MEMBANGUN KESADARAN REMAJA BERPERILAKU SEHAT Oleh: Fajar Uswatun Khasanah

Posted: September 20, 2011 in Artikel

PENDAHULUAN
Dalam Rencana Strategis Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana tahun 2010-2014 dijelaskan bahwa visi dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah pada tahun 2015 pertumbuhan penduduk Indonesia seimbang. Kata “seimbang“ di sini maksudnya adalah sesuai dengan kriteria Total Fertility Rate (TFR) adalah 2,1 dan Net Reproduction Rate (NRR) adalah 1.
Untuk mewujudkan visi tersebut ,BKKBN telah mencanangkan suatu misi pembangunan kependudukan dan keluarga berencana yaitu mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera. Misi ini dapat dilaksanakan melalui beberapa program diantaranya yaitu program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja.
Remaja merupakan salah satu komponen terbesar di Indonesia. Data pada tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah remaja usia 10-24 tahun mencapai 64 juta atau 28,6% dari total jumlah penduduk Indonesia sebanyak 222 juta (Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2000-2025, BPS, Bappenas, UNFPA, 2005). Pada tahun 2008 Badan Pusat Statistik mencatat ,populasi anak remaja diIndonesia mencapai tidak kurang dari 43,6 juta jiwa atau sekitar 19,64% dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini memang menurun dibanding tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan populasi penduduk Indonesia yang makin meningkat (tingkat kelahiran meningkat) dan juga banyak remaja yang umurnya sudah tidak tergolong remaja lagi.
Dengan jumlah yang cukup besar ini, tentunya remaja sebagai generasi penerus bangsa mempunyai potensi yang besar pula bagi negara. Oleh karena itu remaja harus mampu mencetak prestasi di segala bidang sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas. Untuk bisa menjadi generasi berkualitas,remaja harus mampu menghindari dan mengatasi permasalahan-permasalahan remaja yang cukup kompleks seiring dengan masa transisinya. Permasalahan tersebut diantaranya yaitu masalah seksualitas (kehamilan di luar nikah dan aborsi), terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS), HIV dan AIDS, serta penyalahgunaan Napza .Selain mengatasi masalah-masalah tersebut remaja juga diharapkan dapat menunda usia perkawinan sebagai usaha untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera.
Untuk dapat menghindari dan mengatasi permasalahan tersebut,remaja memerlukan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, diantaranya orangtua, lingkungan, institusi pendidikan, serta pemerintah. Namun begitu satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah kesadaran dari individu remaja itu sendiri untuk berubah dan menjadi generasi berprestasi. Dalam upaya menggapai itu semua tentu banyak masalah dan tantangan yang harus dihadapi oleh semua pihak,sehingga benar-benar diperlukan kerjasama yang baik antar pihak.

