Arsip untuk Desember, 2009

TINJAUAN ILMIAH

Posted: Desember 22, 2009 in Tinjauan Ilmiah

MENELUSURI AKAR MASALAH KENAKALAN
ANAK DAN REMAJA

Oleh: Drs. Mardiya

Intisari
Persoalan kenakalan anak dan remaja sekarang ini telah memasuki titik rawan. Selain intensitasnya meningkat, kenakalan anak dan remaja sekarang ini sudah mengarah ke kenakalan yang bersinggungan dengan perbuatan kriminal dan hukum. Belakangan banyak kejadian, anak dan remaja usia belasan tahun telah terlibat tidak hanya dalam kasus-kasus perkelahian dan minum-minuman keras, tetapi juga kasus pencurian, perampokan, perusakan/pembakaran, seks bebas bahkan narkoba.
Upaya mengatasi persoalan kenakalan remaja, bukan sekedar melihat kenakalan dari sisi akibat yang ditimbulkannya, tetapi lebih dari itu yakni harus menelaah lebih jauh tentang akar masalah terjadinya tindak kenakalan anak dan remaja itu sendiri. Dari penelusuran penulis melalui studi pustaka mengindikasikan bahwa kenakalan anak dan remaja dipengaruhi berbagai faktor baik yang bersifat psikis, genetik, lingkungan, keluarga, teman sebaya maupun tuntutan budaya setempat. Termasuk didalamnya faktor penduduk dan tayangan audionvisual yang tidak mendidik.

A. Pendahuluan
Berbagai peristiwa kenakalan anak dan remaja khususnya penyalahgunaan narkoba oleh anak dan remaja telah sangat menggelisahkan masyarakat dan keluarga-keluarga di Indonesia. Hasil survai Badan Narkoba Nasional (BNN) Tahun 2005 terhadap 13.710 responden di kalangan pelajar dan mahasiswa menunjukkan penyalahgunaan narkoba usia termuda 7 tahun dan rata-rata pada usia 10 tahun. Survai dari BNN ini memperkuat hasil penelitian Prof. Dr. Dadang Hawari pada tahun 1991 yang menyatakan bahwa 97% pemakai narkoba yang ada selama tahun 2005, 28% pelakunya adalah remaja usia 17-24 tahun.
Perilaku seks bebas di kalangan remaja juga sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut Dr. Boy Abidin, SpOG sebagaimana dipaparkan pada Rubrik Seputar Kita 2008 dalam http://www.concern.net, angka seks remaja Indonesia telah mencapai 22,6 %. Data yang tidak jauh berbeda dipaparkan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang menyatakan, sekitar 23 persen remaja usia sekolah SMP dan SMA di Indonesia mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks dan 21 persen di antaranya melakukan aborsi.
Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M Masri Muadz, data itu merupakan hasil survai oleh sebuah lembaga survai yang mengambil sampel di 33 provinsi di Indonesia pada 2008. Saat Peluncuran layanan pesan singkat elektronik (SMS) Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Serang, Banten, belum lama ini, Masri mengatakan, persentasi remaja yang pernah berhubungan seks pra nikah tersebut naik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berdasar data penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Ujungpandang, ditemukan sekitar 47 hingga 54 persen remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah.
Hal itu terjadi karena minimnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi sehingga mencari tahu sendiri jawabannya. Beliau menambahkan, akibat ketidaktahuan mengenai seks banyak remaja terjebak pada penyakit seks bebas seperti sifilis, gonorhoe dan HIV/AIDS.

B. Definisi Kenakalan Anak dan Remaja
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-4th Edition), kenakalan anak dan remaja adalah tindakan kriminal (sesuai dengan batasan hukum setempat) yang dilakukan oleh anak remaja meliputi berbagai masalah neuropsikiatri, meskipun untuk istilah kenakalan lebih memfokuskan pada batasan hukum dibandingkan dengan batasan medis (Soetjiningsih 2002:24).
Adapun dalam diagnosis kenakalan anak dan remaja digunakan beberapa parameter sebagai berikut :
1. Perilaku agresif terhadap orang lain dan binatang, seperti :
a. Sering mengganggu, mengancam dan atau mengintimidasi orang lain.
b. Sering memulai perkelahian fisik.
c. Menggunakan senjata yang dapat membahayakan fisik orang lain (misalnya : Pentungan, batu, pecahan botol, pisau, sejata api).
d. Mengancam orang lain secara fisik.
e. Mengancam binatang secara fisik.
f. Mencuri yang menimbulkan korban (misalnya : membegal, mencuri dompet, memeras, merampok dengan menggunakan senjata).
g. Memaksa orang lain untuk melakukan aktifitas seksual dengannya.
2. Merusak hak milik orang lain, seperti :
a. Sengaja membakar dengan maksud menimbulkan kerusakan yang serius.
b. Sengaja menghancurkan milik orang lain (selain menggunakan api).
3. berbohong, seperti :
a. Sering berbohong untuk mendapatkan harta benda atau keuntungan atau untuk menghindari kewajiban.
b. Mengutil, melakukan pemalsuan.
4. Pelanggaran serius terhadap peraturan, seperti :
a. Sering keluar malam walaupun sudah dilarang oleh orang tua atau kerabat keluarga paling tidak 2 kali (atau satu kali tanpa kendali dalam waktu lama).
b. Sering bolos sekolah, mulai umur kurang dari 13 tahun.
(Wirdiani dan Soetjiningsih 2004 : 244).

C. Motif dan Bentuk Kenakalan Remaja
Menurut Kartini Kartono (2003) dalam bukunya yang berjudul “ Kenakalan Remaja ” remaja yang nakal pasti memiliki motif atau dorongan tertentu sehingga ia menjadi nakal. Diantara motif tersebut antara lain :
1. Untuk memuaskan kecenderungan kenanalan.
2. Meningkatkan agresivitas dan dorongan seksual.
3. Salah asuh dan salah didik orang tua, sehingga anak menjadi manja dan lemahnya mentalnya.
4. Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, kesukaan untuk meniru.
5. Kecenderungan pembawaan yang patologis atau abnormal.
6. Konflik batin sendiri dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irasional.
Mendasarkan pada motif kenakalan remaja, dapat diidentifikasi bentuk-bentuk kenakalan yang sering dilakukan oleh remaja. Menurut Adler (dalam Widayanti dan Iryani 2005 : 34) bentuk-bentuk kenakalan remaja yang teridentifikasi antara lain sebagai berikut :
1. Kebut-kebutan di jalan yang mengganggu keamanan lalu lintas dan membahayakan jiwa sendiri serta orang lain.
2. Perilaku ugal-ugalan, brandalan yang mengacaukan ketentraman milliu sekitar.
3. Perkelahian antar geng, antar kelompok, antar sekolah, antara suku (tawaran), sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa.
4. Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan atau bersembunyi di tempat terpencil.
5. Kriminalitas anak, remaja dan adolesens antara lain berupa perbuatan mengancam, memeras, mencuri, mencopet, merampas, menjambret, menculik, tindak kekerasan dan pelanggaran lainnya.
6. Berpesta pora sambil mabuk-mabukan, melakukan hubungan seks bebas.
7. Perkosaan, agresivitas seksual dan pembunuhan dengan motif sosial.
8. Kecenderungan dan ketagihan bahan narkotika.
9. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lain dengan taruhan.
10. Tindakan radikal dan ekstrim, dengan cara kekerasan, penculikan, pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak remaja.

D. Akar Masalah Kenakalan Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa ini individu banyak mengalami perubahan fisik maupun psikis (Hurlock 1991:121). Masa peralihan ini banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian terhadap dirinya maupun lingkungan sosialnya. Hal ini disebabkan karena para remaja merasa sudah bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum dewasa. Sementara lingkungan menganggap bahwa remaja belum waktunya untuk diperlakukan sebagai orang dewasa. Disamping itu, remaja gelisah oleh adanya perasaan-perasaan ingin menentang orang tua dan disertai perasaan takut gagal dan sebagainya.
Sumadi Suryabrata (1975 : 220) berpendapat bahwa masa remaja adalah masa sukar. Peranan pendidikan pada masa ini sangat besar dalam penentuan pandangan hidup remaja, karena itu kenalilah mereka dan berilah bimbingan. Dalam rangka mengenali remaja, pertama-tama orang tua memberi bimbingan, salah satunya disiplin. Soetartinah Sukadji (dalam Sri Harmini dan Wardoyo 2004 : 40) mengatakan, disiplin sebagai proses bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu, atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu, terutama untuk meningkatkan kualitas mental dan moral. Secara singkat pendidikan disiplin dapat diartikan sebagai metode bimbingan orang tua agar anak mematuhi bimbingan tersebut. Menurut Jaka (1959 : 52), disiplin adalah merupakan pelaksanaan tata tertib atau aturan-aturan atau norma-norma keluarga yang pembentukannya dilakukan oleh orang tua dan ditujukan kepada anak-anaknya.
Kebutuhan remaja dalam hubungannya dengan disiplin sehubungan masa transisi yaitu dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa, juga membawa konsekuensi adanya perubahan disiplin secara ilmiah, yaitu dari bentuk pengawasan yang kaku menuju bentuk bimbingan. Hal ini tidak dilakukan dengan paksa, tetapi harus dilakukan dengan sabar dan berangsur-angsur yaitu dari bentuk pengawasan ke arah bentuk bimbingan dan pengarahan.
Erikson (dalam Yusuf 1989 : 2) menyebutkan bahwa tugas utama yang harus diselesaikan anak dan remaja adalah membentuk identitas diri. Identitas diri adalah suatu inti pribadi yang tetap ada dan tercermin dari perasaan tahu siapa dirinya sendiri secara berkesinambungan, kemana arah dan tujuan hidupnya serta mampu merangkum berbagai peran sosial tanpa tenggelam dalam peran-peran tetapi tetap menghayati dirinya sebagai pribadi dirinya sendiri yang utuh. Tidak tercapainya pembentukan identitas diri menimbulkan keraguan peran yang mungkin dapat mengakibatkan delinguensi.
Pada masa sekarang ini, semakin sulit bagi anak dan remaja untuk membentuk identitas dirinya. Hal ini disebabkan kemajuan masyarakat yang dicapai dewasa ini dipengaruhi oleh semakin kompleksnya situasi masyarakat, sebagai akibat banyaknya model identifikasi, banyaknya pilihan. Peran-peran sosial yang terbuka bagi individu dan tuntutan-tuntutan terhadap individu. Hal ini menyebabkan terhambatnya perkembangan dalam hal pembentukan identitas diri. Seperti dikatakan oleh Conger (dalam Yusuf 1989 : 3) bahwa cepat lambatnya perkembangan anak dan remaja tergantung kepada keadaan lingkungannya.
Proses pembentukan identitas diri telah dimulai sejak awal kehidupan, yaitu sejak anak mengadakan identifikasi dengan orang –orang sekeluarganya. Puncak proses pembangunan ditentukan oleh pembentukan identitas diri yang terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja. Ia harus membentuk identitasnya yang baru dengan menyatukan identitasmasa lampau dengan berbagai aspek baru yang diperlukan.
Selanjutnya Erikson membagi pembentukan identitas diri berdasarkan ada tidaknya krisis dan komitmen menjadi 5 macam yaitu :
1. Status Diffusion
Merupakan status mencerminkan individu yang belum mengalami masa krisis dan belum komitment dan membentuk identitasnya.
2. Status Foreclosure
Merupakan status yang menunjukkan bahwa individu telah membentuk identitas tanpa melalui krisis. Identitas diambil dari orang tua.
3. Status Moratorium
Mencerminkan individu yang sedang mengalami periode krisis dan belum membuat suatu komitmen mengenai dirinya. Status inilah yang disebut sebagai masa krisis. Individu bereksperimen dengan berbagai bentuk identitas sebelum sampai pada keputusan tertentu.
4. Status achievment
Merupakan status identitas yang menunjukkan bahwa individu telah mencapai pembentukan identitas diri setelah melalui periode krisis dan membuat komitmen mengenai dirinya.
5. Self Determined Foreclosure
Yang mencerminkan individu yang telah membuat suatu komitmen tentang dirinya tanpa melalui krisis tetapi identitas tidak diambil dari nilai-nilai orang tua tapi diambil dari diri sendiri.
Berdasarkan beberapa bukti penelitian yang pernah dilakukan dapat diketahui paling tidak ada enam faktor penyebab kenakalan remaja, dan masing-masing faktor tidak berdiri sendiri. Keenam faktor tersebut antara lain :
1. Disregulasi Neurologik
Tingginya angka kejadian gangguan tingkah laku yang terjadi bersama-sama dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorders (ADHD) yaitu sekitar 50% menguatkan anggapan bahwa yang mendasari terjadinya gangguan ini adalah adanya disregulasi neurologik. Hal ini berdasarkan adanya bukti bahwa penderita ADHD yang diberikan neuroterapi ternyata gangguan tingkah laku yang dialami berkurang.
2. Faktor Biokemikal
Teori biokemikal mengatakan bahwa terdapat hubungan antara berkurangnya kadar serotonin pada sistem syaraf pusat dengan terjadinya perilaku agresif dan impulsif.
3. Faktor-faktor Biologi Anak
Temperamen anak cenderung sebagai prediktor terjadinya kenakalan remaja. Aspek-aspek kepribadian seperti tingkat aktivitas anak, respon emosional, kualitas mood dan adaptasi sosial merupakan bagia dari temperamen anak. Apabila orang tua menanggapi temperamen ini dengan tidak sabar, tidak konsisten dan banyak melarang pada anak, maka kelak anak ini akan mengalami gangguan tingkah laku karena cenderung berbuat nakal. Kognitif anak juga mempengaruhi terjadinya gangguan tingkah laku. Anak yang kurang mampu memecahkan masalah sosial, melihat suatu masalah sebagai suatu permusuhan, cenderung mengalami gangguan tingkah laku di kemudian hari.
Perilaku agresif pada umur 8-10 tahun merupakan prediktor yang baik untuk terjadinya perilaku agresif pada saat dewasa. Beberapa penelitian mendapatkan kenyataan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara masalah perilaku yang serius pada masa anak-anak, dengan berbagai gangguan Psikiatrik, psikopatologi, keluarga dan sebagian besar masalah adaptasi sosial.
4. Faktor Sekolah
Faktor-fator seperti dimana anak tersebut sekolah, kemampuan guru dalam menanggapi perilaku murid dan empati guru terhadap prestasi akademik muridnya mempengaruhi angka kejadian kenakalan remaja.
Anak-anak yang kemudian mengalami gangguan tingkah laku umumnya memiliki intelektual dan prestasi yang rendah.
5. Psikologi Orang Tua
Ibu yang mengalami depresi, ayah pecandu alkohol, penjahat dan memiliki perilaku snti sosial, berhubungan erat dengan terjadinya gangguan tingkah laku dan kenakalan pada anaknya. Ibu yang mengalami depresi, akan salah persepsi terhadap perilaku anaknya, cenderung menyalahkannya mengkritik dan berkomentar sangat banyak terhadap perilaku anaknya.
6. Peranan Keluarga
a. Kemiskinan
Kemiskinan, pengangguran, keluarga besar, serta menderita sakit merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan tingkah laku. Anak-anak yang hidup dari keluarga dengan kondisi tersebut mempunyai resiko gangguan tingkah laku 2-4 kali lebih besar.
b. Perceraian, konflik dalam perkawinan dan kekerasan
Perceraian atau konflik dalam rumah tangga dapat meningkatkan terjadinya gangguan tingkah laku pada anak yang menginjak remaja.
Anak-anak akan kehilangan dukungan dan persahabatan dengan orang tuanya, tidak disiplin, tidak iritabel, dan sulit memecahkan masalah yang dihadapi. Konflik yang terjadi pada orang tua akan berpengaruh terhadap perilaku mereka dalam menghadapi anaknya, dimana orang tua akan lebih keras menghukum anaknya, tidak konsisten dalam mengasuh anaknya, jarang memberikan pujian dan selalu memiliki persepsi yang salah terhadap perilaku anaknya.
c. Interaksi orang tua dengan anak
Interaksi orang tua dengan anaknya mempunyai pengaruh terhadap kenakalannya. Orang tua yang mengasuh anaknya sangat kurang, akan menyebabkan anak mengalami gangguan tingkah laku. Demikian pula pada orang tua tidak konsisten, keras dalam menerapkan disiplin, lebih sering menghukum dan kuragng memantau anaknya. Disamping itu orang tua mengalami gangguan psikiatri cenderung marah, frustasi dan melakukan penganiayaan terhadap anak-anaknya sehingga memberikan contoh kepada anak-anaknya yang akan diterapkan pada lingkungannya. Anak-anak akan melarikan diri atau menghindari orang tuanya dan berperilaku negatif. Dalam kondisi tersebut, orang tua akan bereaksi lebih keras lagi sehingga anak justru akan meningkatkan perilaku negatifnya, sehingga keadaan ini merupakan suatu lingkaran yang tidak ada putus-putusnya.
d. Karakteristik keluarga lainnya
Keluarga yang besar dengan jumlah anak banyak dan laki-laki mempunyai resiko tinggi terjadinya kenakalan dan perilaku anti sosial. Sikap orang tua yang terlalu memanjakan anak dapat mempengaruhi anak menjadi nakal,karena kebiasaan orang tua yang selalu mengabulkan permintaan anaknya. Sikap orang tua yang kurang memberi kasih sayang, juga akan mengakibatkan anak sering melakukan tingkah laku yang menyimpang dari aturan-aturan dan menentang orang tua, karena anak ingin mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

e. Pengaruh psikofisiologis dan genetik
Orang tua yang terlibat dalam kriminalitas akan memungkinkan anaknya mengalami perilaku anti sosial. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan pada sistem himbik lobus fontalils dapat meningkatkan terjadinya gangguan tingkah laku. Demikian halnya dengan lembar monozygof mempunyai resiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan lembar dizygof (Soetjiningsih 2004 : 243)
Sementara itu Gavin dan Furman ( 1989 : 827 ) menemukan ahwa faktor penyebab kenakalan anak dan remaja yang tidak kalah pentingnya adalah faktor kelompok teman sebaya dan tuntutan budaya.
Kelompok teman sebaya memberi pengaruh pada sikap, pembicaraan, minat maupun tingkah laku anak kadang-kadang lebih besar daripada pengaruh keluarga. Anak dan remaja biasanya akan selalu berusaha memenuhi aturan-aturan kelompok agar tetap dapat diterima di kelompok sebayanya. Pada masa ini pengaruh kelompok sebaya ini sering diungkapkan dengan tingkah laku pelanggaran. Gavin dan Furman (dalam Wahyuningtyastuti, 2004 : 20) menemukan bukti bahwa 90% anak dan remaja mengakui bahwa kelompok teman sebaya besar pengaruhnya terhadap agresivitas dan kenakalan yang dilakukan. Hal ini dilakukan hanya karena alasan solidaritas atau kesetiakawanan serta kekompakan.
Selanjutnya kenakalan anak dan remaja juga dapat disebabkan karena tuntutan budaya. Pendidikan dan pengajaran terhadap anak, dilakukan dengan tujuan supaya anak mampu bertingkah laku sesuai dengan standar-standar, norma-norma, kebiasaan-kebiasaan dan pengharapan masyarakat dalam kelompok budaya tersebut. Kesanggupan memenuhi tuntutan budaya dapat mendatangkan kepuasaan, sebab seorang dapat memperoleh identitas dan hak untuk terima serta penghargaan dri masyarakat. Selanjutnya ketidakmampuan memenuhi tuntutan budaya akan mendatangkan hukuman berupa sanksi-sanksi sosial, seperti ejekan, atau pengucilan yang sangat mendukung berkembangnya tingkah laku kenakalan anak dan remaja.
Sedangkan Wahyuningtyastuti (2004 : 20) menambahkan bahwa kenakalan anak dan remaja juga dapat disebabkan oleh pengaruh pertambahan penduduk yang berlangsung sangat cepat sehingga pemerintah tidak mampu menyediakan sarana prasarana yang memadai untuk hidup nyaman, sehingga menyulut gelombang emosional anak remaja untuk bertingkah laku agresif. Selain itu pengaruh tayangan audio visual seperti televisi atau layar lebar yang sarat dengan adegan kekerasan dan kaya akan trik-trik kriminal. Hal ini akan merangsang anak untuk melakukan perbuatan yang cenderung mengarah pada tindakan kekerasan.

E. Kesimpulan
Anak dan remaja adalah generasi penerus bangsa. Oleh karena itu anak dan remaja harus dibina dan diarahkan sebaik mungkinagar mereka mampu tumbuh dan berkembang secara optimal dalam arah yang benar. Karena kesalahan dalam mendidik anak akibatnya akan fatal. Selain dapat mencemarkan nama keluarga, masyarakat dan bangsa, sang anak akan menjadi nakal dan berperilaku yang melanggar norma-norma agama dan hukum yang berlaku.
Bila anak dan remaja terlanjur nakal, maka perlu dicari akar permasalahannya. Upaya ini penting untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dan bijaksana dalam menangani anak tersebut agar ia dapat kembali pada jalan yang benar. Uraian panjang lebar di atas mengindikasikan bahwa kenakalan anak dan remaja dipengaruhi berbagai faktor baik yang bersifat psikis, genetik, lingkungan, keluarga, teman sebaya maupun tuntutan budaya setempat. Termasuk didalamnya faktor penduduk dan tayangan audionvisual yang tidak mendidik.
Dengan demikian, upaya mengatasi kenakalan anak dan remaja harus menggunakan strategi terpadu dengan melihat faktor-faktor penyebabnya yang paling dominan. Untuk kemudian menetralisirnya dengan mengkondisikan faktor penyebab tersebut agar pengaruhnya berkurang atau hilang sama sekali. Agar hasilnya efektif, tiga lingkungan pendidikan yakni keluarga, sekolah dan masyarakat harus bekerja bersama-sama bahu membahu mengkondisikan lingkungan masing-masing agar kondusif dalam mengatasi kenakalan anak dan remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Gavin, L.A dan Furman. W. 1989. “ Age Difference In Adolencenta Perception of Their, Peer Group ”. Journal of Developmental Psychology No 25 Edisi 5.

Hurlock, EB. 1990. Perkembangan Anak. Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Jaka. 1959. Rangkuman Ilmu Mendidik. Yogyakarta : Mutiara.
Kartini Kartono. 2003. Kenakalan Remaja. Jakarta : Rajawali Pers.
Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seta.

Sri Harmini dan Wardoyo. 2004. “ Perbedaan Persepsi Penanaman Disiplin Orangtua pada Remaja Bermasalah dan Tidak Bermasalah di Kota Yogyakarta ” Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Edisi 177, Th Ke 28.

Sumadi Suryabrata. 1975. Psikologi Perkembangan Jilid 2. Yogyakarta : Rake Press.

Wahyuningtyastuti. 2004. “ Keterkaitan antara Kebiasaan Anak Menonton Film-film Keras di Media Televisi dengan Kenakalan Anak ” Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Edisi 177 Tahun ke 28.

Widayanti dan Iryani. 2005. “ Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kenakalan Anak ”. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial. Yogyakarta : Dian Samodra.

Windiani, Tresna dan Soetjiningsih. 2004. Gangguan Tingkah Laku Kenakalan dan Tindak Kekerasan Remaja. Jakarta : Sagung Seta.

http://www.concern.et, Rubrik Sekitar Kita 2008, Waktu akses, Kamis 19 Februari 2009

http://www.bkkbn.go.id, Rubrik Berita, Waktu Akses, Kamis 19 Februari 2009

Yusuf, Elvi Andriandriani. 1989. Perbedaan Pembentukan Identitas Diri Antara Remaja Desa dan Remaja Kota. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM.

KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL

Posted: Desember 22, 2009 in Buku

KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL OPERASIONAL BKB-POSYANDU-PAUD

Oleh:
Tim Pengkajian Pengembangan Model
Operasional BKB-Posyandu-PADU

DINAS KEPENDUDUKAN CATATAN SIPIL KELUARGA
BERENCANA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
KABUPATEN KULON PROGO

TAHUN 2008

SAMBUTAN KA DINAS DUKCAPILKABERMAS
KABUPATEN KULON PROGO

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam Sejahtera,
Disadari atau tidak, sekarang ini kita sudah memasuki globalisasi yang penuh dengan persaingan sehingga menuntut sumber daya
manusia yang berkualitas untuk dapat memenangkan persaingan sekaligus menangkap peluang yang terjadi sehingga tetap eksis di kemudian hari. Oleh karena itu, akan sangat tepat apabila pemerintah sekarang ini bertekad untuk meningkatkan kualitas SDM secara bersungguh-sungguh dengan mengerahkan segenap potensi dan kemampuan yang dimiliki melalui pendidikan baik secara formal maupun informal, termasuk Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa pendidikan akan mampu memberi kontribusi pada peningkatan pengetahuan, wawasan dan ketrampilan selain pembentukan kepribadian yang luhur dan ketaqwaannya kepada Tuhan Yang maha Esa.
Kegiatan BKB-Posyandu-PADU adalah bentuk kegiatan pendidikan non formal yang ditujukan pada masyarakat luas dan keluarga memiliki peranan besar dalam rangka menyiapkan SDM masa depan yang tidak saja sehat, cerdas, dan trampil, tetapi juga berbudi pekerti luhur dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Oleh karena itu, ketiga kegiatan yang diampu oleh Dinas/SKPD yang berbeda-beda, yakni BKB oleh Dinas Dukcapilkabermas, Posyandu oleh Dinas Kesehatan dan PAUD oleh Dinas Pendidikan, perlu disinergikan agar dapat saling mendukung dan menunjang satu sama lain. Hal ini mengingat ketiganya memiliki muara tujuan yang sama, yaitu menciptakan generasi masa depan yang berkualitas dengan ciri dan karakteristik seperti yang telah dipaparkan di atas.
Dalam rangka kepentingan anak, melalui Dinas Dukcapilkabermas yang dimotori teman-teman pada Sub Din KB, memberikan sumbangan pemikiran lewat upaya pengkajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU untuk mencari terobosan dalam rangka menentukan arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU yang lebih baik dengan mengedepankan aspek keterpaduan dengan dinas/instansi/lembaga/SKPD terkait seperti PKK, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Kantor Depag dan Bagian Kesra Setda Kulon Progo. Harapan saya, kajian pengembangan model operasional yang dimaksudkan untuk menyempurnakan model yang sudah ada ini dapat dijadikan bahan pijakan guru menentukan arah dalam pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU dimasa depan sehingga nantinya akan memberikan hasil yang lebih baik.
Akhir kata, semoga kajian model operasional BKB-Posyandu-PADU ini dapat menjadi referensi bersama untuk melangkah membangun generasi masa depan yang lebih berkualitas, yang mampu membawa kemajuan dan kejayaan masyarakat Kulon Progo yang akan datang.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam Sejahtera.

Kepala,

Drs. Sarjana
NIP. 490025004

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan kajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU ini tepat pada waktunya.
Penyusunan kajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU ini dimaksudkan untuk mencari arah pengembangan model operasional yang ideal agar nantinya kegiatan BKB-Posyandu-PADU dapat berjalan seiring, selaras dan seimbang sehingga ketiganya dapat bersinergi dalam menciptakan sumber daya manusia masa depan yang berkualitas. Artinya, tidak hanya sehat, cerdas dan trampil tetapi juga bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi bekerti luhur, serta memiliki apresiasi terhadap seni dan budaya yang baik.
Dalam penyusunan kajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU ini kami mendasarkan pada masukan dari dinas instansi terkait serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan model operasional BKB-Posyandu-PADU pada 36 kelompok percobaan dari 12 Kecamatan. Banyak permasalahan dan kesulitan yang kami temui. Namun atas arahan, bimbingan, bantuan pemikiran, dan masukan dari berbagai pihak, permasalahan dan kesulitan yang kami hadapi dapat kami selesaikan dengan sebaik-baiknya. Sehubungan dengan itu, atas selesainya penyusunan model operasional ini kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Kepala Dinas Dukcapilkabermas Kabupaten Kulon Progo, Drs. Sarjana, dan Kasubdin KB, Drs. Habib Al Asyhari yang telah memberikan sumbang saran dan pemikiran dasar dalam arah pengembangan model operasional yang efektif, berbasis keterpaduan dan semangat kebersamaan.
2. Kepala Dinas/Instansi terkait terutama Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Bagian Kesra Setda Kulon Progo yang telah menugaskan stafnya yang berkompeten, sehingga penyusunan kajian pengembangan model operasional ini dapat berjalan lancar.
3. Pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan kontribusi dalam kajian pengembangan model operasional ini.
Semoga amal kebaikannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Kami berharap semoga kajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU yang telah dilakukan secara terpadu ini nantinya dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan guna menentukan arah pengembangan model operasional yang efektif dan efisien dalam rangka menciptakan SDM yang berkualitas dalam rangka menghadapi era globalisasi yang penuh persaingan.

Wates, 8 Agustus 2008
Tim Pengkajian Pengembangan Model Operasional BKB-Posyandu-PADU

DAFTAR ISI

SAMBUTAN KA DINAS DUKCAPILKABERMAS KAB KULON PROGO.. i
KATA PENGANTAR …………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………… iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang …………………………………………………… 1
B. Tujuan ………………………………………………………………. 2
C. Hasil yang Diharapkan ……………………………………….. 3
D. Metode yang Digunakan ……………………………………… 4

BAB I KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL
OPERASIONAL BKB – POSYANDU – PADU
A. Kajian Pengembangan Model dari Dinas/Instansi
Terkait …………………………………………………………….. 5
B. Kajian Pengembangan Model dari Kelompok …… 20
BAB II ARAH PENGEMBANGAN MODEL
OPERASIONAL BKB – POSYANDU – PADU
DI MASA DEPAN
A. Ketentuan Pokok Arah Pengembangan Model
Operasional …………………………………………………… 26
B. Arah Pengembangan Model Operasional Di Masa
Depan ……………………………………………………………. 27

BAB III KESIMPULAN…………………………………………………….. 32

BAB IV PENUTUP …………………………………………………………… 33

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak Usia Dini (0-6 tahun) sekarang ini telah mendapat perhatian cukup baik oleh masyarakat maupun pemerintah, terkait dengan adanya kesadaran baru bahwa proses tumbuh kembang anak berjalan demikian pesat yang akan berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan anak selanjutnya. Istilah “golden age” atau usia emas menjadi istilah populer untuk menyebut usia dini karena lompatan perkembangan otak yang luar biasa selama rentang usia tersebut. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukanoleh para ahli di bidangnya, dapat diketahui bahwa perkembangan otak manusia telah mencapai 25% pada saat dilahirkan dan mencapai 50% pada saat anak berusia 4 tahun. Selanjutnya mencapai 80% pada usia 8 tahun dan 100% di usia 18 tahun.
Satu yang menggembirakan, saat ini pemerintah telah banyak memberikan perhatian terhadap berbagai usaha dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dan pemeliharaan kesehatan anak maupun pemberian asupan gizi yang seimbang, dengan harapan proses tumbuh kembang anak dapat berjalan optimal sehingga tercipta SDM masa depan yang sehat, cerdas, trampil, berkepribadian serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bentuk perhatian pemerintah ini tercermin dengan digalakkannya kembali kegiatan BKB dan Posyandu serta dikembangkannya Pendidikan Anak Dini Usia (PADU – yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD) dengan kegiatan seperti Pos PAUD, Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis (SPS). Perhatian pemerintah ini ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat seiring dengan tumbuhnya kesadaran baru bahwa proses tumbuh kembang anak akan berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan anak selanjutnya.
Sayang, kegiatan BKB, Posyandu dan PADU selama ini masih dipandang oleh banyak pihak berjalan sendiri-sendiri sehingga ada kesan di masyarakat bahwa ketiga kegiatan tersebut saling terpisah dengan tujuan akhir yang tidak ada kaitannya satu sama lain. Sementara apabila didalami lebih jauh, ketiga kegiatan tersebut sebanarnya dapat dipadukan/disinergikan karena satu sama lain saling mengisi dan melengkapi, terutama bila hal ini dikaitkan dengan tujuan perndidikan untuk menjadikan “Anak Indonesia Sehat, Cerdas, Bercita-cita Tinggi dan Berakhlak mulia” yang berdimensi holistik. Sebab kenyataan menunjukkan, mereka yang sukses di masyarakat tidak selalu hanya pintar secara intelektual, tetapi juga yang juga baik kecerdasan sosial dan motoriknya. Mereka juga tidak pandai dengan sendirinya, tetapi juga harus mendapat dukungan dan perhatian dari kedua orangtuanya maupunorang-orang yang ada dalam lingkungan keluarganya.
Selama ini BKB dikenal sebagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, kesadaran dan sikap orangtua serta anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang balita. Sementara Posyandu adalah kegiatan untuk pelayanan kesehatan dan pemantauan status gizi bagi anak dengan harapan anak dapat tumbuh sehat dan ceria. Sedangkan PADU adalah upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (pasal 1 butir 14). Dari beberapa pengertian tersebut dapat diketahui bahwa sasaran BKB adalah orangtua (ayah/ibu) dan anggota keluarga lainnya, Posyandu orangtua dan anak, sedangkan PADU sasarannya anak.
Agar di masa depan kegiatan BKB, Posyandu dan PADU dapat berjalan seiring, sinergis dan terpadu diperlukan suatu kajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU yang efektif dan efisien ditinjau dari sisi pengelolaan, waktu, tenaga, biaya dan penggunaan sarana prasarana.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Pengkajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU dilakukan dalam rangka menentukan arah pengembangan model operasional ke depan yang diyakini mampu menggiatkan dan menggerakkan kegiatan BKB-Posyandu-PADU di dusun secara terpadu sehingga dapat efektif dan efisien dalam rangka mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak.
2. Tujuan Khusus
Secara khusus tujuan pengkajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU adalah sebagai berikut:
a. Jelasnya arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU
b. Tim Pengembangan Model Operasional memiliki petunjuk yang jelas dalam menentukan arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PAUD di tingkat Dusun.
c. Terciptanya persepsi dan pola pikir yang sama dalam rangka pembinaan terpadu pada kelompok BKB-Posyandu-PADU yang dapat dijadikan sebagai rujukan bagi Petugas Lapangan Dinas/Instansi/Sektor terkait.

