MENELUSURI AKAR MASALAH KENAKALAN ANAK DAN REMAJA

Posted: Oktober 25, 2009 in Tinjauan Ilmiah

Oleh:
Drs. Mardiya
Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan KB dan KR
Badan PMPDP dan KB Kab. Kulon Progo

Intisari
Persoalan kenakalan anak dan remaja sekarang ini telah memasuki titik rawan. Selain intensitasnya meningkat, kenakalan anak dan remaja sekarang ini sudah mengarah ke kenakalan yang bersinggungan dengan perbuatan kriminal dan hukum. Belakangan banyak kejadian, anak dan remaja usia belasan tahun telah terlibat tidak hanya dalam kasus-kasus perkelahian dan minum-minuman keras, tetapi juga kasus pencurian, perampokan, perusakan/pembakaran, seks bebas bahkan narkoba.
Upaya mengatasi persoalan kenakalan remaja, bukan sekedar melihat kenakalan dari sisi akibat yang ditimbulkannya, tetapi lebih dari itu yakni harus menelaah lebih jauh tentang akar masalah terjadinya tindak kenakalan anak dan remaja itu sendiri. Dari penelusuran penulis melalui studi pustaka mengindikasikan bahwa kenakalan anak dan remaja dipengaruhi berbagai faktor baik yang bersifat psikis, genetik, lingkungan, keluarga, teman sebaya maupun tuntutan budaya setempat. Termasuk didalamnya faktor penduduk dan tayangan audionvisual yang tidak mendidik.

A. Pendahuluan
Berbagai peristiwa kenakalan anak dan remaja khususnya penyalahgunaan narkoba oleh anak dan remaja telah sangat menggelisahkan masyarakat dan keluarga-keluarga di Indonesia. Hasil survai Badan Narkoba Nasional (BNN) Tahun 2005 terhadap 13.710 responden di kalangan pelajar dan mahasiswa menunjukkan penyalahgunaan narkoba usia termuda 7 tahun dan rata-rata pada usia 10 tahun. Survai dari BNN ini memperkuat hasil penelitian Prof. Dr. Dadang Hawari pada tahun 1991 yang menyatakan bahwa 97% pemakai narkoba yang ada selama tahun 2005, 28% pelakunya adalah remaja usia 17-24 tahun.
Perilaku seks bebas di kalangan remaja juga sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut Dr. Boy Abidin, SpOG sebagaimana dipaparkan pada Rubrik Seputar Kita 2008 dalam http://www.concern.net, angka seks remaja Indonesia telah mencapai 22,6 %. Data yang tidak jauh berbeda dipaparkan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang menyatakan, sekitar 23 persen remaja usia sekolah SMP dan SMA di Indonesia mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks dan 21 persen di antaranya melakukan aborsi.
Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M Masri Muadz, data itu merupakan hasil survai oleh sebuah lembaga survai yang mengambil sampel di 33 provinsi di Indonesia pada 2008. Saat Peluncuran layanan pesan singkat elektronik (SMS) Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Serang, Banten, belum lama ini, Masri mengatakan, persentasi remaja yang pernah berhubungan seks pra nikah tersebut naik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berdasar data penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Ujungpandang, ditemukan sekitar 47 hingga 54 persen remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah.
Hal itu terjadi karena minimnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi sehingga mencari tahu sendiri jawabannya. Beliau menambahkan, akibat ketidaktahuan mengenai seks banyak remaja terjebak pada penyakit seks bebas seperti sifilis, gonorhoe dan HIV/AIDS.