MASALAH DAN TANTANGAN REMAJA
Masa remaja merupakan masa transisi di mana seseorang mengalami peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini remaja mengalami beberapa proses perubahan, di antaranya perubahan psikologis dan perubahan biologis. Ada beberapa perubahan biologis yang dialami remaja yaitu munculnya ciri-ciri kelamin sekunder,peningkatan pertumbuhan,dan perubahan hormonal.
Ciri-ciri kelamin sekunder yang muncul pada remaja ada beberapa misalnya pada laki-laki,dada menjadi bidang, sedangkan pada wanita muncul payudara, tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin dan di ketiak, tumbuhnya kumis pada laki-laki, munculnya jakun pada laki-laki, perubahan suara,pada laki-laki suara makin membesar,sedangkan pada wanita suara makin nyaring, serta perubahan bentuk tubuh.
Peningkatan pertumbuhan yang terjadi dikarenakan meningkatnya jumlah hormon pertumbuhan dan hormon reproduksi dalam tubuh. Hormon-hormon ini bertanggungjawab dalam pertumbuhan. Perubahan hormonal dalam tubuh ditandai dengan meningkatnya kadar hormon reproduksi dalam tubuh seperti hormon testosterone, progesterone dan estrogen. Tiga hormone inilah yang bertanggungjawab dalam pembentukan emosi pada remaja. Pada wanita misalnya estrogen merupakan sad hormone, jadi bila terjadi peningkatan produksi hormon estrogen dalam tubuh misal saat menstruasi,wanita akan lebih sensitif dan sering marah-marah. Selain estrogen,ada juga progesterone yang merupakan happier hormone,jadi bila kadar progesterone meningkat maka level mood seseorang itu akan menjadi baik
Dengan adanya pengaruh hormon ini maka emosi remaja itu menjadi sangat labil. Remaja menjadi mudah marah dan terpengaruh. Emosi yang labil menjadikan remaja susah dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya terutama di dalam menanggapi pengaruh dari lingkungan pergaulan yang belum tentu baik. Dalam hal ini remaja sangat membutuhkan tempat pelarian dari masalah yang dihadapinya. Bila tempat pelariannya itu sesuatu yang baik itu tidak masalah tapi kalau buruk misalnya narkoba, itulah yang menjadi masalah. Bila sudah begini remaja akan mudah sekali terjerumus ke dalam masalah kompleks remaja. Berikut masalah-masalah kompleks yang sering di hadapi remaja, yaitu:
Pertama, masalah seksualitas. Masalah seksualitas menyangkut masalah pokok yakni seks pra nikah, Berdasarkan Survey Kesehatan Repoduksi Remaja Indonesia (SKRRI, 2002-2003) didapatkan bahwa remaja mengatakan mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia 14-19 tahun (perempuan 34,7%, laki-laki 30,9%), sedangkan usia 20-24 tahun (perempuan 48,6%,laki-laki 46,5%). Menurut survey yang dilakukan oleh Komnas Perlindungn Anak di 33 provinsi pada Januari s/d Juni 2008 menyimpulkan 1) 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno, 2) 93,7% remaja SMP dan SMA pernah berciuman, genital stimulation, oral seks 3) 62,7% remaja SMP tidak perawan, 4) 21,2% remaja mengaku penah aborsi. Faktor yang paling mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seksual (3x lebih besar) adalah 1) Teman sebaya/pacar; 2)Mempunyai teman yang setuju dengan hubungan seks pra nikah; 3) Mempunyai teman yang mempengaruhi untuk melakukan seks pra nikah (Analisa Lanjut SKRRI,2003).
Kedua, masalah aborsi/menggugurkan kandungan. Berdasarkan data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI, Rakyat Merdeka, Tahun 2006) yang merujuk pada data Terry Hull dkk. (1993) dan Utomo dkk. (2001) didapatkan bahwa 2,5 juta perempuan pernah melakukan aborsi per tahun, 27% (sekitar 700 ribu) dilakukan oleh remaja, dan sebagian besar dilakukan secara tidak aman. Sekitar 30-35% aborsi ini adalah penyumbang kematian ibu (307/100 ribu kelahiran) dan tercatat bahwa Angka Kematian Ibu (Mother Mortality Rate) di Indonesia adalah 10 kalilebih besar dai Singapura.
Ketiga, masalah.penyalahgunaan narkoba. Narkoba menjadi masalah yang cukup serius bagi generasi muda. Selain perkembangan kasusnya yang begitu pesat, merajalela di mana-mana, nakoba juga dapat meracuni generasi muda baik tubuh maupun pikirannya.Nakoba ini menjadi titk awal dari berbagai masalah social dan kriminalitas,misalnya perampokan. Berdasarkan data BNN 2004, menunjukkan bahwa 1,5% dari jumlah penduduk Indonesia (3.2 juta jiwa) adalah pengguna narkoba. Dari jumlah tersebut,78% diantaranya adalah remaja usia 20-29 tahun. Dari data tersebut bisa dilihat bahwa angka pengguna narkoba di Indonesia begitu besar. Hal ini membutuhkan penanganan yang cukup serius.
Keempat, masalah HIV dan AIDS. HIV dan AIDS adalah penyakit autoimun yang di sebabkan oleh Retrovirus.Penyakit ini menyerang system kekebalan tubuh penderita, sehingga karena system imunnya melemah penderita akan mudah terserang penyakit lainnya.HIV dan AIDS ini dapat menular lewat hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, dan ibu hamil kepada anaknya.HIV dan AIDS ini sangatlah mempengaruhi kehidupan penderitanya,bahkan merubahnya secara total. Penderitanya akan dikucilkan oleh masyarakat sehingga mereka meresa tidak percaya diri dalam melakukan segala aktivitasnya. Di Indonesia kasus ini sudah banyak terjadi,secara kumulatif jumlah kasus AIDS sampai September 2009 sebesar 18.442 kasus. Menurut 4 golongan usia tertinggi adalah usia 20-29 tahun 49,6%,usia 30-39 tahun 29,8%,usia 40-49 tahun 8,7%,dan usia 15-19 tahun 3,0%.

