MENGATASI ”ISOLATION” PADA LANSIA

Posted: Desember 13, 2010 in Comot sana Comot sini

Setiap individu tentunya berharap dapat menjalani masa tuanya dengan bahagia. Ketika memasuki masa tua tersebut, sebagian para lanjut usia (lansia) dapat menjalaninya dengan bahagia, namun tidak sedikit dari mereka yang mengalami hal sebaliknya, masa tua dijalani dengan rasa ketidakbahagiaan, sehingga menyebabkan rasa ketidaknyamanan.
Jumlah penduduk lanjut usia (usia 60 tahun keatas) di Indonesia terus menerus meningkat. Pada tahun 1970 jumlah penduduk yang mencapai umur 60 tahun ke atas (lansia) berjumlah sekitar 5,31 juta orang atau 4,48% dari total penduduk Indonesia. Pada tahun 1990 jumlah tersebut meningkat hampir dua kali lipat yaitu menjadi 9,9 juta jiwa. Pada tahun 2020 jumlah lansia diperkirakan meningkat sekitar tiga kali lipat dari jumlah lansia pada tahun 1990. Kantor Menteri Kependudukan/BKKBN, 1999 menyatakan bahwa pada tahun 1995 beberapa propinsi di Indonesia proporsi lansianya jauh berada diatas patokan penduduk berstruktur tua (yakni 7 %), yaitu antara lain : Daerah Istimewa Yogyakarta (12,5%), Jawa Timur (9,46%), Bali (8,93%), Jawa Tengah (8,8%) dan Sumatera Barat (7,98%). Data statistik menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia Indonesia pada awal abad ke 21 ini diperkirakan adalah sekitar 15 juta orang dan pada tahun 2020 jumlah lanjut usia tersebut akan meningkat sekitar 30 – 40 juta orang.
Kondisi lanjut usia mengalami berbagai penurunan atau kemunduran baik fungsi biologis maupun psikis, yang anantinya dapat mempengaruhi mobilitas dan juga kontak sosial, salah satunya adalah ISOLATION atau rasa kesepian (loneliness), atau terkucil atau merasa tidak diperhatikan lagi atau yang lebih serius adalah depresi. Bersamaan dengan peningkatan jumlah penduduk lanjut usia terjadi peningkatan hampir mencapai 50% dari penduduk lanjut usia yang mengalami kesepian/ loneliness. Syukurlah kini perhatian masyarakat dan pemerintah sudah lebih baik untuk mengusahakan bagaimana agar lansia tetap mandiri dan berguna.
Perasaan terasing (ter-isolasi atau kesepian) adalah perasaan tersisihkan, terpencil dari orang lain, karena merasa berbeda dengan orang lain. Yang dapat disebabkan karena: 1. Tersisih dari kelompoknya, 2. Tidak diperhatikan oleh orang-orang disekitarnya, 3. Terisolasi dari lingkungan, 4.Tidak ada seseorang tempat berbagi rasa dan pengalaman, 5. Seseorang harus sendiri tanpa ada pilihan. Hal-hal tadi menimbulkan perasaan tidak berdayaan, kurang percaya diri, ketergantungan, keterlantaran terutama bagi lansia miskin, post power syndrome, perasaan tersiksa, perasaan kehilangan, mati rasa dan sebagainya. Seseorang yang menyatakan dirinya kesepian cenderung menilai dirinya sebagai orang yang tidak berharga, tidak diperhatikan dan tidak dicintai (Rasa kesepian akan semakin dirasakan oleh lansia yang sebelumnya adalah seseorang yang aktif dalam berbagai kegiatan yang menghadirkan atau berhubungan dengan orang banyak. Hilangnya perhatian dan dukungan dari lingkungan sosial yang terkait dengan hilangnya kedudukan atau perannya dapat menimbulkan konflik atau keguncangan.
Masalah ini terkait dengan sikap masyarakat sebagai orang Timur yang menghormati lansia sebagai sesepuh sehingga kurang bisa menerima bila seorang lansia masih aktif dalam berbagai kegiatan produktif), lebih jauh dinyatakan bahwa penyebab menurunnya kontak sosial pada lanjut usia:
1. Ditinggalkan oleh semua anaknya karena masing-masing sudah membentuk keluarga dan tinggal di rumah atau kota yang terpisah
2. Berhenti dari pekerjaan (pensiun sehingga kontak dengan teman sekerja terputus atau berkurang)
3. Mundurnya dari berbagai kegiatan (akibatnya jarang bertemu dengan banyak orang)
4. Kurang dilibatkannya lanjut usia dalam berbagai kegiatan
5. Ditinggalkan oleh orang yang dicintai: pasangan hidup, anak, saudara, sahabat, dll.
Kesepian akan sangat dirasakan oleh lanjut usia yang hidup sendirian, tanpa anak, kondisi kesehatannya rendah, tingkat pendidikannya rendah, introvert, rasa percaya diri rendah, kondisi sosial ekonomi sebagai akibat pensiun menimbulkan perasaan kehilangan prestise, hubungan sosial, kewibawaan dsb. Jika lebih parah dapat berlanjut menjadi depresi.
Penelitian sosiologis pada tahun 2002 yang mengungkapkan bahwa sebagian besar lansia mengaku merasa minder dan tidak pantas lagi untuk aktif di masyarakat. Dalam hal ini, sebagai anggota masyarakat lansia telah bertingkah laku sesuai dengan tuntutan dan opini masyarakat yang mengalinasi mereka, walaupun konsekuensinya merasa kesepian dan depresi.