B. Definisi Kenakalan Anak dan Remaja
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-4th Edition), kenakalan anak dan remaja adalah tindakan kriminal (sesuai dengan batasan hukum setempat) yang dilakukan oleh anak remaja meliputi berbagai masalah neuropsikiatri, meskipun untuk istilah kenakalan lebih memfokuskan pada batasan hukum dibandingkan dengan batasan medis (Soetjiningsih 2002:24).
Adapun dalam diagnosis kenakalan anak dan remaja digunakan beberapa parameter sebagai berikut :
1. Perilaku agresif terhadap orang lain dan binatang, seperti :
a. Sering mengganggu, mengancam dan atau mengintimidasi orang lain.
b. Sering memulai perkelahian fisik.
c. Menggunakan senjata yang dapat membahayakan fisik orang lain (misalnya : Pentungan, batu, pecahan botol, pisau, sejata api).
d. Mengancam orang lain secara fisik.
e. Mengancam binatang secara fisik.
f. Mencuri yang menimbulkan korban (misalnya : membegal, mencuri dompet, memeras, merampok dengan menggunakan senjata).
g. Memaksa orang lain untuk melakukan aktifitas seksual dengannya.
2. Merusak hak milik orang lain, seperti :
a. Sengaja membakar dengan maksud menimbulkan kerusakan yang serius.
b. Sengaja menghancurkan milik orang lain (selain menggunakan api).
3. berbohong, seperti :
a. Sering berbohong untuk mendapatkan harta benda atau keuntungan atau untuk menghindari kewajiban.
b. Mengutil, melakukan pemalsuan.
4. Pelanggaran serius terhadap peraturan, seperti :
a. Sering keluar malam walaupun sudah dilarang oleh orang tua atau kerabat keluarga paling tidak 2 kali (atau satu kali tanpa kendali dalam waktu lama).
b. Sering bolos sekolah, mulai umur kurang dari 13 tahun.
(Wirdiani dan Soetjiningsih 2004 : 244).

C. Motif dan Bentuk Kenakalan Remaja
Menurut Kartini Kartono (2003) dalam bukunya yang berjudul “ Kenakalan Remaja ” remaja yang nakal pasti memiliki motif atau dorongan tertentu sehingga ia menjadi nakal. Diantara motif tersebut antara lain :
1. Untuk memuaskan kecenderungan kenanalan.
2. Meningkatkan agresivitas dan dorongan seksual.
3. Salah asuh dan salah didik orang tua, sehingga anak menjadi manja dan lemahnya mentalnya.
4. Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, kesukaan untuk meniru.
5. Kecenderungan pembawaan yang patologis atau abnormal.
6. Konflik batin sendiri dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irasional.
Mendasarkan pada motif kenakalan remaja, dapat diidentifikasi bentuk-bentuk kenakalan yang sering dilakukan oleh remaja. Menurut Adler (dalam Widayanti dan Iryani 2005 : 34) bentuk-bentuk kenakalan remaja yang teridentifikasi antara lain sebagai berikut :
1. Kebut-kebutan di jalan yang mengganggu keamanan lalu lintas dan membahayakan jiwa sendiri serta orang lain.
2. Perilaku ugal-ugalan, brandalan yang mengacaukan ketentraman milliu sekitar.
3. Perkelahian antar geng, antar kelompok, antar sekolah, antara suku (tawaran), sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa.
4. Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan atau bersembunyi di tempat terpencil.
5. Kriminalitas anak, remaja dan adolesens antara lain berupa perbuatan mengancam, memeras, mencuri, mencopet, merampas, menjambret, menculik, tindak kekerasan dan pelanggaran lainnya.
6. Berpesta pora sambil mabuk-mabukan, melakukan hubungan seks bebas.
7. Perkosaan, agresivitas seksual dan pembunuhan dengan motif sosial.
8. Kecenderungan dan ketagihan bahan narkotika.
9. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lain dengan taruhan.
10. Tindakan radikal dan ekstrim, dengan cara kekerasan, penculikan, pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak remaja.

