Menghargai Sosok Ibu Oleh: Rr. Esti Sutari, SPd

Posted: Desember 24, 2010 in Artikel

Tanpa terasa, hari ini atau tepatnya Rabu, 22 Desember 2010, kita telah memperingati Hari Ibu yang ke-82. Namun sejauh ini, peringatan yang kita laksanakan setiap tahun ternyata belum mampu secara optimal menggugah kepedulian kita untuk berupaya memberi penghargaan yang layak bagi sosok ibu, pahlawan bagi keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya tindakan kita yang kurang pantas terhadap ibu, mulai dari membantah, menghardik, berlaku keras, hingga menyia-nyiakan hidupnya walaupun beliau dengan tulus telah mengasuh dan membesarkan kita. Sebagai anak, mestinya kita harus berupaya keras untuk membalas kebaikan ibu, bukan malah sebaliknya.
Hal yang lebih buruk teryata telah diperbuat oleh sebagian saudara kita terhadap ibunya. Karena tidak sedikit di antara saudara kita ini telah mengalami degradasi penghargaan yang cukup serius terhadap ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkannya. Mereka tidak lagi hormat dan menghargai jasa-jasa ibunya bahkan cenderung berani menentang terhadap ibu. Bukan hanya berani tidak melaksanakan perintah, tetapi sudah berani melanggar larangan-larangan yang telah digariskan oleh ibu. Kasus-kasus kenakalan anak dan remaja yang banyak terjadi akhir-akhir ini seperti minum-minuman keras dan mabuk-mabukan, menyalahgunakan obat terlarang, atau berperilaku seks bebas menjadi contoh nyata kurangnya penghargaan anak terhadap ibu, karena apa yang mereka lakukan pasti bukanlah atas perintah ibu. Tetapi hal-hal yang justru dilarang oleh ibu. Ibu umumnya akan menjadi sasaran pertama dari kenakalan anak. Entah dengan cara minta uang jajan berlebih, protes terhadap pelayanan yang dianggap kurang sesuai dengan keinginannya, atau mulai berani menipu ibu terhadap apa-apa yang telah dilakukannya di rumah, di sekolah atau di lingkungan teman-teman sebayanya. Taruhlah ini sebagai salah satu akibat dari terbatasnya waktu ibu dalam mengasuh dan membina anak-anaknya. Namun rasa-rasanya perbuatan itu tidak pantas dilakukan terhadap ibu. Ini terutama bila sang anak mau sedikit berpikir bahwa ibunyalah yang telah mengandung, melahirkan dan merawatnya dikala mereka masih dalam posisi sangat lemah di dunia ini. Apalagi dalam tuntunan agama apapun, ibu selalu ditempatkan sebagai orang yang terhormat dalam keluarga. Sorga ada di telapak kaki ibu, demikian pepatah mengatakan.
Persoalannya, mengapa kita menjadi kurang begitu menghargai terhadap ibu walaupun jasa-jasanya terhadap kita, keluarga, masyarakat dan bangsa tidak bisa kita ukur dengan uang atau materi seberapapun jumlahnya? Jawabannya paling tidak menyangkut tiga hal. Pertama, kita terjebak pada pola pikir bahwa hidup kita harus dilayani oleh orang lain, bukan kita yang justru yang harus melayani orang lain termasuk ibu. Dengan konsep berpikir yang salah itu, kita selalu minta pelayanan terhadap ibu. Minta ini itu, tanpa kita memikirkan apa balasan kita terhadap pelayanan yang telah diberikan ibu. Kita telah terlalu egois terhadap diri kita sendiri dan tidak memikirkan kepentingan orang lain terutama ibu yang setiap hari telah dengan sabar dan penuh kasih sayang selalu berupaya mencukupi kebutuhan hidup kita.
Kedua, kita lupa bahwa ibu adalah manusia juga yang memiliki banyak keterbatasan. Ya keterbatasan waktu, ya keterbatasan tenaga. Sementara dari sisi ekonomi, ibu umumnya dalam posisi lemah karena penghasilannya yang kecil akibat terbatasnya waktu untuk bekerja atau justru menggantungkannya pada suami karena ia sudah tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencari tambahan penghasilan. Anehnya, justru kita sering terlalu menuntut terhadap ibu dengan meminta sesuatu yang tak mungkin untuk dipenuhinya.