C. Hasil yang Diharapkan
Kegiatan pengkajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU diharapkan dapat menghasilkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Dapat ditentukannya model pengelolaan kegiatan yang terpadu antara BKB, Posyandu dan PADU sehingga kegiatan dapat berlangsung efektif, efisien serta memiliki daya ungkit tinggi dalam rangka meningkatkan partisipasi kelompok sasaran pada ketiga kegiatan tersebut.
2. Dapat dijadikannya hasil kajian ini sebagai bahan pertimbangan bagi tim pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU tentang bagaimana pengaturan waktu kegiatan agar kegiatan BKB, Posyandu dan PADU dapat berjalan optimal namun tidak memberatkan kelompok sasaran/masyarakat, dalam hal bagaimana mereka harus menghadiri dan aktif dalam kegiatan tersebut.
3. Dapat dijadikannya hasil kajian ini sebagai bahan pertimbangan bagi tim pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU tentang bagaimana pengaturan penggunaan tenaga kader kegiatan agar kegiatan BKB, Posyandu dan PADU dapat berjalan optimal mengingat masih banyak tenaga kader yang memiliki tugas rangkap, bukan hanya sebagai kader BKB, tetapi juga sebagai kader Posyandu maupun PADU.
4. Dapat dijadikannya hasil kajian ini sebagai bahan pertimbangan bagi tim pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU tentang bagaimana pengaturan dana/pembiayaan kelompok agar kegiatan BKB, Posyandu dan PADU dapat berjalan seiring dengan kualitas yang tidak jauh berbeda mengingat besarnya kucuran dana untuk masing-masing kegiatan oleh dinas/instansi terkait tidaklah sama.
5. Dapat dijadikannya hasil kajian ini sebagai bahan pertimbangan bagi tim pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU tentang bagaimana pengaturan penggunaan sarana pra sarana kegiatan agar kegiatan pertemuan penyuluhan BKB, Posyandu dan PADU dapat berjalan efektif dan mudah dipahami oleh kelompok sasaran sehingga kegiatan ini dapat betul-betul memberi manfaat pada mereka dalam rangka mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

D. Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan dalam pengkajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU adalah sebagai berikut:
1. Metode Evaluasi
Metode ini diambil karena model operasional BKB-Posyandu-PADU yang akan dikembangkan sudah ada. Dengan demikian kajian pengembangannya ke depan dapat dilakukan dengan mengevaluasi pelaksanaan model di lapangan, khususnya tentang kelebihan dan kekurangan dari model operasional yang ada sekaligus kendala/permasalahan yang dihadapi. Dari metode ini juga digali apa yang menjadi keinginan/harapan kelompok dalam rangka optimalisasi kegiatan.
2. Metode Komparasi
Metode ini digunakan untuk melihat seberapa jauh dampak penerapan model terhadap aktivitas kelompok BKB, Posyandu dan PADU dari sisi frekuensi pertemuan, rata-rata kehadiran anggota, kader dan frekuensi pembinaan dari petugas/penyuluh. Hasilnya dapat dijadikan gambaran ke arah mana model operasional ke depan akan dibawa.
BAB II
KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL OPERASIONAL
BKB-POSYANDU-PADU

A. Kajian Pengembangan Model dari Dinas Instansi Terkait
Sebelum disampaikan di sini tentang bagaimana hasil kajian pengembangan model oleh Dinas/Instansi terkait khususnya Dinas Dukcapilkabermas, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan yang mengampu kegiatan BKB, Posyandu dan PADU, perlu diuraikan terlebih dahulu tentang segala sesuatunya yang terkait dengan ketiga kegiatan tersebut.
Kegiatan BKB, merupakan kegiatan yang untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, kesadaran dan sikap orangtua serta anggota lainnya dalam membina tumbuh kembang balita. Kegiatan ini muncul karena dilatarbelakangi oleh tiga hal yaitu: (1) Masa balita adalah Masa Emas, (2) Adanya perubahan tata nilai kehidupan anak akibat pengaruh lingkungan, perkembangan teknologi dan kehidupan, (3) Adaya tuntutan globalisasi yang mengharuskan SDM harus berkualitas agar dapat bersaing dan eksis di masyarakat.
Secara umum kegiatan BKB bertujuan untuk memberdayakan orangtua (ayah dan Ibu) dan anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang anak untuk mewujudkan SDM yang berkualitas. Sedangkan secara khusus, bertujuan untuk : (1) Meningkatkan pengetahuan orangtua dan anggota keluarga lainnya tentang tumbuh kembang balita, (2) Meningkatkan sikap dan perilaku dalam membina tumbuh kembang anak, (3) Meningkatkan ketrampilan dalam pengasuhan anak, (4) Meningkatkan kesadaran dan keterlibatan LSOM, dan (5)Melembagakan kegiatan BKB dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Karakteristik umum dari kegiatan BKB ini dapat disampaikan sebagai berikut: (1) Basis keberadaan ada ditingkat Dusun, (2) Bentuk kegiatan berupa pertemuan penyuluhan yang dilaksanakan 1 bulan sekali dengan variari kegiatan lainnya berupa praktik, kunjungan rumah, monitoring perkembangan, (3) Kader berjumlah 10 orang untuk 5 kelompok umur (0-1 Th; 1-2 Th; 2-3 Th; 3-4 Th; 4-5 Th), (4) Materi pertemuan penyuluhan berupa Program KB, BKB, pengelolaan kel BKB, Konsep diri, Pembentukan Karakter Sejak Dini, dan Merangsang 7 Aspek perkembangan anak (sekarang 9 aspek) yaitu: Gerakan kasar, gerakan halus, komunikasi pasif, komunikasi aktif, kecerdasan, menolong diri sendiri, tingkah laku sosial, moral agama, dan seni, (5) Alat Bantu berupa APE, Kantong Wasiat. Saat ini di Kabupaten Kulon Progo terdapat 375 kelompok BKB yang terdiri dari klasifikasi Dasar 168, Berkembang 160, dan Mandiri 47 kelompok.
Embrio dari kegiatan BKB adalah berupa program pembinaan anak diperkenalkan pertama kali oleh Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (UPW) pada tahun 1984 yang kemudian dikembangkan menjadi kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) oleh BKKBN.
Propinsi DIY termasuk pelopor dalam pengembangan kegiatan BKB tingkat nasional yang dimotori oleh Bapak Mulyadi Fajar Sidiq. Berbagai inovasi telah diciptakan, mulai dari “kantong wasiat” untuk memudahkan ibu-ibu peserta BKB dalam kegiatan pertemuan penyuluhan, penciptaan lagu-lagu BKB, hingga inovasi Alat Permainan Edukatif (APE). Berkat inovasi dan kreativitas petugas waktu itu, kelompok BKB di DIY pernah 5 kali berturut-turut juara tingkat nasional.
Sekarang ini kegiatan BKB telah banyak mengalami kemunduran. Kemunduran ini dibuktikan dengan semakin berkurangnya kelompok BKB yang ada, menurunnya aktivitas kelompok BKB serta menurunnya kualitas kegiatan secara umum sehingga BKB seakan telah kehilangan rohnya. Penyebabnya bila diidentifikasi disebabkan oleh beberapa hal:
1. Kurangnya dukungan sarana prasarana dan dana operasional untuk kegiatan BKB sehingga semangat kader jauh berkurang untuk melakukan kegiatan pertemuan penyuluhan maupun penggarapan administrasi.
2. Materi BKB dianggap kurang berkembang, karena yang disampaikan hanya itu-itu saja. Bahkan ada beberapa sinyalemen bahwa BKB itu kuno, sekarang ini bukan eranya BKB, dan sebagainya.
3. Pembinaan yang kurang oleh petugas lapangan sehingga banyak kelompok BKB yang mengendor kegiatannya
4. Tumbuh dan berkembangnya PAUD yang dikelola Dinas Pendidikan (Subdin PLS). Di Pusat di tangani oleh Direktur Pendidikan Anak Usia Dini, Dirjen PLS dan Pemuda Depdiknas. Karena pengertian yang kurang jelas, PAUD dianggap sebagai pengganti BKB sehingga tidak sedikit kader BKB yang “hijrah” ke PAUD, disamping dukungan sarana pra sarana dan operasional yang lebih memadai.
Sementara itu, Posyandu yang dikelola oleh Dinas Kesehatan merupakan salah satu bentuk upaya pelayaan kesehatan masyarakat yang dilaksanakan oleh, dari dan bersama masyarakat guna memperoleh layanan kesehatan bagi ibu da anak balita. Dengan demikian sasaran dari kegiatan yang dilaksanakan oleh kader Posyandu dengan bimbingan dari Petugas Puskesmas ini adalah: (1) Bayi dan Anak Balita, (2) Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui, (3) Pasangan Usia Subur, (4) Pengasuh anak.
Di Posyandu ini, masyarakat bisa mendapatkan 5 pelayanan kesehatan utama yaitu: (1) Kesehatan Ibu dan anak, (2) Keluarga Berecana, (3) Imunisasi, (4) Gizi, (5) Pencegahan dan penanggulangan diare. Guna mengefektifkan pelayananan pada sasaran, Posyandu menerapkan pola pelayanan sebagai beriut:
1. Meja I : Pendaftaran oleh kader Posyandu
2. Meja II : Penimbangan dan pemantauan tumbuh kembang oleh kader
Posyandu
3. Meja III : Pengisian KMS atau Buku KIA oleh kader
4. Meja IV : – Penyuluhan KIA termasuk Tumbuh Kembang Anak
menggunakan Buku KIA oleh Kader Posyandu
– Penyuluhan gizi termasuk pemberian kapsul Vitamin A,
Tablet Tambah Darah dan PMT (Pemberian Makanan Tambahan)
– Merujuk Balita ke Meja V
5. Meja V : – Pelayanan dan konseling kesehatan dan gizi oleh Petugas
Kesehatan
– Imunisasi
– KIA-KB termasuk stimulasi, deteksi dini tumbuh kembang balita.
– Gizi termasuk penanggulangan gizi kurang dan buruk serta penyakit pada balita
Adapun manfaat dari kegiatan Posyandu yang diselenggarakan setiap bulan sekali ini antara lain:
1. Pertumbuhan anak balita terpantau, sehingga tidak menderita gizi kurang atau buruk
2. Bayi dan anak balita mendapat kapsul vitamin A setiap bulan februari dan Agustus
3. Bayi memperoleh imunisasi lengkap
4. Ibu hamil terpantau berat badannya dan memperoleh Tablet Tambah darah serta Imunisasi Tetanus Toxoid
5. Ibu Nifas memperoleh Kapsul Vitamin A da Tablet Tambah Darah
6. Memperoleh penyuluhan kesehatan tentang kesehatan ibu dan anak
7. Apabila terdapat kelainan pada anak balita, ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui akan dirujuk ke Puskesmas
8. Dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak balita.
Saat ini di Kabupaten Kulon Progo terdapat 954 Posyandu yang tersebar di 930 Dusun. Ini berarti ada beberapa dusun di Kulon Progo yang memiliki lebih dari satu Posyandu. Dari 954 Posyandu tersebut terdapat 5 Posyandu Plus yakni di Desa Sentolo (Kec. Sentolo) 1 kelompok, Desa Ngargosari (Kec. Samigaluh) 1 kelompok dan Desa Pagerharjo (Kec. Samigaluh) 3 kelompok. Kegiatan Posyadu Plus ini ditandai dengan adanya Gelar Posyandu yang dilaksanakan setiap tahun 1- 2 kali. Kegiatan dari Posyandu Plus ini selain berupa kegiatan rutin juga ada kegiatan pengembangan atau pilihan seperti: Bina Keluarga Balita (BKB), UPPKS, Pemanfaatan Pekarangan dan berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya.
Harus diakui bahwa Posyandu ini telah lama menjadi ujung tombak pembangunan kesehatan di masyarakat. Dalam perjalanaanya Posyandu banyak mengalami berbagai perkembangan, khususnya apabila dilihat dari sisi pelayanan yang ditampilkan. Namun demikian sampai saat ini masih banyak yang perlu diperbaiki mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusianya (pengelola), sarana dan prasarananya, pelayanan, dukungan pihak-pihak terkait, dukungan sumberdaya, serta mekanisme koordinasi yang mestinya dilakukan. Sehingga perlu kiranya dilakukan kajian terhadap model operasional Posyandu-BKB-PADU agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik.
Sedangkan Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) yang sekarang lebih dikenal dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pengertia ini tercantum dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 14.
Disebutkan lebih lanjut bahwa PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, dan PAUD dapai diselenggarakan dalam jalur pendidikan formal, nonformal dan informal.
PAUD jalur pendidikan nonformal diselenggarakan dalam bentuk Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak dan bentuk lain yang sederajat. Dalam hal ini Pos PAUD merupakan salah satu satuan dari bentuk lain yang sederajat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2005, PAUD Nonformal berada di bawah pembinaan Direktorat PAUD, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah atau Ditjen PLS (Ditjen PLS sekarang diganti menjadi Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal).
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Direktorat PAUD berkewajiban menyiapkan berbagai pedoman yang bisa dijadikan acuan oleh masyarakat yang akan menyelenggarakan PAUD Nonformal, termasuk Pos PAUD. Pedoman-pedoman tersebut tentunya didasarkan pada kebijakan pemerintah di bidang PAUD, baik yang telah dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) maupun Rencana Strategis (Renstra) Departemen Pendidikan Nasional.
Kebijakan Depdiknas dalam bidang PAUD adalah :
1) Meningkatkan pemerataan dan akses layanan PAUD
2) Meningkatkan mutu, relevansi dan daya saing PAUD
3) Meningkatkan good governance, akuntabilitas dan pencitraan yang positif di bidang PAUD.
Salah satu bentuk satuan PAUD Sejenis adalah program PAUD yang diintegrasikan dengan program Bina Keluarga dan Balita (BKB) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang selanjutnya disebut Pos PAUD. Hingga akhir 2007, Kulon Progo memiliki 147 Pos Paud yang tersebar di 147 dusun.
Selanjutnya berdasarkan kajian dari Dinas/Instansi terkait sehubungan dengan arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU diperoleh gambaran sebagai berikut:
1. Model Operasional BKB
Merunut sejarah masa lalu, model pengelolaan/pembinaan BKB yang diterapkan di Propinsi DIY pada umumnya dan Kabupaten Kulon Progo pada khususnya dilakukan secara berjenjang. Di tingkat Propinsi ada Kelompok Kerja (Pokja) BKB, di tingkat Kabupaten juga Pokja BKB, di tingkat Kecamatan Tim Operasional BKB, di tingkat Desa Tim Laksana BKB dan di tingkat Dusun/Kelompok oleh Kader BKB. Kader BKB berjumlah 10 orang untuk 5 kelompok umur. Rinciannya 2 orang kader untuk kelompok umur 0-1 tahun, 2 orang kader untuk kelompok umur 1-2 tahun, 2 orang untuk kelompok 2-3 tahun, 2 orang untuk kelompok 3-4 tahun), dan 2 orang lagi untuk kelompok umur 4-5 tahun. 2 orang kader untuk masing-masing kelompok umur tersebut statusnya 1 orang sebagai kader inti dan 1 orang lainnya sebagai kader pendamping. Sementara dalam Pokja BKB maupun Tim Ops BKB saat itu terdiri atas unsur BKKBN, PKK, Depkes, Depdikbud, Depag, dsb.
Model pengelolaan tersebut, kelebihannya, bila semua dapat berjalan optimal dipastikan hasilnya bagus, namun untuk kondisi sekarang menjadi sulit untuk dilaksanakan. Salah penyebabnya adalah BKKBN di tingkat kabupaten yang dahulu vertikal (yang nota bene dukungan sarana prasarana dan dana relatif cukup) sekarang sudah tidak ada lagi seiring dengan leburnya ke Pemda pasca pemberlakukan otonomi daerah tahun 2004 lalu.
BKB dalam kurun waktu beberapa tahun sempat kollaps dalam situasi “Ada tapi tiada, hidup segan mati tak mau” karena perhatian dari petugas ke lapangan yang kurang, koordinasi yang terus melemah hingga tidak ada lagi inovasi baru yang mampu mengangkat semangat kader pengelola untuk lebih giat lagi menghidupkan/menggiatkan kelompok BKB.
Beruntung, saat ini telah ada beberapa inovasi dari Kulon Progo untuk menggiatkan kembali program BKB. Di antaranya penyusunan buku pengayaan Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak, penyusunan Materi Pengayaan Ketahanan Keluarga yang hingga sekarang telah terbit 8 Edisi, serta adanya inovasi dari lapangan (Kelompok BKB Edelweiss Krembangan) yang mencoba melahirkan inovasi baru dengan memadukan antara kegiatan BKB, Pelayanan Kesehatan melalui Posyandu dan PAUD.
Ke depan, BKB tidak mungkin berdiri sendiri sebagai kelompok kegiatan tunggal dengan melaksanakan kegiatan sendiri dan dibiayai sendiri oleh Subdin KB. Membebankan semua biaya pada masyarakat juga tidak mungkin dilakukan mengingat kondisi masyarakat saat ini serta belum tingginya kesadaran akan pentingnya BKB dalam pengasuhan anak Balita.
Sebenarnya BKB, Posyandu dan PAUD merupakan kegiatan yang saling melengkapi dalam rangka mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak. Namun karena ketiga kegiatan tersebut ditangani oleh tiga istansi yang berbeda dengan dukungan sarana prasarana maupun dana yang berbeda, hasilnya menjadi berbeda. Posyandu yang dikelola Dinas Kesehatan sekarang ini kembali bangkit pasca meledaknya balita kurang gizi. Perhatian dan dukungan dana dari pemerintah cukup besar untuk kegiatan ini (termasuk untuk operasional kader) sehingga Posyandu kembali hidup dan berkembang. PAUD yang dikelola oleh Dinas Pendidikan (Subdin PLS) juga berkembang pesat karena ditangani serius dengan dukungan dana dan sarana prasarana yang memadai. Sementara BKB tetap dalam kondisi setengah hidup setengah mati karena hampir tidak ada dukungan sarana prasarana maupun dana yang cukup.
BKB dan PAUD walaupun aspek yang dikembangkan sama, tetapi sasaran jelas berbeda. BKB sasarannya keluarga sementara PAUD adalah anak. Sementara kalau kita mau berpikir logis, tumbuh kembang anak tidak akan optimal walaupun PAUD digalakkan tanpa dukungan ilmu dan ketrampilan orangtua (terutama ibu) dalam mengasuh dan membina anak. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama bagi anak, dan lingkungan itu yang akan mematangkan proses tumbuh kembang anak. Apalah artinya, anak diajarkan berbagai pengetahuann dan ketrampilan, bila suatu saat sang anak menanyakan pada orang tua, mereka tidak tahu, jawabannya berbeda, atau malah kebingungan karena belum pernah mendengar sebelumnya.
Oleh karena itu BKB-Posyandu-PADU perlu diformat menjadi kegiatan terpadu yang saling melengkapi, saling menguntungkan tanpa harus menghilangkan ciri khas masing-masing. Posyandu jelas dibutuhkan dalam rangka membangun anak yang sehat dengan pemenuhan gizi yang seimbang, sementara BKB dan PAUD dibutuhkan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak hingga menjadi anak yang cerdas, trampil, bertaqwa dan berbudi pekerti luhur. Model operasional BKB-Posyandu-PADU yang dikembangkan secara bersama-sama akan membawa hasil positif dalam rangka membangun masa depan generasi muda kita yang cerah.

2. Model Operasional Posyandu
Beberapa model kegiatan Posyandu yang dilaksanakan selama ini antara lain sebagai berikut;
a. Kegiatan Posyandu Plus
Kegiatan ini memadukan berbagai kegiatan mulai dari Kegiatan Pelayanan Posyandu, Penyuluhan, BKB, Paud, usila, pemberian PMT, BKR dll. Ada beberapa Posyandu Plus yang merupakan gabungan dari beberapa Posyandu, namun ada yang hanya terdiri 1 Posyandu. Berbagai kegiatan tersebut dilakukan dalam satu wadah koordinasi yang dikelola bersama.
b. Kegiatan tersebut dilaksanakan terpisah dalam satu koordinasi
Masing-masing kegiatan berjalan secara terpisah dan sendiri-sendiri. Ada yang dilakukan dengan kader yang sama dengan Posyandu, dalam arti ketiga kegiatan tersebut dilaksanakan oleh kader yang sama dengan waktu dan tempat pelaksanaan yang berbeda.
c. Kegiatan dilaksanakan secara terpisah dengan Posyandu dan tidak dalam satu koordinasi.
Kegiatan dilaksanakan oleh kader yang tidak ada keterkaitan dengan Posyandu baik kordinasinya, pengelola dan sumberdaya dan sumber dananya. Struktur kepengurusan terpisah dari yang lain.
Berdasarkan kajian dilapangan, permasalahan dan kendala yang dihadapi dengan model operasional yang demikian itu antara lain: (1) Keterbatasan kemampuan sumberdaya, (2) Minimnya dukungan pihak terkait, (3) Masalah klasik/intern Posyandu di pedukuhan, (4) Image Posyandu hanya punya kesehatan, (5) Frekuensi pembinaan kurang, (6) Keterbatasan biaya operasional, (7) Intervensi belum mengutamakan pemberdayaan.
Kedepan, agar hasilnya lebih baik, arah pengembangan model operasionalnya adalah sebagai berikut:
a. Model Pengelolaan
Ketiga kegiatan tersebut akan lebih baik dikemas dalam satu kegiatan, satu waktu, satu koordinasi, satu wadah organisasi dan satu sumber dana.
b. Alokasi waktu
Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan terjadwal maupun tidak terjadwal sesuai kebutuhan kemandirian ibu balita untuk aktif membawa anaknya dalam kegiatan tersebut menjadi prioritas.
c. Dukungan dan pengelolaan dana
Setiap sektor diharapkan dapat mengalokasikan dana sesuai program masing-masing.
d. Pembinaan, monitoring dan evaluasi
Ketiga kegiatan tersebut akan lebih menjadi milik masyarakat kalau semua yang terkait turut melakukan pembinaan sesuai porsi masing-masing mulai dari tingkat pedukuhan, desa, kecamatan dan kabupaten. Evaluasi harus dilakukan setiap saat untuk mengetahui permasalahan yang muncul.
Dengan demikian, kesimpulannya model operasional kegiatan Posyandu, BKB, PADU yang selama ini dilaksanakan perlu dikaji lebih lanjut untuk menemukan formula yang tepat bagi pengembangan kegiatan tersebut dan dapat diterima oleh masyarakat.

3. Model Operasional PADU
Secara umum Pendidikan Anak Dini Usia yang diselenggarakan dalam bentuk Pos PAUD didasarkan atas prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Berorientasi pada kebutuhan anak. Kegiatan belajar harus selalu ditujukan pada pemenuhan kebutuhan perkembangan masing-masing anak sebagai individu.
b. Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain. Dengan bermain yang menyenangkan dapat merangsang anak untuk melakukan eksplorasi dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya, sehingga anak menemukan pengetahuan dari benda-benda yang dimainkannya.
c. Munculnya kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi tercermin melalui kegiatan yang membuat anak tertarik, fokus, serius dan konsentrasi.
d. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar. Lingkungan harus diciptakan menjadi lingkungan yang menarik dan menyenangkan bagi anak selama mereka bermain.
e. Mengembangkan kecakapan hidup anak. Kecakapan hidup diarahkan untuk membantu anak menjadi mandiri, disiplin, mampu bersosialisasi, dan memiliki ketrampilan dasar yang berguna bagi kehidupannya kelak.
f. Menggunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan sekitar.
g. Dilaksanakan secara bertahap dengan mengacu pada prinsip-prinsip perkembangan anak.
h. Rangsangan pendidikan mencakup semua aspek perkembangan.
Rangsangan pendidikan bersifat menyeluruh yang mencakup semua aspek perkembangan. Saat anak melakukan sesuatu sesungguhnya ia sedang mengembangkan berbagai aspek perkembangan/kecerdasannya. Sebagai contoh saat anak makan, ia mengembangkan kemampuan bahasa (kosa kata tentang nama bahan dan jenis makanan), gerakan motorik halus (memegang sendok dan membawa makanan ke mulut), kemampuan kognitif (membedakan jumlah makanan yang banyak dan sedikit), kemampuan sosial emosional (duduk dengan tenang, saling berbagi, dan saling menghargai keinginan teman) dan aspek moral (berdoa sebelum dan sesudah makan).
Prinsip-prinsip tersebut mendasarkan pada pola perkembangan anak sebagai berikut: (1) Anak akan belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi, merasa aman dan nyaman dalam lingkungannya, (2) Anak belajar terus menerus, dimulai dari membangun pemahaman tentang sesuatu, mengeksplorasi lingkungan, menemukan kembali sesuatu konsep, hingga mampu membuat sesuatu yang berharga, (3) Anak belajar melalui interaksi sosial, baik dengan orang dewasa maupun dengan teman sebaya, (4) Minat dan ketekunan anak anak memotivasi belajar anak, (5) Perkembangan dan gaya belajar anak terus dipertimbangkan sebagai perbedaan individu, (6) Anak belajar dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkrit ke abstrak, dari yang berupa gerakan ke bahasa verbal, dan dari diri sendiri ke interaksi dengan orang lain.
Dalam operasionalisasi di lapangan, Pos PAUD dengan menggunakan konsep layanan sebagai berikut:
a. Optimalisasi Program
Kehadiran Pos PAUD mendukung keberadaan Posyandu yang memberikan layanan dasar kesehatan dan gizi untuk balita dan memperkuat BKB yang memberikan pengetahuan dan keterampilan mendidik kepada keluarga/orang tua balita.
b. Optimalisasi Ketenagaan
Sejauh mungkin Pos PAUD memanfaatkan tenaga kader yang sudah ada dengan penambahan pengetahuan dan keterampilan mendidik anak melalui pelatihan. Namun demikian apabila kader yang ada dirasakan kurang memadai, baik dalam jumlah maupun kemampuannya, maka dapat menambah kader baru yang khusus menangani layanan Pos PAUD.
c. Optimalisasi Prasarana
Program Pos PAUD dapat memanfaatkan prasarana yang dimiliki masyarakat, tanpa harus membangun baru. Bahkan apabila tidak ada bangunan yang memadai, kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan halaman atau serambi masjid/mushola atau prasarana lain, sepanjang aman bagi anak. Kegiatan ini juga dapat dilakukan di rumah penduduk/kader.
d. Optimalisasi Sarana
Kegiatan Pos PAUD membutuhkan sarana dan alat bermain yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuannya melalui bermain. Sarana dan alat bermain menjadi faktor penunjang yang penting, namun tidak berarti harus menggunakan sarana dan alat bermain pabrikan (harus membeli). Penggunaan limbah lingkungan yang didaur ulang menjadi alat bermain sangat disarankan dalam Program Pos PAUD.
e. Berpusat Pada Anak
Kegiatan Pos PAUD bertujuan untuk melejitkan semua potensi yang dimiliki anak. Mengingat bahwa kecepatan perkembangan setiap anak berbeda, maka kegiatan harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Pos PAUD tidak ditujukan untuk melatih atau men-drill akan dengan kemampuan tertentu yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak, sekedar untuk memenuhi keinginan orang tua, karena akan merugikan bagi perkembangan anak itu sendiri.
Berdasarkan kajian dari lapangan dapat diketahui beberapa permasalahan/kendala yang dihadapi terkait dengan pelaksanaan model operasional selama ini adalah sebagai berikut: (1) Istilah Pos PADU atau PAUD masih relatif baru, sehingga belum banyak orang yang mengetahuinya, (2) Kemampuan atau kompetensi Pendidik Pos PAUD atau Kader masih kurang, (3) Sarana pendukung kegiatan Pos PAUD pada umumnya kurang memadai.
Ke depan, model operasional yang diharapkan adalah sebagai berikut:
a. Dari Sisi Peserta Didik
Peserta didik di Pos PAUD adalah anak usia 0 – 6 tahun yang tidak terlayani di lembaga pendidikan anak dini usia lainnya, baik di Taman Penitipan Anak, Kelompok Bermain, maupun Taman Kanak-Kanak.
Mengingat sebagian besar kehidupan anak berada dalam pengasuhan keluarga, maka orang tua menjadi sasaran tak langsung dari program ini. Sasaran tak langsung yang dimaksud adalah orang tua diharapkan mendapatkan model pengasuhan yang tepat sehingga kekurangan waktu yang ada di Pos PAUD dapat dipenuhi di rumah.
b. Dari Sisi Pendidik
1) Pendidik Pos PAUD dapat disebut Kader atau sebutan lain yang sesuai dengan kebiasaan setempat.
Jumlah Kader Pos PAUD disesuaikan dengan jumlah dan usia anak yang dilayani dengan rasio pengelompokan sebagai berikut :
a) Untuk usia 0 – 2 tahun tidak dibatasi jumlahnya karena tugas Kader hanya mendampingi orang tua/pengasuh dalam kegiatan pengasuhan bersama.
b) Untuk usia 2 – 3 tahun antara 5 – 8 anak.
c) Untuk usia 3 – 4 tahun antara 8 – 10 anak
d) Untuk usia 4 – 6 tahun antara 10 – 15 tahun
2) Masing-masing kelompok dibimbing oleh seorang kader. Apabila terdapat anak berkebutuhan khusus, maka perlu seorang kader untuk mendampingi secara khusus atau melibatkan orang tua / pengasuhnya sebagai pendampingnya. Anak-anak berkebutuhan khusus tetap digabungkan dengan anak lainnya yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Cara-cara pendampingannya agar memperhatikan petunjuk dari psikolog/psikiater yang menangani anak tersebut.
3) Persyaratan Kader Pos PAUD :
 Latar belakang pendidikan SLTA atau sederajat
 Mendapatkan pelatihan PAUD
 Bersedia bekerja secara sukarela
Apabila Kader berpendidikan di bawah SLTA, maka harus mengikuti pelatihan tambahan secara berjenjang sesuai dengan aturan yang ditetapkan.
4) Pengelola
a) Pengelola Pos PAUD adalah Kader PKK di lingkungan setempat.
b) Tugas dan tanggungjawab pengelola adalah :
– Memfasilitasi kegiatan Pos PAUD
– Berkoordinasi dan menjalin komunikasi dengan Ketua PKK
Desa/Kelurahan, instansi pembina, tokoh masyarakat/agama, dan pihak lain yang terkait.
– Melaporkan kegiatan Pos PAUD secara bulanan kepada Ketua
PKK Desa/Kelurahan dengan menggunakan format yang telah disiapkan.
– Dalam pelaksanaan kegiatan bertanggung jawab lepada Ketua PKK
Desa/Kelurahan dan masyarakat.
c. Penyelenggara
1) Pos PAUD dapat diselenggarakan oleh Tim Penggerak PKK, SKB/BPKB, atau lembaga lainnya. Penyelenggara bertanggung jawab melakukan pembinaan terhadap Pos PAUD binaannya.
2) Setiap penyelenggara dapat membina beberapa Pos PAUD di wilayahnya.
d. Alokasi Waktu Kegiatan
Kegiatan Pos PAUD dilaksanakan satu kali dalam seminggu yang jadwalnya dapat disesuaikan dengan hari layanan BKB dan Posyandu.
Hari layanan BKB sebaiknya dibarengkan dengan layanan Pos PAUD. Sedangkan hari layanan Posyandu karena kompleksitas jenis layanannya dapat dilakukan di hari berbeda.
Lama Kegiatan Pos PAUD untuk kelompok Pengasuhan bersama (0 – 2 tahun) dilaksanakan sekitar 2 jam, sedangkan untuk kelompok bermain bersama (2 – 6 tahun) sekitar 3 jam.
Penambahan hari layanan lebih dari satu kali perminggu agar didasarkan oleh hasil kesepakatan antara kader dengan para orang tua. Apabila Pos PAUD sudah berjalan mapan dan memenuhi kriteria penyelenggaraan teknis program Kelompok Bermain, maka program Pos PAUD untuk kelompok anak usia di atas 2 tahun dapat diarahkan menjadi Kelompok Bermain. Sedangkan untuk kelompok anak usia 0 – 2 tahun tetap dalam bentuk Pos PAUD.
Kegiatan hari-hari lain dilakukan oleh keluarganya di rumah masing-masing, Kegiatan di rumah dimaksudkan untuk melanjutkan kegiatan yang dilaksanakan di Pos PAUD.
e. Dukungan dan Pengelolaan Dana
Biaya operasional kegiatan mencakup komponen :
1) Sarana bermain dalam dan luar.
2) Administrasi kelompok.
3) Kegiatan pembelajaran.
4) Pengembangan dan insentif kader.
Pada awal pembentukan, biaya kegiatan dapat dimintakan dukungan dana bantuan rintisan program dari pemerintah (dana APBN, APBD Propinsi, maupun APBD Kabupaten). Pembiayaan berikutnya menjadi tanggungjawab para orangtua melalui iuran harian/bulanan. Iuran tersebut digunakan untuk pembelian bahan dan alat-alat serta kebutuhan operasional lain. Bila Kegiatan Pos PAUD dilaksanakan lebih dari sekali perminggu, agar Kader diusahakan mendapat insentif/honor.
f. Pembinaan Monitoring dan Evaluasi
Penanggungjawab teknis pembinaan program Pos PAUD adalah jajaran Dinas Pendidikan yang dalam hal ini secara operasional dilakukan oleh Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan setempat, sedangkan monitoring dan Evaluasi dilaksanakan oleh Penilik.
Penanggungjawab teknis pembinaan BKB adalah jajaran Dinas Dukcapilkabermas dan penanggungjawab teknis pembinaan program Posyandu adalah jajaran Dinas Kesehatan.
Masing-masing sektor terkait tersebut dapat bekerjasama dan saling berkoordinasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.
Dalam hal penyelenggaraan Pos PAUD di bawah PKK, maka TP PKK dilibatkan dalam pembinaan Pos PAUD di wilayah binaannya.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: (1) Pos PAUD dikembangkan dengan melibatkan Kader dan Petugas Pembina (PLKB, Dokter Puskesmas, Bidan Desa, PKK, Penilik), (2) Keterlibatan tokoh masyarakat, masyarakat sekitar dan orang tua anak sangat penting dalam keberlangsungan program. Oleh karena itu menggalang potensi masyarakat melalui para tokoh masyarakat maupun tokoh pemerintahan setempat sangat penting, (3) Dalam penghimpunan iuran orang tua dapat melibatkan salah satu orang tua anak yang berpengaruh, sehingga kelancarannya lebih terjamin.
Pos PAUD dapat dikatakan berhasil apabila :
a. Lebih dari 75% anak yang mengikuti Posyandu diikutsertakan dalam Program Pos PAUD.
b. Tingkat kehadiran anak lebih dari 75%.
c. Saldo kas Pos PAUD semakin meningkat.
d. Kegiatan Pos PAUD telah berjalan setiap minggu.
e. Anak yang mengikuti program Pos PAUD semakin bertambah.

B. Kajian Pengembangan Model dari Kelompok
Kajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU dari kelompok lebih banyak merupakan upaya menggali dan mencermati apa yang telah dilaksanakan kelompok terkait dengan upaya memadukan ketiga kegiatan tersebut di tingkat lini lapangan, apa yang menjadi permasalahan/kendala di lapangan, serta harapan mereka ke depan. Dari hasil pencermatan ini, paling tidak akan dapat diketahui secara umum model operasional seperti apa yang paling ideal diterapkan oleh kelompok dengan membandingkan antara realitas pelaksanaan kegiatan dengan harapan-harapan mereka ke depan.
Berdasarkan hasil pengolahan dari instrumen kajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU yang sebelumnya dikirimkan dan diisi oleh kader BKB, Posyandu dan PADU dari 36 dusun pilot project pengembangan model operasional pada bulan Agustus 2008 lalu, diperoleh gambaran sebagai berikut:
1. Model Operasional Yang Diterapkan
a. Waktu Pelaksanaan
Ditinjau dari waktu pelaksanaan kegiatan BKB-Posyandu-PADU, dari 36 dusun pilot project yang melaksanakan masing-masing berbeda waktunya ada 12 dusun (33,33%), BKB dan Posyandu bersamaan 18 dusun (50,00%), serta BKB, Posyandu, PADU bersamaan ada 6 dusun (16,67%).
b. Tempat Pelaksanaan
Ditinjau dari tempat pelaksanaan kegiatannya, sebanyak 22 dusun (61,11%) memiliki tempat yang sama dan 14 dusun lainnya (38,89%) berbeda tempat kegiatannya.
c. Model Pertemuan
Ditinjau dari model pertemuan yang dilaksanakan, sebanyak 14 dusun (38,89%) ketiganya mempertahankan ciri khas masing-masing, dan 22 dusun lainnya (61,11%) telah ada upaya pemaduan. Rinciannya pemaduan dari sisi materi 12 dusun, sisi penyelenggaraan 5 dusun, sisi sarana pra sarana 5 dusun.
d. Administrasi/Pencatatan Pelaporan
Ditinjau dari sisi pengerjaan administrasi/pencatatan pelaporan, sebanyak 29 dusun (80,56%) disendirikan untuk masing-masing kegiatan, dan sebanyak 7 dusun (19,44%)
e. Pendanaan
Ditinjau dari sisi penggunaan dana kegiatan, sebanyak 24 dusun (66,67%) menyatakan terpisah untuk BKB, Posyandu, PADU, 10 dusun (27,78%) menyatakan digabung dan digunakan secara proposional, dan 2 dusun (5,55%) menyatakan digabung dan dibagi sama rata.
f. Penggunaan Materi Pembinaan
Ditinjau dari sisi penggunaan materi pembinaan, sebanyak 3 dusun (8,33%) menyatakan menggunakan materi tanpa ada upaya untuk saling mengisi/melengkapi, sebanyak 12 dusun (33,33%) menyatakan ada upaya memadukan materi sebatas untuk BKB dan PADU, dan sebanyak 21 dusun (58,34%) menyatakan ketiganya telah dipadukan.
g. Penggunaan Sarana Pra Sarana
Ditinjau dari penggunaan sarana pra sarana, sebanyak 5 dusun (13,89%) menyatakan hanya digunakan oleh kelompok masing-masing dan sebanyak 31 dusun (86,11%) digunakan secara bersama-sama

h. Peran PKK Dusun
Peran PKK Dusun dalam pengelolaan kegiatan BKB-Posyandu-PADU, sebanyak 21 dusun (58,33%) menyatakan ikut mengelola kegiatan termasuk dari sisi pendanaan, sebanyak 14 dusun (38,89%) menyatakan sebatas menggerakkan dan 1 dusun (2,78%) menyatakan hanya sebatas sebagai penonton.
i. Keterlibatan Tokoh Masyarakat
Keterlibatan tokoh masyarakat dalam kegiatan BKB-Posyandu-PADU, sebanyak 6 dusun (16,67%) menyatakan belum ada keterlibatan dan sebanyak 30 dusun (83,33%) menyatakan sudah ada keterlibatan berupa dukungan dana 12 dusun, sebatas dukungan moral 3 dusun, dukungan materi/sarana 3 dusun dan dukungan pemikiran/pembinaan 12 dusun.
2. Perkembangan Frekuensi Pertemuan, Kehadiran Anggota, Kader dan Petugas
a. Frekuensi Pertemuan
Dari sisi frekuensi pertemuan sebelum dan sesudah penerapan model operasional yang dikembangkan tahun 2007 lalu tidak menunjukkan perbedaan, karena kegiatan BKB tetap dilaksanakan 1 bulan sekali, demikian halnya dengan kegiatan Posyandu. Sementara PADU yang dalam hal Pos PAUD dilaksanakan 1 minggu sekali.
b. Kehadiran Anggota
Dari sisi kehadiran anggota, untuk kelompok BKB-Posyandu-PADU sebelum dan sesudah penerapan model secara umum terdapat kenaikan tingkat kehadiran dengan besarnya masing-masing sebagai berikut:
1) BKB
Sebelum penerapan model rata-rata 23,69 orang
Sesudah penerapan model rata-rata 25,00 orang
Persentase kenaikan 5,53%
2) Posyandu
Sebelum penerapan model rata-rata 31,66 orang
Sesudah penerapan model rata-rata 33,07 orang
Persentase kenaikan 4,45%
3) PADU
Sebelum penerapan model rata-rata 21,79 orang
Sesudah penerapan model rata-rata 23,66 orang
Persentase kenaikan 8,58%
c. Kehadiran Kader
Dari sisi kehadiran kader, untuk kelompok BKB-Posyandu-PADU sebelum dan sesudah penerapan model secara umum terdapat kenaikan tingkat kehadiran dengan besarnya masing-masing sebagai berikut:
1) BKB
Sebelum penerapan model rata-rata 4,63 orang
Sesudah penerapan model rata-rata 4,97 orang
Persentase kenaikan 7,34%
2) Posyandu
Sebelum penerapan model rata-rata 5,00 orang
Sesudah penerapan model rata-rata 5,20 orang
Persentase kenaikan 4,00%
3) PADU
Sebelum penerapan model rata-rata 4,10 orang
Sesudah penerapan model rata-rata 4,37 orang
Persentase kenaikan 6.59%
d. Kehadiran Petugas/Penyuluh
Dari sisi kehadiran petugas/penyuluh, untuk kelompok BKB-Posyandu-PADU sebelum dan sesudah penerapan model secara umum terdapat kenaikan tingkat kehadiran dengan besarnya masing-masing sebagai berikut:
1) BKB
Sebelum penerapan model rata-rata 5,39 orang
Sesudah penerapan model rata-rata 6,32 orang
Persentase kenaikan 17,25%
2) Posyandu
Sebelum penerapan model rata-rata 6,43 orang

Sesudah penerapan model rata-rata 6,79 orang
Persentase kenaikan 5,60%
3) PADU
Sebelum penerapan model rata-rata 4,11 orang
Sesudah penerapan model rata-rata 4,86 orang
Persentase kenaikan 18,25%
3. Beberapa Kendala yang Dihadapi
Beberapa kendala yang dihadapi oleh kelompok terkait dengan upaya mengoptimalkan kegiatan BKB, Posyandu dan PADU pada 36 dusun yang dijadikan pilot project atau wilayah uji coba pengembangan model operasional dapat diidentifikasi sebagai berikut:
a. Masih kurangnya kepedulian tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam hal pendanaan atau dukungan materi lainnya untuk mendukung kegiatan BKB.
b. Masih kurangnya kesadaran anggota kelompok kegiatan terutama BKB untuk berswadaya dalam rangka optimalisasi kegiatan kelompok
c. Masih rendahnya kesadaran sebagian ibu untuk mengikuti kegiatan BKB
d. Sulitnya kelompok untuk menggali sumber dana dalam rangka melengkapi sarana pra sarana kelompok, khususnya untuk kegiatan BKB
e. Tempat untuk melakukan kegiatan kelompok dirasa kurang layak, apalagi dengan adanya upaya menggabungkan dua atau tiga kegiatan kelompok kegiatan dalam satu waktu.
f. Rendahnya SDM kader karena rata-rata tingkat pendidikan rendah sementara akses untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan melalui kegiatan pelatihan sangat terbatas.
g. Terbatasnya jumlah kader yang mengelola kegiatan terutama pada kelompok BKB yang idealnya membutuhkan 10 kader untuk 5 kelompok umur.
h. Perhatian serta penghargaan pemerintah maupun masyarakat terhadap kader BKB masih sangat kurang.
i. Tiadanya APE dan Kantong Wasiat pada sebagian kelompok BKB yang mengurangi semangat dan efektivitas pertemuan penyuluhan.
j. Rendahnya frekuensi pembinaan & kunjungan dari petugas termasuk Penyuluh KB pada sebagian kelompok BKB
4. Harapan Ke Depan
Atas dasar berbagai kendala yang dihadapi, maka harapan mereka ke depan adalah sebagai berikut:
a. Makin tingginya kepedulian tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam hal pendanaan atau dukungan materi lainnya untuk mendukung kegiatan BKB.
b. Makin meningkatnya kesadaran anggota kelompok kegiatan terutama BKB untuk berswadaya dalam rangka optimalisasi kegiatan kelompok
c. Maki meningkatnya kesadaran ibu-ibu untuk mengikuti kegiatan BKB sehingga persentase kehadirannya makin tinggi.
d. Meningkatnya peluang kelompok untuk menggali sumber dana dalam rangka melengkapi sarana pra sarana kelompok, khususnya untuk kegiatan BKB
e. Tersedianya tempat yang layak bagi kelompok untuk melakukan kegiatan, terutama bila ada upaya menggabungkan dua atau tiga kegiatan kelompok kegiatan dalam satu waktu.
f. Semakin banyaknya frekuensi pelatihan atau pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah sehingga dapat mencakup lebih banyak pada kader terutama untuk kegiatan BKB.
g. Maki tingginya kesadaran dan kepedulian ibu-ibu terutama yang memiliki status sosial dan pendidikan yang baik untuk menjadi kader sehingga jumlahnya mencukupi.
h. Meningkatnya perhatian serta penghargaan pemerintah maupun masyarakat terhadap kader terutama kader BKB yang selama ini sangat minim.
i. Tersedianya APE dan Kantong Wasiat pada semua kelompok BKB sehingga menambah semangat kader untuk melakukan kegiatan sekaligus mengefektifkan pertemuan penyuluhan.
j. Meningkatnya frekuensi pembinaan & kunjungan petugas termasuk Penyuluh KB terhadap kelompok BKB

BAB III
ARAH PENGEMBANGAN MODEL OPERASIONAL BKB-POSYANDU- PADU DI MASA DEPAN

A. Ketentuan Pokok Arah Pengembangan Model Operasional
Sangat perlu dipahamkan disini bahwa upaya mengembangkan model operasional BKB-Posyandu-PADU tidak akan terlepas dari upaya memadukan ketiga kegiatan tersebut agar berjalan sinergis sehingga saling mendukung dalam rangka pengembangan SDM potensial pada calon generasi penerus kita yang saat ini masih dalam tahapan usia balita. Namun upaya pemaduan ini tidak boleh diarahkan pada upaya peleburan kegiatan sehingga terbentuk kelompok kegiatan baru yang lain dari sebelumnya.
Secara lebih detail, arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU di masa depan harus berpegang pada beberapa hal sebagai berikut:
1. Ciri khas masing-masing kegiatan, baik BKB, Posyandu maupun PADU tetap harus kelihatan, karena kegiatan tersebut ditangani oleh dinas/instansi yang berbeda yang dalam hal ini BKB oleh Dinas Dukcapilkabermas, Posyandu oleh Dinas Kesehatan dan PADU (dalam konteks ini yang dimaksud adalah PAUD) oleh Dinas Pendidikan.
2. Tidak boleh ada upaya pembedaan perlakuan terhadap masing-masing kegiatan sehingga berdampak pada lancarnya kegiatan yang satu, namun menjadi kurang lancar atau berjalannya tidak optimal pada kegiatan lainnya.
3. Tidak boleh ada upaya penggabungan dalam hal administrasi, karena masing-masing dinas/instansi yang mengampu memiliki sistim dan pola administrasi yang berbeda sehingga form untuk kegiatan BKB, Posyandu dan PADU juga berbeda sehingga tidak mungkin dapat dijadikan satu.
4. Kader BKB, Posyandu maupun PADU, sedapat mungkin harus diupayakan pada posisi masing-masing. Jangan karena alasan keterpaduan, kader BKB melompat menjadi kader PADU atau kader PADU melompat menjadi kader Posyandu. Bila ada kader yang sejak awal berposisi sebagai kader yang merangkap, kader yang bersangkutan harus mampu memposisikan diri saat mengampu kegiatan yang satu dengan yang lainnya. Artinya, ketika sedang menangani BKB juga harus mengikuti aturan kegiatan BKB, bila sedang berposisi sebagai kader PADU juga harus mengikuti aturan PADU. Demikian halnya pada saat menjadi kader Posyandu.
Ketiga hal tersebut harus dijadikan rambu-rambu agar arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU di masa depan tidak mengacaukan kegiatan masing-masing dinas/instansi yang terkait. Arah pengembangan harus lebih banyak diarahkan untuk mencari peluang agar ketiga kegiatan dimaksud berjalan lebih baik, saling melengkapi satu sama lain sehingga mampu berjalan seiring dan sinergis serta saling menguatkan dalam rangka pembinaan SDM masa depan yang berkualitas di masyarakat.
Untuk itu, arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU dan pelaksanaannya di lapangan harus tetap berpijak pada landasan hukum sebagai berikut:
1. UU No 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera
2. UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
3. UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
4. UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
5. PP No 21 Tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera

B. Arah Pengembangan Model Operasional di Masa Depan
Berpijak pada hasil kajian sebelumnya bahwa pelaksanaan kegiatan BKB Posyandu-PADU sebelum penerapan model operasional yang disepakati oleh Dinas Dukcapilkabermas, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan ada kesan bahwa ketiga kegiatan tersebut berjalan sendiri-sendiri di masyarakat, sehingga kegiatan tersebut tidak bersinergi secara nyata untuk mewujudkan tujuan bersama yakni membentuk anak yang sehat, cerdas, trampil, berbudi pekerti luhur/berakhlak mulia serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka arah pengembangan model operasional ke depan harus mengupayakan agar pandangan itu terhapuskan di kalangan kader, anggota kelompok kegiatan maupun masyarakat pada umumnya.
Selain itu, arah pengembangan model operasional ke depan diharapkan mampu menggugah semangat kader dalam penyelenggaraan kegiatan terutama BKB, mengingat selama ini semangat mereka boleh dikata sangat rendah karena dukungan dana opersional dan sarana prasarana yang hampir tidak ada. Hal ini berbeda dengan kegiatan Yandu dan PADU yang memiliki dukungan dana operasional dan sarana prasarana yang cukup. Agar mampu menggugah semangat kader tersebut dapat berjalan efektif, harus diupayakan mengkondusifkan pendanaan kelompok melalui pembagian dana kelompok yang proporsional. Artinya, dari manapun sumber dana itu, bila sudah sampai di tingkat dusun harus dikelola bersama untuk kegiatan bersama sesuai porsinya masing-masing.
Arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU di masa depan juga tidak membuka peluang bagi kader satu kegiatan untuk lompat pagar ke kegiatan yang lain karena dirasa lebih menguntungkan secara finansial. Misalnya, kader BKB melompat menjadi kader PAUD karena merasa bahwa menjadi kader BKB tidak memperoleh perhatian sama sekali dari pemerintah, sementara mereka sama-sama berperan menyelenggarakan kegiatan sebagaimana kader Yandu dan PAUD.
Pengembangan model operasional ke depan juga diharapkan mampu meningkatkan komunikasi, koordinasi, dan kerjasama antara kader BKB-Posyandu-PADU sehingga mereka tetap berjalan sinkron dan hubungan mereka tetap harusmonis. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa dalam rangka membangun konsep pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU di masa depan harus dapat mengoptimal peran PKK dalam fungsinya sebagai penggugah semangat dan penggerak kegiatan sekaligus memonitor segala sesuatunya, termasuk dalam pembagian dana untuk operasional kegiatan yang adil dan proposional. Harus dihindari peran PKK sekedar hanya sebagai penonton. Sementara kita mengetahui PKK adalah pengampu berbagai kegiatan di wilayah binaannya dalam rangka mewujudkan kesejahteraan keluarga.