D. Akar Masalah Kenakalan Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa ini individu banyak mengalami perubahan fisik maupun psikis (Hurlock 1991:121). Masa peralihan ini banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian terhadap dirinya maupun lingkungan sosialnya. Hal ini disebabkan karena para remaja merasa sudah bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum dewasa. Sementara lingkungan menganggap bahwa remaja belum waktunya untuk diperlakukan sebagai orang dewasa. Disamping itu, remaja gelisah oleh adanya perasaan-perasaan ingin menentang orang tua dan disertai perasaan takut gagal dan sebagainya.
Sumadi Suryabrata (1975 : 220) berpendapat bahwa masa remaja adalah masa sukar. Peranan pendidikan pada masa ini sangat besar dalam penentuan pandangan hidup remaja, karena itu kenalilah mereka dan berilah bimbingan. Dalam rangka mengenali remaja, pertama-tama orang tua memberi bimbingan, salah satunya disiplin. Soetartinah Sukadji (dalam Sri Harmini dan Wardoyo 2004 : 40) mengatakan, disiplin sebagai proses bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu, atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu, terutama untuk meningkatkan kualitas mental dan moral. Secara singkat pendidikan disiplin dapat diartikan sebagai metode bimbingan orang tua agar anak mematuhi bimbingan tersebut. Menurut Jaka (1959 : 52), disiplin adalah merupakan pelaksanaan tata tertib atau aturan-aturan atau norma-norma keluarga yang pembentukannya dilakukan oleh orang tua dan ditujukan kepada anak-anaknya.
Kebutuhan remaja dalam hubungannya dengan disiplin sehubungan masa transisi yaitu dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa, juga membawa konsekuensi adanya perubahan disiplin secara ilmiah, yaitu dari bentuk pengawasan yang kaku menuju bentuk bimbingan. Hal ini tidak dilakukan dengan paksa, tetapi harus dilakukan dengan sabar dan berangsur-angsur yaitu dari bentuk pengawasan ke arah bentuk bimbingan dan pengarahan.
Erikson (dalam Yusuf 1989 : 2) menyebutkan bahwa tugas utama yang harus diselesaikan anak dan remaja adalah membentuk identitas diri. Identitas diri adalah suatu inti pribadi yang tetap ada dan tercermin dari perasaan tahu siapa dirinya sendiri secara berkesinambungan, kemana arah dan tujuan hidupnya serta mampu merangkum berbagai peran sosial tanpa tenggelam dalam peran-peran tetapi tetap menghayati dirinya sebagai pribadi dirinya sendiri yang utuh. Tidak tercapainya pembentukan identitas diri menimbulkan keraguan peran yang mungkin dapat mengakibatkan delinguensi.
Pada masa sekarang ini, semakin sulit bagi anak dan remaja untuk membentuk identitas dirinya. Hal ini disebabkan kemajuan masyarakat yang dicapai dewasa ini dipengaruhi oleh semakin kompleksnya situasi masyarakat, sebagai akibat banyaknya model identifikasi, banyaknya pilihan. Peran-peran sosial yang terbuka bagi individu dan tuntutan-tuntutan terhadap individu. Hal ini menyebabkan terhambatnya perkembangan dalam hal pembentukan identitas diri. Seperti dikatakan oleh Conger (dalam Yusuf 1989 : 3) bahwa cepat lambatnya perkembangan anak dan remaja tergantung kepada keadaan lingkungannya.
Proses pembentukan identitas diri telah dimulai sejak awal kehidupan, yaitu sejak anak mengadakan identifikasi dengan orang –orang sekeluarganya. Puncak proses pembangunan ditentukan oleh pembentukan identitas diri yang terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja. Ia harus membentuk identitasnya yang baru dengan menyatukan identitasmasa lampau dengan berbagai aspek baru yang diperlukan.
Selanjutnya Erikson membagi pembentukan identitas diri berdasarkan ada tidaknya krisis dan komitmen menjadi 5 macam yaitu :
1. Status Diffusion
Merupakan status mencerminkan individu yang belum mengalami masa krisis dan belum komitment dan membentuk identitasnya.
2. Status Foreclosure
Merupakan status yang menunjukkan bahwa individu telah membentuk identitas tanpa melalui krisis. Identitas diambil dari orang tua.
3. Status Moratorium
Mencerminkan individu yang sedang mengalami periode krisis dan belum membuat suatu komitmen mengenai dirinya. Status inilah yang disebut sebagai masa krisis. Individu bereksperimen dengan berbagai bentuk identitas sebelum sampai pada keputusan tertentu.
4. Status achievment
Merupakan status identitas yang menunjukkan bahwa individu telah mencapai pembentukan identitas diri setelah melalui periode krisis dan membuat komitmen mengenai dirinya.
5. Self Determined Foreclosure
Yang mencerminkan individu yang telah membuat suatu komitmen tentang dirinya tanpa melalui krisis tetapi identitas tidak diambil dari nilai-nilai orang tua tapi diambil dari diri sendiri.
Berdasarkan beberapa bukti penelitian yang pernah dilakukan dapat diketahui paling tidak ada enam faktor penyebab kenakalan remaja, dan masing-masing faktor tidak berdiri sendiri. Keenam faktor tersebut antara lain :
1. Disregulasi Neurologik
Tingginya angka kejadian gangguan tingkah laku yang terjadi bersama-sama dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorders (ADHD) yaitu sekitar 50% menguatkan anggapan bahwa yang mendasari terjadinya gangguan ini adalah adanya disregulasi neurologik. Hal ini berdasarkan adanya bukti bahwa penderita ADHD yang diberikan neuroterapi ternyata gangguan tingkah laku yang dialami berkurang.
2. Faktor Biokemikal
Teori biokemikal mengatakan bahwa terdapat hubungan antara berkurangnya kadar serotonin pada sistem syaraf pusat dengan terjadinya perilaku agresif dan impulsif.
3. Faktor-faktor Biologi Anak
Temperamen anak cenderung sebagai prediktor terjadinya kenakalan remaja. Aspek-aspek kepribadian seperti tingkat aktivitas anak, respon emosional, kualitas mood dan adaptasi sosial merupakan bagia dari temperamen anak. Apabila orang tua menanggapi temperamen ini dengan tidak sabar, tidak konsisten dan banyak melarang pada anak, maka kelak anak ini akan mengalami gangguan tingkah laku karena cenderung berbuat nakal. Kognitif anak juga mempengaruhi terjadinya gangguan tingkah laku. Anak yang kurang mampu memecahkan masalah sosial, melihat suatu masalah sebagai suatu permusuhan, cenderung mengalami gangguan tingkah laku di kemudian hari.
Perilaku agresif pada umur 8-10 tahun merupakan prediktor yang baik untuk terjadinya perilaku agresif pada saat dewasa. Beberapa penelitian mendapatkan kenyataan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara masalah perilaku yang serius pada masa anak-anak, dengan berbagai gangguan Psikiatrik, psikopatologi, keluarga dan sebagian besar masalah adaptasi sosial.
4. Faktor Sekolah
Faktor-fator seperti dimana anak tersebut sekolah, kemampuan guru dalam menanggapi perilaku murid dan empati guru terhadap prestasi akademik muridnya mempengaruhi angka kejadian kenakalan remaja.
Anak-anak yang kemudian mengalami gangguan tingkah laku umumnya memiliki intelektual dan prestasi yang rendah.
5. Psikologi Orang Tua
Ibu yang mengalami depresi, ayah pecandu alkohol, penjahat dan memiliki perilaku snti sosial, berhubungan erat dengan terjadinya gangguan tingkah laku dan kenakalan pada anaknya. Ibu yang mengalami depresi, akan salah persepsi terhadap perilaku anaknya, cenderung menyalahkannya mengkritik dan berkomentar sangat banyak terhadap perilaku anaknya.
6. Peranan Keluarga
a. Kemiskinan
Kemiskinan, pengangguran, keluarga besar, serta menderita sakit merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan tingkah laku. Anak-anak yang hidup dari keluarga dengan kondisi tersebut mempunyai resiko gangguan tingkah laku 2-4 kali lebih besar.
b. Perceraian, konflik dalam perkawinan dan kekerasan
Perceraian atau konflik dalam rumah tangga dapat meningkatkan terjadinya gangguan tingkah laku pada anak yang menginjak remaja.
Anak-anak akan kehilangan dukungan dan persahabatan dengan orang tuanya, tidak disiplin, tidak iritabel, dan sulit memecahkan masalah yang dihadapi. Konflik yang terjadi pada orang tua akan berpengaruh terhadap perilaku mereka dalam menghadapi anaknya, dimana orang tua akan lebih keras menghukum anaknya, tidak konsisten dalam mengasuh anaknya, jarang memberikan pujian dan selalu memiliki persepsi yang salah terhadap perilaku anaknya.
c. Interaksi orang tua dengan anak
Interaksi orang tua dengan anaknya mempunyai pengaruh terhadap kenakalannya. Orang tua yang mengasuh anaknya sangat kurang, akan menyebabkan anak mengalami gangguan tingkah laku. Demikian pula pada orang tua tidak konsisten, keras dalam menerapkan disiplin, lebih sering menghukum dan kuragng memantau anaknya. Disamping itu orang tua mengalami gangguan psikiatri cenderung marah, frustasi dan melakukan penganiayaan terhadap anak-anaknya sehingga memberikan contoh kepada anak-anaknya yang akan diterapkan pada lingkungannya. Anak-anak akan melarikan diri atau menghindari orang tuanya dan berperilaku negatif. Dalam kondisi tersebut, orang tua akan bereaksi lebih keras lagi sehingga anak justru akan meningkatkan perilaku negatifnya, sehingga keadaan ini merupakan suatu lingkaran yang tidak ada putus-putusnya.
d. Karakteristik keluarga lainnya
Keluarga yang besar dengan jumlah anak banyak dan laki-laki mempunyai resiko tinggi terjadinya kenakalan dan perilaku anti sosial. Sikap orang tua yang terlalu memanjakan anak dapat mempengaruhi anak menjadi nakal,karena kebiasaan orang tua yang selalu mengabulkan permintaan anaknya. Sikap orang tua yang kurang memberi kasih sayang, juga akan mengakibatkan anak sering melakukan tingkah laku yang menyimpang dari aturan-aturan dan menentang orang tua, karena anak ingin mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