MEMBANGUN KESADARAN REMAJA BERPERILAKU SEHAT
Dari data di atas dapat di simpulkan bahwa masalah remaja Indonesia adalah 60% remaja mengaku telah mempraktekkan seks pra nikah,70% dari pengguna nakoba adalah remaja,50% dari pengidap AIDS adalah remaja.Jadi banyak remaja Indonesia yang terganggu kesempatannya untuk sekolah,bekerja,memulai keluarga,dan menjadi masyarakat yang baik.
Mendasarkan pada kasus-kasus yang terjadi, sudah barang tentu diperlukan upaya untuk membangun kesadaran remaja untuk dapat berperilaku sehat. Perilaku sehat yang dimaksud tidak hanya menyangkut motivasi atau keinginan untuk berperilaku sehat, tetapi sudah mencapai tahap implementasinya atau penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Sehubungan dengan hal tersebut, sebenarnya membangun kesadaran remaja untuk berperilaku sehat lebih mengarah bagaimana memberikan pengertian pada para remaja tentang perlunya memelihara kesehatan – yang dalam hal ini terkait dengan kesehatan reproduksi – sehingga para remaja memahami pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksinya hingga tetap terjaga dengan baik (kebersihan dan keamananannya hingga tidak terjadi hubungan seks pra nikah).
Telah menjadi pemahaman umum, perilaku merupakan diterminan kesehatan yang menjadi sasaran dari promosi untuk mengubah perilaku ( behaviour change ). Perubahan perilaku kesehatan sebagai tujuan dari promosi atau pendidkan kesehatan, sekurang- kurangnya mempunyai 3 dimensi, yakni: (1) Mengubah perilaku negative (tidak sehat) menjadi perilaku positif (sesuai dengan nilai – nilai kesehatan), (2) Mengembangkan perilaku positif (pembentukan atau pengambangan perilau sehat), (3) Memelihara perilaku yang sudah positif atau perilaku yang sudah sesuai dengan norma/nilai kesehatan (perilaku sehat).. Dengan perkatan mempertahankan perilaku sehat yang sudah ada. Perilaku seseorang dapat berubah jika terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan di dalam diri seseorang.
Ini semua mengharuskan kita untuk segera mengambil langkah strategis guna mengatasi masalah ini supaya generasi penerus bangsa ini bisa terselamatkan. Langkah yang bisa di ambil untuk membangun kesadaran remaja berperilaku sehat yaitu:
Pertama, penyuluhan rutin mengenai AIDS,Narkoba dan seks pra nikah kepada remaja baik bisa dilakukan di sekolah maupun secara umum. Penyuluhan selain melibatkan para remaja lewat Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja, juga lewat organisasi profesi seperti IBI atau IDI, lembaga swadaya masyarakat seperti PKBI, KPA, BNK, atau tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Kedua, diskusi ilmiah mengenai masalah remaja dengan menghadirkan orang yang sudah pernah mengalami,sehingga bisa berbagi pengalaman. Misalnya remaja yang terinveksi HIV diminta mengungkap pengalamannya..
Ketiga, mengadakan buku-buku yang khusus membahas masalah tersebut,dan dikemas secara menarik,misal dalam bentuk komik atau novel. Buku-buku atau novel ini bias ditulis oleh para remaja dengan bahasa mereka sehingga teman sebayanya yang menjadi sasaran menjadi lebih mudah memahami.
Keempat, memasukkan materi mengenai kesehatan reproduksi ke dalam materi pelajaran di sekolah. Materi kesehatan reproduksi ini di sekolah dapat disisipkan pada pelajaran biologi dan penjaskes untuk hal-hal yang bersifat pengetahuan anatomi dan medis, serta pelajaran Pendidikan Agama atau Kewargaan Negara untuk penanaman moral dan etika kepribadian..
Kelima, mengadakan penyuluhan kepada orangtua mengenai masalah remaja supaya orang tua lebih meningkatkan pengawasan terhadap anaknya. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) atau kelompok kegiatan lainnya.
Keenam, mengadakan kegiatan peduli remaja, seperti pemeriksaan kesehatan remaja, penyuluhan gizi remaja, pembinaan mental keagamaan, kegiatan pelatihan, dsb.
Itulah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk mencegah remaja supaya tidak terkena masalah tersebut.Namun begitu,usaha-usaha ini hanya bisa berhasil jika ada dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak.Setidaknya inidapat menjadi langkah awal untuk menyelamatkan masa depan bangsa ini.

KESIMPULAN
Remaja merupakan generasi penerus bangsa ini, yang nantinya akan memegang tonggak kepemimpinan bangsa. Oleh karena itu remaja harus menjadi generasi berkualitas dan prestatif. Generasi yang berkualitas akan terbentuk jika remaja dapat terhindar dari masalah remaja yaitu seks pra nikah, Narkoba, HIV dan AIDS serta aborsi. Untuk mencegah semua itu diperlukan langkah-langkah strategis seperti yang sudah diungkapkan di atas.Langkah-langkah ini perlu dukungan dan kerjasama dai berbagai pihak terutama orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

Alit Laksmiwati. 2011. Transformasi Sosial dan Perilaku Reproduksi Remaja. Yogyakarta: UGM
BKKBN. 2011. Panduan Penyelenggaraan Lomba Karya Tulis Program KB Nasional Provinsi DIY Tahun 2011. Yogyakarta: BKKBN DIY.
BKKBN. 2011. Rencana Strategis Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana Tahun 2010 – 2014. Jakarta: BKKBN Pusat
BKKBN. 2010. Panduan Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja). Yogyakarta: BKKBN Provinsi DIY.
BKKBN. 2010. Informasi Program Keluarga Berencana Nasional No 3 Tahun 2010. Jakarta: BKKBN Pusat.
BKKBN.2007. Modul Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: BKKBN Pusat
BPMPDP dan KB. 2008. Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak Rermaja. Wates: BPMPDP dan KB Kabupaten Kulon Progo.
Out Look. 2000. ”Kesehatan Reproduksi Remaja: Membangun Perubahan yang Bermakna”. Volume 16 Januari 2000
Sofia Retnowati. 2011. Remaja dan Permasalahannya. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s