Atas dasar itu, maka berdasarkan hasil evaluasi pada kelompok kegiatan di 36 dusun pilot project/wilayah uji coba serta masukan dari dinas/instansi terkait dan berbagai hal yang berhubungan dengan harapan kelompok, maka arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU Kabupaten Kulon Progo di masa depan menunjukkan gambaran sebagai berikut:
1. Kegiatan BKB-Posyandu-PADU dipadukan dengan tetap mempertahankan karakteristik masing-masing sehingga ketiganya saling mendukung dalam rangka menciptakan anak yang sehat, cerdas, berbudi pekerti luhur serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pemaduan ini menyangkut waktu pelaksanaannya, tempat, materi, dan anggaran serta penggunaan sarana pra sarana.
2. Dalam hal waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan, penerapan dilapangan diserahkan pada masing-masing dusun yang dirasa paling efektif. Yang terpenting dalam pelaksanaannya semuanya dapat berjalan lancar karena terkoordinasinya waktu dan tempat pertemuan sehigga tidak saling bertubrukan antara kegiatan yang satu dengan kegiatan lainnya.
3. Dalam hal pemaduan materi dan penggunaan sarana prasana diutamakan untuk kegiatan BKB dan PAUD tanpa mengesampingkan kegiatan Posyandu. Arah pengembangan ini dilakukan dengan menselaraskan materi yang diberikan dalam BKB (termasuk cara merangsang tumbuh kembangnya) dengan PAUD agar secara substansial tidak banyak perbedaan. Artinya, kegiatan BKB tetap menggunakan materi/modul yang ada sedangkan kegiatan PAUD tetap menggunakan modul dan kurikulum yang dibakukan oleh Dinas Pendidikan. Maksud dari upaya penyelarasan ini adalah agar orangtua dirumah dapat memberikan yang terbaik terhadap apa yang dibutuhkan oleh anak. Sementara kegiatan Posyandu yang telah berjalan ditambah kegiatan semacam konseling kesehatan dari orangtua balita kepada petugas kesehatan seputar tumbuh anak.
4. Terkait dengan anggaran dan penggunaan sarana prasarana yang dikucurkan ke kelompok oleh Dinas Dukcapilkabermas, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan maupun sumber-sumber lain (swadaya masyarakat atau dukungan APDDes) diserahkan pada kebijaksanaan dusun dengan catatan PKK mendapat laporan dan terlibat aktif dalam pengelolaannya.
5. Secara khusus, terkait dengan waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan, arah pengembangan model operasional ke depan, dapat mengambil beberapa alternatif pelaksanaan sebagai berikut:
a. Kegiatan Posyandu dilaksanakan pada hari dan tanggal yang dengan kegiatan BKB dan PAUD. Bila mengambil alternatif ini, kader/pengelola kegiatan dituntut untuk mengatur jadwal pelaksanaan secara ketat. Dengan asumsi bahwa pertemuan penyuluhan akan tetap berjalan efektif bila berlangsung maksimal 3 jam. Maka perlu diupayakan agar masing-masing kegiatan mengoptimalkan waktu yang disediakan sebagai berikut:
1. Posyandu, dilaksanakan pada session pertama dengan waktu pelaksanaan 2 jam.
2. BKB dan PAUD, dilaksanakan pada session kedua dengan waktu pelaksanaan 1 jam. Kedua kegiatan ini dipisah. Untuk BKB sasarannya adalah ibu yang memiliki balita dengan pembagian kelompok atas dasar usia anak (0-1 tahun, 1-2 tahun, 2-3 tahun, 3-4 tahun, 4-5 tahun). Sedangkan untuk PAUD sasarannya anak balita (0-5 tahun) walaupun untuk anak usia 0-2 tahun masih bersama ibunya.
Namun hal ini tidak boleh dipaksakan, karena PADU (dalam hal ini Pos PAUD) memiliki waktu pelaksanaan yang berbeda dengan Posyandu dan BKB, mengingat Pos PAUD pertemuannya dilakukan 1 minggu sekali sedangkan BKB da Posyandu 1 bulan sekali.
b. Apabila waktu dan tempat pelaksanaan yang sama hanya Posyandu da BKB maka penerapannya adalah sebagai berikut:
1. Posyandu, dilaksanakan pada session pertama dengan waktu pelaksanaan 2 jam.
2. BKB dilaksanakan pada session kedua dengan waktu pelaksanaan sekitar jam. Apabila dirasa upaya tidak mengganggu kegiatan Posyandu, kegiatan BKB dapat dilakukan pada ibu-ibu yang anak balitanya menunggu giliran untuk ditimbang atau sesudah ditimbang.
c. Apabila waktu dan tempat pelaksanaan yang sama adalah BKB dan PAUD, maka pengaturannya adalah sebagai berikut:
1. Anak-anak mengikuti kegiatan PAUD di bawah asuhan kader/tutor PAUD.
2. Ibunya atau anggota keluarga lainnya, sambil menunggu di beri pembinaan tentang BKB oleh kader BKB.
Bila alternatif ini yang dipilih, maka kegiatan BKB harus berlangsung setiap minggu sehingga dalam penentuan pilihan ini harus benar-benar dipertimbangkan oleh kader terkait.
d. Kegiatan Posyandu, BKB dan PAUD dilaksanakan dengan waktu yang berbeda baik hari maupun tanggalnya. Untuk ini model keterpaduan yang telah disepakati di atas, dilaksanakan atas dasar prinsip kebersamaan demi mencapai tujuan bersama.
Dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai dalam kaitannya penggunaan model operasional yang pilih, maka arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU dimasa depan tidak boleh mengesampingkan aspek monitoring dan evaluasi. Kegiatan monitoring dan evaluasi ini harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan dinas/ instansi/institusi terkait. Kegiatan monitoring dilakukan minimal tiga bulan sekali dan evaluasi dilaksanakan setiap tahun. Khusus kegiatan evaluasi dilakukan melalui:
1. Laporan tertulis
2. Kunjungan lapangan
3. Wawancara dengan kader, keluarga sasaran atau tokoh agama/tokoh masyarakat di wilayah ujicoba.
4. Pengisian instrumen evaluasi

BAB III
KESIMPULAN

Atas dasar uraian di muka, maka terkait dengan kajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Model operasional BKB-Posyandu-PADU yang diterapkan oleh kelompok di 36 dusun secara umum telah berjalan baik walaupun memiliki variasi yang beragam yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing
2. Penerapan model operasional BKB-Posyandu-PADU memiliki pengaruh positif terhadap tingkat kehadiran anggota, kader dan frekuensi pembinaan oleh petugas.
3. Dalam hal penerapan model operasional sebelumnya masih ditemui beberapa kendala dan permasalahan yang menyebabkan kegiatan BKB, Posyandu dan PADU belum berjalan optimal.
4. Arah pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU ke depan harus berpegang pada prinsip tetap mempertahankan ciri khas masing-masing, ada upaya menyamakan perlakuan terhadap ketiga kelompok kegiatan, tidak boleh ada penggabungan administrasi dan menghindari kader lompat pagar.
5. Pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU ke depan, tetap diarahkan pada upaya pemaduan kegiatan menyangkut waktu pelaksanaannya, tempat, materi, dan anggaran serta penggunaan sarana pra sarana. Namun disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing atau sesuai kesepakatan bersama.

BAB IV
PENUTUP

Demikian hasil kajian pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU yang dapat kami sampaikan. Kami menyadari masih banyak kekurangan atas kajian ini, sehingga dengan tangan terbuka kami menerima kritik dan saran yang konstruktif dari dari pihak manapun demi perbaikan kajian ini selanjutnya.
Harapa kami hasil kajian ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka menentukan langkah ke depan sehingga kelompok BKB-Posyandu-PADU di masyarakat dapat berjalan seiring, harmonis dan sinergis. Amin.

FENOMENA GURU MENTOK IV/a

Posted: Desember 22, 2009 in Opini Pendidikan

Harus diakui bahwa di antara Pegawai Negeri Sipil (PNS) lainnya, dalam hal kenaikan pangkat, guru sebagai pangajar dan pendidik, cukup dimanja. Betapa tidak, bila pejabat struktural atau staf kantor kenaikan pangkatnya 4 tahun sekali, maka seorang guru sebagai pejabat fungsional hanya membutuhkan waktu setengahnya untuk mencapai satu Srip golongan di atasnya. Belum lagi, meskipun sama-sama berpendidikan sarjana, seorang pegawai kantor akan mentok pada golongan IIId hingga pensiun bila tidak menduduki jabatan minimal Eselon III, sementara seorang guru dapat menggapai golongan kepangkatan hingga menjadi Guru Pembina Utama (IVe) seandainya kemampuan profesionalnya mencukupi.
Begitu mudahnya kenaikan pangkat bagi guru, seakrang ini bagi guru dengan golongan kepangkatan Guru Pembina (IVa) menjadi begitu banyak sehingga menjadi sebuah fenomena. Mengapa IVa ? Karena sebagian besar guru setelah mencapai golongan IVa merasa kesulitan untuk melompat ke IVb karena ada salah satu persyaratan yang selama ini masih menjadi momok dan sulit untuk ditembus yakni kegiatan pengembangan profesi yang umumnya berupa karya tulis ilmiah kependidikan.
Dalam pasal 9 Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 84 / 1994 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya ditegaskan bahwa untuk kenaikan pangkat / jabatan ke tingkat lebih tinggi menjadi Pembina Tingkat I golongan ruang IVb atau Guru Pembina Tingkat I sampai dengan Pembina Utama golongan ruang IVe, diwajibkan mengumpulkan sekurang-kurangnya 12 (duabelas) angka kredit dari unsur pengembangan profesi. Ini berarti, guru yang tidak pernah membuat karya tulis ilmiah atau kegiatan pengembangan profesi lainnya sepanjang kariernya, hingga pensiun pangkat dan golongan ruangnya hanya akan mentok sebagai Guru Pembina / IVa.
Tidak dapat dipungkiri, memang karya tulis ilmiah di bidang pendidikan menjadi penyebab utama guru mentok di IVa. Begitu sulitkah membuat karya tulis ilmiah sehingga para guru sebagian besar merasa tidak mencapai puncak saat mereka menduduki golongan ruang IVa ? dari banyak kasus yang terjadi, banyak guru yang gagal untuk menggoalkan dirinya memasuki golongan ruang IVb dan seterusnya. Penyebabnya katanya hanya satu, karya tulisnya tidak memenuhi syarat. Kalaupun ada yang lolos, nilainya belum sebanyak yang dipersyaratkan yakni 12. Kronisnya tidak sedikit guru yang harus mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah, namun dambaan golongan IVb tidak juga dapat diperoleh. Pertanyaannya adalah seperti apakah karya tulis ilmiah bidang kependidikan yang memenuhi syarat untuk mencapai golongan ruang IVb. Mengapa bila ternyata guru telah mampu membuat karya tulis yang bermutu masih dimintai uang jutaan bahkan puluhan juta agar bisa goal ke IVb ? Sementara bila dilihat dari imbangan kenaikan gaji yang diterima sangat tidak sepadan.
Fenomena guru mentok di golongan ruang IVa harus dicarikan solusinya oleh pemerintah khususnya oleh dinas pendidikan. Guru harus diberdayakan dalam bidang tulis-menulis , agar mereka tidak merasa “nglokro” untuk mencapai golongan ruang yang lebih tinggi. Peraturan tentang penilaian angkat kredit karya tulis pun harus dibuat lebih transparanagar guru dapat merencanakan segala sesuatunya secara matang. Misalnya, syarat fisik yang harus dilampirkan untuk pengajuan angka kredit karya tulis, siapa yang mengesahkannya, dan bila tulisan itu masuk media massa atau jurnal ilmiah, media dan jurnal yang bagaimana yang memenuhi syarat dan sebagainya.
Kuncinya adalah guru harus kondisikan untuk suka menulis. Karena itu sudah selayaknya bila pihak dinas pendidikan membuka akses seluas-luasnya pada guru untuk dapat mengembangkan dunia penulisan sebagai media untuk menambah wawasan dan pengetahuan termasuk mengumpulkan angka kredit karya tulis entah melalui lomba, latihan jurnalistik, dan sebagainya sehingga ke depan, tidak dijumpai lagi guru “menumpuk” di golongan IVa dan sedikit sekali yang lolos ke IVb.

Drs. Mardiya
Pemerhati Masalah Pendidikan. Mantan Guru SMA N 7 Yogyakarta.

Tidak dapat kita pungkiri, sebagai institusi terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan pembangunan sebuah bangsa. Hal ini terkait erat dengan fungsi keluarga sebagai wahana pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bila pemerintah bersama-sama dengan segenap komponen masyarakat berkepentingan untuk membangun keluarga-keluarga di negara kita tercinta ini agar menjadi keluarga yang sejahtera yang dalam konteks ini kita maknai sebagai keluarga yang sehat, maju dan mandiri dengan ketahanan keluarga yang tinggi. Terlebih Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai motor penggerak Program KB di Indonesia, sekarang ini sangat berpihak pada upaya membangun keluarga sejahtera dengan visi dan misinya yang telah diperbaharuhi, yakni ”Seluruh Keluarga Ikut KB” dan ”Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera”.Keluarga yang sejahtera, dengan demikian, tentu menjadi dambaan setiap orang untuk mencapainya. Bukan saja karena dengan mencapai tingkat kesejahteraan tertentu, seseorang akan dapat menikmati hidup secara wajar dan menyenangkan karena tercukupi kebutuhan materill dan spirituilnya, tetapi dengan kondisi keluarga yang sejahtera setiap individu didalamnya akan mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk berkembang sesuai dengan potensi, bakat dan kemampuan yang dimiliki.Membangun keluarga sejahtera, telah banyak diupayakan oleh berbagai pihak, termasuk oleh semua keluarga di Indonesia. Pemerintah pun sebenarnya juga telah cukup lama memberi perhatian pada masalah ini. Terbukti, sejak tahun 1994 lalu, pemerintah telah mencanangkan ”Gerakan Membangun Keluarga Sejahtera” dengan sasaran pokok keluarga Pra Sejahtera dan KS I alasan ekonomi yang sering dikategorikan sebagai keluarga miskin. Namun  banyak di antara mereka yang gagal. Faktanya,  hingga saat ini, tidak kurang dari 26,4 juta keluarga (hasil Pendataan Keluarga 2007) di negeri ini tetap dalam kondisi kurang  sejahtera, bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai pra syarat untuk dapat hidup secara layak.  Bila kita cermati, salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan dan wawasan mereka tentang kesejahteraan itu sendiri, hingga mereka tidak tahu langkah-langkah apa yang efektif untuk mencapainya. Kurangnya wawasan dan pengetahuan tentang kesejahteraan  termasuk dalam perspektif agama juga telah menyebabkan mereka memiliki pandangan yang keliru mengenai arti dari kesejahteraan itu sendiri. Umumnya masyarakat masih menganggap bahwa keluarga yang sejahtera adalah keluarga yang tercukupi kebutuhan materinya. Dalam arti, asalkan keluarga tersebut memiliki harta yang banyak, rumah yang besar dan mewah, kendaraan dan peralatan rumah tangga yang modern serta memiliki tabungan yang banyak, telah dianggap sejahtera hidupnya, tanpa memikirkan hal-hal yang bersifat psikis. Harus disadari bahwa pandangan tersebut adalah pandangan yang keliru. Karena kesejahteraan keluarga tidak hanya diukur dengan kecukupan materi saja. Masih banyak syarat lain yang harus dipenuhi. Kalau kita baca Bab I Pasal 1 Ayat 11 dari Undang Undang No 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, maka kita akan mengetahui bahwa keluarga yang sejahtera itu  tidak hanya tercukupi kebutuhan materiilnya, tetapi juga harus didasarkan pada perkawinan yang sah, tercukupi kebutuhan spirituilnya, memiliki hubungan yang harmonis antar anggota keluarga, antara keluarga dengan masyarakat sekitarnya, dengan lingkungannya dan sebagainya. itu semua diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan hidup sehingga hidupnya dapat tenteram dan nyaman tanpa rasa was-was. Dapat kita bayangkan, bagaimana mungkin sebuah keluarga mencapai kebahagiaan sejati walaupun berlebihan secara materi, namun selalu dikejar rasa berdosa atau bersalah karena harta yang ia makan dan ia gunakan  merupakan hasil korupsi atau tindak kejahatan lainnya.  Sungguh, dalam keluarga tersebut yang ada hanya rasa was-was, takut, dan jiwa yang gersang sehingga materi yang berlimpah hanya akan membuat hidupnya sengsara secara batiniah, dalam arti kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang sebenarnya tidak akan pernah tercapai.Dengan demikian,  kebahagiaan dan kesejahteraan hidup harus tercakup didalamnya adalah adanya rasa tenteram, aman dan damai. Seseorang akan merasa bahagia apabila terpenuhi unsur-unsur tersebut dalam kehidupannya. Sedangkan sejahtera diartikan sebagai keadaan lahiriah yang diperoleh dalam kehidupan duniawi yang meliputi : kesehatan, sandang, pangan, papan, paguyuban, perlindungan hak asasi dan sebagainya. Jadi seseorang yang sejahtera hidupnya adalah orang yang memelihara kesehatannya, cukup sandang, pangan, dan papan. Kemudian diterima dalam pergaulan masyarakat yang beradab, serta hak-hak asasinya terlindungi oleh norma agama, norma hukum dan norma susila.Agama Islam yang memiliki penganut terbesar di Indonesia, memandang bahwa membangun keluarga sejahtera merupakan upaya yang wajib ditempuh oleh setiap pasangan (keluarga) yang diawali dengan perkawinan/pernikahan Islami. Karena perkawinan adalah hal mendasar dalam pembentukan keluarga Islam. Tanpa perkawinan sesuai ajaran/ketentuan agama, mustahil sebuah keluarga akan mencapai kesejahteraan yang diidamkan. Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT yang menyebarkan agama Islam di bumi ini, memuji institusi tersebut sebagai bagian dari sunah beliau. Dengan demikian, sebuah perkawinan harus betul-betul direncanakan dengan baik. Termasuk dalam hal ini adalah dalam pemilihan pasangan hidup, yang bukan hanya sekedar atas pertimbangan kecantikan/kegantengannya atau pekerjaan dan status sosial ekonominya, tetapi juga agama dan bibit, bobot dan bebet nya. Guna memaknai perkawinan, Al Qur’an menggunakan istilah ”Mitsaqon Gholidhon” yang artinya perjanjian yang teguh/kuat. Istilah tersebut pertama-tama menunjuk pada perjanjian antara Allah SWT dengan para Nabi dan Rasul. Tetapi dalam Surat An Nisaa’ Ayat 21 menunjuk pada perjanjian nikah. Dengan demikian, Al Qur’an menunjukkan kesesuaian hubungan antara suami dan isteri, mirip dengan kesucian hubungan antara Allah SWT dan manusia yang dipilihnya. Maka,  perkawinan atau pernikahan dipandang sebagai tugas, dan anak-anak dilihat sebagai salah satu wujud berkah Allah SWT bagi suami isteri. Nabi Muhammad SAW menyebut perkawinan sebagai ”setengah ibadah”. Perkawinan bukanlah suatu perkara duniawi belaka, karena hukum yang mengatur tak hanya dari manusia, tetapi juga dari Allah SWT sendiri. Perkawinan menurut Islam juga dipandang sebagai perjanjian timbal balik yang menimbulkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban pada suami dan isteri. Perkawinan adalah suatu persekutuan hidup demi pengesahan hubungan seksual serta untuk mendapatkan keturunan/anak. Perkawinan yang sembunyi-sembunyi atau kumpul kebo tidak dibenarkan sama sekali. Suami harus menjadi pemimpin atau kepala keluarga yang bertanggung jawab atas nafkah dan kesejahteraan isteri maupun anak. Dalam agama Islam,  keluarga sejahtera disubstansikan dalam bentuk keluarga sakinah. Pengertian keluarga sakinah diambil dan berasal dari Al Qur’an, yang dipahami dari ayat-ayat Surat Ar Ruum, dimana dinyatakan bahwa tujuan keluarga adalah untuk mencapai ketenteraman dan kebahagiaan dengan dasar kasih sayang. Yaitu keluarga yang saling cinta mencintai dan penuh kasih sayang, sehingga setiap anggota keluarga merasa dalam suasana aman, tenteram, tenang dan damai, bahagia dan sejahtera namun dinamis menuju kehidupan yang lebih baik di dunia maupun di akhirat. Sementara menurut Keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Nomor D/71/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah Bab III Pasal 3 dinyatakan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material yang layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antar anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia. Oleh sebab itu untuk membangun keluarga sakinah, paling tidak harus memenuhi tiga kriteria, yaitu: (1) Perkawinan didasari karena agama, artinya perkawinan tersebut diusahakan minimal yang seagama guna mencapai ketaqwaan suami isteri dan keturunannya, (2) Calon suami dan isteri sedapat mungkin telah berkemampuan (istihoah) baik fisik, mental maupun material, (3) Diusahakan adanya keseimbangan (kaafaah) antara calon suami dan isteri.Sementara itu untuk mencapai kehidupan keluarga yang sakinah dan sejahtera, setiap keluarga harus mengupayakan terpenuhinya lima  aspek pokok kehidupan berkeluarga :  Pertama, terwujudnya kehidupan beragama dan ubudiyah dalam keluarga dengan menciptakan suasana ke Islaman dalam keluarga, dengan melakukan berbagai kegiatan sebagai berikut : (1) Membudayakan shalat jamaah dalam keluarga, (2) Membiasakan membaca Al Qur’an secara rutin, umpamanya sehabis shalat Maghrib dan atau setelah shalat Subuh, (3) Mengadakan amalan Ubudiyah Yaumiyah dalam keluarga seperti doa-doa, ucapan basmalah, salam dan sebagainya. Kedua, pendidikan keluarga yang mantap, seperti yang dituntunkan Lukman terhadap anaknya, dengan jalan antara lain : (1) Pendidikan Ke-Tauhidan, (2) Pendidikan Pengetahuan, Keilmuan, (3) Pendidikan Ketrampilan, (4) Pendidikan Akhlaq, (5) Pendidikan Kemandirian.Ketiga, kesehatan keluarga yang terjamin, dengan menumbuhkan kebiasaan keluarga untuk memelihara kesehatan, antara lain: (1) Kebersihan rumah dan lingkungan, (2) Melakukan olah raga keluarga, (3) Memperhatikan kesehatan dan gizi keluargaKeempat, ekonomi keluarga yang stabil, dengan cara menyusun perencanaan pendapatan dan belanja keuangan keluarga. Kegiatannya antara lain : (1) Mengendalikan keuangan keluarga, jangan boros tetapi juga jangan kikir / bakhil, (2) Membiasakan menabung, (3) Memanfaatkan pekarangan dan industri rumah tangga untuk menunjang ekonomi keluarga.Kelima, hubungan insani yang Islami antara anggota keluarga maupun antar keluarga/tetangga, dengan jalan antara lain : (1) Membina sopan santun etika dan akhlaq sesuai dengan kedudukan masing-masing, (2) Menciptakan forum komunikasi antara anggota keluarga dalam rangka membina keakraban dan kehangatan keluarga seperti waktu-waktu sesudah jamaah, waktu makan, rekreasi dan sebagainya, (3) Adanya rasa saling memiliki satu sama lain dan bertanggung jawab mengenai nama baik keluarga seacara utuh, (4) Adanya rasa saling harga menghargai di antara anggota keluarga, (5) Melaksanakan ajaran Islam tentang hidup bertetangga. Dalam Program Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah, dikenal tahapan Keluarga Pra Sakinah, Keluarga Sakinah I, Keluarga Sakinah II, Keluarga Sakinah III dan Keluarga Sakinah III Plus sebagai bentuk perkembangan sebuah keluarga dalam mencapai tingkat kesejahteraanya. Artinya, tahapan ini menjadi ukuran yang dapat dinilai dan dievaluasi, dimana posisi sebuah keluarga dalam upaya mencapai kehidupan sesuai tuntunan Islam sehingga mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat. Keluarga Pra Sakinah adalah keluarga-keluarga yang dibentuk bukan melalui ketentuan perkawinan yang sah, tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan material (basic need) secara minimal seperti keimanan, shalat, zakat fitrah, puasa, sandang, pangan, papan, dan kesehatan. Oleh karena itu, indikator/tolok ukur keluarga Pra Sakinah terdiri atas: (1) Keluarga dibentuk tidak melalui perkawian yang sah, (2) Tidak sesuai dengan ketetuan perundang-undangan yang berlaku, (3) Tidak memiliki dasar keimanan, (4) Tidak melakukan shalat wajib, (5) Tidak mengeluarkan zakat fitrah, (6) Tidak menjalankan puasa wajib, (7) Tidak tamat SD, dan tidak dapat baca tulis, (8) Termasuk kategori fakir dan atau miskin, (9) Berbuat asusila, (10) Terlibat perkara-perkara kriminal.Keluarga Sakinah I adalah keluarga-keluarga yang dibangun atas perkawinan yag sah dan telah dapat memenuhi kebutuhan spiritual dan material secara minimal, tetapi masih belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya seperti kebutuhan akan pendidikan, bimbinga keagamaan dalam keluarganya, mengikuti interaksi sosial denga lingkunganya. Oleh karena itu indikator/tolok ukur Keluarga Sakinah I terdiri atas: (1) Perkawinan sesuai dengan syariat dan UU No 1 Tahun 1974, (2) Keluarga memiliki surat nikah dan bukti lain, sebagai bukti perkawina yang sah, (3) Mempunyai perangkat shalat, sebagai bukti melaksanakan shalat wajib dan dasar keimanan, (4) Terpenuhinya kebutuhan makanan pokok, sebagai tanda bukan tergolong fakir miskin, (5) Masih sering meninggalkan shalat, (6) Jika sakit sering pergi ke dukun, (7) Percaya terhadap tahayul, (8) Tidak datang ke pengajia/majelis taklim, (9) Rata-rata keluarga tamat atau memiliki ijazah SD.Keluarga Sakinah II adalah keluarga-keluarga yang dibangun atas perkawinan yang sah disamping telah dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya, juga telah mampu memahami pentingnya pelaksanaan ajaran agama serta bimbingan keagamaan dalam keluarga serta mampu mengadaka interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya, tetapi belum mampu menghayati atau mengembangkan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlaqul karimah, infaq, zakat, amal jariyah,  menabung dan sebagainya. Oleh karena itu indikator/tolok ukur Keluarga Sakinah II terdiri atas: (1) Tidak terjadi perceraian kecuali sebab perceraian atau hal sejenis lainnya yang mengharuskan terjadinya perceraian itu, (2) Penghasilan keluarga melebihi kebutuhan pokok sehingga bisa menabung, (3) Rata-rata keluarga memiliki ijazah SLTP, (4) Memiliki rumah sendiri meskipun sederhana, (5) Keluarga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan sosial keagamaan, (6) Mampu memenuhi standar makanan yang sehat/memenuhi empat sehat lima sempurna, (7) Tidak terlibat perkara kriminal, judi, mabuk, prostitusi dan perbuatan amoral lainnya.Keluarga Sakinah III adalah keluarga-keluarga yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan, ketaqwaan, akhlaqul karimah, sosial psikologis, dan pengembagan keluarganya, tetapi belum mampu menjadi suri tauladan bagi lingkungannya. Oleh karena itu, indikator/tolok ukur Keluarga Sakinah III terdiri atas: (1) Aktif dalam upaya meningkatkan kegiatan dan gairah keagamaan di masjid-masjid maupun dalam keluarga, (2) Keluarga aktif menjadi pengurus kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan,    (3) Aktif memberikan dorongan dan motivasi untuk meningkatkan kesehata ibu dan anak serta kesehatan masyarakat pada umumnya, (4) Rata-rata keluarga memiliki ijazah SLTA ke atas, (5) Pengeluaran zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf senantiasa meningkat, (6) Meningkatnya pengeluaran korban, (7) Melaksanakan ibadah haji secara baik dan benar, sesuai tuntutan agama dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.Keluarga Sakinah III Plus adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan, ketaqwaan dan akhlaqul karimah secara sempurna, kebutuhan sosial psikologis, dan pengembangannya serta dapat menjadi suri tauladan, bagi lingkunganya. Oleh karena itu indikator/tolok ukur Keluarga Sakinah III Plus terdiri atas: (1) Keluarga  yang telah melaksanakan haji dapat memenuhi kriteria haji mabrur, (2) Menjadi tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh organisasi yang dicintai oleh masyarakat dan keluarganya, (3) Pengeluaran zakat, infaq, shadaqah, jariyah, wakaf meningkat baik secara kualitatif maupun kuantitatif, (4) Meningkatnya kemampuan keluarga dan masyarakat sekelilingnya dalam memenuhi ajaran agama, (5) Rata-rata anggota keluarga memiliki ijazah sarjana, (6) Nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlakul karimah tertanam dalam kehidupan pribadi dan keluarganya, (7) Tumbuh berkembang perasaan cinta kasih sayang secara selaras, serasi da seimbang dalam anggota keluarga dan lingkungannya, (8) Mampu menjadi suri tauladan masyarakat sekitarnya.Program Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah ini merupakan bagian dari upaya meletakkan dasar-dasar kerangka dan agenda reformasi pembangunan agama dan sosial budaya dalam mewujudkan keluarga sejahtera yang bermoral tinggi, penuh keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia. Oleh karena itu, mewujudkan keluarga sejahtera dalam perspektif  Islam harus ditekankan pada aspek penanaman, penghayatan dan pengamalan atas nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkup keluarga. Penanaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama ini dimaksudkan  untuk mengimbangi dampak negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga keluarga-keluarga di Indonesia memiliki ketahanan yang kokoh dalam menghadapi era globalisasi dan berbagai pengaruh masuknya budaya asing.Melalui Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah diharapkan tatanan kehidupan keluarga dan masyarakat dapat berjalan optimal, sehingga nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia dapat tertanam dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan mengembangkan aspek keluhuran akhlak dan moral, keluarga dan masyarakat Indonesia tidak akan terseret pada pola pikir materialisme dan lebih meghargai kebenaran, kebaikan dan keadilan. Tingkat kemiskinan masyarakatpun dapat ditekan melalui penguatan institusi keluarga dan masyarakat, sehingga mobilisasi sumber daya masyarakat dapat ditingkatkan dan masyarakat mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi. Disamping itu, ketahanan keluarga akan terus meningkat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh dampak negatif budaya asing yang merusak tatanan kehidupan rumah tangga. Mencermati tahapan-tahapan  dalam keluarga sakinah, kita dapat memahami bahwa secara umum konsep keluarga sakinah tidak jauh berbeda dengan konsep keluarga sejahtera yang secara eksplisit telah dicantumkan dalam Undang Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Paling tidak, unsur-unsur yang mendasar seperti perkawinan yang sah, terpenuhinya kebutuhan materiil dan spirituil yang layak, serta terjalinnya hubungan yang harmonis di antara anggota keluarga serta dengan masyarakat, telah menunjukkan kesamaan persepsi. Kesamaan persepsi tersebut akan terlihat jelas apabila kita mencermati indikator tahapan-tahapan keluarga sejahtera yang dimanifestasikan dalam bentuk Keluarga Pra Sejahtera, KS I, KS II, KS III dan KS III Plus. Hal ini dapat kita maknai, dalam konteks yang lebih luas, agama Islam telah memberikan kontribusi yang tidak ternilai harganya dalam upaya mewujudkan keluarga sejahtera di Indonesia.Berbicara mengenai upaya mewujudkan keluarga sejahtera, tentu kita tidak akan lepas empat aspek yang menjadi bidang garapan pokok dalam Keluarga Berencana (KB) sebagaimana tercantum dalam pengertian KB menurut Undang Undang Nomor 10 Tahun 1992 Bab I Pasal 1 Ayat 12, yakni Pendewasaan Usia Perkawinan, Pengaturan Kelahiran, Pembinaan Ketahanan Keluarga dan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga. Di sini agama Islam telah memberikan gambaran yang jelas di setiap aspek, yang secara langsung maupun tidak langsung mencerminkan dukungan positif agama Islam terhadap upaya mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.Terkait dengan aspek Pendewasaan Usia Perkawinan,  meskipun dalam Islam tidak ada ketetapan usia kawin, namun merujuk pada Al Qur’an Surat An Nisaa’ Ayat 6, disyaratkan bahwa mereka yang melaksanakan perkawinan harus sudah cukup umur, dan telah cerdas (pandai) memelihara harta. Hal tersebut dapat kita terjemahkan bahwa perkawinan dalam  Islam baru dapat dilaksanakan bila pria atau wanitanya telah mencapai kedewasaan (fisik maupun psikis). Selain itu, sudah mampu mengatur ekonomi keluarga sebagai modal dasar untuk mencapai keluarga yang bahagia dan sejahtera. Pertimbangannya, usia kawin mengandung makna biologis, sosio-kultural, dan demografis. Secara biologis, hubungan kelamin dengan isteri yang terlalu muda (yang belum dewasa secara fisik) dapat menyebabkan nyeri kemaluan, cabikan dan robekan. Lagi pula, apabila terjadi kehamilan, maka hal itu akan membawa resiko besar terhadap si ibu maupun anak.  Secara sosio-kultural, pasangan tersebut (terutama si istri) harus mampu memenuhi tuntutan sosial perkawinan, mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak. Usia yag terlalu muda bisa menyebabkan tidak hadirya unsur yang disebutkan dalam Al Qur’an, yaitu hidup dalam ketenteraman (sakan). Secara demografis (kependudukan), usia kawin yang lebih tinggi merupakan salah satu cara dalam mengurangi kesuburan tanpa penggunaan kontrasepsi. Sementara itu, terkait dengan aspek Pengaturan Kelahiran,  meskipun dalam Islam tidak ada pembatasan tentang jumlah anak yang dilahirkan, namun  ada harus memperhatikan kualitasnya. Al Qur’an dalam Surat Al Ma’idah ayat 100 telah mengingatkan kepada kita bahwa nilai terletak pada kualitas bukan kuantitas. Nabi Muhammad SAW sendiri sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hakim, menyadari bahwa mempunyai terlalu banyak anak tanpa sarana untuk merawat mereka merupakan cobaan yang besar. Sementara itu, tokoh besar kaum mukmin Ibn ’Abbas, menyatakan bahwa mempunyai anak yang terlalu banyak akan membawa kepada kesulitan. Sementara itu, upaya pengaturan kelahiran melalui penjarangan anak dalam Islam, tercermin dari Surat Al Baqarah Ayat 233 yang menyatakan bahwa para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, terutama bagi mereka yang ingin menyempurnakan penyusuan.  Pada ayat lain, penyapihan anak disebutkan berlangsung dua tahun (Surat Luqman Ayat 14). Ini berarti, apabila dua tahun penyapihan itu ditambah dengan enam bulan yang merupakan waktu minimum kehamilan untuk dapat menghasilkan seorang anak dalam keadaan normal, maka jumlah seluruhnya menjadi tiga puluh bulan sebagaimana di sebutkan dalam Surat Al-Ahqaf Ayat 15.  Beberapa ayat tersebut menjadi bukti bahwa Islam menganjurkan penjarangan anak sehingga memungkinkan si ibu menyusui anaknya dengan makanan tambahan sesuai pertumbuhan si anak. Selama periode ini, kehamilan baru dienggankan. Nabi  Muhammad SAW sendiri telah memperingatkan wanita supaya tidak hamil di masa penyusuan anak, dengan menamakan hal itu  al-ghail, ghailah, atau ghiyal (serangan kepada si anak). Upaya menjarangkan kelahiran anak ini secara langsung maupun tidak langsung berkaita erat dengan upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. Karena dengan jarak anak yang cukup, orangtua khususnya ibu tetap dalam kondisi sehat dan akan lebih leluasa dalam bekerja mencari rezeki di jalan Allah SWT.Selanjutnya, terkait dengan aspek Pembinaan Ketahanan Keluarga, Agama Islam telah memberikan tuntunan dalam bentuk kewajiban dan tanggung jawab suami kepada isteri dan sebaliknya serta kewajiban dan tanggung jawab orangtua terhadap anak-anaknya dan sebaliknya.  Bila semua kewajiban dan tanggung jawab dari masing-masing pihak dapat dipenuhi niscaya keluarga akan berjalan tenteram, tidak ada perselisihan, percekcokan maupun kasus-kasus perselingkuhan, perzinaan yang dapat memperlemah ketahanan keluarga mereka, karena perceraian, terserang penyakit kelamin dan atau HIV/AIDS. Anak-anak juga tidak akan terlantar, sehingga kasus anak kelaparan, anak menjadi gelandangan atau kasus kenakalan anak/remaja dengan segala konsekuensinya dapat dihindari. Bentuk-bentuk kewajiban dan tanggung jawab suami adalah memimpin dan membimbing keluarga lahir batin, melindungi isteri dan anak-anak, memberikan nafkah lahir dan batin sesuai dengan kemampuan, mengatasi keadaan dan mencari penyelesaian secara bijaksana serta tidak bertidak sewenang-wenang. Sementara bentuk-bentuk kewajiban dan tanggung jawab isteri adalah menghormati da mencintai suami, mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya, dan memelihara serta menjaga kehormatan rumah tangga. Terhadap anak, orangtua berkewajiban merawat dan mendidik sebaik-baiknya. Hal ini dapat dari  10 hak anak yang menjadi pencerminan dari kewajiban dan tanggung jawab orangtua, yaitu: (1) Hak akan kesucian keturunan, (2) Hak untuk hidup, (3) Hak atas keabsahan dan nama yang baik, (4) Hak akan penyusuan, tempat kediaman, pemeliharaan, termasuk perawatan kesehatan dan nutrisi, (5) Hak untuk pengaturan tidur yang terpisah, (6) Hak keamanan di masa depan, (7) Hak atas pendidikan agama dan perilaku yang baik, (8) Hak atas pendidikan dan latihan olah raga serta bela diri, (9) Hak atas perlakuan yang adil, (10) Hak bahwa semua dana yang digunakan untuk menafkahi mereka hanya berasal dari sumber-sumber yang halal. Ayat-ayat Al Qur’an  yang menguraikan tentang  hak-hak anak tersebut dapat dilihat pada Surat Al-An’am Ayat 151, Surat Al-Isra’ Ayat 31, Al Baqarah Ayat 233 dan beberapa hadist nabi. Akhirnya terkait dengan aspek Peningkatan Kesejahteraan Keluarga, Agama Islam telah memberikan penuh pada seluruh keluarga untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Hal ini tidak saja tercermin dari  Ayat-ayat dalam Al Qur’an, tetapi juga dalam Hadist. Namun demikian, upaya mencari rezeki yang dilakukan hendaklah dengan cara yang  halal. Nabi Muhammad SAW bersabda  dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi antara lain sebagai hak anak atas oragtuanya ialah bahwa orangtua mengajarinya menulis, berenang, memanah dan hanya memberinya rezeki yang hahal. Dari hadist tersebut kita dapat mengetahui bahwa  semua dana dan sumber yang digunakan untuk nafkah anak-anak harus bersumber dari pendapatan yang sah dan halal.  Selanjutnya upaya pemberdayaan ekonomi dalam rangka peningkatan kesejahteraan keluarga oleh pemerintah sebagai bagian dari upaya menurunkan kemiskinan, dalam Islam dianjurkan dengan meningkatkan ekonomi kerakyatan yang dilaksanakan dengan mengembangkan koperasi masjid, majelis taklim, LMS Agama dan Kelompok Keluarga Sakinah serta membentuk Desa Binaan Gerakan  Keluarga Sakinah.Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa Agama Islam sangat mendukung upaya membangun keluarga yang sejahtera. Bentuk dukungan ini bukan hanya sebatas pada upaya mendewasakan usia perkawinan, pengaturan kelahiran atau pembinaan ketahanan keluarga, tetapi juga upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga yang bersangkutan. Dan hal-hal tersebut telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW,  bukan sekedar ajakan melalui sabda-sabdanya, tetapi juga melalui contoh dalam kehidupan nyata. Karena Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang yang ulet dan tangguh, sehingga kehidupan keluarganya dalam kondisi bahagia dan sejahtera, yang tercermin dari riwayat kehidupan beliau sebagaimana disampaikan oleh sahabat-sahabat beliau dalam catatan sejarah. Drs. Mardiya, Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kulonprogo