e. Pengaruh psikofisiologis dan genetik
Orang tua yang terlibat dalam kriminalitas akan memungkinkan anaknya mengalami perilaku anti sosial. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan pada sistem himbik lobus fontalils dapat meningkatkan terjadinya gangguan tingkah laku. Demikian halnya dengan lembar monozygof mempunyai resiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan lembar dizygof (Soetjiningsih 2004 : 243)
Sementara itu Gavin dan Furman ( 1989 : 827 ) menemukan ahwa faktor penyebab kenakalan anak dan remaja yang tidak kalah pentingnya adalah faktor kelompok teman sebaya dan tuntutan budaya.
Kelompok teman sebaya memberi pengaruh pada sikap, pembicaraan, minat maupun tingkah laku anak kadang-kadang lebih besar daripada pengaruh keluarga. Anak dan remaja biasanya akan selalu berusaha memenuhi aturan-aturan kelompok agar tetap dapat diterima di kelompok sebayanya. Pada masa ini pengaruh kelompok sebaya ini sering diungkapkan dengan tingkah laku pelanggaran. Gavin dan Furman (dalam Wahyuningtyastuti, 2004 : 20) menemukan bukti bahwa 90% anak dan remaja mengakui bahwa kelompok teman sebaya besar pengaruhnya terhadap agresivitas dan kenakalan yang dilakukan. Hal ini dilakukan hanya karena alasan solidaritas atau kesetiakawanan serta kekompakan.
Selanjutnya kenakalan anak dan remaja juga dapat disebabkan karena tuntutan budaya. Pendidikan dan pengajaran terhadap anak, dilakukan dengan tujuan supaya anak mampu bertingkah laku sesuai dengan standar-standar, norma-norma, kebiasaan-kebiasaan dan pengharapan masyarakat dalam kelompok budaya tersebut. Kesanggupan memenuhi tuntutan budaya dapat mendatangkan kepuasaan, sebab seorang dapat memperoleh identitas dan hak untuk terima serta penghargaan dri masyarakat. Selanjutnya ketidakmampuan memenuhi tuntutan budaya akan mendatangkan hukuman berupa sanksi-sanksi sosial, seperti ejekan, atau pengucilan yang sangat mendukung berkembangnya tingkah laku kenakalan anak dan remaja.
Sedangkan Wahyuningtyastuti (2004 : 20) menambahkan bahwa kenakalan anak dan remaja juga dapat disebabkan oleh pengaruh pertambahan penduduk yang berlangsung sangat cepat sehingga pemerintah tidak mampu menyediakan sarana prasarana yang memadai untuk hidup nyaman, sehingga menyulut gelombang emosional anak remaja untuk bertingkah laku agresif. Selain itu pengaruh tayangan audio visual seperti televisi atau layar lebar yang sarat dengan adegan kekerasan dan kaya akan trik-trik kriminal. Hal ini akan merangsang anak untuk melakukan perbuatan yang cenderung mengarah pada tindakan kekerasan.