Ketiga, kita lupa bahwa ibu adalah orang yang memiliki perasaan dan hati nurani. Disaat kita merasa kecewa terhadap pelayanan ibu seperti masakan kurang enak, minuman kurang manis atau buah yang diberikan kurang segar, kita sering mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan ibu. Bahkan tidak jarang kita menohok dengan sikap dan perbuatan yang sungguh menyakitkan ibu, misalnya ngambek, tidak mau makan atau membuang makanan itu ke tempat sampah.
Sebenarnya menghargai ibu itu tidak harus dengan memberikan sesuatu yang istimewa, karena ibu dengan segala ketulusan hati dan kesadaran akan tugas tanggungjawabnya tidak pernah minta untuk diperlakukan secara berlebihan. Ibu juga tidak pernah minta dipuji atau disanjung-sanjung seperti anak kecil. Tidak pernah pula minta untuk dikasihani walaupun pekerjaannya selalu menumpuk dan tak pernah ada habis-habisnya. Sehingga menghargai ibu cukup ditunjukkan dengan sikap dan perbuatan yang sewajarnya, tidak dibuat-buat. Kita harus bersikap ramah terhadap ibu, jangan lukai perasaan dan jangan pula disakiti hatinya. Sepanjang kita mampu, kita wajib membantu pekerjaannya, atau paling tidak tidak menambah beban kerjanya. Kita juga harus pula memberi waktu buat ibu untuk beristirahat, agar badannya selalu segar dan sehat untuk melaksanakan tugas sehari-hari.
Namun dari semuanya itu yang lebih penting, sebagai anak kita harus mampu memberi penghormatan yang layak pada ibu. Kita harus mampu menempatkan ibu sebagai orangtua yang layak diteladani, didengarkan nasehatnya, dan dilaksanakan perintah-perintahnya. Jangan sekali-kali membantah perintah ibu sepanjang itu baik untuk dilakukan. Jangan pula seenaknya melanggar larangan ibu, karena sebenarnya semuanya itu baik untuk kita. Tidak ada seorang ibu pun di dunia ini yang menginginkan anaknya terjerumus dalam penderitaan, dunia kemaksiatan atau dunia kekerasan lainnya. Itu artinya, kita harus selalu berprasangka baik terhadap ibu. Banyaknya nasehat ibu yang sering kita anggap sebagai terlalu mencampuri urusan kita, semata-mata hanyalah ungkapan harapan ibu terhadap kita agar menjadi manusia yang baik dan berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa maupun bangsa.
Dengan demikian, memperingati hari ibu, tidaklah perlu dengan pesta pora yang menghabiskan dana sekedar untuk menyenangkan hati ibu sesaat. Namun yang perlu dilakukan adalah memberi penghargaan yang layak pada ibu melalui perenungan kembali akan peran dan jasa ibu sebagai pahlawan keluarga dan bangsa yang mendorong kita untuk bersikap dan berbuat baik pada ibu, menghormati posisinya sebagai orangtua serta selalu menempatkan ibu sebagai figur yang patut dicontoh dan diteladani. Dalam konteks yang lebih luas, seiring dengan semakin modernnya kehidupan yang memposisikan ibu sebagai salah satu penentu keberhasilan pembangunan di negeri ini, sudah selayaknya kita juga memberi kesempatan pada ibu untuk berbuat lebih banyak melalui peran dan fungsinya sesuai kapasitas atau potensi yang dimiliki. Terlebih kita sudah memahami, ibu bukan sekedar tiang keluarga, tetapi juga tiang negara. Sehingga optimal tidaknya ibu dalam memainkan peran dan fungsinya sebagai pendidik/pengasuh anak-anaknya maupun sebagai warga negara, akan menentukan wajah negeri ini di masa depan.

Rr. Esti Sutari, SPd.
Guru SMA N 2 Wates, Kulonprogo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s