Siapa sangka sejak ditemukan kasusnya pertama kali di Pulau Bali pada tahun 1987, kasus epidemi HIV/AIDS di negara kita telah meningkat begitu pesat hampir tanpa bisa dicegah. Selama rentang 1987 – 31 Maret 2009 saja , Dirjen Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM dan PL) Depkes RI menemukan 23.632 kasus HIV/AIDS dengan rincian 6.668 orang terinfeksi HIV dan 16.964 orang positif AIDS. Dari jumlah tersebut yang meninggal sebanyak 3.492 orang. Di Provinsi DIY sendiri sekarang ini total kasus HIV/AIDS ada 839 kasus yang terdiri atas kasus HIV 576 dan kasus AIDS 263 kasus sementara yang meninggal 92 orang. Ini baru kasus yang muncul ke permukaan. Kasus yang sebenarnya dengan konsep ”fenomena gunung es” bisa berpuluh-puluh kali lipat dari kejadian yang terpantau. Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Dr. Nafsiah Mboi, SpA MPH, bila tahun-tahun sebelumnya penyebab utama HIV/AIDS adalah narkoba suntik, sekarang ini telah bergeser ke perilaku seks bebas dengan proporsi sekitar 55 persen. Selanjutnya dijelaskan, dari 55 persen penyebab utama HIV/AIDS itu 48,4 persen di antaranya adalah akibat seks bebas secara heteroseksual (beda jenis), 3,7 persen akibat seks bebas secara homoseksual (sesama jenis), dan sisanya akibat penularan dari ibu ke bayi. Informasi terakhir, KPAN menemukan bukti-bukti kuat bahwa HIV/AIDS telah masuk ke dalam lingkungan keluarga karena kebiasaan salah satu anggotanya (suami atau isteri) yang suka ”jajan” di luar, selain berhubungan dengan pasangannya sendiri.
Mendasarkan pada peta persoalan dan penyebab penularan HIV/AIDS yang terjadi, mau tidak mau kondom yang selama ini diyakini cukup efektif untuk mencegah penularan HIV/AIDS, kembali dilirik oleh pemerintah, swasta, LSM dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Intinya, kondom diharapkan menjadi salah satu faktor penghambat penyebaran HIV/AIDS yang dapat diandalkan. Oleh karena itu, kondom harus dioptimalkan pemakaiannya melalui program-program penyuluhan, pembinaan, pendistribusian dan pemantauan secara sistematis pada masyarakat luas, termasuk melalui advokasi, Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) da konseling yang intensif. Sasarannya tidak saja kelompok atau individu yang selama ini dianggap rawan atau rentan terhadap bahaya HIV/AIDS, tetapi juga pada seluruh keluarga di Indonesia yang jumlahnya saat ini tidak kurang dari 57,4 juta.
Persoalannya, siapakah yang dapat diandalkan dan dipercaya untuk dapat melaksanakan program-program tersebut sehingga mampu memberikan hasil seperti yang diharapkan? Pertanyaan ini penting untuk dikemukakan mengingat masyarakat kita dikenal sangat resisten terhadap sosialisasi kondom karena berbagai stigma negatif yang melekat, seperti kondom dianggap menjijikkan dan kurang nyaman dipakai oleh pasangan tertentu, kondom sering diidentikan dengan seks bebas, pemasyarakatan kondom sama artinya dengan legalisasi tempat-tempat pelacuran, dan sebagainya.
Mencermati akar permasalahannya, maka upaya mengoptimalkan program pemakaian kondom untuk pencegahan HIV/AIDS di Indonesia tidak boleh dilepaskan dari fungsi kondom sebagai alat kontrasepsi. Apalagi selama ini kondom dikenal sebagai dual protection yang memiliki kemampuan untuk mencegah bertemunya sperma dan sel telur saat pasangan suami isteri bersetubuh di satu sisi, dan memiliki kemampuan melindungi seseorang dari penularan HIV/AIDS pasangannya di sisi lain. Dengan menempatkan kondom sebagai dual protection, maka sasaran pemakaian kondom dapat diperluas pada seluruh keluarga di Indonesia melalui pelibatan kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) yang terdiri dari Koordinator Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), PPKBD dan Sub PPKBD yang jumlahnya di negeri ini tidak kurang dari 1,23 juta orang. Ini belum termasuk kelompok KB-KS yang berbasis di tingkat RT.
Melalui pelibatan kader IMP yang nota bene merupakan kader KB, maka upaya penyuluhan, pembinaan, pendistribusian dan pemantauan pemakaian kondom sebagai alat pencegah penularan HIV/AIDS menjadi lebih mudah, murah dan efektif. Dengan sentuhan sedikit saja oleh Penyuluh KB, kader IMP ini akan sangat mudah digerakkan untuk memberikan penyuluhan, KIE dan konseling yang sejelas-jelasnya pada masyarakat atau keluarga binaanya tanpa harus menimbulkan gejolak, mengingat mereka adalah orang yang sangat dikenal oleh kelompok sasaran. Termasuk saat dilakukan pendistribusian kondom pada keluarga yang membutuhkan. Hal ini mengingat salah satu peran dari kader IMP yang dikemas dalam ”Enam Peran Bakti Institusi” ini adalah Pelayanan Kegiatan yang di dalamnya termasuk penyaluran kondom pada Pasangan Usia Subur (PUS). Sementara enam peran bakti itu sendiri terdiri atas: (1) Pengorganisasian, (2) Pertemuan, (3) KIE dan Konseling, (4) Pencatatan Pendataan, (5) Pelayanan Kegiatan, (6) Kemandirian. Kualitas kader IMP akan ditentukan oleh tingkat kemampuanya dalam pelaksanaan enam peran bakti ini, yang secara kategorial dibagi atas tiga kelompok, yakni Klasifikasi Dasar (D), Berkembang (B) dan Mandiri (M).
Perlu ditandaskan di sini, kader IMP yang selama ini memiliki kontribusi besar terhadap suksesnya program KB di Indonesia tersebut, keberadaannya telah menjangkau seluruh desa, dusun dan RT di 33 propinsi, 440 kabupaten/kota dan 5.278 kecamatan. Sehingga tidak ada satu wilayah pun di negara kita yang kini luput dari pembinaan kader IMP. Sejarah membuktikan, selama lebih dari tiga dasa warsa kader IMP ini bersama-sama tokoh masyarakat, tokoh agama, orgaisasi profesi, LSM, pemuda dan alim ulama mampu mengubah wajah kepedudukan di Indonesia. Dari awalnya kondisi penduduk dengan laju pertumbuhan sangat tinggi (2,34 persen) di masa lalu, menjadi relatif rendah (1,39 persen) per tahun pada saat sekarang. Yang patut pula dipertimbangkan, kader IMP ini adalah pekerja sosial yang tangguh, sehingga mereka sangat cocok bila dijadikan mitra oleh KPAN maupun KPAD untuk bersama-sama menyosialisasikan kondom pada masyarakat luas. Keberadaannnya pun juga sudah diakui oleh pemerintah dan masyarakat seiring dengan terbitnya Surat Keputusan (SK) Kepala Desa atau Camat tentang keberadaan institusi ini di semua wilayah. Bukti bahwa mereka merupakan pekerja sosial yang tangguh, mereka tetap bekerja dengan tekun dan penuh keikhlasan walaupun tidak digaji. Karena mereka sadar, menjadi kader IMP tidak dapat dijadikan media atau jalan pintas untuk mencari uang/materi, tetapi lebih cenderung ke arah mencari “amal” untuk kebaikan masyarakat dan kehidupan pribadinya kelak di zaman yang lebih abadi (akhirat).
Ini jelas dapat dijadikan modal utama sekaligus potensi luar biasa yang dapat dimanfaatkan oleh KPAN dan KPAD di seluruh Indonesia, untuk menanggulangi HIV/AIDS. Apalagi sekarang ini BKKBN baru giat-giatnya berupaya mendongkrak kesertaan KB Pria sebagai bagian dari upaya menciptakan kesetaraan gender dalam KB pasca ICPD Cairo 1994, di mana kondom menjadi salah satu alat kontrasepsi yang akan digalakkan secara luas di masyarakat. Kuncinya adalah bagaimana KPAN dan KPAD dapat bermitra secara harmonis dengan BKKBN Pusat, Propinsi maupun Kabupaten (di era otonomi nomenklaturnya berbeda-beda) sehingga di tingkat lini lapangan dapat lebih mudah untuk digerakkan. Dengan berbagai pertimbangan logis, BKKBN Pusat, BKKBN Propinsi maupun Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mengampu program KB di kabupate/kota, tentu dengan senang hati akan menerima kerjasama itu. Terlebih BKKBN sejak tahun 2007 lalu telah menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN) untuk pertama kalinya yang pelaksanaannya bersamaan dengan peringatan Hari AIDS se-Dunia melalui kerjasama antara BKKBN Pusat, KPAN dan DKT Indonesia, dengan rentang waktu kurag lebih selama satu minggu. Peringatan ini terus berlanjut pada tahun 2008 dan akan tetap dilaksanakan pada tahun 2009 dan tahun-tahun selanjutnya.
Dengan demikian, tidak ada satu alasan pun bagi KPAN maupun KPAD untuk menunda-nunda kerjasama dengan BKKBN dalam penanggulangan HIV/AIDS. Bila selama ini sudah ada rintisan kerjasama di tingkat Pusat, maka untuk selanjutnya harus lebih diintensifkan di tingkat daerah. Hal ini mengingat, para pengelola KB di tingkat kabupaten/kota, selain memiliki kedekatan dengan lini lapangan, mereka juga memiliki Penyuluh KB sebagai pembina dari kader IMP ini. Dengan demikian, bila model pendekatan ini dilakukan oleh KPAD di seluruh Indonesia, hasilnya tentu akan sangat luar biasa. Karena selain informasi HIV/AIDS secara benar dan proposional diterima oleh masyarakat luas dan seluruh keluarga di Indonesia, secara signifikan masyarakat akan lebih peduli terhadap program pemakaian kondom yang selama ini banyak dicurigai sebagai upaya legalisasi prostitusi dan seks bebas. Ini berarti pula, kegagalan penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia yang pernah dikatakan oleh Zahidul Huque, Perwakilan United Nation Fund for Population Activities (UNFPA) di Indonesia pada saat peluncuran laporan “Epidemi AIDS Global 2008” di Jakarta 13 Agustus 2008 lalu, dapat segera ditebus menjadi keberhasilan yang gemilang menyusul keberhasilan Thailand yang mampu menekan tingkat penularan HIV/AIDS di negaranya hingga 83% karena gencarnya program pemakaian kondom.
Namun agar hasilnya efektif, selain dibutuhkan koordinasi dan mekanisme operasional yang mantap, dibutuhkan pula payung hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Bupati (Perbup) tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS. Perda atau Perbup ini setidaknya harus mengatur hak dan kewajiban daerah dan warga serta mengatur public health law, administrasi law, civil law yang mengakomodasi pidana dan Hak Azasi Manusia (HAM). Dengan adanya Perda atau Perbup ini maka akan ada pengawasan, kesungguhan, dan indikator yang jelas dalam program penanggulangan HIV/AIDS di daerah/kabupaten/kota yang berimbas pada kesungguhan lintas sektor dan segenap komponen masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS di wilayahnya masing-masing. Dampak positif lainnya adalah kader IMP dapat lebih mantap dalam penyuluhan dan pembinaannya pada kelompok sasaran, termasuk dalam upaya pemasyarakatan kondom sebagai alat pencegah penularan HIV/AIDS selain sebagai alat kontrasepsi. Semoga.

Drs. Mardiya, Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan KB dan Kesehatan Reproduksi Badan BPMPDP dan KB Kab. Kulon Progo.

BUKU PENGAYAAN

Posted: Desember 16, 2009 in Buku

PENGASUHAN DAN PEMBINAAN TUMBUH KEMBANG ANAK

Oleh:
Tim Penyusun Buku Pengayaan
Tumbuh Kembang Anak

SUB DINAS KELUARGA BERENCANA
DINAS KEPENDUDUKAN CATATAN SIPIL KELUARGA BERENCANA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KABUPATEN KULON PROGO

PESAN KHUSUS TIM PENGGERAK PKK KABUPATEN KULON PROGO
KEPADA PETUGAS/KADER PENGELOLA KEGIATAN YANG MENANGANI TUMBUH KEMBANG ANAK

“ GUNAKAN BUKU INI SEBAGAI REFERENSI UNTUK
MENAMBAH PENGERTIAN DAN WAWASAN KITA TENTANG TUMBUH KEMBANG ANAK SERTA BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA MENGASUH DAN MELAKUKAN PEMBINAAN TERHADAP ANAK SEHINGGA ANAK-ANAK KITA DAPAT TUMBUH DAN BERKEMBANG SECARA OPTIMAL DI PERIODE EMASNYA SERTA MENJADI INSAN PEMBANGUNAN YANG TIDAK SAJA SEHAT, CERDAS DAN TRAMPIL, TETAPI JUGA BERTAQWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA, BERKEPRIBADIAN LUHUR, SERTA MEMILIKI APRESIASI YANG TINGGI TERHADAP SENI DAN BUDAYA BANGSA”

Wates, 29 Juni 2007
Ketua,

Hj. Wiwik Toyo Santoso Dipo

SAMBUTAN KEPALA DINAS KEPENDUDUKAN CATATAN SIPIL KELUARGA BERENCANA
DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
KABUPATEN KULON PROGO

Sungguh menjadi keprihatian bersama, saat kita mengetahui bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berdasarkan “Human Development Index Report 2006” yang dikeluarkan UNDP memposisikan Indonesia pada urutan ke-108 dari 177 negara. Walaupun peringkat ini lebih baik dibandingkan kondisi tahun-tahun sebelumnya, yakni urutan ke-110 pada tahun 2003, ke-111 di tahun 2004 dan ke-112 di tahun 2005, tetap saja peringkat tersebut terendah di Asia Tenggara. Sebagaimana diketahui, IPM diukur dengan mempersandingkan empat indikator utama, yakni usia harapan hidup, persentase melek huruf dewasa, rata-rata lama menempuh pendidikan, dan pengeluaran perkapita. Dengan IMP yang rendah maka dapat ditarik kesimpulan kualitas sumberdaya manusianya juga rendah. Begitu sebaliknya. IPM yang tinggi menjadi cerminan bahwa kualitas sumberdaya manusia yang tinggi serta memiliki daya saing yang kuat sehingga eksistensi kehidupannya di masa mendatang menjadi lebih terjamin.
Rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia harus disikapi dengan dua langkah mendasar yakni mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitasnya. Penggalakan kembali program KB menjadi resep jitu dalam rangka menekan laju pertumbuhan penduduk, sementara program kesehatan, pendidikan, dan peningkatan kesejahteraan penduduk menjadi kunci untuk mengangkat kualitasnya. Kedua langkah itu harus dilaksanakan seiring, selaras, dan seimbang sehingga secara nyata mampu merubah kondisi kualitas sumberdaya manusia Indonesia ke arah yang lebih baik.
Atas dasar itu, saya merasa sangat salut atas terbitnya buku pengayaan berjudul “Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak” yang disusun dan dikembangkan oleh Sub Dinas KB bersama instansi/institusi terkait seperti Dinas Kesehatan, Pendidikan, TP-PKK dan Kantor Depag Kabupaten Kulon Progo. Harapan saya, buku ini dapat dijadikan sebagai pengetahuan pelengkap bagi petugas dan kader pengelola kegiatan yang berkepentingan mengembangkan tumbuh kembang anak dalam rangka lebih memantapkan dan meningkatkan kualitas KIE-konseling di masyarakat, sehingga keluarga-keluarga yang terdapat di dalamnya menjadi lebih berdaya dan mampu mengantarkan putra-putrinya menjadi generasi penerus yang siap untuk dididik dan dibina menjadi insan pembangunan masa depan yang berkualitas.
Atas terbitnya buku ini saya mengucapkan banyak terima kasih pada para kontributor buku ini mulai dari para penyusun hingga editor dan penyunting buku ini. Semoga amal kebaikannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan YME. Amin
Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat.

Kepala,

Drs. Sarjana
NIP. 490 025 004

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya atas rahmat dan hidayah-Nya, penulisan buku pengayaan yang berjudul: “Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Buku ini dibuat sebagai bahan pengayaan bagi petugas/pengelola kegiatan yang berkaitan dengan upaya optimalisasi tumbuh kembang anak. Sehingga buku ini sifatnya merupakan pelengkap (komplementer) dari materi pokok tentang tumbuh kembang anak yang sudah ada.
Banyak persoalan dan hambatan yang kami temui selama kami menyusun buku ini. Namun berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, semua kesulitan dan hambatan yang kami temui, dapat kami selesaikan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kulon Progo Hj Wiwik Toyo Santoso Dipo yang telah memberikan sumbangan pemikiran, dorongan dan semangat pada kami untuk mewujudkan buku tentang tumbuh kembang anak sebagai karya asli dari Kulon Progo sebagai bentuk kontribusi dalam upaya optimalisasi pengasuhan dan pembinaan terhadap anak.
2. Bapak Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo beserta jajarannya yang telah membantu menyiapkan materi seputar proses tumbuh kembang anak dan faktor-faktor yang mempengaruhinya termasuk pemeliharaan kesehatan dan pemberian asupan gizi pada anak.
3. Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kulon Progo beserta jajarannya yang telah membantu menyiapkan materi tentang aspek-aspek tumbuh kembang anak serta telah memberikan berbagai masukan seputar materi pendidikan anak usia dini yang diselenggarakan oleh institusinya melalui program PAUD.
4. Bapak Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Kulon Progo beserta jajarannya yang telah membantu menyiapkan materi tentang menanamkan nilai moral dan keagamaan apada anak serta masukkannya seputar tips membangun kepribadian anak yang baik.
5. Kepala Perpustakaan Daerah Kabupaten Kulon Progo yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk memberikan fasilitas serta meminjamkan berbagai macam buku tentang tumbuh kembang anak sebagai referensi kami dalam penulisan buku ini.
6. Teman-teman petugas/kader pengelola KB di lapangan dan lain-lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan dalam bentuk foto, maupun materi/buku referensi sehingga buku ini dapat tampil lebih lengkap dan menarik untuk dibaca.
Kami menyadari sepenuhnya, buku ini tidaklah sempurna. Atas dasar itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari pihak manapun demi perbaikan buku ini selanjutnya.
Akhir kata, semoga buku pengayaan ini bermanfaat.

Wates, 29 Juni 2007
Tim Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL i
PESAN KHUSUS TP-PKK KABUPATEN KULON PROGO ii
SAMBUTAN KEPALA DINAS DUKCAPILKABERMAS iii
KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI v
BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II MEMAHAMI TUMBUH KEMBANG ANAK
A. Pengertian 7
B. Ciri-ciri Tumbuh Kembang 8
C. Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang 9
D. Teori Perkembangan Manusia 11

BAB III FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
TUMBUH KEMBANG ANAK
A. Pembawaan 15
B. Lingkungan 17

BAB IV ASPEK-ASPEK TUMBUH KEMBANG ANAK
A. Gerakan Kasar 22
B. Gerakan Halus 23
C. Komunikasi Pasif 25
D. Komunikasi Aktif 26
E. Kecerdasan 28
F. Menolong Diri Sendiri 33
G. Tingkah Laku Sosial 34
H. Nilai Moral dan Keagamaan 35
I. Seni 39

BAB V KARAKTERISTIK SETIAP FASE TUMBUH
KEMBANG ANAK
A. 0 – 1 Tahun 42
B. 1 – 2 Tahun 45
C. 2 – 3 Tahun 47
D. 3 – 4 Tahun 48
E. 4 – 5 Tahun 52

BAB VI OPTIMALISASI PROSES TUMBUH KEMBANG
ANAK
A. Pemeliharaan Kesehatan 55
B. Asupan Makanan/Gizi 61
C. Model Pengasuhan dan Pembinaan Terhadap Anak 65
BAB VII MENANAMKAN NILAI MORAL DAN 75
KEAGAMAAN PADA ANAK

BAB VIII PENUTUP 80

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

Disahkannya UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang secara eksplisit mencantumkan tentang Pendidikan Anak Usia Dini (Pasal 28), menunjukkan adanya komitmen bangsa Indonesia untuk menempatkan pendidikan anak usia dini sebagai bagian penting dalam penyiapan sumberdaya manusia di masa mendatang.
Sekarang ini, sangat disadari bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama bagi suksesnya pembangunan bangsa. Untuk itu, upaya pengembangan sumberdaya manusia harus merupakan suatu proses sepanjang hayat serta dilakukan secara serius dan komprehensif yang meliputi pengembangan berbagai aspek dan dimensi pengembangan manusia, dan terutama dilakukan melalui pendidikan.
Dalam kaitannya dengan penyiapan sumber daya manusia atau generasi unggul, pendidikan pada anak di usia dini memegang posisi yang sangat penting. Penting di sini dalam arti bahwa pengalaman pendidikan dini dapat memberikan pengaruh yang “membekas” sehingga melandasi proses pendidikan dan perkembangan anak selanjutnya. Pandangan ini didasarkan baik pada alasan keagamaan, pandangan para ahli atau temuan-temuan ilmiah. Selain itu, pendidikan usia dini juga berperan penting dalam membentuk dasar-dasar kepribadian anak. Anak yang mendapat pembinaan sejak usia dini akan lebih mudah dibentuk pribadinya menjadi pribadi yang baik, tahu batas sopan santun dan dapat membedakan antara hal yang baik dan buruk serta boleh dan tidak boleh dilakukan atas dasar landasan moral dan nilai-nilai agama. Anak yang memperoleh pembinaan intensif di usia dini selain akan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisiknya, juga akan meningkatkan ketahanan mentalnya.
Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis, sosial, moral dan sebagainya. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling penting untuk sepanjang hidupnya. Sebab masa kanak-kanak adalah masa pembentukan fondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya. Sedemikian pentingnya usia tersebut maka memahami karakterisik anak usia dini menjadi mutlak adanya bila ingin memiliki generasi yang mampu mengembangkan diri secara optimal.
Ada banyak hal yang diperoleh dengan memahami karakteristik anak usia dini antara lain:
1. Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan oleh anak, yang bermanfaat bagi perkembangan hidupnya.
2. Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak sehingga dapat memberikan stimulasi kepada anak agar dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik.
3. Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.
4. Menaruh harapan dan tuntan terhadap anak secara realistis
5. Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan keadaan dan kemampuannya.
Kajian dari berbagai sudut pandang — medis-neurologis, psikososial-kultural dan pendidikan — mengimplikasikan suatu pandangan yang komprehensif (menyeluruh) tentang anak usia dini. Secara singkat, kajian tersebut menyimpulkan bahwa anak usia dini (sejak lahir hingga 6 tahun) adalah sosok individu makhluk sosiokultural yang sedang mengalami suatu proses perkembangan yang sangat fundamental bagi kehidupan di masa remaja dan dewasanya dengan memiliki sejumlah potensi dan karakteristik tertentu. Secara individu, anak usia dini adalah suatu organisme yang merupakan suatu kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dengan segala struktur, perangkat biologis dan psikologisnya sehingga menjadi sosok yang unik. Sebagai makhluk sosiokultural, ia perlu tumbuh dan berkembang dalam satu seting sosial tempat ia hidup dan perlu diasuh dan dididik sesuai dengan nilai-nilai sosiokultural yang sesuai dengan harapan masyarakatnya
Ditinjau dari perkembangan otak manusia, maka tahap perkembangan otak pada usia dini menempati posisi yang paling vital, yakni meliputi 50% perkembangan otak. Lebih jelasnya, bayi lahir telah mencapai perkembangan otak 25% orang dewasa. Untuk mencapai kesempurnaan perkembangan otak manusia 50% dicapai hingga usia 4 tahun, 80% hingga usia 8 tahun dan selebihnya diproses hingga anak usia 18 tahun. Dengan demikian, usia 0-4 tahun memegang peranan yang sangat besar karena perkembangan otak mengalami lompatan demikian pesat, oleh karena itu, usia dini juga disebut “golden age”, atau usia emas.
Pendidikan anak di usia dini dapat dijadikan sebagai cermin untuk melihat bagaimana keberhasilan anak di masa mendatamg. Anak yang mendapat pengasuhan dan pembinaan yang baik semenjak usia 0-6 tahun memiliki harapan lebih besar untuk memperoleh keberhasilan di masa mendatang, Sebaliknya anak yang tidak mendapatkan kedua hal tersebut secara memadai, membutuhkan perjuangan yang cukup berat untuk mengembangkan kehidupan selanjutnya. Kehidupan masa kanak-kanak itu ibarat cuaca di pagi hari, ia akan meramalkan bagaimana siangnya, sorenya, bahkan malam harinya.
Harus diakui, layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia hingga saat ini baru menjangkau jumlah sasaran yang relatif kecil, terlebih lagi bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Dengan kata lain, secara kuantitas layanan pendidikan anak usia dini di negara kita masih sangat terbatas. Dalam segi kualitas, kondisinya lebih parah lagi. Dengan demikian hak anak untuk tumbuh dan berkembang, untuk dilindungi dan untuk difasilitasi, tampaknya belum memadai dan belum merefleksikan pemenuhan tuntutan undang-undang serta berbagai peraturan dan kebijakan yang menaunginya.
Keluarga adalah institusi terkecil dalam masyarakat yang memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan proses tumbuh kembang pada anak usia dini. Sebagaimana di ketahui, salah satu fungsi dalam keluarga adalah fungsi sosialisasi dan pendidikan di mana ayah dan ibu mendidik anak-anaknya agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya di masa depan. Oleh karena itu jangan heran bila Bapak Perguruan Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara, menyebut bahwa keluarga merupakan salah satu dari Tri Pusat Pendidikan. Keluarga harus diberdayakan menjadi institusi yang handal dalam mencetak generasi penerus yang cerdas, trampil dan berbudi luhur. Sebagai institusi yang pertama kali dikenal anak, keluarga diharapkan mampu menjadi tempat belajar bagi anak yang menyenangkan dalam suasana yang tenteram, tenang dan penuh kasih sayang, sehingga anak akan menjadi generasi penerus yang potensial mendukung pembangunan.
Dalam rangka optimalisasi proses tumbuh kembang anak di usia dini, di tingkat lini lapangan, Sub Dinas KB Dinas Kependudukan Catatan Sipil Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat (Dukcapilkabermas) Kabupaten Kulon Progo telah dikembangkan kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) sebagaimana daerah lainnya di Indonesia. Dalam kegiatan BKB, dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan ayah, ibu atau anggota keluarga lainnya dalam mengasuh dan membina anak agar proses tumbuh kembangnya berjalan lancar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Materi yang ada dalam kegiatan BKB ini mencakup 7 (tujuh) Aspek Perkembangan Anak yang terdiri dari: (1) Gerakan Kasar; (2) Gerakan Halus; (3) Komunikasi Pasif); (4) Komunikasi Aktif; (5) Kecerdasan; (6) Menolong Diri Sendiri; (7) Tingkah Laku Sosial. Ketujuh aspek tersebut belakangan dikembangkan menjadi 9 aspek dengan penambahan pada aspek nilai moral keagamaan dan aspek seni.
Kegiatan BKB di Kabupaten Kulon Progo dikembangkan dalam bentuk kelompok kegiatan yang umumnya berpangkalan di dusun dengan jadwal pertemuan penyuluhan rata-rata 1 bulan sekali. Kader yang mengelola kegiatan BKB umumnya terdiri dari 10 orang kader yang terbagi dalam 5 kelompok umur ( 0-1 Tahun, 1-2 Tahun, 2-3 Tahun, 3-4 Tahun, 4-5 tahun). Jadi masing-masing kelompok umur terdiri dari 2 orang di mana satu orang sebagai kader inti dan satu orang lagi adalah kader pembantu. Akhir-akhir ini, ada wacana untuk mengembangkan pertemuan penyuluhan menjadi satu minggu sekali, walaupun masih sulit untuk diwujudkan karena adanya keterbatasan waktu dan jumlah kader yang tersedia.
Kegiatan yang memiliki muara tujuan akhir yang sama dengan kegiatan BKB namun dengan sasaran yang berbeda adalah kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dikembangkan oleh Dinas Pendidikan. Bila kegiatan BKB sasaran pembinaannya adalah keluarga, sedangkan PAUD langsung pada anak. PAUD merupakan program Pemerintah Pusat yang dikelola Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini di bawah naungan Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah. Di tingkat lini lapangan kegiatan PAUD muncul dalam berbagai bentuk kegiatan seperti TPA, Kelompok Bermain, Pos PAUD atau Satuan PAUD Sejenis (SPS). Kurikulum yang dikembangkan juga mengacu pada beberapa aspek tumbuh kembang anak sebagaimana BKB hanya dalam bentuk kemasan yang berbeda. Di dalam PAUD aspek yang dikembangkan meliputi: (1) Moral dan Nilai-nilai agama; (2) Sosial, Emosional dan Kemandirian; (3) Bahasa; (4) Kognitif; (5) Fisik motorik; (6) Seni.
Perhatian masyarakat terhadap pendidikan usia dini mengalami perkembangan pesat dari waktu ke waktu. Dengan adanya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini harus disikapi oleh pemerintah dan petugas/pengelola kegiatan dengan serius menggarap program-program yang berkaitan dengan upaya optimalisasi tumbuh kembang anak ini secara lebih serius dan bersungguh-sungguh. Segenap potensi yang ada di masyarakat perlu di aktualisasikan guna mensukseskan program ini. Karena kesuksesan program akan memberi kontribusi positif dalam penciptakan sumberdaya manusia Kabupaten Kulon Progo yang sehat, cerdas, trampil, berkepribadian luhur serta bertaqwa Kepada tuhan Yang Maha Esa. Bila ini terwujud jelas akan berpengaruh terhadap kemajuan, kemandirian dan kejayaan Kabupaten Kulon Progo di masa mendatang.
Tumbuh kembang merupakan ciri khusus anak yang membedakannya dengan orang dewasa. Tumbuh kembang anak sebenarnya dimulai sejak saat pembuahan sampai anak dewasa. Terkait dengan tumbuh kembang anak, sangat layak untuk dicamkan 10 pernyataan dari Doronthy Law Nolte yang menghubungkan antara pola asuh/pembinaan dan kebiasaan orangtua dengan perilaku anak. Secara lengkap kesepuluh pernyataan tersebut adalah sebagai berikut: (1) Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; (2) Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi; (3) Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri; (4) Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri; (5) Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri; (6) Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri; (7) Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai; (8) Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan; (9) Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan; (10) Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dan kehidupan.
Pernyataan Doronthy Law Nolte patut kita camkan agar kita termotivasi untuk memberikan pengasuhan dan pembinaan terhadap anak-anak kita dengan sebaik-baiknya agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal terlepas dari seberapa besar tantangan dan kesulitan yang kita hadapi. Karena siapapun pasti menyadari bahwa anak adalah “investasi” masa depan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Bila anak kita tumbuh dan berkembang secara baik, dipastikan masa depan dia sebagai diri pribadi maupun sebagai anggota keluarga, masyarakat, bangsa dan negara akan cerah karena ia akan tumbuh sebagai insan masa depan yang berkualitas. Sebaliknya, bila kita salah dalam mengasuh dan membimbing, proses tumbuh kembangnya akan terganggu, terhambat atau bahkan terbelokkan sehingga mereka akan menjadi anak yang bengal, nakal, kurang ajar, tidak tahu sopan santun, tata krama dan sebagainya yang akrab dengan perilaku kriminal yang memburamkan harapan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara di masa depan, juga untuk dirinya sendiri.

BAB II
MEMAHAMI TUMBUH KEMBANG ANAK

A. Pengertian
Secara umum tumbuh kembang anak dapat diartikan sebagai perubahan ke arah yang lebih baik secara berkesinambungan dalam diri anak baik secara fisik maupun psikis seiring dengan meningkatnya usia anak.
Tumbuh kembang mengandung dua makna yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah perubahan ukuran, bentuk dan struktur tubuh atau anggota tubuh seiring dengan bertambahnya usia anak. Ada pula yang mengartikan pertumbuhan sebagai proses perubahan fisik seseorang, yang meliputi pertumbuhan berat badan atau tinggi badan sesuai dengan umurnya, misalnya:
– Anak baru lahir, berat badannya 3 kg, tinggi badan 49 cm
– Pada usia 3 bulan, biasanya berat badannya dapat bertambah menjadi 5 kg, tinggi badannya menjadi 59 cm
Dengan demikian, secara umum pertumbuhan ini dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
Sementara perkembangan adalah proses perubahan yang teratur dan mencakup perkembangan mental, kecerdasan, tingkah laku, budi pekerti, sikap dan sebagainya. Ada pula yang menyatakan bahwa perkembangan adalah proses perubahan perilaku dan mental seseorang yang meliputi emosi, sosial, kemampuan dan ketrampilan, misalnya;
– Anak baru lahir/bayi, untuk mengungkapkan rasa lapar, sakit, takut biasanya bayi tersebut menangis
– Pada usia 1 tahun, rasa tersebut diungkapkan dengan kata-kata seperti “minta minum, minta makan, dan sebagainya”.
Dalam perkembangan akan terjadi pertambahan fungsi anggotatubuh yang lebih kompleks dalam bentuk gerakan kasar, gerakan halus, kemampuan bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.
Terkait dengan tumbuh kembang anak, ada beberapa hal yang perlu dipahami dan dimengerti :
1. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor bawaan
2. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan
3. Tumbuh kembang berjalan secara bertahap
4. Tumbuh kembang adalah proses yang berkelanjutan
5. Setiap individu akan berkembang sebagai individu yang unik.

B. Ciri-ciri Tumbuh Kembang
Tumbuh kembang yang terjadi pada anak secara umum memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Terjadinya perubahan dalam hal ukuran:
– Aspek fisik : Perubahan tinggi dan berat bada serta organ-organ
lainnya
– Aspek psikis : Bertambahnya perbendaharaan kata, matangnya
kemampuan berpikir, mengingat serta menggunakan
imajinasi kreatifnya
2. Terjadinya perubahan dalam hal proporsi
– Aspek fisik : Proporsi tubuh sesuai dengan perkembangannya
– Aspek psikis : Perubahan imajinasi dari fantasi ke realitas dan
perubahan perhatian dari tertuju pada diri sendiri secara
perlahan-lahan berlatih kepada kelompok sebaya
3. Lenyapnya tanda-tanda lama
– Aspek fisik : Lenyapnya kelenjar Thymus (kelenjar kanak-kanak) yang
terletak pada bagian dada, kelenjar Pineal pada bagian
bawah otak, rambut-rambut halus dan gigi susu.
– Aspek psikis : Lenyapnya masa mengoceh, bentuk gerak-gerik kanak-
kanak dan dorongan untuk berpikir sebelum bertindak.
4. Diperolehnya tanda-tanda baru baik fisik maupun psikis yang khas pada tahap-tahap tertentu

- Aspek fisik : Tumbuhnya gigi susu, rambut di kepala, dapat
terkoordinasikannya anggota tubuh.
– Aspek psikis : Dapat merangkai kata, memahami perintah dan larangan,
dapat membedakan baik dan buruk.

C. Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang
Tumbuh kembang yang terjadi pada anak secara umum akan mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Tumbuh kembang menimbulkan perubahan
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut syaraf.
2. Tumbuh kembang pada tahap awal akan menentukan perkembangan selanjutnya
Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Sementara seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu, perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan sangat menentukan perkembangan selanjutnya.
3. Tumbuh kembang merupakan suatu proses yang tidak pernah berhenti
Pertumbuhan dan perkembangan anak akan terus terjadi hingga sang anak mencapai usia tertentu. Misalnya setelah anak dapat memiringkan badan, akan diikuti oleh kemampuannya untuk dapat tengkurap, duduk, merangkak, berdiri dan sebagainya.
4. Tumbuh kembang meliputi semua aspek dan saling mempengaruhi
Pertumbuhan dan perkembangan terjadi pada semua aspek baik fisik, emosi, intelegensi, sosial maupun komunikasi yang saling mempengaruhi. Contoh bila anak dalam pertumbuhan fisiknya terganggu (sakit-sakitan) maka biasanya akan mengalami kemandegan dalam aspek lain seperti emosinya kurang stabil, kecerdasannya tidak berkembang.

5. Tumbuh kembang terjadi pada waktu atau tempo yang berlainan
Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak.
6. Tumbuh kembang mempunyai tahapan yang berurutan
Setiap tahap tumbuh kembang anak akan mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik. Misalnya, anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak terlebih dahulu mampu berjalan sebelum bisa berdiri dan sebagainya.
7. Setiap tahapan tumbuh kembang memiliki ciri yang khas
Pada usia tertentu anak akan memiliki tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang khas. Contoh: sampai dengan usia 2 tahun anak akan memusatkan perhatiannya untuk mengenal lingkungannya, menguasai gerak-gerik fisik dan belajar berbicara.
8. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembanganpun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, dan sebagainya. Anak yang sehat, seiring dengan bertambahnya umur, bertambah pula berat dan tinggi badannya serta tambah kepandaiannya.
9. Perkembangan mempunyai pola yang tetap
Perkembangan funsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap yaitu:
a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalo kaudal)
b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimak (gerakan kasar) lalu berkembang di bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal)
Terkait dengan tumbuh kembang anak, Hurlock memiliki beberapa pandangan yang lebih speksifik dalam hal perkembangan anak.
Pertama, perkembangan merupakan hasil proses kematangan dalam belajar. Perkembangan terjadi apabila ada kematangan pada diri anak dan kematangan ini diperoleh melalui proses belajar. Contoh pada usia 6 bulan anak mulai melakukan gerakan “mengesot” yaitu gerakan mundur dalam posisi duduk. Kemudian pada usia 7 bulan mulai merangkak dan selanjutnya usia 9 bulan mulai belajar bangkit dan berdiri dengan dibantu.
Kedua, setiap bidang perkembangan dapat mengandung bahaya potensial. Bahaya ini dapat ditimbulkan dari lingkungan dan dari diri sendiri. Contoh: anak terus menerus menonton film kekerasan dampaknya anak merasa senang dan puas apabila dapat menyiksa teman sebaya dalam kegiatan bermain.

D. Teori Perkembangan Manusia
Manusia merupakan makhluk hidup yang lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk hidup yang lain. Akibat dari unsur kehidupan yang ada pada manusia, manusia berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, baik perubahan-perubahan dalam segi fisiologis (fisik) maupun perubahan-perubahan dalam segi psikologis (psikis). Bagaimana manusia berkembang dibicarakan secara mendalam dalam psikologi perkembangan sebagai salah satu psikologi khusus yang membicarakan tentang masalah perkembangan manusia. Terkait dengan tumbuh kembang/perkembangan manusia, terdapat beberapa teori yang antara satu dengan lainnya ada perbedaan, bahkan ada yang bertentangan. Teori-teori tersebut antara lain:
1. Teori Nativisme
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia itu akan ditentukan oleh faktor-faktor nativus, yaitu faktor-faktor keturunan yang merupakan faktor-faktor yang dibawa oleh individu pada waktu dilahirkan. Menurut teori ini, sewaktu individu dilahirkan telah membawa sifat-sifat tertentu, dan sifat-sifat inilah yang akan menentukan keadaan individu yang bersangkutan. Sedangkan faktor yang lain yaitu lingkungan, termasuk didalamnya pendidikan dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap tumbuh kembang/perkembangan itu. Teori ini dikemukakan oleh Schopenhauer.
Teori ini menimbulkan pandangan bahwa seakan-akan manusia telah ditentukan oleh sifat-sifat sebelumnya, yang tidak dapat diubah, sehingga individu akan sangat tergantung kepada sifat-sifat yang diturunkan oleh orangtuanya. Bila orangtuanya baik, seseorang akan menjadi baik, sebaliknya bila orangtuanya jahat seseorang akan menjadi jahat. Sifat baik atau jahat itu tidak dapat diubah oleh kekuatan-kekuatan lain. Teori ini menimbulkan konsekuensi bahwa manusia bila dilahirkan baik akan tetap baik, sebaliknya bila manusia dilahirkan jahat akan tetap jahat, yang tidak dapat diubah oleh pendidikan dan lingkungan.
Karena itu teori ini dalam pendidikan menimbulkan pandangan yang pesimistis, yang memandang pendidikan sebagai suatu usaha yang tidak berdaya menghadapi perkembangan manusia. Teori ini lebih jauh dapat menimbulkan suatu pendapat bahwa untuk menciptakan masyarakat yang baik, langkah yang dapat diambil ialah mengadaklan seleksi terhadap anggota masyarakat. Anggota masyarakat yang tidak baik tidak diberi kesempatan untuk berkembang, karena ini akan memberikan keturunan yang tidak baik pula.
2. Teori Empirisme
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan individu akan ditentukan oleh empirisnya atau pengalaman-pengalamannya yang diperoleh selama perkembangan individu itu. Dalam pengertian pengalaman termasuk pendidikan yang diterima oleh individu yang bersangkutan. Menurut teori ini, individu yang dilahirkan itu diibaratkan sebagai kertas atau meja yang putih bersih yang belum ada tulisan-tulisannya. Akan menjadi apakah individu itu kemudian, tergantung kepada apa yang akan dituliskan di atasnya. Karena itu peranan pengasuh/pendidik dalam hal ini sangat besar. Merekalah yang akan menentukan keadaan individu di kemudian hari. Karena itu aliran atau teori ini dalam lapangan pendidikan menimbulkan pandangan yang optimistis yang memandang bahwa pendidikan merupakan usaha yang cukup mampu untuk membentuk pribadi individu.
Teori empirisme ini dikemukakan oleh John Locke, juga sering dikenal denga teori tabularasa, yang memandang keturunan atau pembawaan tidak mempunyai peranan.
3. Teori Konvergensi
Teori ini merupakan teori gabungan (konvergensi) dari kedua teori tersebut di atas, yaitu suatu teori yang dikemukakan oleh William Stern. Menurut William Stern baik pembawaan maupun lingkungan mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan individu.
Perkembangan individu akan ditentukan baik oleh faktor bawaan sejak lahir (faktor endogen) maupun faktor lingkungan—termasuk pengalaman dan pendidikan – yang merupakan faktor eksogen. Penyelidikan yang dilakukan memberikan bukti tentang kebenaran dari teorinya. William Stern mengadakan penyelidikan pada anak-anak kembar di Hamburg. Dilihat dari segi faktor endogen atau faktor genetik anak yang kembar mempunyai sifat-sifat keturunan yang dapat dikatakan sama. Anak-anak tersebut dipisahkan dari pasangannya dan ditempatkan pada pengaruh lingkungan yang berbeda satu dengan yang lain. Pemisahan ini segera dilaksanakan setelah kelahiran. Ternyata anak-anak itu memiliki sifat-sifat yang berbeda satu dengan yang lain, sekalipun secara keturunan mereka dikatakan relatif mempunyai kesamaan. Perbedaan sifat yang ada pada anak itu disebabkan karena pengaruh lingkungan di mana anak tersebut berada. Dengan keadaan ini dapat dinyatakan bahwa faktor pembawaan tidak menentukan secara mutlak, pembawaan bukan satu-satunya faktor yang menentukan pribadi atau struktur kejiwaan seseorang.
Di Indonesia, teori konvergensi inilah yang kiranya dapat diterima, seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam bukunya yang berjudul “Karja K.H. Dewantara” yang diterbitkan oleh Majlis Luhur Taman Siswa tahun 1962. Sebagian dari kutipan pernyataannya adalah sebagai berikut:
“Tentang hubungan antara dasar dan keadaan ini menurut ilmu pendidikan ditetapkan adanya “konvergensi” yang berarti kedua-duanya saling mempengaruhi, hingga garis dasar keadaan itu selalu tarik menarik dan akhirnya menjadi satu. Mengenai perlu tidaknya tuntutan di dalam tumbuhnya manusia, samalah keadaannya dengan soal perlu tidaknya pemeliharaan dalam tumbuhnya tanam-tanaman. Misalnya kalau sebutir jagung yang baik jatuh pada tanah yang baik, banyak airnya dan banyak sinar matahari, maka pemeliharaan dari bapak tani tentu akan menambah baiknya tanaman. Kalau tak ada pemeliharaan, sedangkan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak mendapat sinar matahari atau kekurangan air, maka biji jagung itu walaupun dasarnya baik, tak akan dapat tumbuh baik karena pengaruh keadaan. Sebaliknya kalau sebutir jagung tidak baik dasarnya, akan tetapi ditanam dengan pemeliharaan sebaik-baiknya oleh bapak tani, maka biji itu akan dapat tumbuh lebih baik daripada biji lainnya yang tidak baik dasarnya”
Dari uraian diatas dapat dikemukakan bahwa perkembangan/tumbuh kembang individu akan ditentukan oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan.

BAB III
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
TUMBUH KEMBANG ANAK

A. Faktor Bawaan
Faktor bawaan atau keturunan (hereditas) merupakan faktor pertama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Dapat diartikan sebagai semua ciri atau karakteristik individu yang diwariskan kepada anak atau segala potensi baik fisik maupun psikis yang dimiliki seseorang sejak masa pembuahan sebagai warisan dari orangtua. Faktor bawaan disebut pula sebagai faktor endogen. Faktor endogen adalah faktor yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga kelahiran. Oleh karena individu itu terjadi dari bertemunya ovum dari ibu dan sperma dari ayah, maka tidak mengherankan kalau faktor endogen yang dibawa oleh individu itu mempunyai sifat-sifat seperti orangtuanya. Seperti pepatah Indonesia yang menyatakan “Air di cucuran akhirnya jatuh ke pelimbahan juga” ini berarti bahwa keadaan atau sifat-sifat dari anak itu tidak meninggalkan sifat-sifat dari orangtuanya.
Apa saja faktor-faktor endogen ini? Kenyataan menunjukkan bahwa setiap individu yang dilahirkan ke dunia akan membawa pembawaan tertentu, terutama sifat-sifat yang berhubungan dengan faktor kejasmanian. Misalnya bentuk/struktur tubuh, warna rambut, warna kulit, warna mata, bentuk wajah, dan sebagainya. Sifat-sifat ini merupakan sifat-sifat yang mereka dapatkan karena faktor keturunan, seperti yang dikenal dengan hukum Mendel. Faktor pembawaan yang berhubungan dengan keadaan jasmani umumnya tidak dapat diubah. Bagaimanapun besarnya keinginan orang untuk mempunyai warna kulit yang putih bersih, tidak akan terlaksana kalau faktor keturunan kulitnya berwarna hitam atau coklat, demikian pula halnya dengan yang lain-lain.
Disamping itu individu juga mempunyai sifat-sifat bawaan psikologis yang erat kaitannya dengan keadaan jasmani maupun temperamen. Temperamen merupakan sifat-sifat bawaan yang erat hubungannya dengan struktur kejasmanian seseorang, yaitu yang berhubungan dengan fungsi-fngsi fisiologis seperti darah, kelenjar-kelenjar, cairan-cairan lain yang terdapat dalam diri manusia.
Hypocrates dan Galenus menghubungkan sifat-sifat kejasmanian (struktur kejasmanian) dengan sifat-sifat psikologis dari individu yang bersangkutan. Menurut keduanya, ada beberapa tipe temperamen manusia, yaitu: sanguinikus, flegmatikus, cholerikus, melancholikus. Temperamen itu berbeda dengan karakter atau watak, yang kadang-kadang kedua pengertian itu disamakan satu dengan yang lain. Karakter atau watak yaitu merupakan keseluruhan dari sifat seseorang yang nampak dalam perbuatannya sehari-hari, sebagai hasil pembawaan maupun lingkungan. Temperamen pada umumnya bersifat konstan, sedangkan watak atau karakter lebih bersifat tidak konstan, dapat berubah-ubah sesuai pengaruh lingkungan.
Disamping individu memiliki faktor bawaan yang berhubungan dengan sifat-sifat kejasmanian dan temperamen, maka individu masih mempunyai sifat-sifat pembawaan yang berupa bakat (aptitude atau talenta). Bakat bukanlah merupakan satusatunya faktor yang dibawa individu sewaktu dilahirkan, melainkan hanya merupakan salah satu faktor saja. Bakat merupakan potensi yang berisi kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang ke sesuatu arah. Bakat bukanlah sesuatu yang telah jadi, yang telah terbentuk pada waktu individu dilahirkan, tetapi baru merupakan potensi-potensi saja. Agar potensi ini menjadi aktualisasi dibutuhkan kesempatan untuk mengaktualisasikan bakat-bakat tersebut. Karena itu kemungkinan ada bakat yang tidak dapat berkembang atau tidak dapat beraktualisasi karena kesempatan tidak atau kurang memungkinkan. Untuk mengaktualisasikan bakat diperlukan lingkungan yang baik atau mendukung. Di sinilah letak peranan lingkungan dalam perkembangan individu. Karena itu langkah yang baik adalah memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan bakat sebaik-baiknya. Untuk dapat mengetahui bakat seseorang umumnya dipergunakan tes bakat (aptitude test).
Dalam hal-hal tertentu, faktor bawaan di sini termasuk juga kerentanan terhadap penyakit. Misalnya orangtua yang memiliki penyakit gula juga akan menurun pada anaknya, juga penyakit sesak nafas, epilepsi, dan lain-lain.
Aspek individu yang bersifat bawaan ini memiliki potensi untuk untuk berkembang. Namun sejauh mana perkembangan dan kualitas perkembangan itu terjadi tergantung pada kualitas bawaan itu sendiri dan lingkungan yang mempengaruhi.
Masih terkait dengan faktor pembawaan, penelitian terhadap anak kembar menunjukkan bahwa anak kembar identik memiliki tinggi badan yang relatif sama dibandingkan dengan anak kembar yang berasal dari 2 telur (kembar fraternal). Kedua orangtua memberi sumbangan yang sama besar bagi perkembangan tinggi badan anak-anak mereka. Secara umum dapat disimpulkan bahwa dari dua orangtua yang memiliki badan tinggi, maka anaknya akan memiliki badan yang tinggi pula. Demikian sebaliknya, anak yang pendek kemungkinan besar memiliki orangtua yang tidak tinggi juga.
Menurut Teori Nativisme yang dipelopori seorang ahli filsafat Schopenhauer, manusia lahir sudah membawa potensi-potensi tertentu yang tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Berdasarkan teorinya, taraf kecerdasan sudah ditentukan sejak anak dilahirkan. Para ahli psikologi Loehlin, Lindzey dan Spuhler berpendapat bahwa taraf intelegensi 75% – 80% merupakan faktor keturunan.

B. Lingkungan
Lingkungan dapat diartikan sebagai berbagai peristiwa, situasi dan kondisi di luar individu yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tumbuh kembang anak atau perkembangan individu.
Lingkungan ini terdiri atas:
1. Lingkungan Fisik
Adalah segala sesuatu yang bersifat fisik yang ada di sekitar individu seperti keadaan rumah, pekarangan, sawah, tanah, air, musim dan sebagainya. Lingkungan fisik sering disebut juga lingkungan alam. Lingkungan alam yang berbeda akan memberi pengaruh yang berbeda pula pada individu. Misalnya: daerah pegunungan akan memberikan pengaruh yang lain bila dibandingkan dengan daerah pantai. Daerah yang mempunyai musim dingin akan memberikan pengaruh yang berbeda dengan daerah yang penuh dengan musim panas.

2. Lingkungan Sosial
Adalah meliputi seluruh manusia dengan berbagai interaksinya yang menciptakan lingkungan pergaulan yang khas. Lingkungan sosial merupakan lingkungan masyarakat, di mana dalam lingkungan masyarakat ini terdapat interaksi individu satu dengan individu lain. Keadaan masyarakatpun akan memberikan pengaruh tertentu terhadap perkembangan individu.
Lingkungan sosial biasanya dibedakan atas:
a. Lingkungan sosial primer, yaitu lingkungan sosial di mana terdapat hubungan yang erat antara anggota satu dengan anggota yang lain, anggota satu saling kenal mengenal dengan baik dengan anggota lain. Oleh karena itu di antara anggota telah ada hubungan yang erat, maka sudah tentu pengaruh dari lingkungan sosial ini akan lebih mendalam bila dibandingkan dengan lingkungan sosial yang hubungannya tidak erat.
b. Lingkungan sosial sekunder, yaitu lingkungan sosial yang hubungan anggota satu dengan anggota lain agak longgar. Pada umumnya anggota satu dengan anggota lain kurang atau tidak saling kenal mengenal. Karena itu pengaruh lingkungan sosial sekunder akan kurang mendalam bila dibandingkan dengan pengaruh lingkungan sosial primer.
Dengan demikian, lingkungan juga sering diterjemahkan sebagai keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Faktor lingkungan disebut juga faktor eksogen, yaitu faktor yang datang dari luar individu, merupakan pengalaman-pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang sering dikemukakan dengan pengertian milleu. Pengaruh pendidikan dan pengaruh lingkungan sekitar itu sebenarnya terdapat perbedaan. Pada umumnya pengaruh lingkungan bersifat pasif, dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan suatu paksaan kepada individu. Lingkungan memberikan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan kepada individu. Bagaimana individu mengambil manfaat dari kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tergantung kepada individu yang bersangkutan. Tidak demikian halnya dengan pendidikan. Pendidikan dijalankan dengan penuh kesadaran dan sistematis untuk mengembangkan potensi-potensi ataupun bakat-bakat yang ada pada individu sesuai dengan cita-cita atau tujuan pendidikan. Dengan demikian pendidikan itu bersifat aktif, penuh tanggung jawab dan ingin mengarahkan perkembangan individu ke suatu tujuan tertentu.
Sekalipun pengaruh lingkungan tidak bersifat memaksa, namun tidak dapat dipungkiri bahwa peranan lingkungan cukup besar dalam perkembangan individu.
Lingkungan tumbuh kembang anak dapat berupa lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan kelompok sebaya.
1. Lingkungan Keluarga
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orangtua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang menguntungkan untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Hal itu berarti, sikap dan perlakuan orangtua terhadap anak memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian dan perkembangan psikis anak.
Lingkungan keluarga yang kurang/tidak menunjang proses tumbuh kembang anak atau dikatakan sebagai lingkungan keluarga beresiko tinggi adalah apabila kondisi keluarga tersebut:
a. Umur ibu kurang dari 20 tahun
b. Jumlah anak usia kurang dari 2 tahun ada dua atau lebih
c. Ibu/pengasuh tidak tahu mengenai kebutuhan anak dan sulit menerima pesan-pesan kesehatan, yang ditandai antara lain:
– Tidak tahu mengenai hal-hal umum yang diketahui oleh masyarakat
– Tidak dapat memahami petunjuk-petunjuk kesehatan yang sebenarnya
– Tidak dapat menjawab pertanyaan yang biasanya dapat dijawab para ibu mengenai anaknya.
d. Ibu/pengasuh anak mengalami gangguan mental atau tekanan jiwa yang berat ditandai oleh antara lain sebagai berikut:
– Tampak putus asa, mudah menangis
– Bereaksi sangat lambat, acuh pada sekitarnya
– Perilaku aneh, suka tertawa sendiri, gelisah, mondar-mandir tanpa tujuan
e. Ibu/pengasuh anak mengabaikan anak atau acuh terhadap tumbuh kembang anak, antara lain ditandai:
– Menjelek-jelekkan anak
– Memukul anak suatu persoalan kecil
– Tidak mengetahui data tentang anak yang pada umumnya diketahui oleh para ibu, misalnya: kapan anak diimunisasi, penyakit yang pernah diderita anak, memperlihatkan sikap tidak senang dalam pembicaraan terhadap anaknya.
f. Rumah yang kacau dan kotor
g. Ayah sering melakukan kejahatan, minum alkohol, atau ada gangguan jiwa, sering mabuk
h. Hubungan suami isteri yang buruk, yang ditandai oleh:
– Orangtua sering bertengkar di depan anak-anak
– Kekerasan fisik antara orangtua, suami sering memukul isteri
i. Kemiskinan yang ditandai oleh hal-hal sebagai berikut:
– Lingkungan tempat tinggal yang buruk, lantai tanah, atap bocor, gubuk
buruk
– Alat makan yang dipakai tidak mencukupi untuk seluruh anggota keluarga
– Perlengkapan tidur tidak mencukupi
– Tidak mempunyai baju ganti
– Makanan yang disediakan secara kuantitas dan kualitas tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh. Sementara kekurangan gizi dalam makanan menyebabkan pertumbuhan anak terganggu yang akan mempengaruhi perkembangan seluruh dirinya.
2. Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, pendidikan dan latihan dalam rangka membantu anak agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral spiritual, intelektual, emosional maupun sosial.
Sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak setelah keluarga, baik dalam cara berpikir, bersikap maupun berperilaku. Ada beberapa alasan mengapa sekolah memainkan peranan yang berarti bagi perkembangan kepribadian anak:
a. Anak sebagai siswa harus hadir di sekolah
b. Sekolah memberikan pengaruh pada anak secara dini, terutama dalam hal membangun konsep diri
c. Anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada tempat lain di luar rumah
d. Sekolah memberikan kesempatan anak untuk meraih sukses
e. Sekolah memberikan kesempatan pada anak untuk menilai dirinya dan kemampuannya secara realistik.
3. Kelompok Teman Sebaya
Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosial bagi anak mempunyai peranan cukup penting bagi perkembangan kepribadiannya. Peranan ini semakin penting terutama pada saat terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat seperti perubahan bentuk keluarga dari keluarga besar ke keluarga kecil, kesenjangan antara generasi tua dan muda, dan peruasan jaringan komunikasi di antara anak dan remaja.
Peranan kelompok teman sebaya bagi anak adalah memberi kesempatan untuk:
a. Berinteraksi dengan anak lain
b. Mengontrol tingkah laku sosial
c. Mengembangkan ketrampilan dan minat yang relevan dengan usianya.

BAB IV
ASPEK-ASPEK TUMBUH KEMBANG ANAK

A. Gerakan Kasar
Gerakan kasar adalah gerakan yang dilakukan dengan melibatkan sebagian besar otot tubuh dan biasanya memerlukan tenaga. Ada pula yang mendefinisikan bahwa gerakan kasar adalah gerakan yang membutuhkan koordinasi gerak dari seluruh anggota tubuh dan biasanya mengeluarkan tenaga besar seperti berjalan berlari melompat dan naik turun tangga.
Dengan demikian, gerakan kasar merupakan salah satu dari ketrampilan motorik anak yang kemampuannya diperoleh melalui interaksi antara faktor kematangan (maturation) dan latihan (experience) selama kehidupan yang dapat dilihat melalui pergerakan yang dilakukan. Contoh: awalnya bayi hanya bisa terlentang, setelah melalui beberapa proses dan tahapan akhirnya bayi dapat duduk dan berdiri.
Kemampuan anak dalam gerakan kasar sangat dipengaruhi oleh perkembangan fisiknya. Perkembangan fisik yang dimaksud adalah pertumbuhan dan perubahan yang terjadi pada tubuh/badan/jasmani seseorang. Perkembangan fisik manusia terjadi mengikuti prinsip cephalocaudal, yaitu kepala dan bagian atas tubuh berkembang lebih dahulu sehingga bagian atas tampak lebih besar dari pada bawah. Hal ini tampak pada pertumbuhan bayi, di awal-awal pertumbuhan kepala lebih besar daripada yang lain.
Perkembangan fisik itu sendiri dalam perjalanannya juga dipengaruhi oleh empat faktor dasar yaitu:
1. Hereditas
Hereditas atau keturunan memberi warna pada anak pada bentuk struktur tubuh, tinggi badan, warna rambut, warna kulit, warna bola mata, bentuk wajah, dan sebagainya.

2. Hormon
Hormon adalah sesuatu zat kimia yang dikeluarkan oleh kelenjar dan dapat berjalan disaluran darah untuk kemudian berhubungan dengan bagian tubuh yang lain. Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan fisik seseorang disebut hormon pertumbuhan yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary di dalam otak. Hormon pertumbuhan ini diproses melalui hati dan menghasilkan hormon lain yang merangsang pertumbuhan otot dan tulang. Sementara hormon thyraxine dikeluarkan oleh kelenjar thyroid di leher merupakan hormon yang penting untuk perkembangan sel-sel syaraf. Tanpa hormon ini, anak akan menderita retardasi (keterlambatan) mental.
3. Nutrisi
Nutrisi atau gizi sangat dibutuhkan untuk mendukung perkembangan fisik manusia terutama pada masa anak-anak, karena pada masa itu perkembangan fisiknya berjalan dengan sangat cepat. Pertumbuhan pada prinsipnya memerlukan banyak energi sehingga membutuhkan makanan dengan nutrisi yang seimbang. Nutrisi yang paling penting bagi bayi adalah yang terdapat pada ASI.
4. Obesitas
Obesitas atau kegemukan dapat mempengaruhi perkembangan fisik anak karena anak menjadi malas bergerak. Dengan malas bergerak, anak menjadi kurang sehat dan tidak lincah selain pertumbuhan otot-otot dan tulangnya menjadi tidak optimal. Obesitas pada anak selain menyebabkan rasa percaya diri menjadi kurang karena menjadi bahan ejekan teman, di masa dewasanya nanti lebih rentan terhadap penyakit tekanan darah tinggi dan diabetes.
Manusia membutuhkan waktu lama untuk dapat menjadi matang secara fisik dibandingkan dengan makhluk lain. Paling tidak, manusia menghabiskan 20% dari seluruh kehidupan kanak-kanak dan remajanya untuk berkembang secara fisik.

B. Gerakan Halus
Gerakan halus adalah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh otot-otot kecil, karena itu tidak begitu memerlukan tenaga, tetapi memerlukan koordinasi yang cepat dan tepat. Ada pula yang menerjemahkan gerakan halus sebagai ketrampilan fisik yang melibatkan sekelompok otot-otot kecil dan koordinasi mata dan tangan. Contoh: meremas-remas kertas, menggambar, menggunting, memotong, menulis, memakai tali sepatu, dan lain-lain.
Gerakan halus juga merupakan bentuk ketrampilan motorik anak yang sangat berpengaruh pada perkembangan pribadi secara keseluruhan. Ada beberapa alasan mengapa hal itu bisa terjadi:
1. Melalui ketrampilan motorik anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang
2. Melalui ketrampilan motorik anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya ke kondisi yang bebas, dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
3. Melalui ketrampilan motorik anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya
4. Melalui ketrampilan motorik anak dapat bermain dan bergaul dengan teman sebayanya.
Salah satu hal penting yang berhubungan dengan gerakan halus adalah penggunaan tangan (handedness) yang dominan. Pada masa bayi, anak akan meraih meraih bola dengan kedua tangannya, kemudian memegang bola dengan satu tangan dan menukarnya dengan tangan yang lain.
Handedness mulai tampak permanen saat anak memasuki usia 3 tahun. Saat itu anak sudah menentukan tangan mana yang lebih dominan untuk meraih, memegang atau memanipulasi obyek. Sejalan dengan itu menjadi sulit bagi anak untuk mengubah tangan dominannya. Pada tahap inilah mulai dapat ditentukan apakah anak lebih sering menggunakan tangan kanan atau kidal (menggunakan tangan kiri). Penggunaan tangan dominan ini dipengaruhi oleh faktor bawaan dan pengaruh lingkungan, yang terkadang memaksa anak untuk menggunakan tangan kanan yang dapat lebih diterima oleh masyarakat.
Perkembangan gerakan halus yang optimal memerlukan dukungan latihan dan bimbingan yang cukup serta penyediaan makanan bergizi yang mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tubuh secara baik. Dukungan dari lingkungan sangat dibutuhkan untuk mendorong anak lebih giat melatih diri dalam gerakan halus melalui berbagai kegiatan yang dikemas dalam bentuk permainan.
C. Komunikasi Pasif
Komunikasi pasif adalah kemampuan untuk memahami isyarat dan pembicaraan orang lain. Contoh : menengok ke arah sumber suara, mengerti kalimat sederhana, senang mendengarkan ceritera, mengerti dan dapat melaksanakan perintah dari yang sederhana hingga yang lebih sulit.
Komunikasi itu sendiri merupakan suatu proses penyampaian atau penerimaan pesan/informasi dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi selain berfungsi keluar yaitu sebagai alat untuk interaksi dengan pihak lain, juga berfungsi sebagai alat untuk merefleksi, berpikir, membangun eksistensi dan kesadaran sebagai manusia.
Dalam berkomunikasi, seseorang tidak mungkin lepas dari penguasaan bahasa. Karena bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif. Oleh karena itu, penguasaan bahasa sebagai alat komunikasi, harus melalui proses perkembangan sendiri karena bahasa bukan hanya sekedar mengeluarkan bunyi atau pembelajaran kata. Bayi yang baru dilahirkan sesungguhnya mengeluarkan bunyi/suara melalui tangis dan tawanya. Kemudian ia mengeluarkan bunyi-bunyian, seperti vokal yang seolah mengajak kita bicara. Tetapi sampai tahap ini kita masih tidak mengerti apa yang sesungguhnya dikatakan. Sejalan dengan bertambahnya usia, anak mulai mengucapkan kata pertama, kemudian menggabungkan kata menjadi kalimat yang bermakna.
Secara umum, bahasa didefinisikan sebagai rangkaian kata bermakna yang diatur dalam suatu tata bahasa. Pendapat ini didasarkan pada apa yang terlihat dari luar bahwa seseorang dapat berbicara pada orang lain dengan menggunakan bahasa yang memiliki arti dan aturan tertentu.
Menurut Hulit dan Howard, bahasa merupakan ekspresi kemampuan manusia yang bersifat innate atau bawaan. Sejak lahir kita telah dilengkapi dengan kapasitas untuk dapat menggunakan bahasa. Kemampuan menggunakan bahasa bersifat instingtif (naluriah), namun kapasitasnya berbeda untuk tiap orang, tergantung bahasa spesifik apa yang ia gunakan. Seorang anak yang dilahirkan ditengah-tengah orang dewasa yang berbahasa Indonesia akan selalu mendengarkan bahasa tersebut sehingga mereka akan menggunakan bahasa Indonesia dalam berbicara. Begitu pula dengan penggunaan bahasa lainnya.
Terkait dengan perkembangan komunikasi pasif, bagi anak yang terpenting adalah pemahaman terhadap isyarat dan pembicaraan orang lain. Dengan memahami isyarat dan pembicaraan orang lain, anak akan mampu bereaksi secara tepat dan tidak terjadi kesalahan dalam bersikap atau bertindak. Di masa dewasanya nanti, kemampuan dalam komunikasi pasif penting untuk mengembangkan jiwa kebersamaan, rasa simpati, empati, menghargai pendapat orang lain, serta memahami kebutuhan orang lain.

D. Komunikasi Aktif
Komunikasi aktif adalah kemampuan menyatakan perasaan, keinginan dan pikiran, baik melalui tangisan, gerakan tubuh/isyarat maupun kata-kata. Contoh mengucapkan kata-kata yang mempunyai arti, menyebutkan nama, menyusun kalimat, bertanya dan sebagainya.
Dalam komunikasi aktif, penguasaan bahasa semakin penting karena sebagian besar kegiatan komunikasi aktif menggunakan kata-kata atau kalimat. Bahasa sendiri sebenarnya dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk:
1. Bicara
Bicara adalah oral ekspresi bahasa. Organ tubuh yang berperan untuk kegiatan ini adalah mulut dan tenggorokan. Melalui pembicaraan, orang lain akan mengerti apa yang menjadi keinginan, kebutuhan, dan harapan-harapan kita secara lebih cepat dan tepat.
2. Gerakan
Bahasa juga dapat hadir tanpa bicara. Contohnya orang bisu-tuli. Karena ia tidak dapat berbicara, maka mereka mengungkapkan keinginan, perasaan dan harapan-harapannya dengan menggunakan bahasa gerak tubuh atau isyarat.
3. Tulisan
Tulisan merupakan bentuk lain dari ekspresi bahasa. Melalui tulisan dapat dikomunikasikan informasi, ide, perasaan atau pesan.
Bahasa merupakan proses yang kompleks, yang melibatkan beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu jenis bahasa yang dipelajari anak, bagaimana cara anak mempelajari bahasa tersebut, karakteristik kepribadian anak, serta lingkungan proses pembelajaran bahasa itu terjadi.
Sementara itu perkembangan komunikasi aktif anak akan dipengaruhi oleh lima hal sebagai berikut:
1. Kecerdasan
Kecerdasan mempengaruhi kemampuan anak dalam mengembangkan dan memilih kata-kata sehingga lebih mudah dipahami oleh orang lain. Orang yang cerdas biasanya lebih pandai mengungkapkan keinginan, ide dan perasaannya melalui kata-kata yang mudah dimengerti oleh orang lain karena komunikasinya yang mengena sehingga dapat dihindari salah persepsi atau miskomunikasi yang menyebabkan seseorang bereaksi lain dari keinginan si pembicara.
2. Kondisi fisik
Perkembangan komunikasi aktif yang baik mensyaratkan perbagai kondisi fisik yang mendukung seperti organ bicara (gigi, lidah, bibir, tenggorokan, pita suara) yang normal, serta organ pendengaran (telinga) dan sistem neuronuscular di otak yang normal pula.
3. Lingkungan keluarga
Sejak bayi sampai anak usia 6 tahun, anak menghabiskan waktunya untuk berada di rumah, sehingga mereka lebih banyak berinteraksi dengan anggota keluarga. Anak yang orangtuanya aktif mengajak berbicara, membacakan ceritera atau secara intens berkomunikasi secara verbal, akan membantu anak dalam mengembangkan komunikasi aktif.
4. Kondisi ekonomi
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang berasal dari kelas menengah ke atas memiliki perkembangan komunikasi aktif yang lebih cepat dari pada anak-anak yang berasal dari kelas ekonomi rendah. Hal ini diperkirakan bahwa keluarga ekonomi menengah ke atas lebih mampu memberikan perhatian pada bicara dan menuntun anak untuk berbicara serta mampu memfasilitasi perkembangan komunikasi anak seperti alat bantu buku, majalah, koran, alat tulis, media elektronik dan alat komunikasi.

5. Setting sosial budaya
Perbedaan budaya menyebabkan perbedaan pada perkembangan komunikasi aktif anak. Lingkungan anak yang secara aktif memakai bahasa daerah dalam interaksi sehari-hari membuat anak akan lebih mudah berkomunikasi melalui bahasa daerah dan akan kesulitan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya.