E. Kesimpulan
Anak dan remaja adalah generasi penerus bangsa. Oleh karena itu anak dan remaja harus dibina dan diarahkan sebaik mungkinagar mereka mampu tumbuh dan berkembang secara optimal dalam arah yang benar. Karena kesalahan dalam mendidik anak akibatnya akan fatal. Selain dapat mencemarkan nama keluarga, masyarakat dan bangsa, sang anak akan menjadi nakal dan berperilaku yang melanggar norma-norma agama dan hukum yang berlaku.
Bila anak dan remaja terlanjur nakal, maka perlu dicari akar permasalahannya. Upaya ini penting untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dan bijaksana dalam menangani anak tersebut agar ia dapat kembali pada jalan yang benar. Uraian panjang lebar di atas mengindikasikan bahwa kenakalan anak dan remaja dipengaruhi berbagai faktor baik yang bersifat psikis, genetik, lingkungan, keluarga, teman sebaya maupun tuntutan budaya setempat. Termasuk didalamnya faktor penduduk dan tayangan audionvisual yang tidak mendidik.
Dengan demikian, upaya mengatasi kenakalan anak dan remaja harus menggunakan strategi terpadu dengan melihat faktor-faktor penyebabnya yang paling dominan. Untuk kemudian menetralisirnya dengan mengkondisikan faktor penyebab tersebut agar pengaruhnya berkurang atau hilang sama sekali. Agar hasilnya efektif, tiga lingkungan pendidikan yakni keluarga, sekolah dan masyarakat harus bekerja bersama-sama bahu membahu mengkondisikan lingkungan masing-masing agar kondusif dalam mengatasi kenakalan anak dan remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Gavin, L.A dan Furman. W. 1989. “ Age Difference In Adolencenta Perception of Their, Peer Group ”. Journal of Developmental Psychology No 25 Edisi 5.

