; (9) Kelestarian lingkungan hidup; (10) Perencanaan sehat. Dengan sepuluh program pokok PKK tersebut dapat diketahui secara jelas bahwa TP PKK memiliki agenda dan tujuan yang sangat mulia, yaitu ingin mencapai kemajuan dan kesejahteraan keluarga yang menjadi dambaan setiap keluarga.

Dengan demikian fungsi dan peran TP PKK dalam menciptakan keluarga yang sehat dan berketahanan sangat besar mengingat kedudukannya yang sangat strategis. Karena TP PKK menjadi motor penggerak sekaligus motivator, dinamisator dan fasilitator  kegiatan. TP PKK baik di tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan maupun desa selalu bergerak aktif melakukan pembinaan dan penyuluhan pada masyarakat dengan harapan hasil pembinaan dan penyuluhan tersebut di bawa dan diterapkan oleh ibu-ibu di keluarganya masing-masing. Sehingga ibu sebagai pendamping suami dapat berperan lebih optimal dalam ikut mewujudkan keluarga yang sehat dan berketahanan. Tidak sekedar hanya mengurusi dapur, sumur dan kasur yang notabene hanya sebagai pelayanan suami.

Namun demikian, selama ini masih sangat dirasakan oleh masyarakat bahwa peran TP PKK selama ini belum optimal walaupun kemanfaatan kegiatan yang selama ini dilakukan telah dapat dirasakan. Belum optimalnya peran yang dimainkan oleh TP PKK ini sebagai akibat keterbatasan sumber daya manusia, sumber dana, waktu dan tenaga. TP PKK memiliki banyak keterbatasan SDM karena pengurus khususnya di tingkat desa umumnya tidak berpendidikan tinggi, sehingga jangkauan pengetahuan dan wawasannya belum cukup mampu menerjemahkan sekaligus mengembangkan  program-program PKK agar lebih variatif, menarik dan berdaya ungkit tinggi dalam rangka mewujudkan keluarga yang sehat dan berketahanan. Sementara itu, masalah pendanaan kegiatan juga masih sangat minim mengingat dukungan dari APBDes umumnya juga relatif kecil, sementara bila mengacu pada program dan kegiatan yang mestinya dilaksanakan, dibutuhkan dana yang mencukupi agar pelaksanaannya bisa optimal. Sedangkan dilihat dari sisi waktu dan tenaga, Tim Penggerak PKK umumnya adalah pekerja, entah sebagai PNS, wiraswastawan, karyawan perusahaan dan lain-lain sehingga praktis waktu dan tenaga yang disediakan sangat terbatas. Dengan ketersediaan waktu dan tenaga yang terbatas, maka hasilnya juga sulit untuk mencapai harapan.

Pertanyaannya, bagaimanakah mengoptimalkan peran TP PKK dalam upaya membangun keluarga sejahtera dalam suasana  yang harmonis dan penuh rasa kekeluargaan ?

Menurut pemikiran penulis, upaya optimalisasi peran TP PKK dalam membangun keluarga sejahtera paling tidak harus menyentuh hal-hal yang substansi yaitu: Pertama, peningkatan pengetahuan dan ketrampilan TP PKK melalui pendidikan dan pelatihan, orientasi, seminar dan sejenisnya yang dilakukan oleh TP PKK di level yang lebih tinggi dengan memanfaatkan tenaga-tenaga yang ahli di bidangnya, sehingga kebijakan dan program maupun kegiatan yang hendak dijalankan oleh TP PKK dapat segera diketahui oleh masyarakat umum maupun anggota PKK di seluruh pelosok wilayah.

Kedua,  Dilakukan upaya menggugah kepedulian dan peran serta kader TP PKK di tingkat lini lapangan terutama di desa dan dusun dalam upaya memantapkan program-program pembangunan keluarga sejahtera. Upaya ini dapat dilakukan dengan pembinaan yang intensif maupun menumbuhkan motivasi intrinsik untuk tetap bersemangat  berjuang mewujudkan keluarga-keluarga binaannya agar lebih sejahtera.

Ketiga, meningkatkan sumber-sumber pendanaan untuk memperlancar kegiatan TP PKK baik melalui APBDes, APBD maupun APBN. Selain itu bila memungkinkan, dukungan dana dari para pengusaha atau donatur lainnya juga sangat diperlukan terutama untuk membiayai berbagai kegiatan yang mengerahkan massa seperti bazar, pasar murah, pameran produk serta memfungsikan Dewan Penyantun di wilayah masing-masing.

Bila upaya-upaya tersebut dapat dilakukan, maka diyakini akan mampu mengoptimalkan fungsi dan peran TP PKK dalam membangun keluarga sejahtera terlepas dari tantangan dan permasalahan lain yang dihadapi. Dengan optimalnya peran TP PKK, maka program-program dan kegiatan yang memiliki daya ungkit tinggi untuk menuju keluarga yang sejahtera akan dapat dicapai dengan mudah, termasuk dalam rangka mengatasi berbagai persoalan yang membuat keluarga sulit untuk mencapai kesejahteraannya. Seiring dengan visi program KB yang baru yakni “Seluruh Keluarga Ikut KB” dan misi “ Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera”  sudah selayaknya bila upaya-upaya memberdayakan TP PKK agar fungsi dan perannya dapat lebih optimal, kita dukung bersama. Terlebih kita telah sama-sama menyadari bahwa TP PKK memiliki andil yang sangat besar untuk ikut mewujudkan keluarga yang sehat dan berketahanan.

Ny. Hj. Wiwik Toyo Santoso Dipo, Ketua TP PKK Kabupaten Kuloprogo sekaligus Koordinator Penulis Buku ”Membangun Keluarga Sejahtera Bersama PKK”

Drs. Mardiya, Pemerhati Masalah Kesejahteraan Keluarga dan Pengelola Sanggar Karya Tulis Keluarga ”Nidya Pena”

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s