E. Kecerdasan
Cerdas erat kaitannya dengan kemampuan berpikir. Cerdas artinya cepat tanggap, cepat paham, mampu melaksanakan kegiatan tertentu, banyak gagasan/ide serta mampu menyelesaikan masalah sesuai usianya. Contoh : membedakan anggota keluarga dengan orang lain, mampu menyamakan dan memasangkan benda yang serupa, mengenal benda di sekelilingnya dan sebagainya. Dengan demikian, kecerdasan dapat diartikan sebagai kemampuan daya tangkap, daya pikir dan daya ingat seorang anak pada umur tertentu.
Kecerdasan juga berkaitan dengan kemampuan bersosialisasi dan pengendalian perasaan. Artinya, dengan kecerdasan seorang dapat pula memiliki kemampuan mengelola emosi/perasaan sehingga ia dapat bersosialisasi dengan oranglain secara baik.
Menurut Piaget, terdapat tiga tingkatan kecerdasan:
1. Kecerdasan Binatang
Tingkat kecerdasan ini paling rendah dibandingkan dengan tingkat kecerdasan yang lain, karena segala sesuatunya terbatas pada yang terlihat.
W. Kohler melakukan percobaan dengan seekor kera yang dikurung dalam sebuah kandang dan di luar kandang diletakkan pisang dan didalam kandang diletakkan tongkat. Di situ terlihat kemampuan kera untuk mencapai pisang dengan tongkat yang ada di dekatnya. Dalam hal ini kera dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Kera dapat menolong dirinya sendiri dalam situasi yang asing bagi dirinya. Kelakuan tersebut dapat disebut kelakuan intelejen dan kesanggupannya yang demikian yang demikian disebut kognitif. Kecerdasan yang demikian itu terbatas pada sesuatu yang konkret. Sebab jika di dekat kera tadi tidak ada tongkat, maka tidak mungkin kera tadi dapat mencari tongkat sendiri untuk meraih pisang.
2. Kecerdasan Anak
Anak yang sudah dapat berbicara, kecerdasannya melebihi kecerdasan binatang. Kecerdasan binatang berdasarkan hasil percobaan yang pernah dilakukan, kurang lebih sama dengan tingkat kecerdasan anak usia satu tahun. Kesimpulan dari percobaan tersebut adalah:
– Masalah yang dihadapi kera dapat diselesaikan oleh anak-anak.
– Kemampuan menggunakan bahasa merupakan garis pemisah antara hewan dan manusia. Dengan berbahasa maka manusia kecil dapat melebihi tingkat kecerdasan binatang.
3. Kecerdasan manusia
Tingkat kecerdasan manusia adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan tingkat kecerdasan lainnya.
Adapun ciri-ciri kecerdasan manusia adalah:
a. Penggunaan bahasa
Dengan bahasa manusia dapat menyatakan isi jiwanya (fantasi, pendapat, perasaan, dan sebagainya). Dengan bahasa pula, manusia dapat berhubungan dengan sesama, manusia dapat membeberkan segala sesuatu yang konkret dan yang abstrak dan dengan bahasa dapat membangun kebudayaan.
b. Penggunaan perkakas
Menurut Bergson, perkataan dan perbuatan cerdas manusia dicirikan dengan bagaimana mendapatkan, bagaimana membuat dan bagaimana mempergunakan perkakas.
c. Mendapatkan perkakas
Kecerdasan manusia mendorong seseorang untuk mendapatkan segala sesuatu yang dapat memudahkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup.
d. Membuat perkakas
Pembuatan perkakas selalu membutuhkan pendapat tentang tujuan “ untuk apa alat itu dibuat?”

e. Memelihara perkakas
Manusia dapat memelihara dan mengembangkan perkakas-perkakas untuk keperluan di masa mendatang.
Selanjutnya Kecerdasan dalam konteks tumbuh kembang anak, secara umum dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Intelligence Quotient (IQ)
IQ merupakan istilah dalam hal perhitungan kecerdasan dengan memperbandingkan antara Mental Age (MA) dengan Chronological Age (CA) yang dinyatakan dengan angka lalu dikalikan dengan 100. IQ ini sifatnya relatif konsisten, dan apabila terjadi pergeseran, maka rentangan yang terjadi hanya berkisar kurang lebih satu sampai lima poin. Kecerdasan ini cenderung bersifat bawaan. Namun demikian, pengaruh lingkungan yang mendukung akan mengakibatkan kapasitas kecerdasan ini berfungsi efektif dan optimal sebatas predisposisinya. Sehingga untuk mendapatkan perkembangan yang optimal anak perlu diberi stimulasi yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kapasitasnya.
Adapun tingkatan IQ yang ada pada manusia terbagi atas sembilan kategori yaitu:

IQ (Intelligence Quotient) Kategori/klasifikasi
140 ke atas
130 – 139
120 – 129
110 – 119
90 – 109
80 – 89
70 – 79
50 – 59
49 ke bawah Jenius
Sangat cerdas
Cerdasa
Di atas normal
Normal
Di bawah normal
Bodoh
Terbelakang (Moron/Debil)
Terbelakang (Imbicile dan Ediot)

2. Emotional Intelligence (EI)
EI sering diidentikan dengan Emotional Quotient (EQ) yang secara umum diterjemahkan sebagai kemampuan seseorang untuk mengelola emosinya, sehingga mengakibatkan ia mampu merespon lingkungan secara lebih efektif.
Adanya sambungan antara neokortek (sebagai pusat pikiran) dengan amigdala (sebagai pusat emosi) merupakan medan perang sekaligus kerjasama antara otak dengan hati. Dengan ikut sertanya campur tangan dari rasa terhadap keputusan rasio/pikiran, membuat keputusan yang diambil dapat selaras dengan pengalaman kehidupan dan budaya. Kerjasama antara pikiran dan hati inilah yang merupakan inti kecerdasan emosional.
Menurut Daniel Goleman, kecerdasan emosional meliputi loma wilayah yaitu: (1) mengenali emosi diri; (2) mengelola emosi; (3) memotivasi diri sendiri; (4) mengenali emosi orang lain/empati; (5) membina hubungan. Kelimanya dapat diidentifikasi dari ciri-ciri ketrampilan sebagai berikut:
– Menyadari perasaan
– Mengendalikan emosi
– Menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir
– Bertahan menghadapi frustrasi
– Bangkit kembali dari kegagalan
– Mengatasi suasana hati
– Memotivasi diri sendiri
– Berkreasi
– Mampu mencapai “flow” (hanyut dalam pekerjaan
– Berempati
– Terampil bergaul
– Mampu mengelola emosi orang
– Mampu mengorganisir dan memimpin orang lain.
3. Spiritual Intelligence (SI)
SI yang sering diidentikkan dengan Spiritual Quotient (SQ) diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menemukan arti dan nilai dari apa yang pernah kita lakukan serta pengalaman-pengalaman kita, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan lebih kaya. Kecerdasan spiritual umumnya untuk menilai apakah tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan orang lain.
Kecerdasan spiritual tidak mesti berhubungan dengan agama. Istilah spritual berasal dari kata dasar “spirit” yang artinya semangat. EI memang bisa dikembangkan melalui agama, tetapi beragama tidak selalu menjamin EI atau EQ tinggi. EQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.
Danah Zoher dan Ian Marshall menguraikan berbagai kegunaan dari SQ sebagai berikut:
a. SQ telah menjadikan manusia seperti adanya sekarang dan memberi dorongan pada orang untuk terus tumbuh dan berubah
b. SQ menjadikan orang kreatif. Orang membutuhkan SQ ketika ingin menjadi luwes, berwawasan luas atau spontan secara kreatif.
c. SQ digunakan ketika seseorang menghadapi masalah eksistensial, yaitu saat pribadi merasa terpuruk, terjebak oleh keputusasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu dengan penyakit dan kesedihan. SQ menyadarkan kita bahwa kita mampu mengatasi masalah.
d. SQ merupakan petunjuk saat kita berada di ujung, yaitu perbatasan antara keteraturan dan kekacauan, antara tahu dan tidak tahu sama sekali atau kehilangan jati diri. SQ adalah hati nurani kita.
e. SQ menjadikan kita lebih cerdas secara spiritual dalam beragama
f. SQ memungkinkan kita untuk menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan interpersonal serta menjembatani kesenjangan antara diri dan orang lain.
g. SQ memungkinkan seseorang mencapai perkembangan diri yang lebih utuh karena orang hidup untuk itu.
h. SQ dapat digunakan untuk berhadapan dengan masalah baik dan jahat, hidup dan mati, dan sal usul sejati dari penderitaan dan keputusannya.
Baik IQ, EQ maupun SQ masing-masing memiliki pusatnya sendiri di otak. IQ bekerja berdasarkan syaraf serial di otak, EQ bekerja berdasarkan jariangan syaraf asosiatif di otak, SQ bekerja berdasarkan system syaraf otak ketiga, yakni osilasi-osilasi sinkron yang menyatukan data di seluruh bagian otak.
Dengan demikian IQ dan EQ baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama belumlah cukup untuk mengoptimalkan fungsi kecerdasan seseorang. Orang yang IQ nya tinggi dapat memahami aturan dan mengikutinya tanpa salah. Sementara orang yang EQ nya tinggi dapat mengantisipasi situasi yang dihadapi dan bertindak sesuai dengan tuntutan situasi. Kedua kecerdasan ini bekerja di dalam batas, karena mereka tidak pernah mempertanyakan mengapa ada aturan dan situasi, apakah aturan atau situasi itu dapat diubah atau diperbaiki. Sedangkan SQ bekerja dengan tanpa batas. SQ memungkinkan orang untuk bekerja lebih kreatif mengubah aturan atau situasi apabila dirinya menilai hal itu lebih bermakna bagi hidupnya.
IQ, EQ dan SQ mempunyai kekuatan tersendiri di otak dan bisa berfungsi secara terpisah. Secara ideal ketiganya dapat bekerjasama dan saling mendukung, meskipun ketiganya tidak harus memiliki kapasitas yang sama tinggi. Walaupun demikian, ketiganya dapat difungsikan secara optimal melalui pelatihan yang memadai. Sekalipun dalam hal ini fungsi IQ cenderung dibatasi oleh kapasitas predisposisi, sedangkan IQ oleh Goleman dikatakan “bukan suratan takdir” yang artinya melalui pelatihan dapat ditingkatkan kapasitasnya. Sama halnya dengan SQ yang juga dapat ditingkatkan kapasitasnya sepanjang rentang kehidupan seseorang.

F. Menolong Diri Sendiri
Menolong diri sendiri merupakan bentuk kemampuan atau ketrampilan seseorang untuk menolong dirinya sendiri sehingga tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian kemampuan menolong diri sendiri erat kaitannya dengan kemandirian seseorang. Contoh: menyuapkan makanan ke mulut, minum dari cangkir, membuka sepatu, mencuci tangan, mengikat tali sepatu dan sebagainya.
Melatih kemampuan untuk menolong diri sendiri penting untuk meningkatkan kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari, menumbuhkan rasa percaya diri, memiliki keberanian dan tidak terlalu merepotkan orang lain.
Menolong diri sendiri merupakan suatu tindakan implementasi dari tugas-tugas perkembangan. Robert Havighurst melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa priode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Tugas-tugas itu berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai prasyarat untuk pemenuhan dan kebahagiaan hidup.
Munculnya tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor-faktor berikut:
– Kematangan fisik
Misalnya belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki
– Tuntutan masyarakat secara structural
Misalnya belajar membaca, menulis, berhitung, belajar organisasi
– Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri
Misalnya, memilih pekerjaan, memilih teman hidup.
– Tuntutan norma
Misalnya norma agama untuk taat beribadah

G. Tingkah Laku Sosial
Yang dimaksud dengan tingkah laku sosial adalah gerakan tingkah laku yang mencerminkan kemampuan hidup berdampingan dengan sesamanya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dapat menerima dan menghargai serta membantu sesamanya. Contoh: tersenyum pada orang lain, mencintai dan menyayangi orang-orang di sekelilingnya, bermain dengan teman sebaya.
Menurut Plato, secara potensial manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial (zoon politicon). Sebagaimana makhluk sosial, manusia selalu bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungannya. Sosialisasi merupakan suatu proses di mana individu (terutama anak) melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan serta belajar bergaul dengan bertingkah laku seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya.
Sementara Hurlock menyatakan bahwa kemampuan tingkah laku sosial merupakan kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai dan harapan sosial. Untuk menjadi individu yang mampu bermasyarakat diperlukan tiga proses sosialisasi. Proses sosialisasi ini tampaknya terpisah, tetapi sebenarnya saling berhubungan satu sama lainnya. Ketiga proses tersebut adalah sebagai berikut:
a. Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima masyarakat
b. Belajar memainkan peran sosial yang ada di masyarakat
c. Mengembangkan sikap/tingkah laku sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.
H. Nilai Moral dan Agama
Aspek yang berkaitan dengan nilai moral dan keagamaan adalah berupa perilaku yang menyandarkan pada nilai moral dan nilai agama. Contoh: berdoa sebelum makan/tidur, beribadah, berbuat baik pada orang lain, menyayangi dan menghormati orangtua, minta ijin bila akan pergi bermain, dan sebagainya. Nilai moral berkaitan dengan baik buruknya sikap dan perilaku manusia dalam berhubungan dengan orang lain. Sementara nilai agama adalah aturan, patokan, standar baku yang berkaitan dengan baik-buruknya sikap manusia dalam hubungannya antar sesama manusia maupun sang Pencipta (Tuhan).
Dengan demikian, perilaku moral keagamaan seseorang diperoleh melalui proses yang sangat panjang. Berhasil tidaknya proses pembentukan perilaku moral dan perilaku tentang keagamaan pada anak sangat tergantung pada efektif tidaknya upaya penanaman nilai moral dan keagamaan yang dilakukan. Waktu emas untuk menanamkan nilai moral dan nilai keagamaan pada masa anak-anak, dan hal itu merupakan pondasi bagi perkembangan selanjutnya.
Masalah moral dan agama merupakan salah satu aspek penting yang perlu di tumbuh kembangkan dalam diri anak. Berhasil tidaknya penanaman nilai moral dan keagamaan pada masa kanak-kanak akan sangat menentukan baik buruknya perilaku moral seseorang pada masa selanjutnya.
Menurut Al-Halwani (1995), anak memiliki kebiasaan meniru yang kuat terhadap seluruh gerak dan perbuatan dari figure yang menjadi idolanya. Oleh karena itu seorang anak secara naluriah akan menirukan perbuatan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, saudara dekat serta kerabat yang terdekat.
Realitas yang demikian itu perlu mendapat perhatian tersendiri, karena perkambangan akhlak, watak, kepribadian dan moral anak akan sangat ditentukan oleh kondisi dan situasi yang terdapat dalam keluarganya. Hal ini berkaitan dengan kedudukan keluarga sebagai lingkungan yang pertama dan utama bagi anak.
Dengan asumsi bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak, maka pola asuh orangtua yang diterapkan anak akan sangat berpengaruh pada perkembangan jiwa anak, termasuk masalah moralitas dan agamanya. Bila pola asuh yang diterapkan pada anak baik maka akan membentuk kepribadian anak yang baik pula. Sedangkan bila orang tua salah dalam menerapkan pola asuh akan berdampak buruk pada perkembangan moral anak, karena anak akan berlaku menyimpang yang mengarah pada perilaku kenakalan anak.
Fokus pada masalah moral, istilah moral atau moralitas menurut Mc Devitt & Ormrod mengacu pada suatu kumpulan aturan dasar yang berlaku secara umum mengenai benar atau salah. Dengan demikian yang dimaksud perkembangan moral adalah bagian dari proses pembelajaran anak atas aturan-aturan dasar. Selain itu, perkembangan moral juga termasuk dalam pemahaman akan emosi dan kekuatannya, serta kemampuan untuk mengenali bahwa emosi tersebut dapat memotivasi individu untuk melakukan sesuatu yang tidak selalu baik atau adil bagi orang lain.
Pada usia dini anak telah memiliki pola moral yang harus dilihat dan dipelajari dalam rangka pengembangan moralitasnya. Orientasi moral diidentifikasikan dengan moral position atau ketetapan hati, yaitu sesuatu yang dimiliki seseorang terhadap suatu nilai moral yang didasari oleh suatu perhitungan antisipasif dari seseorang terhadap resiko yang mungkin muncul jika dirinya menentukan sesuatu hal dan didasari oleh suatu perhitungan emosi yang akan diakibatkan dari sebuah keputusan yang diambil seseorang.
Adapun perkembangan moralitas pada anak-anak yang bisa diamati adalah dari sikap dan cara berhubungan dengan orang lain (sosialisasi), cara berpakaian dan berpenampilan, serta sikap dan kebiasaan makan.
Terkait dengan masalah moral, ada beberapa teori yang menyoroti tentang perkembangan moral anak:
1. Perkembangan Moral Menurut Teori Psikoanalisa Sigmund Freud
Freud menyoroti perkembangan moral dengan mengandalkan perkembangan kepribadian yang terjadi pada anak. Freud secara khusus menekankan pada bagaimana anak merasakan dan membedakan tentang benar dan salah. Untuk memperjelas teorinya, Freud membagi struktur kepribadian manusia ke dalam tiga bagian. Masing-masing bagian disebut dengan istilah “id”, “ego” dan “super ego”
“Id” adalah dorongan yang berada di bawah sadar manusia sehingga hampir dalam bentuk perilaku tak terkendali. Id ini ada pada diri anak yang berusia satu sampai dua tahun pertama kehidupannya.
“Ego” ada pada diri anak setelah usia 2 tahun. Indikator perilakunya adalah anak mulai belajar mengendalikan dorongan-dorongan dari dalam dirinya, menyelesaikan kebutuhan-kebutuhannya secara lebih masuk akal dan menyeleksi perilaku apa yang boleh dan tidak boleh ditampilkan.
“Super ego” ada pada diri anak setelah anak mencapai usia enam sampai tujuh tahun. Dalam super ego terkandung 2 hal yaitu “ego ideal” dan “conscience” (hati nurani). Ego ideal yaitu norma-norma yang dipelajari dari orangtuanya. Sedangkan conscience merupakan hal yang ada pada anak sendiri.
2. Perkembangan Moral Menurut Teori Piaget
Piaget adalah tokoh psikologi perkembangan yang pernah menuangkan teorinya dalam buku “The Moral Judgement of The Child” (1923). Piaget dikenal sebagai penemu teori perkembangan kognitif. Fokus perhatian Piaget adalah kaitan antara perkembangan moral yang terjadi pada seseorang dengan perkembangan kognitif orang tersebut.
Prinsipnya Piaget membagi tahap perkembangan moral menjadi tiga, yakni:
a. Tahap formal operasional (mampu menilai dan memahami cara berpikir orang lain)
b. Tahap realisme moral (patuh pada peraturan untuk menghindari hukuman)
c. Tahap moral relativisme (memandang aturan sebagai suatu kesepakatan sosial, menilai alasan benar atau salah atas dasar tujuan).
3. Perkembangan Moral Menurut Teori Kohlberg
Teori perkembangan moral Kohlberg sangat dipengaruhi oleh teori perkembangan kognitif dari Piaget. Yang menjadi fokus perhatian Kohlberg yaitu perkembangan penalaran (moral reasioning).
Menurut Kohlberg ada 6 tahap dalam moral reasioning
a. Punishment and obedience orientation
Indikatornya : menghindari hukuman dan taan secara buta.
b. Instrumental relativist orientation
Indikatornya : bertindak untuk memuaskan kebutuhan, hubungan antar manusia dianggap seperti hubungan jual beli.
c. Interpersonal concoedance atau good boy-nice girl orientation
Indikatornya : tingkah laku yang baik adalah tingkah laku yang membuat senang orang lain.
d. Low and order orientation
Indikatornya: menjunjung tinggi otoritas, tingkah laku disebut benar bila orang melakukan kewajiban memlihara otoritas dan memelihara ketertiban sosial.
e. Social contract legalistic orientation
Indikatornya: muncul kesadaran bahwa ketaatan pada norma merupakan hasil kesepakatan bersama (konsensus).
f. The universal ethical principle orientation
Indikatornya : benar salahnya tindakan ditentukan oleh keputusan suara hati (budi nurani).
4. Perkembangan Moral Menurut Pandangan yang Berorientasi Perilaku (Pandangan Behavioristik)
Para tokoh behavioristik menekankan pada peran orangtua sebagai pelatih perilaku moral pada anak-anaknya. Menurut pandangan behavioristik semua perilaku termasuk moral adalah produk dari penilaian reinforcement, hukuman dan model dari orangtua.
Selanjutnya fokus pada masalah keagamaan, nilai-nilai keagamaan pada anak akan tumbuh dan berkembang pada jiwa anak melalui proses pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya sejak kecil. Seorang anak yang tidak memperoleh pendidikan tentang nilai-nilai keagamaan, akan menimbulkan ketidakpedulian terhadap hal-hal yang berhubungan dengan masalah keagamaan.
Pengembangan nilai agama pada anak akan berkisar pada kehidupan sehari-hari, secara khusus penanaman nilai keagamaannya adalah meletakkan dasar-dasar keimanan, kepribadian/budi pekerti yang terpuji dan kebiasaan ibadah sesuai kemampuan anak.
Rasa keagamaan dan nilai-nilai agama akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan psikis maupun fisik anak. Perhatian anak terhadap nilai-nilai dan pemahaman agama akan muncul manakala mereka sering melihat dan tertib dalam upacara-upacara keagamaan, dekorasi dan keindahan rumah ibadah, rutinitas, ritual orangtua dan lingkungan sekitarketika menjalankan peribadahan.
Perkembangan nilai keagamaan pada anak akan dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Faktor pembawaan karena setiap manusia yang lahir kedunia, menurut fitrah kejadiannya telah memiliki potensi beragama atau keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau memiliki kepercayaan terhadap adanya kekuatan di luar dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta ini. Hanya saja kadarnya berbeda-beda, sehingga tingkat kecepatan perkembangannya juga berbeda-beda untuk masing-masing individu. Sedangkan faktor lingkungan berpengaruh karena faktor pembawaan masih merupakan potensi, sehingga lingkunganlah yang akan menentukan apakah potensi keagamaan dan keimanan seseorang akan berkembang secara optimal atau tidak.
Ketika rasa keagamaan itu sudah tumbuh pada diri anak, maka kita perlu memberikan latihan-latihan keagamaan. Apabila latihan itu dilalaikan sejak kecil atau dengan cara yang kurang tetap, bukan mustahil ketika mereka menginjak dewasa nanti tidak akan memiliki kepedulian yang tinggi pada kehidupan beragama dalam kesehariannya. Begitu pula sebaliknya, bila kita rajin melatih anak dalam hal keagamaan melalui kegiatan berdoa, beribadah menurut agamanya masing-masing serta berperilaku sesuai ajaran agama, diyakini sang anak akan menjadi orang yang agamis, taat beribadah dan berkepedulian tinggi terhadap aktivitas keagamaan.

I. Seni
Seni itu sama artinya dengan indah, sehingga seseorang dikatakan berjiwa seni apabila orangtersebut menyukai keindahan atau dengan kata lain memiliki apresiasi ayng baik terhadap keindahan.
Menurut Hurlock, aspek seni erat kaitannya dengan kreativitas. Kreativitas itu sendiri merupakan bentuk imajinasi yang bila dikendalikan dapat menjadi salah satu bentuk prestasi seperti melukis, menari dan bernyanyi. Sehingga dapat digaris bawahi bahwa kreativitas adalah suatu cara berpikir yang terkait dengan kemampuan seseorang untuk menghasilkan atau menciptakan komposisi, produk, gagasan yang baru bukan sekedar perangkuman atau tiruan.
Kreativitas muncul sejak anak-anak dan mencapai puncaknya pada usia 30 – 40 tahun. Setelah itu kreativitas cenderung mendatar dan menurun. Kreativitas seni tidak muncul begitu saja. Kreativitas seni juga mengalami masa peka dan perkembangan. Sejak anak usia dini kreativitas sudah terlihat dan melalui berbagai proses.
Kreativitas pada anak-anak memiliki ciri khas tersendiri. Kreativitas anak dikoridori oleh keunikan gagasan dan tumbuhnya imajinasi serta fantasi. Anak-anak yang kreatif sensitif terhadap stimulasi. Mereka juga tidak dibatasi oleh frame-frame apapun. Artinya mereka memiliki kebebasan dan keleluasaan berkreativitas. Anak kreatif juga cenderung memiliki keasyikan dalam aktivitas. Kreativitas anak usia dini juga ditandai dengan kemampuan membentuk imej mental dan konsep berbagai hal yang tidak hadir dihadapannya. Anak usia dini memiliki fantasi, imajinasi untuk membentuk konsep yang mirip dengan dunia nyata.
Perkembangan seni pada anak biasanya diaktualisasikan dalam bentuk kemampuan bernyanyi dan menari. Walaupun kegiatan lain seperti melukis, menggambar, dan lain-lain juga erat kaitannya dengan masalah seni.
Kreativitas seni pada anak akan terhambat bila anak berada pada tekanan yang berat. Bahkan kreativitas akan terhenti/membeku apabila berhenti dirangsang atau diberi pengalaman yang menghalangi kreativitasnya. Adapun bentuk-bentuk faktor penghambat perkembangan kreativitas seni pada anak, antara lain:
1. Pembatasan eksplorasi dari lingkungan (orangtua, pendidik).
2. terlalu diatur, sehingga anak hanya punya sedikit waktu untuk bebas berbuat sesuka hati.
3. Dorongan kebersamaan yang tidak mempedulikan minat dan pilihan pribadi.
4. Membatasi imajinasi, gagasan dan dituntut realistis
5. Peralatan bermain yang selalu terstruktur
6. Orangtua/pendidik yang sangat konservatif, sehingga permainan anak selalu diatur.
7. Terlalu dilindungi
8. Disiplin yang otoriter dari orangtua/pengasuh anak, sehingga tidak memungkinkan ada perilaku lain yang diinginkan.

BAB V
KARAKTERISTIK SETIAP FASE TUMBUH
KEMBANG ANAK

A. Kelompok Umur 0 – 1 Tahun
1. Pertumbuhan Fisik
Bayi baru lahir yang normal beratnya sekitar 2500 – 3500 gram. Berat badan bertambah dua kali berat lahir di usia 4 bulan dan menjadi tiga kali di usia setahun. Sedangkan tinggi badannya saat lahir antara 40 – 50 cm dan di usia setahun sekitar 60 – 75 cm.
Rata-rata kepalanya saat lahir berukuran 34 – 36 cm, yang akan bertambah setiap bulannya 2 cm pada usia 0 – 3 bulan, 1 cm di usia 4 – 6 bulan, dan 0,5 cm di usia 6 – 12 bulan.
Gigi pertamanya yang muncul adalah gigi depan, umumnya di usia 6 bulan. Tetapi ada juga bayi yang sudah mulai gigi pertamanya di usia yang lebih dini. Di usia setahun rata-rata mempunyai 4 – 6 gigi susu.
2. Pola Makan
Sejak kelahiran hingga usia 4 – 5 bulan, pola makan dalam bentuk menghisap dan menelan. Umumnya bayi diberi makan setiap 3 jam sekali, namun ada juga yang baru 2 jam sudah lapar lagi. Jadi, bila ia masih tidur padahal sudah lebih dari 2-3 jam, harus dibangunkan dan diberi makan.
ASI merupakan makanan terbaik karena mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang dan mengandung macam-macam substansi anti infeksi yang melindungi bayi terhadap infeksi. Selama 6 bulan pertama hanya dianjurkan ASI Eksklusif. Setelah itu diberi makanan tambahan seperti bubur susu, biskuit dan buah-buahan, lalu bubur saring (nasi tim yang dihaluskan) mulai usia 6 bulan dan di usia 10 – 11 bulan sudah bisa diberi nasi tim.
3. Buang Air
Pada minggu-minggu pertama, bayi yang menyusu ASI lebih sering buang air besar, bisa sampai 6 kali lebih. Ini normal saja. Kontrol buang air besar rata-rata mulai di usia 6 bulan, sedangkan kontrol buang air kecil mulai antara usia 15 – 16 bulan. Namun demikian kontrol tersebut belumlah sempurna.
4. Tidur
Lama tidur bayi baru lahir sekitar 16 – 18 atyau 17 – 20 jam per hari. Periode waktu tidur biasanya tidak lebih dari 5 jam dan waktu terjaganya sekitar 2 – 3 jam. Dengan bertambahnya usia, waktu tidurnya juga berkurang. Di usia setahun sekitar 14 – 16 jam per hari.
Selama bulan-bulan pertama, sehari bisa 5 – 6 kali bangun dan tidur lagi. Umumnya terbangun karena lapar. Bayi yang menyusu ASI lebih sering bangun karena ia mendapatkan lebih sedikit susu saat mengkonsumsinya sehingga perlu lebih sering menyusu.
5. Kompetensi
Kompetensi anak usia 0 – 1 tahun yang mencakup 9 aspek perkembangan anak dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1: Kompetensi Anak Usia 0 – 1 Tahun
Aspek Perkembangan Kompetensi Usia Anak Saat Mencapai Kemampuan Tersebut *)
Gerakan Kasar – Mengangkat kaki dan menggerakkan jari-jari
– Memiringkan badan
– Mengangkat kepala
– Tengkurap tanpa dibantu
– Mengangkat dada saat ditengkurapkan
– Duduk tanpa dibantu
– Merangkak
– Bangkit dan berdiri dengan dibantu
– Berjalan
– Dapat membungkuk 1 – 3 bulan
3 – 4 bulan
4 – 5 bulan
4 – 5 bulan
5 – 6 bulan
6 – 7 bulan
8 – 9 bulan
9 – 11 bulan
11 – 12 bulan
11 – 12 bulan
Gerakan Halus – Menjangkau, menggenggam dan memasukkan benda ke mulut
– Merobek-robek kertas
– Dapat makan biscuit sendir
– Memukul-mukulkan dua benda yang dipegangnya
– Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya
– Mengambil benda dengan jempol dan salah satu jari lainnya (menjimpit)
– Membalik halaman buku
– Menggelindingkan atau mendorong bola Mendorong, menolak benda yang besar

- Menjatuhkan benda mainan dan memungutnya kembali
5 – 6 bulan

6 – 7 bulan
6 – 7 bulan
7 – 8 bulan

8 – 9 bulan

8 – 9 bulan

9 – 10 bulan

9 – 10 bulan

11 – 12 bulan

Komunikasi Pasif – Bereaksi terhadap sumber suara
– Tersenyum
– Menengok ke arah sumber bunyi
– Memberi reaksi yang berbeda terhadap bermacam-macam jenis suara
– Bereaksi terhadap isyarat orang lain secara sederhana (kedipan matan, geleng kepala, anggukan, gerakan tubuh, tangan)
– Merespon bila dipanggil namanya 1 – 3 bulan
1 – 3 bulan
3 – 6 bulan
6 – 8 bulan

8 – 10 bulan

10 – 12 bulan
Komunikasi Aktif – Mengoceh kalau sedang sendiri atau diajak bicara
– Menirukan bunyi/suara sesuai kemampuan anak.
– Mencoba menyampaikan keinginan dengan nada suara tertentu
– Mulai aktif dalam permainan cilukba
– Belajar mengucapkan 2-3 kata 3 – 4 bulan

5 – 7 bulan

7 – 8 bulan

8 – 9 bulan
9 – 12 bulan
Kecerdasan – Mengikuti benda bergerak dengan mata
– Mengenal orang yang sudah dikenal
– Memberi reaksi kepada orang yang belum dikenal dengan menangis atau menatap terus
– Memberi reaksi kepada perintah yang sangat sederhana
– Meniru gerakan dan perbuatan
– Memasukkan/mengeluarkan benda kecil 3 – 4 bulan
4 – 6 bulan
6 – 7 bulan

6 – 7 bulan

8 – 9 bulan
9 – 12 bulan
Menolong diri sendiri – Menyuapkan makanan ke mulut (bisa memakai sendok maupun dengan tangan)
– Memegang cangkir dengan kedua tangan tanpa dibantu
– Mengacungkan/merentangkan tangan, ketika dikenakan baju celana
– Memakai baju dan celana 5 – 7 bulan

8 – 9 bulan

9 – 10 bulan

10 – 12 bulan
Tingkah laku sosial – Tersenyum spontan pada orang lain
– Memberikan reaksi yang berbeda terhadap orang yang belum dikenal
– Melihat ke arah orang yang memanggil namanya
– Memberi reaksi terhadap perkataan tidak 6 – 7 bulan

6 – 7 bulan

7 – 9 bulan
9 – 12 bulan
Nilai Moral Keagamaan – Bereaksi ketika mendengarkan senandung lagu keagamaan (mengangguk-angguk, tersenyum, tenang)
– Merespon rasa cinta dan sayang dan cinta kasih melalui belaian, sentuhan dan senyuman
10 – 11 bulan

11 – 12 bulan
Seni – Bertepuk tangan

- Menggerakkan tangan, kepala atau kaki ketika mendengar irama 7 – 9 bulan

9 – 12 bulan
Catatan:
*) Usia tersebut berlaku pada anak normal dan
bersifat perkiraan berdasarkan pengalaman
dan kajian pustaka/hasil penelitian

B. Kelompok Umur 1 – 2 Tahun
1. Pertumbuhan Fisik
Rata-rata berat dan tinggi badan di usia setahun sekitar 8 – 9 kg dan 60 -5 cm. Di usia 2 tahun beratnya sekitar 13 kg dan tingginya kira-kira 80 an cm. Jumlah gigi di usia setahun rata-rata 4 – 6 gigi dan menjadi 16 di usia 2 tahun.
2. Pola Makan
Di tahun kedua mulai berkembang perilaku sulit makan. Antara lain disebabkan anak mulai kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan makanan yang agak keras setelah terbiasa dengan makanan cair/lembut di usia bayi.
3. Buang air
Jarang basah di waktu siang dapat diharapkan untuk sebagian besar waktu. Tapi kalau malam masih sering mengompol. Sebaiknya sejak usia 1,5 tahun sudah dilatih ke toilet, karena si kecil sudah mampu menyatakan bila ingin buang air besar/kecil.
4. Pola Tidur
Di atas usia setahun anak menghabiskan waktu tidur antara 10 – 12 jam. Waktu tidur siang berkurang dan tidur malam meningkat. Tidur Siang bukan lagi kewajiban setelah anak usia setahun
5. Kompetensi
Kompetensi anak usia 1 – 2 tahun yang mencakup 9 aspek perkembangan anak dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2: Kompetensi Anak Usia 1 – 2Tahun
Aspek Perkembangan Kompetensi Usia Anak Saat Mencapai Kemampuan Tersebut *)
Gerakan Kasar – Berjalan sendiri
– Menarik dan mendorong alat permainan
– Mulai dapat berlari kecil

- Dapat menggelindingkan bola ke arah orang lain
– Mengambil alat permainan di lantai tanpa jatuh
– Mencoba menendang bola
– Duduk sendiri di kursi
– Berjalan membawa benda besar yang ringan
– Naik turun tangga dengan bantuan
– Berjalan mundur
– Menarik dan mendorong alat permainan
– Dapat melempar bola di atas kepala
– Mencoba melompat di tempat 12 – 13 bulan
13 – 14 bulan
14 – 15 bulan

14 – 15 bulan

14 – 15 bulan
14 – 15 bulan
15 – 16 bulan
15 – 16 bulan
16 – 17 bulan
16 – 17 bulan
17 – 20 bulan
20 – 22 bulan
22 – 24 bulan
Gerakan Halus – Mengisi gelas dengan benda-benda kecil
– Memasukkan atau mengeluarkan mainan dari kotak
– Menyusun menara dari balok/kubus kecil
– Membuka lembaran buku
– Memegang alat tulis dan mencorat-coret
– Melempar dan memasukkan bola ke dalam wadah
– Dapat mengunyah makanan dengan baik
– Membuat garis lurus di kertas, tanah atau pasir
– Menjimpit benda dengan dua jari (telunjuk dan ibu jari)
– Menbuka dan menutup tas dengan kancing tarik
12 – 13 bulan

13 – 14 bulan
14 – 15 bulan
14 – 15 bulan
15 – 16 bulan

16 – 17 bulan
17 – 18 bulan

19 – 20 bulan

20 – 22 bulan

22 – 24 bulan

Komunikasi Pasif – Mulai mengerti pertanyaan sederhana
– Memberi reaksi yang tepat kalau ditanya
– Melakukan satu perintah yang diberikan
– Mengerti dua perintah sederhana yang saling berhubungan
12 – 15 bulan
15 – 18 bulan
18 – 22 bulan

22 – 24 bulan

Komunikasi Aktif – Meminta sesuatu pada orang lain dengan meraih dan mendekati benda yang diinginkan
– Menunjukkan mainan atau benda yang dipegangnya
– Melambaikan tangan pada orang yang akan pergi
– Bisa menyatakan bila ingin buang air besar
– Mengucapkan kata-kata
– Mengucapkan kalimat yang terdiri dari 2 kata
– Menyebut namanya sendiri
– Dapat mengemukakan keinginannya dengan kata-kata meski tidak sempurna
– Sering menanyakan atau mencari di mana ibu/ayah

12 – 13 bulan

13 – 14 bulan

14 – 15 bulan

15 – 16 bulan
16 – 18 bulan

18 – 20 bulan
20 – 21 bulan

21 – 23 bulan

23 – 24 bulan
Kecerdasan – Menunjukkan minat lebih jauh terhadap sesuatu yang dimainkan
– Menunjukkan atau menyebut benda-benda yang sangat dikenalnya
– Mengenal dirinya sendiri di cermin
– Mengenal benda-benda yang baru dilihatnya tanpa memasukkannya ke mulut
– Meniru ucapan dan perbuatan orang dewasa
– Memberikan reaksi terhadap perkataan dan perintah yang diberikan
– Melihat gambar dengan bantuan orang dewasa
– Mengenal paling sedikit 2 anggota tubuh
– Menunjukkan berbagai macam perasaan (senang, marah, sedih)
– Mengenal benda-benda dengan melihat gambar
– Mengenal suara binatang 12 – 14 bulan

14 – 15 bulan

15 – 16 bulan
15 – 16 bulan

16 – 18 bulan

18 – 20 bulan
18 – 20 bulan

18 – 20 bulan
20 – 21 bulan

21 – 22 bulan

22 – 24 bulan
Menolong diri sendiri – Mulai menggunakan sendok untuk makan
– Minum sendiri di cangkir berpegangan
– Dapat membuka sepatu, kaus kaki sendiri
– Makan sendiri
– Dapat mengupas pisang
– Memakai celana, baju dan sepatu
– Bisa mencuci dan mengeringkan tangannya sendiri
– Dapat melepaskan baju
– Bisa mengatakan jika ingin buang air besar atau kecil
12 – 14 bulan
14 – 15 bulan
15 – 17 bulan
17 – 18 bulan
18 – 20 bulan
20 – 22 bulan
20 – 22 bulan

22 – 24 bulan
22 – 24 bulan
Tingkah laku sosial – Mengenali diri sendiri di gambar atau foto
– Bermain sendiri
– Meniru tingkah laku orang dewasa dalam bermain
– Membantu membersihkan/menyiapkan benda-benda
12 – 16 bulan
16 – 18 bulan
18 – 20 bulan

20 – 24 bulan

Nilai Moral Keagamaan – Mendengarkan senandung lagu keagamaan
– Bersenandung lagu keagamaan
– Mengikuti/menirukan bacaan doa
– Menyayangi orang dan lingkungan di sekitarnya
12 – 14 bulan
14 – 16 bulan
16 – 20 bulan
20 – 24 bulan
Seni – Mulai belajar menirukan suara
– Bergerak bebas sesuai iringan musik 18 – 20 bulan
20 – 24 bulan
Catatan:
*) Usia tersebut berlaku pada anak normal dan
bersifat perkiraan berdasarkan pengalaman
dan kajian pustaka/hasil penelitian

C. Kelompok Umur 2 – 3 tahun
1. Pertumbuhan Fisik
Rata-rata berat badan dan tinggi badannya di akhir usia ini sekitar 15 kg dan 90 cm. Selama 4 – 6 bulan pertama pada kelompok usia ini muncul 4 gigi geraham dan selama 6 bulan terakhir, gigi bayi mulai tanggal digantikan dengan gigi tetap. Gigi seri tengah yang pertama kali tanggal. Umumnya anak memiliki 1-2 gigi tetap di depan dan beberapa celah di mana gigi celah akan muncul pada akhir usia ini.
2. Kompetensi
Kompetensi anak usia 2 – 3 tahun yang mencakup 9 aspek perkembangan anak dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3: Kompetensi Anak Usia 2 – 3 Tahun
Aspek Perkembangan Kompetensi Usia Anak Saat Mencapai Kemampuan Tersebut *)
Gerakan Kasar – Lompat di tempat dengan kedua kaki jatuh bersamaan
– Berdiri pada satu kaki
– Belajar melewati sesuatu selebar 25 cm dengan cara melangkahinya
– Berjalan di atas garis
– Berjingkat di atas jari-jari kaki
– Menendang bola 24 – 25 bulan

25 – 27 bulan
27 – 30 bulan

30 – 32 bulan
32 – 34 bulan
34 – 36 bulan

Gerakan Halus – Merobek dengan jari
– Meronce manik-manik
– Bermain kertas
– Memegang gunting dan kertas
– Melipat kertas sembarangan
– Menggunakan kuas, spidol dan crayon untuk mencoret-coret bebas. 24 – 26 bulan
26 – 27 bulan
26 – 27 bulan
27 – 30 bulan
30 – 32 bulan

32 – 36 bulan

Komunikasi Pasif – Dapat mengenal benda dan kegunaannya
– Mengerti pertanyaan apa dan di mana
– Sudah bisa memahami pembicaraan orang dewasa
– Mendengarkan lagu-lagu
– Mendengarkan ceritera 24 – 26 bulan
26 – 28 bulan

28 – 30 bulan
30 – 32 bulan
32 – 36 bulan
Komunikasi Aktif – Mulai menggunakan kata tanya siapa di mana, dll
– Membuat kalimat yang terdiri dari 3 kata
– Menyebutkan nama anggota keluarga
– Membuat kalimat penolakan
– Menceriterakan pengalaman sehari-hari secara sederhana
26 – 30 bulan

30 – 32 bulan
30 – 32 bulan
32 – 34 bulan
34 – 36 bulan

Kecerdasan – Mengenal warna dasar
– Membedakan rasa dan bau
– Menyusun benda berdasarkan urutan ukuran
– Memberikan reaksi terhadap perintah sederhana
– Menggunakan berbagai benda sesuai fungsinya
– Dapat menyebut nama sendiri secara lengkap
– Dapat mengatakan dengan singkat mengenai apa yang sedang dikerjakan
– Mampu berceritera dan memusatkan perhatian
24 – 26 bulan
24 – 26 bulan
26 – 28 bulan

28 – 30 bulan

30 – 32 bulan

32 – 34 bulan
32 – 34 bulan

34 – 36 bulan

Menolong diri sendiri – Makan menggunakan sendok tanpa tumpah
– Mengambil minuman dari ceret, teko, kendi tanpa dibantu
– Membuka pintu dengan memutar pegangan pintu
– Membuka baju dengan dibantu
– Mencuci tangan dan mengeringkannya 24 – 26 bulan

26 – 28 bulan

28 – 30 bulan
30 – 32 bulan
32 – 36 bulan
Tingkah laku sosial – Mengamati anak lain dengan bermain
– Bermain dengan teman sebaya
– Mempertahankan benda miliknya sendiri
– Mulai bermain rumah-rumahan
– Secara simbolis menggunakan benda dan dirinya sendiri dalam permainana
– Ikut serta dalam kegiatan kelompok secara sederhana
– Mengetahui ciri jenis kelamin 24 – 27 bulan
27 – 30 bulan
27 – 30 bulan
30 – 32 bulan
32 – 34 bulan

34 – 36 bulan

34 – 36 bulan

Nilai Moral Keagamaan – Menirukan senandung lagu bernuansa keagamaan
– Menirukan sebagian gerakan ibadah
– Membaca doa
– Mendengarkan ceritera tentang keagamaan
– Mengenal nama Tuhan
– Mengucapkan salam keagamaaan 24 – 28 bulan

