MENUMBUHKAN RASA PERCARA DIRI PADA ANAK

Posted: Agustus 29, 2009 in Tips

Dewasa ini, hampir setiap keluarga yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai anak yang mengalami kesulitan dalam menemukan kepercayaan diri. Ketidakpercayaan diri ini telah menyebabkan sang anak sulit mengaktualisasika dirinya dalam kehidupan sehari-hari.  Tidak hanya sulit dalam berkarya dan berkreasi, tetapi juga sulit untuk bergaul dengan teman-temannya, berkomunikasi serta bersosialisasi. Akibatnya, karena kepercayaan diri yang rendah, maka prestasi belajarnya di sekolah secara langsung maupun tidak langsung menjadi buruk.

Ahli psikologi anak Patricia H. Berne dan Louis M Savary (1994) menyatakan bahwa rasa percaya diri seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuan orang tersebut dalam membangun harga diri pada masa kanak-kanaknya. Hal ini dapat dimengerti karena semasa kanak-kanak rasa harga diri akan membentuk gambaran diri (self image) yang akan terus terbawa hingga dewasa. Apabila pada masa kanak-kanak rasa harga diri tidak tumbuh dengan baik, maka gambaran diri diri yang negatif aka merongrong rasa percaya diri dan menghasilkan rasa “minder” pada masa dewasanya. Sebaliknya apabila rasa percaya diri dapat ditumbuhkan dengan baik pada masa kanak-kanak, maka pada masa dewasanya nanti akan tumbuh rasa percaya diri yang sangat membantu dalam kehidupannya.

Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak sudah merupakan kewajiban orangtua (baca: ayah dan ibu), meskipun menumbuhkan rasa percaya diri bukanlah pekerjaan yang mudah. Disamping membutuhkan ketelatenan dan keteladanan, orangtua harus pandai-pandai menciptakan suasana yang kondusif untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak. Terutama suasana yang mampu menumbuhkan rasa harga diri anak.

Yang harus dipahami bersama, dengan membangun harga diri anak tidak secara otomatis akan mampu menumbuhkan rasa percaya diri anak. Namun apabila rasa harga diri yang sehat telah dapat dimiliki anak dengan mengenal dan dapat menerima diri sendiri apa adanya termasuk segala keterbatasannya,  maka ia akan dapat merasa malu terhadap dirinya sendiri serta memandang segala sesuatunya sebagai bahan dari realita kehidupan.

Pertanyaannya adalah bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri pada anak? Tindakan apa yang harus dilakukan oleh keluarga terutama para orangtua agar mereka secara efektif mampu membangun harga diri anak yang berimbas pada rasa percaya diri?.

Secara garis besar, ada tujuh upaya yang dapat dilakukan oleh para orangtua dalam rangka menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Ketujuh upaya tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, membina persahabatan dengan anak. Secara biologis, anak memang merupakan keturunan atau darah daging ayah ibu. Namun dalam kapasitas pergaulan, anak akan lebih senag apabila diperlakukan sebagai teman atau sahabat, karena ia merasa kedudukannya sejajar dengan orangtuanya.  Tidak merasa ditekan atau tertekan karena terlalu sering dianggap bodoh/tidak tahu apa-apaoleh kedua orangtuanya.  Wujud dari upaya membina persahabatan dengan anak diantaranya dengan selalu menyediakan waktu untuk anak, berusaha mendengarka apa yang dikatakan anak tanpa menilai, mau berbagai rasa dan apa adanya dengan anak.

Kedua, membebaskan anak dari ancaman. Ancaman yang dimaksud adalah bukan semata-mata  ancaman fisik, tetapi yang lebih penting adalah ancaman yang bersifat psikologis (kejiwaan). Untuk itu dibutuhkan sikap kehati-hatian orangtua terhadap berbagai hal yang dapat menyebabkan anak merasa  terancam  secara psikologis, jangan mempermalukan anak, jangan menguji kepercayaan anak dan berhati-hati terhadap perasaan-perasaan kita yang negatif. Disamping itu, orangtua juga harus bersedia membimbing anak dan menunjukkan perhatian dengan cara yang tidak menakutkan serta bila anak melakukan kesalahan maka tidak serta merta dimarahi tanpa melihat duduk persoalannya.