Depresi adalah suatu bentuk gangguan emosi yang menunjukkan perasaan tertekan, sedih, tidak bahagia, tidak berharga, tidak berarti, serta tidak mempunyai semangat dan pesimis menghadapi masa depan. Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (afektif, mood) yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna dan putus asa.
Untuk menduga seseorang depresi adalah menanyakan “adakah perubahan perasaan, perubahan tingkahlaku dan keluhan yang bersifat fisik ? Misalnya adakah: perasaan sedih atau putus harapan; pesimis; tingkat aktivitas rendah; kesulitan yang bersifat motivasi; kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain; tidak puas dalam berhubungan dengan orang lain; kecemasan sosial; tidak terlibat dalam keluarga atau teman ; seperti biasanya; kesepian; merasa berdosa; kehilangan kontrol – kemampuan kontrol rendah; kelelahan fisik; gangguan tidur; gangguan nafsu makan; gangguan konsentrasi, gangguan membuat keputusan; keluhan fisik lainnya (seperti; insomnia, kehilangan nafsu makan, masalah pencernaan, dan sakit kepala ?“).
Depresi merupakan kondisi yang mudah membuat lanjut usia putus asa, kenyataan yang menyedihkan karena kehidupan kelihatan suram dan diliputi banyak tantangan. Lansia dengan depresi biasanya lebih menunjukkan keluhan fisik daripada keluhan emosi. Keluhan fisik sebagai akibat depresi kurang mudah untuk dikenali, yang sering menyebabkan keterlambatan dalam penanganannya.
Sepertiga (33%) dari para janda/duda akan mengalami depresi pada bulan pertama sepeninggal pasangannya, dan separo dari mereka tetap depresi sesudah satu tahun. Janda/duda memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi daripada mereka yang masih berpasangan (Prof DR. Dr. Dadang Hawari, 1996; Prof. DR. Siti Partini Suardiman, 2004; DR. Farida Hanum, 2004).
Banyak ahli dan peneliti yang menyatakan bahwa orang yang menderita kesepian lebih sering mendatangi layanan gawat darurat 60% lebih banyak bila dibandingkan dengan mereka yang tidak menderitanya, dua kali lebih banyak membutuhkan perawatan di rumah, resiko terserang influensa sebanyak dua kali, berisiko empat kali mengalami serangan jantung dan mengalami kematian akibat serangan jantung tersebut, juga berisiko meningkatkan mortalitas dan kejadian stroke dibanding yang tidak kesepian.
Penanganan
Secara ringkas menyarankan dua cara yang bisa ditempuh, Pertama, oleh lansia itu sendiri, dan inilah yang menjadi kuncinya (a. Menjalin kontak sosial dengan teman, tetangga atau sanak misalnya aktif dalam berbagai kegiatan sosial, senam, paduan suara ,hobi, atau kegiatan keagamaan. Bahkan kegiatan ini perlu dipersiapkan dan dirintis sejak pralansia. Kegiatan dan keterikatan dalam kelompok akan menghadirkan nuansa kegembiraan pada saat pertemuan berlangsung. Setidaknya lansia memiliki agenda kapan bisa bertemu dengan teman-teman untuk saling bertukar informasi dan bersendau gurau. Kegiatan periodik ini merupakan kegiatan yang dinanti-nantikan serta mampu membangkitkan semangat hidup. Mengingat arti penting kegiatan sosial ini maka setiap kegiatan perlu diisi dengan acara yang bersifat meningkatkan kualitas hidup baik fisik maupun psikisnya. b. Kontak sosial tidak harus dalam arti kontak secara fisik, tatap muka. Jika kontak fisik tidak dapat dilakukan lansia bisa menggunakan media yang mampu membantu lansia untuk melakukan kontak sosial yaitu melalui telpon, surat atau e-mail, kiriman lagu lewat radio, atau cara lain yang menjadi penghubung dengan orang lain. c. Bila rasa kesepian datang agar melakukan suatu aktivitas seperti : membaca, menulis, mendengarkan musik, melihat TV, berjalan-jalan, berbelanja, menyiram tanaman, memberi makan binatang peliharan, menyapu, menyanyi, mengatur buku, membersihkan kamar, dan kegiatan lain yang mungkin dilakukan yang menimbulkan rasa senang dan sibuk untuk menghalau kesepian, menelpon atau mengunjungi teman untuk mengobrol, diskusi, atau membicarakan sesuatu). Secara sistematis dapat juga dengan langkah sebagai berikut: (1) Catat kegiatan yang mendatangkan rasa senang dan lakukan dalam agenda kegiatan sehari-hari, (2) Tingkatkan kegiatan dan hindari waktu luang yang panjang, berkomunikasi dengan orang lain sehingga memperoleh dukungan dan stimulan dari orang lain, (3) Tingkatkan berfikir positif dan pelajari terus serta praktekkan cara untuk lebih nyaman
Kedua, oleh orang lain baik oleh anak, cucu, sanak keluarga maupun orang lain yang peduli pada lansia.(kunjungan secara periodik secara bergilir). Keuntungannya selain mengurangi rasa kesepian juga memonitor kondisi kesehatan. Disediakan radio, TV , telpon dan lain sebagainya. Adanya tetangga dekat sangat besar perannya. Bahkan ada yang sengaja berjualan dengan tujuan agar tidak kesepian.
Sumber: Artikel dr. Probosuseno, Forum Diskusi Medicalzone

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s