24 – 28 bulan
28 – 30 bulan
30 – 34 bulan
30 – 34 bulan
34 – 36 bulan
Seni – Bertepuk tangan mengikuti irama musik
– Menari mengikuti irama musik
– Memukul-mukul benda menurut irama musik
– Mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui menggambar bebas 24 – 28 bulan
28 – 30 bulan
30 – 34 bulan

34 – 36 bulan
Catatan:
*) Usia tersebut berlaku pada anak normal dan
bersifat perkiraan berdasarkan pengalaman
dan kajian pustaka/hasil penelitian

E. Kelompok Umur 3 – 4 Tahun

1. Pertumbuhan Fisik
Umumnya kenaikan ukuran pertumbuhan fisik pada usia ini relatif tetap. Artinya setelah usia 3 tahun, kenaikan berat badan anak tidak lagi bertambah dengan cepat, bahkan cenderung bertahan sampai saatnya nanti memasuki usia remaja. Dibanding bentuk badan sebelumnya, pada usia ini anak terlihat lebih langsing. Anak lelaki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan anak perempuan.
Di usia 3 tahun pertumbuhan gigi susu sudah berhenti, lalu satu persatu akan tanggal dan digantikan oleh gigi tetap pada saat anak berusia 5 atau 6 tahun.
2. Kompetensi
Kompetensi anak usia 3 – 4 tahun yang mencakup 9 aspek perkembangan anak dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4: Kompetensi Anak Usia 3 – 4 Tahun
Aspek Perkembangan Kompetensi Usia Anak Saat Mencapai Kemampuan Tersebut *)
Gerakan Kasar – Berlari menghindari rintangan/hambatan sederhana
– Berdiri di atas satu kaki selama 5 – 10 detik
– Meloncat ke depan sebanyak 10 lompatan
– Berjalan ke arah depan dengan menggunakan tumit
– Engklek (melompat dengan satu kaki) sebanyak 3 – 5 kali
– Menangkap bola
– Mengendarai sepeda roda tiga
– Memanjat dengan berpegangan
– Meniru/melakukan gerakan senam
– Beayun/bergelantungan dengan dua tangan 36 – 38 bulan

38 – 40 bulan
38 – 40 bulan

40 – 42 bulan

42 – 44 bulan
44 – 46 bulan
44 – 46 bulan
46 – 48 bulan
46 – 48 bulan
46 – 48 bulan

Gerakan Halus – Membuat menara dari 9 – 11 balok kecil
– Membuat gambar lingkaran
– Membuat garis
– Membuat segi empat
– Meniru tulisan
– Membuat bentuk-bentuk
– Membuka dan menutup risleting
– Memasang dan membuka kancing baju yang dilakukan sendiri
– Membedakan permukaan benda melalui perabaan
– Menjahit pola sederhana dengan pola yang besar
36 – 38 bulan
38 – 40 bulan
38 – 40 bulan
38 – 40 bulan
40 – 42 bulan
40 – 42 bulan
40 – 42 bulan

42 – 44 bulan

44 – 46 bulan

46 – 48 bulan

Komunikasi Pasif – Mulai memahami kalimat memakai konsep waktu
– Memahami pengertian sebab dan akibat
– Memahami dan melaksanakan 2 – 4 perintah
– Dapat membedakan dua benda
– Mengerti perbandingan ukuran

- Mengerti kalau diberitahu “ayo kita bermain pura-pura”
36 – 38 bulan

38 – 40 bulan
38 – 40 bulan
40 – 42 bulan
42 – 44 bulan

44 – 48 bulan

Komunikasi Aktif – Menyebut ukuran-ukuran benda
– Mampu menyebutkan jenis kelamin, usia dan menyebutkan saudara kandung
– Membuat kalimat empat kata
– Menyebut diri dengan memakai kata saya/aku
– Dapat menceriterakan pengalaman masa lalu
– Dapat menyanyikan 1 lagu 36 – 40 bulan

36 – 40 bulan
40 – 42 bulan
42 – 44 bulan

44 – 46 bulan
46 – 48 bulan
Kecerdasan – Mengenal dan memasangkan 4 – 5 warna
– Menjelaskan mengenai apa yang dilakukan atau dilihat dengan pertanyaan apa, mengapa, bagaimana
– Mengelompokkan benda yang sama dan sejenis
– Mengetahui umur sendiri
– Mengerti nama panjangnya dan nama orangtua (ayah/ibu)
– Mulai menyadari tentang masa lalu dan masa yang akan datang
36 – 38 bulan

38 – 40 bulan

40 – 42 bulan

40 – 42 bulan

42 – 44 bulan

44 – 48 bulan

Menolong diri sendiri – Menuang air tanpa tumpah
– Memasang dan membuka kancing
– Mencuci tangan tanpa dibantu
– Dapat gosok gigi sendiri
– Membuang ingus tanpa diingatkan 36 – 40 bulan
40 – 44 bulan
40 – 44 bulan
40 – 44 bulan
44 – 48 bulan

Tingkah laku sosial – Bermain dengan teman – teman seusia, mulai bergaul/bereaksi
– Menunggu giliran
– Mulai bermain drama memeran keseluruhan adegan/lakon
36 – 40 bulan

40 – 44 bulan

44 – 48 bulan
Nilai Moral Keagamaan – Membaca doa-doa dan lagu keagamaan
– Meniru kegiatan ibadah
– Menyayangi orangtua dan sesama orangtua, dan alam sekitarnya
– Menyebutkan nama Tuhan sesuai agama yang dianutnya
– Mengucapkan salam, terima kasih, minta tolong secara sederhana
– Mau menyapa dan menjawab sapaan dengan ramah
36 – 40 bulan
36 – 40 bulan
40 – 42 bulan

42 – 44 bulan

44 – 46 bulan

46 – 48 bulan

Seni – Menggerakkan kepala, tangan, kaki mengikuti irama musik
– Bertepuk tangan membentuk irama
– Senam irama dengan berbagai variasi
– Membuat bunyi bunyian dengan berbagai alat
– Melukis dengan jari 36 – 40 bulan

40 – 42 bulan
42 – 44 bulan

44 – 46 bulan
46 – 48 bulan

Catatan:
*) Usia tersebut berlaku pada anak normal dan
bersifat perkiraan berdasarkan pengalaman
dan kajian pustaka/hasil penelitian

F. Kelompok Umur 4 – 5 Tahun
1. Pertumbuhan Fisik
Rata-rata berat badannya antara 18 – 19,5 kg dan tinggi badan sekitar 100 – 107 cm.
2. Kompetensi
Kompetensi anak usia 4 – 5 tahun yang mencakup 9 aspek perkembangan anak dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5: Kompetensi Anak Usia 4 – 5 Tahun
Aspek Perkembangan Kompetensi Usia Anak Saat Mencapai Kemampuan Tersebut *)
Gerakan Kasar – Berdiri pada satu kaki bergantian selama 10 detik
– Berjalan maju di garis dengan tumit sejauh 2 meter
– Berjalan mundur dengan jinjit sebanyak 6 langkah
– Lompat ke depan tanpa jatuh sebanyak 10 kali
– Lompat ke belakang sekali
– Lompat tali tiga kali berturut-turut
– Naik turun tangga dengan kaki berganti-ganti
– Berlari cepat tapi belum trampil
– Bisa menendang dengan koordinasi yang baik
– Berjalan di balok titian dengan tangan lurus di sisi tubuh
– Menangkap bola yang di lempar dengan tangan dan dada
– Menangkap bola yang dilempar dengan kedua tangan terjulur ke depan
– Dapat melempar bola tenis sejauh 3 meter. 48 – 50 bulan

48 – 50 bulan

50 – 52 bulan

52 – 54 bulan

52 – 54 bulan
54 – 56 bulan
54 – 56 bulan

56 – 58 bulan

56 – 58 bulan

56 – 58 bulan

56 – 58 bulan

58 – 60 bulan
58 – 60 bulan

Gerakan Halus – Bisa menjepit kertas dengan paper klip
– Dapat merapikan lipatan kertas dengan jari-jari
– Dapat membangun menara dari 11 balok
– Menggambar, memberi nama dan menjelaskan gambar yang dikenalnya
– Menebalkan dengan mudah huruf-huruf kapital
– Menggambar orang sudah dengan bagian kepala, kaki, telinga, telapak kaki, lengan, bahu leher dan mata
– Menggunting kertas dengan mengikuti garis terputus
– Menggambar garis silang
– Menggambar segi empat atau rumah 48 – 50 bulan
48 – 50 bulan

50 – 52 bulan

50 – 52 bulan

50 – 52 bulan

52 – 54 bulan

54 – 56 bulan

54 – 56 bulan
56 – 60 bulan

Komunikasi Pasif – Mengikuti 3 perintah yang tidak berhubungan
– Mengerti pembicaraan orang lain tentang ukuran
– Mendengarkan ceritera yang panjang
– Mengerti urutan kejadian
– Mengerti perbandingan sesuatu sifat dari benda/orang secara bertingkat
– Menggabungkan perintah lisan ke dalam kegiatan bermain
48 – 50 bulan

50 – 52 bulan

52 – 54 bulan
52 – 54 bulan

54 – 58 bulan

58 – 60 bulan

Komunikasi Aktif – Bertanya dengan pertanyaan kapan, bagaimana, mengapa, siapa
– Menggabungkan kalimat
– Berbicara tentang hubungan sebab akibat dengan menggunakan kata karena atau jadi
– Menceriterakan sesuatu sesuai kemampuan 48 – 50 bulan

50 – 52 bulan
52 – 54 bulan

54 – 60 bulan
Kecerdasan – Bermain dengan kata-kata (mengucapkan kata-kata yang mempunyai bunyi yang sama seperti I – kan, I – bu, I – tu, dll
– Dapat menunjukkan 25 bagian tubuhnya
– Dapat menyebutkan 23 bagian tubuhnya
– Dapat memasangkan 11 warna
– Dapat menunjukkan dengan benar 11 warna
– Dapat menyebutkan dengan tepat 11 warna
– Dapat mencocokkan bentuk bulat, kotak dan segitiga
– Dapat menunjukkan bentuk bulat, kotak dan segitiga
– Dapat menyebutkan bulat dan kotak
– Mengerti konsep lawan kata
– Mengenal konsep banyak sedikit
– Paham konsep arah dan ruang (buka/tutup, depan/belakang, keluar/masuk, di samping/di depan, dasar, atas, naik/turun, maju, mundur, menjauh/mendekat, tinggi/rendah, di atasnya/di bawahnya)
– Memahami apa yang harus dilakukan dalam situasi tertentu
– Tahu kegunaan suatu benda
– Menghitung di luar kepala sampai 10
– Meniru orang dewasa 48 – 50 bulan

48 – 50 bulan
50 – 52 bulan
50 – 52 bulan
50 – 52 bulan
50 – 52 bulan
50 – 52 bulan

52 – 54 bulan

52 – 54 bulan
52 – 54 bulan
54 – 56 bulan
54 – 56 bulan

56 – 58 bulan

56 – 58 bulan

58 – 60 bulan
58 – 60 bulan
58 – 60 bulan

Menolong diri sendiri – Memegang garpu dengan jari-jari
– Menggunakan pisau untuk mengoles
– Memotong makanan dengan pisau
– Melepas pakaian yang tidak berkancing
– Dapat berpakaian sendiri secara mandiri
– Mengikat tali sepatu
– Berusaha untuk membuat pita tali sepatu
– Bisa cebok sendiri
– Mengeringkan badan setelah mandi sendiri 48 – 50 bulan
48 – 50 bulan
48 – 50 bulan
50 – 52 bulan

52 – 54 bulan
54 – 56 bulan
56 – 58 bulan
58 – 60 bulan

Tingkah laku sosial – Bermain dan bergaul dengan teman sebaya
– Memahami akan berbagi dan menunggu giliran
– Mulai menyadari akan perilaku baik dan buruk
– Terlihat percaya diri
– Menunjukkan dengan cara sopan jika kesal atau gagal
– Menunjukkan perhatian dalam mengeksplorasi perbedaan jenis kelamin
48 – 50 bulan

50 – 52 bulan

52 – 54 bulan
54 – 56 bulan

56 – 58 bulan

58 – 60 bulan
Nilai Moral Keagamaan – Mengucapkan doa singkat
– Melakukan ibadah
– Minta izin atau pamit bila berpergian
– Mau menolong dan menghargai teman 48 – 50 bulan
50 – 54 bulan
54 – 58 bulan
58 – 60 bulan

Seni – Menyanyikan beberapa lagu anak-anak
– Mengucapkan syair dari berbagai lagu
– Menggambar bebas dengan berbagai media
– Menggambar bebas dari bentuk lingkaran dan segiempat. 48 – 50 bulan
50 – 52 bulan
52 – 56 bulan

56 – 60 bulan

Catatan:
*) Usia tersebut berlaku pada anak normal dan
bersifat perkiraan berdasarkan pengalaman
dan kajian pustaka/hasil penelitian

BAB VI
OPTIMALISASI PROSES TUMBUH
KEMBANG ANAK

A. Pemeliharaan Kesehatan
Agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, maka pemeliharaan kesehatan harus dimulai sejak dalam kandungan. Hal ini perlu dilakukan karena sejak kandungan dalam kandungan, proses tumbuh kembang anak sebenarnya telah terjadi yang dapat dilihat melalui pembesaran perut (kandungan), denyut janin anak, dan lain-lain, namun perkembangan kejiwaannya belum dapat diamati.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh ibu dan bapak saat mengasuh anak dalam kandungan. Bagi ibu, beberapa hal yang perlu dilakukan ketika anak masih dalam kandungan adalah:
1. Makan yang teratur dengan gizi yang cukup
2. Jangan merokok, minum-minuman keras atau memakai narkoba serta minum obat sesuai petunjuk dokter/bidan. Karena merokok, minuman keras, narkoba dan obat-obatan bisa mengganggu pertumbuhan bayi dalam kandungan.
3. Istirahat berbaring sedikitnya 1 jam pada siang hari untuk memberi kesempatan tubuh beristirahat sehingga kondisinya selalu fit.
4. Perhatikan perkembangan janin di dalam perut ibu
5. Pikiran ibu hamil harus tenang
6. Tidak bekerja terlalu berat sehingga kelelahan
7. Menciptakan suasana yang tenang bagi ibu dan janin.
8. Kenali tanda-tanda bahaya pada saat ibu hamil seperti:
a. Perdarahan
– Perdarahan pada hamil muda dapat menyebabkan keguguran
– Perdarahan pada hamil tua dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayi dalam kandungan
b. Bengkak di kaki, tangan dan wajah atau sakit kepala kadangkala disertai kejang. Bengkak dan sakit kepala pada saat ibu hamil, bisa membahayakan keselamatan ibu dan bayi dalam kandungan.
c. Demam tinggi
Biasanya karena infeksi atau malaria. Demam tinggi bisa membahayakan keselamatan jiwa ibu. Menyebabkan keguguran dan kelahiran kurang bulan.
d. Keluar air ketuban sebelum waktunya. Ini merupakan tanda adanya gangguan pada kehamilan dan dapat membahayakan bayi dalam kandungan
e. Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak. Keadaan ini merupakan tanda bahaya pada janin.
f. Ibu muntah terus dan tidak mau makan. Keadaan ini akan membahayakan kesehatan ibu.
Suami atau keluarga harus segera membawa ibu hamil ke dokter/bidan jika ada salah satu tanda bahaya di atas. Suami diharapkan dapat mendampingi ibu hamil.
Agar selama kehamilan kondisi ibu dan bayitetap sehat, maka seorang ibu hamil harus melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Memeriksakan kehamilan secepatnya dan sesering mungkin sesuai anjuran petugas kesehatan (dokter, bidan, paramedis). Tujuannya adalah agar ibu, suami dan keluarga dapat mengetahui secepatnya bila ada masalah yang timbul pada kehamilan.
2. Menimbangkan berat badan setiap kali periksa hamil. Tujuannya untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu dan anak selama kehamilan. Kehamilan yang sehat akan ditandai dengan berat badan ibu yang terus bertambah sesuai dengan pertumbuhan bayi dalam kandungan.
3. Minum 1 tablet tambah darah setiap hari selama hamil. Tablet tambah darah mencegah ibu kurang darah. Minum tablet tambah darah tidak akan membahayakan kondisi bayi.
4. Minta imunisasi Tetanus Toksoid kepada petugas kesehatan. Imunisasi ini berguna untuk mencegah penyakit tetanus pada bayi baru lahir.
5. Minta nasihat kepada petugas kesehatan tentang makanan bergizi selama hamil. Makan makanan bergizi yang cukup akan membuat ibu dan bayi tetap sehat selama proses kehamilan.
6. Sering mengajak bicara bayi sambil mengelus-elus perut setelah kandungan berumur 4 bulan.
7. Segera periksa ke dokter atau bidan jika sakit batuk lama (TBC), demam menggigil seperti malaria, lemas, berdebar-debar, gatal-gatal pada kemaluan atau keluar keputihan dan berbau.
Sedangkan bagi bapak, beberapa hal yang harus diperhatikan ketika anak masih dalam kandungan adalah:
1. Memperhatikan makanan dan minuman yang membuat ibu tetap sehat.
2. Membantu kegiatan ibu agar ibu tidak bekerja berat
3. Membuat suasana dan pikiran ibu selalu senang
4. Mempersiapkan persalinan yang aman bagi ibu dan anak.
Pemeliharaan kesehatan selama proses kehamilan yang baik akan melahirkan bayi yang sehat. Adapun tanda-tanda bayi lahir sehat adalah sebagai berikut:
– Bayi lahir segera menangis
– Seluruh tubuh bayi kemerahan
– Bayi bergerak aktif
– Bayi bisa menghisap putting susu dengan kuat
– Berat lahir 2500 gram atau lebih
Untuk menjaga agar bayi tetap sehat maka, ibu atau anggota keluarga lainnya harus melakukan:
1. Pengamatan terhadap pertumbuhan anak secara teratur dengan cara:
a. Menimbangkan berat badan anak sebulan sekali mulai umur 1 bulan sampai 5 tahun di Posyandu
b. Tanyakan hasil penimbangan dan minta pada kader mencatat di KMS.
c. Jika anak tumbuh kurang sehat, minta nasihat gizi ke petugas kesehatan
2. Minta imunisasi sesuai jadwal di Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit atau Dokter/Bidan Praktek Swasta
Imunisasi diperlukan untuk mencegah penyakit infeksi dan meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit TBC, Hepatitis, Diphteri, Pertusis, Tetanus, Polio dan Campak. Adapun jadwal imunisasi anak yang dianjurkan adalah sebagai berikut:
Umur Jenis Imunisasi
0 – 7 hari
0 – 7 hari
1 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan Hepatitis B1
AP1
BCG
DPT + HB (Combo 1) + AP2
DPT + HB (Combo 2) + AP3
DPT + HB (Combo 3) + AP4
Campak
Sumber: Dinas Kesehatan

Ada beberapa hal yang harus dipahami oleh para orangtua terutama yang terkait dengan reaksi-reaksi setelah anak diimunisasi:
a. Tidak jarang anak menjadi mudah tersinggung dan sedikit demam beberapa jam setelah disuntik, namun jarang yang lebih dari 24 jam
b. Kulit bekas suntikan sering menjadi merah dan bengkak
c. Di tempat suntikan sering ditemui benjolan berwarna putih namun tidak sakit, yang menetap selama beberapa bulan. Ini disebabkan oleh sedikit memar dan tidak usah dikhawatirkan
Anak seharusnya tidak diimunisasi bila:
a. Sedang demam atau suhu tubuh meninggi
b. Sedang menerima obat tertentu
c. Kekurangan gizi (malnutrisi)
d. Menderita penyakit tertentu sehingga kekebalannya terhadap infeksi menurun seperti leukemia (kanker darah).
Pada anak hindari pemakaian obat-obatan tanpa petunjuk yang jelas atau periksa ke dokter bila anak sakit. Pemakaian obat, misalnya kortikosteroid dalam jangka panjang akan menghambat pertumbuhan.
Seorang ibu yang menyusui hanya boleh makan obat yang diberikan dokter. Dokter akan memberikan obat-obatan yang sedikit dikeluarga di dalam ASI sehingga ibu boleh terus menyusui bayinya. Obat-obat berikut sedikit sekali memberi pengaruh pada ASI sehingga tidak berdampak buruk pada bayi:
– Aspirin : untuk nyeri dan deman
– Paracetamol : untuk nyeri dan demam
– Senna : untuk sembelit
– Steroid : untuk asma
– Barbiturat : untuk sulit tidur
– Fenitoin : untuk epilepsi
– Digoxin : untuk penyakit jantung
– Warfarin : untuk penggumpalan darah dalam pembuluh balik.
Hormon estrogen di dalam pil KB dapat mengurangi produksi ASI, tetapi Pil KB yang hanya mengandung progesteron merupakan pilihan yang tidak mempengaruhi ASI namun tetap ampuh sebagai anti hamil. Pil KB jenis ini misalnya Excluton. Yang menarik, menyusui sendiri berkhasiat sebagai anti hamil, meski tidak efektif 100 persen, danm hanya efektif jika bayi anda sering menghisap dan hanya menyusu ASI. Efeknya paling kuat pada tiga bulan pertama sesudah kelahiran.
Penyakit kronis, kelainan bawaan, anemia, kelainan jantung bawaan dapat mengakibatkan retardasi (keterlambatan) pertumbuhan jasmani. Sementara penyakit infeksi pada ibu saat hamil dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu, tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan jantung bawaan. Ini semua menyebabkan hambatan dalam tumbuh kembang anak.
3. Minta vitamin A pada bulan Februari dan Agustus di Posyandu
Vitamin A akan membuat mata sehat, tubuh kuat dan mencegah kebutaan. Vitamin A perlu diberikan pada anak umur 6 bulan hingga 5 tahun.
Di bawah ini diuraikan beberapa penyakit yang sering diderita anak dan cara mengatasinya:
1. Batuk
Cara mengatasi:
– Jika anak dapat minum Asi, beri Asi lebih banyak dan lebih sering
– Beri anak minum air matang lebih banyak
– Pada anak umur 1 tahun ke atas, beri kecap manis dicampur madu atau air jeruk
– Jauhkan anak dari asap rokok dan asap dapur
– Tidak membakar sampah di dekat rumah
2. Diare
Cara mengatasi:
– Jika anak dapat minum ASI, beri lebih banyak dan lebih sering
– Beri anak oralit, air matang, air the, kuah sayur bening setiap kali diare sampai diare berhenti.
– Anak tetap makan seperti biasa
– Cegah diare dengan cara: minum air matang, cuci tangan pakai sabun sebelum kanan dan sesudah buang air besar. Buang air besar di WC.
Bawa anak ke Puskesmas jika diare tidak sembuh, malas minum, mata anak cekung, anak rewel atau gelisah atau ada darah dalam tinja.
3. Demam
Demam merupakan gejala yang menyertai batuk pilek, malaria, campak, demam berdarah, sakit telinga atau penyakit infeksi lain.
Cara mengatasi:
a. Bila anak dapat minum ASI, beri ASI lebih banyak dan lebih sering
b. Beri anak cairan lebih banyak dari biasa seperti air matang, air the, kuah sayur bening.
c. Jangan diberi pakaian tebal atau selimut tebal.
d. Kompres dengan air biasa atau air hangat. Jangan dikompres dengan air dingin karena anak bisa menggigil.
e. Pada demam tinggi, beri obat turun panas sesuai anjuran petugas kesehatan.
f. Usahakan tidur pakai kelambu untuk menghindari gigitan nyamuk.
Bawa anak ke dokter jika demam tidak sembuh dalam 2 hari.

4. Sakit kulit
Sakit kulit pada anak biasanya berupa biang keringat, bisul, koreng dan sebagainya.
Cara mengatasi:
a. Bersihkan luka dengan air matang, keringkan dengan kain bersih
b. Jika berupa koreng, tutup dengan kain bersih. Jangan dibubuhi ramuan-ramuan
c. Cegah anak agar tidak sakit kulit dengan cara: mandi teratur, ganti pakaian jika basah atau kotor dan cuci tangan dan kaki sehabis main.

B. Asupan Makanan/Gizi
Asupan makanan/gizi yang diterima anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Anak yang asupan makanan/gizinya kurang, terlebih ia masih seorang bayi dengan usia kurang dari satu tahun, maka pertumbuhan dan perkembangannya akan terganggu atau terhambat. Sementara anak yang cukup makanan/gizinya pertumbuhan dan perkembangannya akan berjalan optimal, terutama bila ia juga mendapat pengasuhan dan pembinaan yang baik oleh kedua orangtua atau orang lain yang berada di dekatnya
Di bawah ini terdapat anjuran makan menurut umur anak:
1. Sampai umur 6 bulan
a. Beri ASI saja (ASI Eksklusif) sesuai dengan keinginan anak paling sedikit 8 kali sehari, pagi, siang atau malam. Segera teteki/susui bayi dalam 30 menit setelah bersalin untuk merangsang ASI cepat keluar. Tanyakan ke dokter/bidan bagaimana caranya. Teteki/susui bayi sesering mungkin dan setiap kali bayi menginginkan.
Bayi biasanya menyusu setiap 2 atau 3 jam di minggu minggu pertama dan dan frekuensi hisapan ini akan merangsang payudara agar memproduksi ASI lebih banyak.
Selama minggu pertama dan mungkin sesudahnya, bayi akan menghisap sebagian ASI dan zat gizi yang diperlukannya dalam empat menit pertama setiap kali menyusu. Jadi dihari-hari pertama tersebut, percuma menyusui bayi lebih dari 10 menit di masing-masing payudara, karena hanya akan melelahkan ibu dan bayinya. Bila bayi masih tampak haus, cobalah akhiri penyusuan dengan sedikit air masak yang sejuk.
b. Jangan beri makanan atau minuman lain selain ASI
Hanya dalam keadaan terpaksa, misalnya ASI belum keluar, bayi dapat diberi Lactogen agar tidak kelaparan. Namun ini sifatnya hanya penolong, bila ASI sudah keluar dalam jumlah cukup, dianjurkan hanya diberi ASI saja.
c. Susui/teteki bayi dengan payudara kanan dan kiri secara bergantian
Bayi yang baru lahir seharusnya disusui selama beberapa menit di tiap payudara. Ini sebaiknya dilakukan setelah bayi dilahirkan atau beberapa jam sesudahnya. Mula-mula hanya sedikit cairan susu berwarna kuning dan kaya zat kekebalan tubuh, namanya kolostrum, yang dapat dihisap bayi tetapi hisapan perdana ini akan merangsang produksi kolostrum lebih banyak. Sekitar tiga atau empat hari sesudah persalinan, kolostrum akan berganti menjadi air susu ibu biasa. Yang perlu diperhatikan. Cairan kolostrum ini jangan dibuang.
2. Umur 6 – 9 bulan
a. Beri ASI sesuai keinginan anak paling sedikit 8 kali sehari, pagi, siang atau malam
b. Beri makanan pendamping ASI 2 kali sehari, tiap kali 2 sendok makan
c. Beri ASI terlebih dahulu kemudian makanan pendamping ASI
Makanan pendamping ASI berupa bubur susu atau bubur tim lumat ditambah kuningtelur/ayam/ikan/tempe/tahu/dagingsapi/wortel/bayam/kacanghijau/santan/minyak
3. Umur 9 – 12 bulan
a. Beri ASI setiap kali anak menginginkannya
b. Tambahkan telur/ayam/ikan/tempe/tahu/dagingsapi/wortel/bayam/kacanghijau
/santan/minyak pada bubur nasi
c. Beri bubur nasi 3 kali sehari. Setiap kali makan diberikan sesuai umur:
– 6 bulan : 6 sendok makan
– 7 bulan : 7 sendok makan
– 8 bulan : 8 sendok makan
– 9 bulan : 9 sendok makan
– 10 bulan : 10 sendok makan
– 11 bulan : 11 sendok makan
d. Beri makanan selingan 2 kali sehari di antara waktu makan, seperti: bubur
kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari, dsb.
e. Beri buah-buahan atau sari buah
4. Umur 1 – 2 Tahun
a. Beri ASI setiap kali bayi menginginkan
b. Beri nasi lembik 3 kali sehari
c. Tambahkan telur/ayam/ikan/tempe/tahu/dagingsapi/wortel/bayam/ kacang
hijau/santan/ minyakpada nasi lembik.
d. Beri makanan selingan 2 kali sehari di antara waktu makan, seperti: bubur kacang hijau, pisang, biscuit, nogosari dan sebagainya.
e. Beri buah-buahan atau sari buah
5. Umur 2 – 3 tahun
a. Beri makanan yang biasa dimakan oleh keluarga 3 kali sehari yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur dan buah
b. Beri makanan selingan 2 kali sehari di antara waktu makan, seperti bubur kacang hijau, pisang, biscuit, nagasari, daan sebagainya.
c. Jangan berikan makanan yang manis dan lengket di antara waktu makan
6. Umur 3 – 5 tahun
a. Beri makanan yang biasa dimakan oleh keluarga 3 kali sehari yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur dan buah
b. Beri makanan selingan 2 kali sehari di antara waktu makan, seperti bubur kacang hijau, pisang, biscuit, nagasari, daan sebagainya.
c. Jangan berikan makanan yang manis dan lengket di antara waktu makan
d. Jangan berikan makanan ringan yang banyak mengandung vietsin atau bahan pengawet
e. Jaga kebersihan makanan yang akan dikonsumsi anak. Pastikan makanan yang dimakan anak belum dihinggapi lalat atau hewan lain yang menyebarkan bibit penyakit.
Bagi anak umur 2 tahun ke atas, pastikan anak tercukupi kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Sebab tanpa memperhatikan kesemuanya itu, akan menyebabkan anak kekurangan gizi yang berefek negatif terhadap tubuh anak.
Kekurangan karbohidrat dan protein misalnya, menurut Reutlinger dan Hydn, tubuh tidak akan mampu melakukan aktivitas fisik dengan baik. Ini artinya, kekurangan kalori dan protein, pertumbuhan badannya akan terganggu. Sementara akibat kekurangan vitamin misalnya vitamin A, disamping mengakibatkan kebutaan juga sering mengakibatkan meningkatnya resiko kematian anak. Sedangkan akibat kekurangan zat mineral seperti Iodium, dapat menyebabkan pembesaran kelenjar gondok. Menurut Hetzel dan kawan-kawan, di Equador dan Zaire, kekurangan Iodium telah menyebabkan IQ anak 15 persen lebih rendah dari anak-anak lainnya.
Berikut adalah daftar kecukupan gizi yang dianjurkan pada anak 0 – 6 tahun:

Kandungan Gizi 0-6 bulan 1-12 bulan 1-3 tahun 4-6 tahun
Energi (kalori)
Protein (gram)
Vit A (RE)
Tiamin (mg)
Ribo Flavin (mg)
Niacin (mg)
Vit B12 (µg)
Asam Folat (µg)
Vit C (mg)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Besi (mg)
Seng (mg)
Iodium (µg) 560
12
350
0,3
0,3
2,5
0,1
22
30
600
200
3
3
50 800
15
350
0,4
0,4
3,8
0,1
32
35
400
250
5
5
70 1.250
23
350
0,5
5,6
5,4
0,5
40
40
500
250
8
10
70 1.750
32
360
0,7
0,9
7,5
0,7
60
45
500
350
9
10
100
Sumber: Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi V, Jakarta, 1993

Terkait dengan pemberian gizi pada anak, perlu diperhatikan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang sebagai berikut:

1. Makanlah aneka ragam makanan
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi
5. Gunakan garam beriodium
6. Makanlah makanan sumber zat besi
7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan
8. Biasakan makan pagi
9. Minumlah air bersih, aman dan cukup jumlahnya
10. Lakukan kegiatan fisik dan olah raga secara teratur
11. Hindari minum-minuman beralkohol
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas.

C. Model Pengasuhan dan Pembinaan Terhadap Anak
Orangtua sangat berpengaruh terhadap pengasuhan dan pembinaan terhadap anak. Sebab orangtua merupakan guru yang pertama dan utama bagi anak. Orangtua melalui fungsi sosialisasi dan pendidikan dalam keluarga merupakan lingkungan pertama yang diterima anak, sekaligus sebagai pondasi bagi pengembangan pribadi anak. Orangtua yang menyadari peran dan fungsinya, akan mampu menempatkan diri secara lebih baik dan menerapkan pola asuh dan pembinaan secara lebih tepat.
Secara lebih rinci, peran dan fungsi orang tua dalam pengasuhan dan pembinaan anak adalah sebagai berikut:
1. Orangtua adalah guru pertama dan utama bagi anak
Melalui orangtua, anak belajar kehidupan, dan melalui orangtua anak belajar mengembangkan seluruh aspek pribadinya. Pada masa kanak-kanak awal, orangtua memiliki otoritas penuh untuk memberi stimulasi dan layanan pendidikan bagi anaknya tanpa banyak diganggu oleh pihak lain. Sehingga apapun yang diterima anak, baik yang didengar, dilihat dan dirasakan merupakan pendidikan yang diterima anak untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan yang lebih luas.
2. Orangtua adalah pelindung utama bagi anak
Anak bukanlah miniatur orang dewasa. Anak yang baru lahir dalam kondisi yang lemah baik fisik maupun mentalnya. Anak tidak akan mampu melawan otoritas orang dewasa. Oleh karena itu, merupakan salah satu hak anak untuk mendapatkan perlindungan. Orangtualah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap perlindungan anak.
3. Orangtua adalah sumber kehidupan bagi anak
Anak dapat hidup karena pemeliharaan dan dukungan orangtua. Orangtua yang tidak memberikan kehidupan bagi anak maka akan sulit baginya untuk bertahan hidup. Sebelum anak sampai pada tingkat kemandirian, maka orangtuanyalah yang bertanggung jawab terhadap kehidupan anak, sekaligus menyiapkan anak untuk dapat mandiri baik secara fisik material maupun mental spiritual.
4. Orangtua adalah tempat bergantung bagi anak
Kehidupan anak sangat tergantung pada orang lain. Semenjak dalam kandungan, kehidupan anak tergantung pada ibunya melalui plasenta. Setelah anak lahir ia masih tergantung pada orangtuanya. Akan menjadi bagaimana ia, tergantung pada bagaimana orangtua memberikan layanan dan memenuhi kebutuhan anak. Bagi anak, orangtua adalah tempat bergantung, baik secara fisik maupun mental. Kalaulah secara fisik anak telah lepas dari ketergantuangan terhadap orangtua, namun secara mental ketergantungan tersebut akan sulit di lepas.
5. Orangtua merupakan sumber kebahagiaan bagi anak
Idealnya anak merasakan puncak kebahagiaan ketika berada di pangkuan orangtuanya. Tidak ada kebahagiaan lain yang melebihi kebahagiaan anak yang mendapatkan kasih sayang pebuh dari orangtuanya. Sesunungguhnya tidak ada alasan bagi orangtua untuk bersikap negatif terhadap anak. Sebab setiap anak lahir dalam kondisi bersih. Anak adalah fitrah, suci. Oleh karena itu anak berhak mendapatkan kasih sayang yang suci dan tulus dari orangtuanya.
Memahami betapa pentingnya peranan orangtua bagi pengasuhan dan pembinaan terhadap tumbuh kembang anak serta betapa besar tanggung jawab orangtua terhadap pengembangan diri anak, maka belajar bagi orangtua mutlak diperlukan. Dengan terus belajar orangtua akan mampu melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik. Selain itu orangtua juga mampu memerankan diri sebagai orangtua di mata anak secara lebih bijaksana.
Peran orangtua bagi pengembangan anak secara lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Memelihara kesehatan fisik dan mental anak
Fisik yang sehat akan memberikan peluang yang lebih besar bagi kesehatan mental. Walaupun kesehatan fisik bukan jaminan bagi kesehatan mental.
2. Meletakkan dasar kepribadian yang baik
Struktur kepribadian anak dibangun dan dibentuk sejak usia dini. Orangtualah yang paling berperan dalam peletakan kepribadian anak.
3. Membimbing dan memotivasi anak untuk mengembangkan diri
Anak akan berkembang melalui proses dalam lingkungannya. Lingkungan pertama bagi anak adalah keluarga. Proses belajar bagi anak yang paling baik adalah pelatihan, yakni adanya figur yang layak untuk ditiru disertai dengan bimbingan dan motivasi.
4. Memberikan fasilitas yang memadai bagi pengembangan diri anak
Fasilitas adalah sarana pendukung bagi proses belajar anak. Semakin lengkap fasilitas yang diterima, maka kemungkinan keberhasilan anak akan semakin tinggi.
5. Menciptakan suasana yang aman, nyaman dan kondusif bagi pengembangan diri anak.
Suasana ini memungkinkan anak untuk menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya. Hambatan psikis yang dirasakan anak akan menjadikan ia tidak mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal.
Mengasuh dan membina anak dalam konteks tumbuh kembang anak, memiliki peran yang sangat strategis dan penting. Dengan adanya pengasuhan dan pembinaan dari orangtua terutama ibu dan ayah secara baik, anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat jiwa dan raganya.
Mengasuh atau membina anak pada hakekatnya adalah pemberian kasih sayang, rasa aman sekaligus menanamkan disiplin dan contoh yang baik. Sebagai pengasuh, para orangtua harus mengetahui dan memahami kelebihan dan kelemahan masing-masing anak. Anak harus dilatih supaya bisa mengendalikan diri, cara mengemukakan perasaannya tidak mengganggu atau menyusahkan orang lain dan dirinya, bersikap santun dan tahu tata krama.
Paling tidak ada 11 prinsip yang harus dipegang para orangtua dalam mengasuh dan membina anak. Kesebelas prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menerapkan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari
Orangtua perlu mengajarkan nilai-nilai agama kepada anak sejak usia dini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari
2. Kasih sayang
Kasih sayang ini ditunjukkan secara wajar sesuai dengan umur anak. Misalnya dengan cara mencium, membela, memuji, memeluk bahunya, mengucapkan kata-kata yang menghibur atau meneguhkan dan lain-lain.
3. Disiplin
Penanaman disiplin pada anak sangat dilakukan agar pada saat dewasanya nanti dapat menyesuaikan diri dengan norma dan aturan di masyarakat.
Ada 10 cara dalam menanamkan disiplin pada anak agar hasilnya optimal:
a. Konsisten (tidak berubah)
Ada kesepakatan antara ayah dan ibu sehingga setiap tindakan dalam menanamkan disiplin tidak berubah
b. Jelas
Berikan aturan yang sederhana dan jelas sehingga anak mudah melakukannya.
c. Memperhatikan harga diri anak
Janganlah menegur anak dihadapan orang lain, karena hal itu anakn membuat anak merasa malu sehingga anak tetap mempertahankan tingkah lakunya tersebut.
d. Beralasan dan dapat dimengerti
Alasan dari tata tertib yang dilakukan itu perlu dijelaskan kepada anak, sehingga anak melakukannya dengan penuh kesadaran
e. Memberi hadiah
Hadiah berupa pujian, penghargaan barang atau kegiatan (membolehkan bermain, menonton TV dll) diberikan apabila anak berbuat sesuai yang diharapkan. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri.
f. Hukuman
Orangtua harus hati-hati dalam memberikan hukuman, jangan sampai menyakiti fisik atau jiwa anak. Hukuman tidak dapat diberikan terhadap anak di bawah usia 3 tahun, apalagi memukulnya. Hukuman merupakan pilihan terakhir. Lebih baik memuji perbuatannya yang benar daripada menghukum kesalahannya.
g. Luwes
Jangan terlalu kaku dalam menegakkan disiplin, sesuaikan dengan situasi dan keadaan anak.
h. Keterlibatan anak
Sebaiknya anak dilibatkan dalam membuat tata tertib
i. Bersikap tegas
Bersikap tegas bukan berarti bersikap kasar, baik dalam tindakan fisik maupun perkataan.
j. Jangan emosional
Dalam menghukum anak, hindari emosi yang berlebihan
4. Meluangkan waktu untuk kebersamaan
Ditunjukkan dengan:
– Bermain bersama
– Berbincang-bincang
– Melatih ketrampilan sehari-hari
– Melakukan kegiatan bersama secara teratur
5. Membedakan antara yang baik dan yang buruk
Hal ini sangat diperlukan agar anak mudah menyesuaikan diri dengan masyarakat. Contoh:
– Berlaku ramah dan jujur terhadap orang lain
– Menghargai orang lain beserta miliknya. Minta izin bila ingin memakaianya
– Sikap dan perilaku sopan santun terhadap orang yang lebih tua
– Tidak menyakiti orang lain.
6. Saling menghargai
Orangtua perlu menciptakan suasana saling menghargai satu sama lain. Misalnya bila orangtua berbuat salah, jangan segan untuk segera minta maaf. Orangtua juga perlu mendorong anak agar menghargai dan menghormati orangtua, demikian juga sebaliknya.
7. Memperhatikan dan mendengar pendapat anak
Orangtua perlu mendengarkan dan berusaha untuk mengerti pendapat anak tanpa dipengaruhi oleh pendapatnya.
8. Membantu mengatasi masalah
Pahami masalah sesuai dengan sudut pandang anak dan berikan beberapa pendapat serta dorongan untuk memilih yang sesuai dengan keadaannya.
9. Melatih anak mengenali diri sendi dan lingkungannya
– Ajaklah anak mengenali dirinya
– Anak juga perlu dilatih untuk mengenal emosi dan cara menyalurkan emosi yang baik agar tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain.
10. Mengembangkan kemandirian
– Rangsanglah inisiatif anak dan berikan kebebasan kepada mereka untuk mengembangkan diri
– Untuk memupuk insiatif ini, orangtua perlu memuji hasil karya anak
– Pujilah pujian sesuai dengan keadaannya jangan memaksakan atau berlebihan.
11. Memahami keterbatasan
Jangan membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya.
Keluarga adalah lembaga pertama dan utama dalam melaksanakan proses sosialisasi dan pendidikan pada anak. Di tengah keluarga anak belajar mengenal makan, cinta kasih, simpati, bimbingan dan pendidikan. Keluarga memberikan pengaruh menentukan pada pembentukan watak dan kepribadian anak dan menjadi unit sosial terkecil yang memberi pondasi primer bagi perkembangan anak
Hurlock membedakan tiga macam sikap (pola asuh) orang tua terhadap anaknya.
1. Sikap (pola asuh) otoriter, dengan ciri :
a. Orangtua menentukan tentang apa yang perlu diperbuat oleh anak, tanpa memberikan penjelasan tentang alasannya.
b. Apabila anak telah melanggar ketentuan yang telah digariskan, anak tidak diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan.
c. Pada umumnya hukuman berbentuk hukuman badan.
d. Orangtua tidak dan jarang memberikan hadiah baik kata-kata atau bentuk lain.
2. Sikap (pola asuh) demokratis, dengan ciri:
a. Apabila anak harus melakukan sesuatu aktifitas, orangtua memberikan penjelasan tentang perlunya hal tersebut dilaksanakan.
b. Anak diberi kesempatan untuk memberikan asalan mengapa ketentuan itu dilanggar sebelum menerima hukuman.
c. Hukuman diberikan berkaitan dengan perbuatannya berat ringannya hukuman tergantung pada pelanggarannya.
d. Hadiah atau pujian diberikan orangtua.
3. Sikap (pola asuh) permisif, dengan ciri
a. Tidak ada aturan yang diberikan oleh orang tua anak diperkenankan berbuat sesuai apa yang dipikirkan anak.
b. Tidak ada hukuman, karena tidak ada ketentuan atau peraturan yang dilanggar.
c. Ada anggapan bahwa anak akan belajar dari tindakannya yang salah.
Pola asuh dan contoh perilaku orang tua akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang yang terjadi pada seorang anak. Itulah sebabnya tumbuh kembang anak tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sosial dan kepribadian seseorang.
Pola asuh orangtua dan hubungan sosial antara anggota keluarga selanjutnya akan berpengaruh terhadap perkembangan pribadi dan kejiwaan anak. Sebab lingkungan sosial sebagai faktor ekstern mempunyai peran yang penting dalam pembentukan pribadi anak disamping faktor intern anak.
Sebagaimana telah dikemukakan dimuka bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama di mana anak mulai mengembangkan dirinya sebagai makhluk sosial. Dengan demikian kondisi keluarga dan pola asuh orangtua akan sangat mempengaruhi cara pandang, cara sikap dan pola tingkah laku anak termasuk perkembangan kejiwaannya.
Menurut Anik Rahmani Yudhastawa (2005), orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter akan menyebabkan terjadinya jarak antara orangtua dan anak karena hubungan yang tidak hangat. Anak akan menunjukkan rasa kurang puas, menarik diri dan susah percaya pada orang lain. Selanjutnya orangtua yang menerapkan pola asuh model permisif akan menyebabkan anak kurang mampu mengontrol diri dan berbuat semaunya serta sering mengabaikan/melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sedangkan orangtua yang menerapkan pola asuh demokratis akan menumbuhkan perkembangan jiwa yang matang pada anak. Anak akan menunjukkan perilaku yang baik dan bertanggung jawab, taat terhadap peraturan dan norma.
Sementara itu Pratiwi (2002), menyatakan bahwa anak dalam keluarga otoriter akan lebih banyak tergantung, lebih pasif, kurang penyesuaian sosial, kurang ketenangan diri dan kurang perhatian secara intelektual. Anak dalam keluarga permisif sering impulsif, lebih banyak terlibat dalam tingkah laku nakal, mencoba-coba seks, obat dan alkohol. Sedangkan anak dalam keluarga demokratis akan lebih bertanggungjawab, memiliki ketenangan diri, adaptif, kreatif, penuh perhatian terampil secara sosial dan berhasil di sekolah.
Hasil penelitian Erny Trisusilaningsih pada tahun 2006 tentang Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Perkembangan Moral Anak dengan sampel anak-anak di TK ABA Sidomulyo, Pengasih, Kulon Progo menunjukkan hasil sebagaimana terlihat pada Tabel 6
Tabel 6. Pengaruh Model Pola Asuh Orangtua terhadap Perkembangan
Moral Anak
No Model Pola Perkembangan Moral Anak