Ketiga, membina kesuksesan anak dalam kehidupan. Upaya ini perlu dilakukan dengan cara membina sukses dalam pergaulan, berusaha menghargai hal-hal positif yang telah dilakukan oleh anak, menujukkan perkembangan ketrampilan pada anak dan berusaha membuat anak tidak cepat merasa jemu bila mengerjakan sesuatu, terutama bila anak  mengalami hambatan yang sulit diatasi.

Keempat, memberikan cinta kasih kepada anak secara tulus. Harus ada kesadaran pada orangtua bahwa anak tidak hanya membutuhkan materi, tetapi juga kecukupan rasa kasih sayang, merasa dicintai da dilindungi. Untuk itu para orangtua perlu menunjukkan rasa kasih sayangnya pada anak dan memberitahukan bahwa anak-anak merupakan bagian dari kehidupan mereka. Oleh karenanya biarlah anak-aak menggunakan dari apayang menjadi milik kita dan biarlah anak-anak menggunakan kekuatan kita sebagai milik mereka. Serta yang tidak kalah pentinya para orangtua perlu mengajarkan anak seperasaan dengan mereka, sehingga ada rasa saling menghargai, menyayangi dan memiliki.

Kelima, memberikan kesempatan pada anak untuk bebas memilih. Kebebasan memiliki ini perlu diberikan para orangtua tanpa tekanan apapun. Karena itu, biarlah anak-anak yang menentukan sesuatu pilihan apabila terdapat beberapa alternatif. Kewajiban orangtua adalah memberikan gambaran keuntungan dan kerugian apabila mengambil salah satu aiteratif. Karena itu pula, orangtua perlu menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dan tanggap terhadap pesan-pesan anak yag tersamar serta selalu berusaha menumbuhkan motivasi pribadi pada anak.

Keenam, mengendalikan emosi anak.  Upaya mengendalikan emosi tidak perlu dilakukan manakala emosi anak telah cenderung berubah ke arah destruktif. Misalnya karena terlalu serig mengalami kegagalan dalam mencapai suatu prestasi, maka anak tidak terima, mengamu, marah dan merasa putus asa sehingga tanpa sadar telah merusak, memecahkan dan membuang barang-barang perabotan yang tidak mempunyai salah apa-apa. Untuk itu akan sangat bijaksana apabila para orangtua mampu mengurangi beban stress yang sedang dialami anak dengan memberi perhatian terhadap masalah anak dan mengajak anak mengurangi stress denga berbagai kegiatan fisik dan olahraga.

Ketujuh, selalu memompa semangat anak. Perlu disadari bahwa semangat anak adalah sangat fluktuatif. Disatu saat anak merasa sangat bersemangat menjalani hidup karena kebetulan apa yang diinginkannya terpenuhi,  dan disaat lainnya akan merasa lesu karena apa yang diinginkannya tidak terpenuhi atau menemui banyak hambatan. Upaya memompa semangat anak ini perlu dilakukanpara orangtua dengan membantu anak untuk memandang diri sendiri secara positif sehingga setiap kegagalan dapat diambil hikmahnya.

Ketujuh upaya tersebut akan efektif menumbuhkan rasa percaya diri pada anak apabila pihak orangtua terutama ayah dan ibu mampu menjalankannya secara sungguh-sugguh dengan dukungan situasi yang memadai. Ayah dan ibu perlu memposisikan diri sebagai teladan dan panutan bagi anak sehingga anak akan dengan mudah mengikuti apa yang disarankan dan dimaui orangtuanya. Pada anak juga akan tumbuh kesadaran diri akan potensi diri yang dikembangkan dan diaktualisasikan sehingga berguna dalam kehidupan. Yang tidak kalah pentingya adalah tumbuhnya rasa percaya diri yang makin meningkat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s