Hurlock, EB. 1990. Perkembangan Anak. Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Jaka. 1959. Rangkuman Ilmu Mendidik. Yogyakarta : Mutiara.
Kartini Kartono. 2003. Kenakalan Remaja. Jakarta : Rajawali Pers.
Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seta.

Sri Harmini dan Wardoyo. 2004. “ Perbedaan Persepsi Penanaman Disiplin Orangtua pada Remaja Bermasalah dan Tidak Bermasalah di Kota Yogyakarta ” Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Edisi 177, Th Ke 28.

Sumadi Suryabrata. 1975. Psikologi Perkembangan Jilid 2. Yogyakarta : Rake Press.

Wahyuningtyastuti. 2004. “ Keterkaitan antara Kebiasaan Anak Menonton Film-film Keras di Media Televisi dengan Kenakalan Anak ” Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Edisi 177 Tahun ke 28.

Widayanti dan Iryani. 2005. “ Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kenakalan Anak ”. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial. Yogyakarta : Dian Samodra.

Windiani, Tresna dan Soetjiningsih. 2004. Gangguan Tingkah Laku Kenakalan dan Tindak Kekerasan Remaja. Jakarta : Sagung Seta.

http://www.concern.et, Rubrik Sekitar Kita 2008, Waktu akses, Kamis 19 Februari 2009

http://www.bkkbn.go.id, Rubrik Berita, Waktu Akses, Kamis 19 Februari 2009

Yusuf, Elvi Andriandriani. 1989. Perbedaan Pembentukan Identitas Diri Antara Remaja Desa dan Remaja Kota. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s