1. Pola Otoriter – Anak kurang matang, kurang kreatif dan inisiatif karena takut salah, kurang tegas membedakan baik buruk, suka menyendiri, kurang supel dalam bergaul, dan ragu-ragu/takut dalam bertindak/mengambil keputusan karena takut dimarahi.

2. Pola Permisif – Anak cenderung terlalu bebas dan sering tidak mengindahkan aturan, kurang rajin beribadah, cenderung tidak sopan, bersifat agresif, sering mengganggu orang lain, sulit diajak bekerjasama, sulit menyesuaikan diri dan emosi kurang stabil.

3. Pola Demokratis – Kematangan jiwa baik, emosi stabil, memiliki rasa tanggungjawab yang besar, mudah bekerjasama dengan orang lain, mudah menerima saran orang lain, mudah di atur, dan taat peraturan atas kesadaran sendiri.

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa model pola asuh orangtua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan moral anak. Karena orangtua dengan model pola asuh otoriter akan cenderung menghasilkan anak dengan ciri kurang matang, kurang kreatif dan inisiatif, tidak tegas dalam menentukan baik buruk, benar salah, suka menyendiri, kurang supel dalam pergaulan, ragu-ragu dalam bertindak atau mengambil keputusan karena takut dimarahi.
Sementara anak yang diasuh dengan pola permisif menunjukkan gejala cenderung terlalu bebas dan sering tidak mengindahkan aturan, kurang rajin beribadah, cenderung tidak sopan, bersifat agresif, sering mengganggu orang lain, sulit diajak bekerjasama, sulit menyesuaikan diri dan emosi kurang stabil.
Sedangkan anak yang diasuh dengan pola demokratis menunjukkan kematangan jiwa yang baik, emosi stabil, memiliki rasa tanggungjawab yang besar, mudah bekerjasama dengan orang lain, mudah menerima saran dari orang lain, mudah diatur dan taat pada peraturan atas kesadaran sendiri.
Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat kami ambil beberapa kesimpulan antara lain : (1) Pola asuh orangtua memiliki peranan yang cukup besar terhadap tumbuh kembang anak termasuk perkembangan moralnya, yang dapat diidentifikasi melalui tutur kata, sikap dan perbuatan mereka. (2) Anak yang dididik dengan model pola asuh otoriter menyebabkan anak kurang matang jiwanya, sering kesulitan membedakan perilaku baik buruk, benar salah, suka menyendiri, kurang bisa bergaul dan sulit mengambil keputusan. (3) Anak yang dididik dengan model pola asuh permisif cenderung terlalu bebas dalam bertutur kata, bersikap dan sering tidak mengindahkan aturan yang berlaku, emosi kurang stabil, kurang bertanggungjawab dan sulit diajak bekerjasama. (4) Anak yang diasuh dengan pola demokratis menunjukkan kematangan jiwa yang baik, emosi lebih stabil, mudah diatur, terbuka, supel dalam bergaul dan lebih bertanggungjawab.
Agar anak memiliki perkembangan moral yang baik, maka orangtua dituntut untuk bisa memilih pola asuh yang baik untuk anak-anaknya yaitu pola asuh demokratis, sehingga perkembangan moral anak menjadi baik pula. Sementara itu ayah, ibu atau anggota keluarga lainnya sebagai pengasuh anak harus mampu melakukan bimbingan dan pembinaan yang intensif pada anak yang memiliki perkembangan moral kurang baik

BAB VII
MENANAMKAN NILAI MORAL DAN
KEAGAMAAN PADA NAK

Banyaknya anak yang cenderung nakal, tidak sopan, suka berkata kasar, tidak disiplin, tidak mau bekerjasama dengan teman, malas beribadah dan tidak mau berperilaku hormat pada orang lain, pada saat ini telah menjadi keprihatinan para orangtua. Hal ini terjadi, selain karena proses pengasuhan dan pembinaan yang salah pada anak, juga akibat pengaruh buruk perkembangan teknologi informasi dan lingkungan yang kurang mendukung.
Dalam realita, terlepas diakui atau tidak, sekarang ini para orangtua karena kesibukannya sering menerapkan disiplin kaku pada anak. Para orangtua menuntut anak untuk menuruti perintah ini itu tanpa boleh banyak bertanya dan membantah. Anak diperlakukan seperti robot tanpa memikirkan efek psikologisnya pada anak. Sementara waktu yang diberikan oleh orangtua untuk memberi kasih sayang pada anak juga semakin sedikit, sehingga kedekatan anak dengan ayah ibunya juga jauh berkurang yang membuat anak merasa tidak nyaman dan jiwanya gersang. Karenanya cenderung mencari pelampiasan untuk menuntaskan keinginan-keinginannya yang tidak didapat dari orangtuanya.
Sekarang ini para orangtua juga tidak berdaya menghadapi badai teknologi dan informasi yang cenderung membuat anak malas dan berperilaku konsumtif. Di rumah, orangtua sering dipusingkan menghadapi perilaku anak yang memiliki hobi menonton televisi atau bermain game hingga berjam-jam, sementara tayangan dan permainan yang tersaji sangat sedikit terdapat unsur pendidikan. Belum lagi sekarang ini bacaan-bacaan yang mengandung unsur pornografi dan kekerasan sangat bebas beredar di pasaran. Anak begitu mudah mendapatkan bacaan yang cenderung membentuk anak bermental buruk dan tidak menghargai lagi nilai-nilai moral dan agama.
Di lingkungan, orangtua juga terlalu sulit untuk membatasi kebiasaan bermain anak dengan teman sebaya hingga lupa waktu, meskipun para orangtua juga menyadari pengaruh buruk dari dari teman bermoral jelek juga tidak mungkin dapat dihindari. Ibarat makan buah simalakama, bila anak dikekang akan membuat anak stres. Bila dibiarkan membuat anak terlalu rentan terhadap kebiasaan buruk teman-temannya.
Kita menyadari, bila sikap dan perilaku anak waktu kecil sudah cenderung kurang baik, siap-siap saja bila pada masa remajanya nanti anak akan sulit diatasi dan dikendalikan, mengingat apa yang tertanam pada anak pada masa ini akan sangat membekas dan tertanam dalam hati, sehingga sulit dihilangkan. Karena itu dibutuhkan kepedulian dan peran orangtua untuk menanamkan pengertian pada anak akan pentingnya berbuat baik, mengikuti aturan, membedakan mana yang benar dan salah serta berperilaku terpuji yang dikemas dalam bentuk penanaman nilai moral agama pada anak.
Anak adalah amanah dan karunia Allah SWT. Maka di dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia. Allah menanamkan fitrah yang suci, dengan fitrahnya tersebut ia akan menjadi permata bagi orangtuanya dan aset mereka kelak di kemudia hari. Pada masa anak terjadi proses pembentukan diri, baik secara biologis, psikologis maupun sosiologis yang sangat signifikan bagi tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Tahap ini juga merupakan masa ketidakberdayaan anak, karena ia sangat tergantung pada orang dewasa. Maka sudah menjadi kewajiban orangtualah untuk melakukan pengasuhan dan pembinaan terhadap anak, agar ia dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi generasi yang berkualitas dari segala aspek.
Menanamkan nilai moral agama pada anak adalah salah satu tugas pokok yang harus dijalankan oleh para orangtua pada anaknya. Penanaman nilai moral agama sangat ini sangat penting karena merupakan pondasi bagi kepribadian anak. Perlu dipahami bahwa anak terlahir dibekali neuron (sel syaraf) dalam otaknya. Oleh sebab itu, pada masa ini ia sangat memerlukan rangsangan pendidikan. Neuron-neuron yang tidak mendapat rangsangan pendidikan akan musnah lewar proses alamiah, dan proses ini berlangsung terus hingga remaja. Sangat disayangkan bila masa ini terlewatkan begitu saja.
Menanamkan nilai moral agama pada anak dapat dilakukan melalui tiga cara: Pertama, kegiatan latihan. Penanaman nilai moral agama harus dimulai sejak bayi dalam kandungan, yang didalamnya terkandung unsur latihan. Sang ibu disarankan banyak berbuat kebajikan dan makan-makanan yang halal. Hal ini semata-mata bukan untuk sang ibu saja, namun juga berguna bagi sang bayi. Sama halnya, pada saat bayi lahir diperdengarkan suara adzan di telinga sebelah kanan dan iqomah di telinga sebelah kiri. Ini bertujuan untuk mengenalkan kalimat tauhid (ke-Esaan Tuhan) pada anak. Masa anak adalah masa reseptif, di mana nilai-nilai yang diajarkan oleh orangtua direkan pada memorinya. Pada saat ini otak berkembang begitu pesat, sehingga tepat sekali untuk mengajarkan apa saja kepada anak terutama yang berkaitan dengan nilai moral agama.
Kedua, kegiatan aktivitas bermain. Penanaman nilai moral agama dapat dilakukan melalui aktivitas bermain anak. Pada saat bermain pendidik/orangtua dapat memberikan motivasi pada anak untuk saling memaafkan. Sekedar contoh, pada saat anak-anak saling berebut dan bertengkar, maka orangtua harus memotivasi anak agar mau saling memaafkan. Dalam aktivitas bermain anak belajar mematuhi aturan yang berlaku dalam permainan serta belajar menerima hukuman jika seseorang bermain tidak mengikuti aturan.
Ketiga, kegiatan pembelajaran. Penanaman nilai moral agama ini dapat dilaksanakan melalui pendidikan non formal maupun formal. Non formal artinya dilaksanakan di dalam lingkungan masyarakat, sedangkan formal artinya dilakukan di lingkungan sekolah. Di sekolah penanaman nilai moral keagamaan umumnya terintegrasi dengan kegiatan di sekolah dan masuk kurikulum.
Setidaknya ada dua kiat yang dapat dilakukan oleh orangtua agar penanaman nilai moral keagamaan pada anak dapat berjalan efektif, yaitu dengan pembiasaan dan keteladanan.
Melalui pembiasaan anak akan menjadi terbiasa untuk berbuat sesuatu tanpa terpaksa. Bila anak dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik. Sebaliknya jika anak dibiasakan dengan keburukan serta terlantarkan niscaya ia akan menjadi orang yang berperilaku buruk dan cenderung merusak. Secara prinsip bentuk pembiasaan yang baik yang perlu diberikan pada anak ada paling tidak ada 14 macam, antara lain : (1) berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan; (2) beribadah sesuai aturan dan keyakinannya; (3) berbuat baik terhadap sesama makhluk Tuhan; (4) selalu memberi dan membalas salam, berbicara dengan suara yang lemah dan teratur (tidak berteriak), mengucapkan terima kasih bila diberi sesuatu; (5) membedakan mana yang benar dan salah; (6) mentaati peraturan yang ada; (7) menghormati orang tua dan orang yang lebih tua, mendengarkan dan memperhatikan orang lain berbicara; (8) berbahasa sopan dan bermuka manis; (9) senang bermain dan bekerjasama dengan orang lain, dapat memuji, mengakui kelebihan teman/orang lain; (10) berani bertanya, mengemukakan pendapat dan mampu mengambil keputusan secara sederhana; (11) suka menolong, mau memohon dan memberi maaf; (12) menolong diri sendiri, memelihara kebersihan diri dan lingkungannya; (13) berhemat; (14) bertanggung jawab.
Sementara melalui keteladanan anak akan cenderung berbuat baik seperti yang dilakukan langsung oleh para orangtua. Di sini orangtua harus menjadi contoh yang baik. Bila orangtua menyuruh sang anak untuk bangun pagi dan sembahyang, maka mereka harus mau bangun lebih awal dan mengajak anak untuk sembahyang. Bila anak disuruh bangun pagi dan sembayang sementara orangtuanya sediri tidak melakukan hal itu, hal itu bukanlah bentuk keteladanan yang baik.
Harus dipahami bahwa sesuai dengan karakteristiknya yang suka meniru, di lingkungan keluarga orang tua (ayah dan ibu) adalah teladan yang akan ditiru oleh anak, apapun bentuknya. Tidak peduli itu benar atau salah, merugikan atau tidak merugikan orang lain, memalukan atau tidak memalukan. Hal ini dikarenakan ayah dan ibu adalah tokoh yang diidolakan, diunggulkan dan dianggap orang yang terbaik, terpandai, terbijaksana dan ter…ter… yang lainnya. Sehingga jangan heran apabila anak tidak saja akan meniru tutur kata, sikap dan perilaku orang tua yang baik-baik saja, tetapi juga yang buruk termasuk yang menurut standar kesopanan dan moral sangat memalukan.
Menanamkan nilai moral agama pada anak perlu diberi porsi yang cukup agar kepribadiannya menjadi baik. Selain itu, anak juga perlu dikenalkan dengan konsep diri yang positif serta kedisiplinan, karena ini akan berimbas pada perilaku di masa remajanya. Terutama dalam hal bisa tidaknya ia memandang dirinya secara positif serta ketaatan terhadap segala bentuk aturan, adat istiadat dan budaya setempat tempat dimana ia hidup dan berinteraksi dengan orang lain maupun lingkungannya.
Dengan tertanamnya nilai moral agama secara baik pada anak, anak akan mampu menfilter pengaruh buruk dari luar. Mampu memilih hal yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan sebagai seorang anak, mampu membedakan baik buruk, serta antara yang hak dengan yang bukan haknya. Oleh karenanya, ia siap untuk dididik menjadi generasi penerus bangsa yang dapat diharapkan perannya dalam pembangunan menuju kebesaran dan kejayaan bangsa di kemudian hari. Sementara itu bagi keluarga, jelas akan membawa nama harum keluarga dan orangtua karena perilaku dan tindakannya yang benar-benar terpuji.

BAB VIII
PENUTUP

Melalui buku ini telah banyak dibahas tentang proses tumbuh kembang anak, faktor-faktor yang mempengaruhi, aspek-aspek tumbuh kembang anak dan karakteristik setiap fase tumbuh kembang anak. Termasuk pula telah dibahas tentang upaya optimalisasi proses tumbuh kembang anak dan upaya menanamkan nilai moral dan keagamaan pada anak. Patokan yang harus digunakan dalam mengawal proses tumbuh kembang anak agar dapat berjalan optimal adalah berikan yang terbaik pada anak dengan mengasuh dan membina secara bersungguh-sungguh selain tetap menjaga kesehatan anak serta memberi asupan makanan/gizi sesuai dengan kebutuhan idealnya.
Mengasuh dan membina tumbuhkembang anak dengan tepat, akan banyak pengaruhnya terhadap upaya pencapaian tumbuh kembang anak yang optimal yang menjadi harapan kita bersama. Dengan tumbuh kembang yang optimal, anak akan menjadi generasi penerus yang berkualitas karena tidak saja sehat, cerdas dan trampil, tetapi juga bertaqwa kepada Tuhan YME, berkepribadian luhur, bermoral baik serta mau menghayati dan menghormati seni budaya bangsa. Dengan demikian, mereka akan menjadi insan pembangunan yang tangguh, tanggap, tanggon sehingga mampu membawa kemajuan dan kejayaan bangsa di kemudian hari.
Akhirnya, penulis berharap buku ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya agar masyarakat khususnya para orangtua yang memiliki balita memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana mengasuh dan membina anak balitanya. Dengan pengetahuan yang cukup, maka wawasan mereka cukup luas untuk menentukan apa yang terbaik bagi masa depan anak-anaknya sebagai generasi penerus yang diharapkan mampu membawa nama harum bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara maupun bagi dirinya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad dan Santosa N. 1996. Kamus Pintar Bahasa Indonesia. Fajar Mulya, Surabaya.
Al-Halwani, A.F. 1995. Melahirkan Anak Saleh. Mitra Pustaka, Jakarta

Ali Nugraha dan Yeni Rahmawati, 2006. Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta: Universitas Terbuka

Bernard Valman, 1989. Menjaga Kesehatan Bayi dan Anak Anda. Jakarta: Gramedia

Bimo Walgito, 1997. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.

Bimo Walgito, 2002. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Offset

Biro Bina Sosial. TT. Pedoman Pertemuan Penyuluhan Kelompok Umur 0-6 Tahun. Yogyakarta: Biro Bina Sosial Setwilda Provinsi DIY.

BKKBN, 1992. Bahan Penyuluhan Program BKB. Jakarta: BKKBN Pusat

BKKBN, 2003. Bina Keluarga Balita. Jakarta: BKKBN Pusat

BKKBN, 2006. Buku Panduan Kader: Pengasuhan dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: BKKBN Pusat

BKKBN, 2006. Kiat Praktis Keluarga dalam Pengasuhan dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: BKKBN Pusat

BKKBN, 2006. Cara Praktis Melatih Perkembangan Anak Usia 0 – 5 Tahun. Jakarta: BKKBN Pusat.

BKKBN, 2006. Penerapan PKSD melalui Delapan Fungsi Keluarga. Jakarta: BKKBN Pusat

BKKBN DIY, 2006. Membentuk Pribadi Anak melalui BKB. Yogyakarta: BKKBN Provinsi DIY

Conny Semiawan, dkk, 1995. Pengenalan dan Pengembangan Bakat Sejak Dini. Jakarta: Depdikbud

Depdiknas, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Depdiknas, Jakarta.

Depdiknas, 2002. Acuan Menu Pembelajaran pada Kelompok Bermain. Jakarta: Depdiknas
Depdiknas, 2002. Acuan Menu Pembelajaran Anak Usia Dini (Menu Pembelajaran Generik). Jakarta: Depdiknas

Depdiknas, 2003. Wawasan Kependidikan. Jakarta: Dirjen Dikdasmen

Depkes RI, 1995. 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Depkes RI, 2003. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Depkes RI

Depkes RI, 2006. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Depkes RI.

Depkes RI, 2003. Prinsip Mengasuh Anak dalam Keluarga. Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat Depkes RI

Dinkes Provinsi DIY, 2000. Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita. Yogyakarta: Dinkes Provinsi DIY.

Dinkes Kulon Progo, 2007. Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak. Wates: Dinkes Kab. Kulon Progo

Dirjen Bina Kesmas, 2001. Pola Asuh yang Mendukung Perkembangan Anak. Jakarta: Depkes RI

Dirjen Bina Kesmas, 2003. Modul Pelatihan Pola Asuh bagi Pengelola Program KIA. Jakarta: depkes RI

Doge, D.T Colker, L.J & Heroman, C, 2002. The Creative Curiculum for Preschool. Washington: Teaching Strategies, Inc.

Hermansyah. 2001. Pengembangan Moral. Depdiknas, Jakarta.

Hibana S. Rahman, 2002. Konsep Dasar Pendidikan Usia Dini. Yogyakarta: Penerbit GALAH

Irawan Prayitno. TT. Anakku Penyejuk Hatiku. Jakarta: Pustaka Tarbiatuna

Irawati Istadi, 2002. Mendidik dengan Cinta. Jakarta: Pustaka Inti

John W. Santrock, 2002. Life Span Development – Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga

Kantor Depag Kulon Progo, 2007. Menanamkan Nilai Moral dan Keagamaan pada Anak. Wates: Kantor Depag Kabupaten Kulon Progo.

Kartini Kartono. 1995.Psikologi Anak. Penerbit Mandar Maju, Bandung.

Mardiya, 2005. “Buramnya Wajah Keluarga Kita”. Artikel Kedaulatan Rakyat 17 April 2005 hal 8.

Mariyati Sukarni, 1989. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Maria J. Wanto, 2005. Pengembangan Disiplin dan Pembentukan Moral pada Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas

Nakita, 2000. Menyiapkan Anak Milenium III. Jakarta: Sarana Kinasih Satya Sejati

Otib Satiti Hidayat, 2006. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama. Jakarta: Universitas Terbuka.

Pamela C Phelps, 2004. Pemahaman tentang Pendidikan Anak Usia Dini. Hand Out Simposium Nasional PAUD Jakarta

Papalia, D.E Olds, S. W & Fieldman, R.D, 2004. Human development. 9 th edition. New York: Mc Graw-Hill Companies

Patricia H. Berne & Louis M. Savary, 1994. Membangun Harga Diri Anak, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Pratiwi, W.W. 2002. Gaya Pengasuh Orangtua dalam Keluarga. PSW UNY, Yogyakarta.

Purwanto, 1998. Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosdakarya

Rini Hidayanti, dkk, 2006. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka.

Seksi Ketahanan Keluarga, 2007. Pengaruh Pola asuh Orangtua terhadap Perkembangan Moral Anak. Wates, Dinas Dukcapilkabermas Kab. Kulon Progo

Sukmadinata, 2004. Landasan Psikologi Proses Belajar. Bandung: Rosda Karya

Subdin PLS, 2007. Aspek-aspek Tumbuh Kembang Anak. Wates: Subdin PLS Dinas Pendidikan Kab. Kulon Progo

Suhardjo dan Clara M Kusharta, 1992. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Takdiroatun Musfiroh, 2006. Kreativitas Pendidik Anak Usia Dini. Hand Out Diklat PAUD. Yogyakarta: BPKB DIY

Widayanti, S.Y.M dan Iryani, S.W. 2005. Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Kenakalan Anak B2P3KS, Yogyakarta.

Yulia Ariza, TT. Keseimbangan Intelegensi, Emosi dan Spiritual. Hand Out Diklat Pendidik PAUD. Yogyakarta: BPKB DIY

Yuliani Nurani Sujiono, dkk, 2006. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta: Universitas Terbuka

Yusuf, S. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan remaja. Bandung: Rosda Karya

SINERGI KB -TNI, MENGAPA TIDAK?

Posted: Desember 11, 2009 in Artikel

Ditengah ketidakyakinan banyak pihak terhadap pencapaian sasaran program KB sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Presiden No 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai institusi yang paling bertanggungjawab terhadap keberhasilan pelaksanaan program KB di Indonesia, telah mengambil langkah berani dan taktis melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam penggarapan Program KB Nasional. Dikatakan berani, karena selama ini meskipun diakui telah memberi sumbangan cukup besar terhadap keberhasilan program KB, masih ada sebagian masyarakat kita yang memandang bahwa TNI selalu lebih dekat dengan hal-hal yang bersifat instruksi, perintah dan paksaan daripada hal-hal yang bersifat edukatif, persuasif, dan pembinaan. Sementara dalam pelaksanaan program KB pasca penyelenggaraan International Conference on Population and Development (ICPD) 1994 di Kairo, punya kewajiban menjunjung tinggi dan melindungi hak-hak reproduksi perempuan atau Pasangan Usia Subur (PUS) pada umumnya. Sesuatu hal yang sepertinya bertolak belakang dengan sifat-sifat dan karakteristik TNI itu sendiri. Selanjutnya dikatakan taktis, karena dengan menggandeng TNI banyak hal yang selama ini menjadi keterbatasan BKKBN dalam pengelola program KB di lini lapangan dapat diatasi dengan adanya kesepakatan kerjasama ini. Misalnya saja dalam penggarapan program KB di wilayah terpencil yang selama ini tidak pernah bisa optimal, baik dari sisi advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) maupun pelayanan dan tindaklanjut untuk menjaga kelestariannya.
Penandatanganan MoU antara BKKBN dan TNI sendiri bertujuan untuk mengintegrasikan kegiatan-kegiatan program KB dengan kegiatan pengabdian masyarakat oleh TNI. Disamping itu, dengan kerjasama ini, keterbatasan jumlah personil pengelola KB dalam menjangkau daerah-daerah khusus atau sulit terjangkau (daerah Galciltas = daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan) akan dapat teratasi dengan dukungan dan peran anggota Babinsa dan operasi manunggal TNI. Terlebih TNI juga mempunyai program-program langsung ke masyarakat yang sudah dikenal seperti Operasi Manunggal TNI KB Kesehatan, Surya Baskara Jaya dan sebagainya.
Tentang kedudukan dan posisi TNI sekarang ini, kita tidak usah khawatir. Karena semenjak terjadinya reformasi dalam satu dekade terakhir, TNI telah banyak berubah. Ia tidak lagi menjadi alat kekuasaan ataupun politik penguasa. Dengan demikian, TNI saat ini bersifat netral dalam arti sesungguhnya dan jauh dari kepentingan politik sesaat. TNI sekarang ini benar-benar ingin mewujudkan perannya sebagai pelindung rakyat dan seluruh tanah air Indonesia di satu sisi, dan sebagai mitra masyarakat dan segenap komponen bangsa untuk membangun negeri ini agar lebih maju dan mandiri di sisi lainnya.
Ada dua alasan mendasar yang dapat kita pahami mengapa jajaran pengelola KB mengambil langkah berani yang kemudian ditindaklanjuti dengan Peraturan Bersama antara Kepala BKKBN Pusat Dr. Sugiri Syarief, MPA dengan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso Nomor 101/HK.010/B5/2009 – Perpang/37/III/2009 tertanggal 31 Maret 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Revitalisasi Program KB Nasional antara BKKBN dengan TNI tersebut. Pertama, selama lima tahun terakhir, program KB tidak mengalami perkembangan yang berarti (stagnan). Hal ini dapat dilihat dari capaian Total Fertility Rate (TFR) yang berkutat pada angka 2,6 anak per Wanita Usia Subur (WUS). Bila ini tetap dibiarkan, akan menjadi preseden buruk bagi bangsa Indonesia dalam pengelolaan penduduk karena sangat dimungkinkan terjadi ”baby boom” kedua. Apalagi jumlah penduduk Indonesia saat ini sudah sangat besar karena mencapai tidak kurang dari 230 juta jiwa. Dalam hitungan Kepala BKKBN Pusat, walaupun beberapa tahun mendatang kita mampu menurunkan TFR menjadi sekitar 2,3 anak, namun di tahun 2050 penduduk Indonesia akan bertambah 100 juta menjadi 330 juta jiwa. Ini tidak boleh dibiarkan terjadi, sehingga TFR harus diupayakan turun menjadi sekitar 1,3 saja. Karena dengan demikian, di tahun 2050 penduduk Indonesia hanya akan bertambah sekitar 20 juta menjadi 250 juta jiwa. Berdasar kenyataan tersebut, upaya revitalisasi dalam rangka peningkatan partisipasi masyarakat dalam program KB seiring dengan penerapan visi ”Seluruh Keluarga Ikut KB” dan misi ”Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera”, menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar.
Kedua, sekarang ini jumlah Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) sebagai basis operasional di tingkat lini lapangan, telah mengalami penyusutan yang luar biasa dibanding sebelum era desentralilasi melalui UU No 22 Tahun 1999 yang disempurnakan menjadi UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sebelum otonomi daerah, jumlah PLKB di Indonesia mencapai 30 an ribu, sekarang ini tinggal sekitar 21 ribu, sedangkan idealnya 35 ribu. Sementara dari sisi kelembagaan, program KB masih belum diposisikan sebagai prioritas program pembangunan di banyak daerah. Terbukti dari 495 Kab/Kota di Indonesia, awalnya hanya 31 Kab/Kota yang membentuk Dinas BKKBN secara utuh. Walaupun pasca pemberlakuan Peraturan Pemeritah No 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, tercatat 407 (82,38 persen) kabupaten/kota telah membentuk dan mengesahkan lembaga pengelola KB dalam bentuk Perda, namun jumlah PLKB tidak mengalami penambahan yang cukup signifikan untuk bisa mengampu seluruh desa/kelurahan yang ada yang jumlahnya tidak kurang dari 76.840. Ini berarti, dukungan dari berbagai pihak, termasuk TNI yang memiliki Babinsa sebagai pembina wilayah di setiap desa sangat diperlukan.
Sebagaimana diketahui bahwa berdasarkan SDKI 2007, tingkat partisipasi PUS dalam ber-KB atau belakangan dikenal dengan Contraceptif Prevalence Rate (CPR) di level nasional baru mencapai 61,3 persen dengan peningkatan pemakaian kontrasepsi modern hanya sekitar 0,7 persen. Menurut Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Pusat, Drs. Pranyoto, MSc, kondisi ini jauh dari ideal yang mestinya sekitar 70 persen. Di propinsi DIY sendiri, khusus untuk capaian CPR kondisinya juga tidak lebih baik. Karena CPR yang idealnya naik justru turun dari 75,6 persen (SDKI 2002) menjadi 66,9 persen (SDKI 2007). Meskipun TFR di DIY sekarang ini hanya 1,8 anak per WUS yang merupakan angka TFR terkecil di Indonesia saat ini, namun bila tidak diwaspadai besaran TFR akan segera mengalami peningkatan. Di sisi lain, masih cukup banyak persoalan yang menjadi ”pekerjaan rumah” bagi DIY. Di antaranya masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), yakni 105/100.000 kelahiran hidup (SUSENAS 2005). Kemudian berdasarkan hasil Pendataan Keluarga Tahun 2008 menunjukkan bahwa di DIY masih terdapat 388.291 keluarga yang termasuk kategori Pra Sejahtera dan KS I dari total keluarga yang jumlahnya 930.684. Walaupun jumlahnya telah menurun dibandingkan tahun sebelumnya, namun proporsinya masih cukup besar karena kisarannya masih 41,72 persen dari total keluarga. Pekerjaan rumah yang lain adalah adanya kecenderungan meningkatnya perilaku seks bebas remaja, penyalahgunaan napza dan terus meningkatnya kasus HIV/AIDS yang bila tidak segera diatasi akan mempengaruhi ketahanan keluarga, masyarakat DIY pada khususnya, dan bangsa pada umumnya.
Di sinilah urgensi mengapa BKKBN dan institusi pengelola KB di daerah perlu intensif melakukan kerjasama atau bermitra dengan berbagai pihak termasuk TNI. Dengan sasaran RPJMN 2004-2009 di bidang KB antara lain: (1) Menurunkan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) menjadi sekitar 1,14 persen per tahun, (2) Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan, (3) Persentase PUS yang tidak terlayani (Unmet Need) menjadi sekitar 6 persen, (4) Meningkatnya peserta KB Pria menjadi 4,5 persen, (5) Meningkatnya penggunaan metode kotrasepsi yang rasional, efektif dan efisien, (6) Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun, (7) Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak, (8) Meningkatnya jumlah keluarga pra sejahtera dan Keluarga Sejahtera (KS) I yang aktif dalam kegiatan ekonomi produktif, dan (9) Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan Program KB Nasional, tidak akan pernah tercapai bila tidak ada kerjasama yang dinamis dan efektif dengan berbagai pihak utamanya dengan TNI.
Sungguh beruntung, banyak BKKBN Propinsi yang cepat tanggap dengan keinginan BKKBN Pusat. Hingga saat ini, paling tidak sudah empat belas propinsi yang menggelar Bhakti Sosial TNI-KB-Kes dengan berbagai kegiatan sesuai kondisi masing-masing daerah yang berorientasi pada pemberdayaan keluarga dan masyarakat seperti penyuluhan dan pelayanan KB, perbaikan gizi balita, pembinaan kelompok bina-bina seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Bina Keluarga Lansia (BKL), pemberian modal dan ekspose kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS), pemberian penghargaan serta kegiatan dukungan lainnya (pelayanan pengobatan, pemeriksaan gigi, donor darah, khitanan massal dan sebagainya). Di propinsi DIY sendiri, BKKBN akan menggelar kegiatan Bhakti Sosial TNI-KB-Kes Terpadu yang dipusatkan di Kabupaten Bantul, Sabtu 27 Juni 2009 (red. – hari ini). Kegiatan yang dilakukan selain mengacu pada Peraturan Bersama antara Kepala BKKBN Pusat denga Panglima TNI, juga berdasarkan Surat Tugas (ST) Pangdam IV/Diponegoro No ST/408/2009 tertanggal 27 April 2009 tentang Perintah untuk Melaksanakan Bhakti TNI-KB-Kes Terpadu, terhitung mulai tanggal 1 Mei 2009 hingga 31 Oktober 2009. Selain itu mendasarkan pada ST Danrem 072 Pamungkas No ST/212/2008 tertanggal 28 April 2009 tetang Perintah Pelaksanaan Bhakti TNI-KB-Kes Terpadu Tahun 2009.
Dalam gerak operasionalnya, jajaran BKKBN DIY selain telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, juga telah merancang berbagai kegiatan unggulan seperti peresmian tugu KB, pemberian penghargaan motivator MOP, penyerahan berbagai kejuaraan lomba (Mars KB, Kinerja PLKB), penyerahan Buku Visum PLKB, Pemberian Bantuan Modal, Ekspose UPPKS, tampilan kegiatan Tri Bina (BKB/PAUD, BKR dan BKL), pelepasan Road Show IPeKB, penyuluhan dan pelayanan KB berbasis komunitas, serta pemeriksaan kesehatan lansia dan donor darah di Koramil Srandakan.
Yang perlu mendapatkan perhatian bersama, sebagaimana arahan Aster Panglima TNI Mayjen TNI Suprapto dalam Pertemuan Evaluasi Kegiatan Bhakti Sosial Kerjasama TNI dan BKKBN di Hotel Marcopolo Lampung, Rabu 27 Mei 2009 lalu, bahwa kegiatan Bhakti Sosial yang merupakan kerjasama TNI dengan BKKBN, harus dipahami dengan benar, utamanya dalam memaknai kerjasama dalam konteks kemitraan itu sendiri.
Dengan berbagai pertimbangan di atas, kita tidak perlu ragu-ragu lagi untuk melakukan kerjasama dengan pihak TNI, karena TNI telah melakukan MoU yang maknanya sangat tinggi. Apalagi TNI selama ini kita kenal sebagai institusi yang selalu memegang teguh keputusan dan komitmen yang telah dibuat. Sementara jajaran personil TNI yang ada sekarang ini telah memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya program KB sebagai upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa yang lebih berkualitas dan bermartabat. Karena KB tidak hanya membangun keluarga agar menjadi hidupnya lebih bahagia dan sejahtera, tetapi juga membangun penduduk negeri ini agar terkendali kuantitasnya serta meningkat kualitasnya menuju bangsa yang kokoh, kuat dan tangguh. Yakni bangsa yang tidak mudah digoyahkan oleh ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam bentuk apapun. Oleh karena itu, sinergi KB-TNI, mengapa tidak?

Dra. Sri Arkandini, MM, Kepala BKKBN Propinsi DIY
Drs. Mardiya, Anggota Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Propinsi DIY.