MENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP

Posted: Mei 27, 2010 in Buku

MENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP

\

Oleh:
Jemingun, SPd
Drs. Mardiya

SANGGAR KARYA TULIS NIDYA PENA
KULON PROGO
2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah dan rahmat-Nya, sehingga saya mampu menyelesaikan penulisan buku pengayaan ini tepat pada waktunya.
Buku pengayaan yang berjudul “Mengelola Lingkungan Hidup” ini menguraikan segala sesuatu yang berkaitan pengelolaan dan upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Materi ini merupakan bahan pengayaan tentang bmasalah yang berkaitan dengan upaya memahami pengaruh kegiatan manusia terhadap keseimbangan lingkungan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa akhir-akhir ini banyak terjadi kasus-kasus kerusakan lingkungan hidup, sehingga dibutuhkan pemahaman yang benar akan perlunya mengelola lingkungan hidup tanpa harus mengganggu keseimbangannya..
Harapan kami, semoga buku ini bermanfaat dalam menambah pengetahuan dan wawasan pembaca yang budiman.

Yogyakarta, 27 Mei 2010
Penyusun
Jemingun, SPd
Drs. Mardiya

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………….. i
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………… ii
SURAT PERNYATAAN …………………………………………………………………. iii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………….. iv
BAGIAN I PENDAHULUAN …………………………………………… 1
BAGIAN II LINGKUNGAN HIDUP KITA ………………………… 4
BAGIAN III LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI
SUMBER DAYA ……………………………………………. 11
BAGIAN IV INTERAKSI MANUSIA DENGAN
LINGKUNGAN HIDUP ………………………………….. 17
BAGIAN V MENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI
UPAYA MEMPERBAIKI MUTU HIDUP ………….. 23
BAGIAN VI MENGELOLA SUMBER DAYA HAYATI ………. 31
BAGIAN VII MENGELOLA MEDIA LINGKUNGAN ………….. 54
BAGIAN VIII MENGELOLA SAMPAH ………………………………… 70
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………….. 79

BAGIAN I
PENDAHULUAN

Sampai kapan pun dan di mana pun, manusia tidak akan pernah lepas dari lingkungan hidupnya. Manusia bersama tumbuhan, hewan dan jasad renik lainnya menempati suatu ruang tertentu. Kecuali makhluk hidup, dalam lingkungan hidup mausia juga terdapat benda tak hidup, seperti udara yang terdiri atas berbagai macam gas, air dalam bentuk uap, cair dan padat, tanah dan batu.
Dalam kesehariannya, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Sesuai dengan sifatnya yang dapat mempengaruhi lingkungan, semakin bertambahnya jumlah populasi manusia dan semakin berkembangnya teknologi dan industri telah membawa pengaruh terhadap perubahan lingkungan.
Perubahan tersebut dapat positif dapat pula negatif. Dampak positif bila dengan bertambahnya populasi manusia serta berkembangnya teknologi dan industri menjadikan lingkungan hidup semakin terkelola dengan baik, kelestariannya terjaga dan produktivitasnya meningkat. perubahan ke arah negatif jika dengan bertambahnya populasi manusia dan berkembangnya teknologi dan industri membawa pengaruh buruk terhadap kelestarian lingkungan hidup. Misalnya terjadinya pengurasan sumberdaya alam, perusakan hutan, pecemaran baik oleh limbah domestik maupun limbah industri, dan sebagainya.
Demikian juga dengan sifat kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya, gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, dan sebagainya secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan manusia.
Pada masa sekarang ini, permasalahan lingkungan hidup telah mendapat perhatian yang besar di hampir semua negara, baik negara-negara industri maju maupu negara-negara berkembang karena mereka sama-sama memiliki masalah lingkungan walaupun bentuk dan sifatnya berbeda.
Sejak tahun 1970, negara-negara industri dihadapkan pada masalah lingkungan berupa pencemaran lingkungan akibat dari aktivitas pabrik dan industri lain yang menghasilkan limbah beracun pecemar tanah, air dan udara. Peristiwa yang yang terkenal adalah terjadinya pencemaran Teluk Minamata di Jepang oleh buangan pabrik yang mengandug unsur Mercuri (Hg). Unsur mercuri di teluk tersebut telah mencemari ikan yang hidup sedemikian tingginya sehingga mengakibatkan kelumpuhan orang yang memakan ikan tadi. Sementara di London dan banyak kota industri lainnya, telah lama mengalami masalah asap dan kabut (asbut) yang disebabkan oleh pembakaran batu bara untuk pemaasan rumah dan proses dalam industri.
Sedangkan di negara-negara berkembang, masalah lingkungan hidup yang terpenting adalah masalah kerusakan hutan, erosi, lahan kritis, banjir dan kekeringan. Semua peristiwa itu merupakan dampak baik langsung maupun tidak langsung dari pertumbuhan penduduk negara-negara berkembang yang jauh melampaui daya dukung lingkungannya yang mendorong terjadinya pengurasan sumberdaya alam dengan berbagai cara.
Atas dasar kenyataan tersebut, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tahun 1972 mengadakan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Stockholm pada tanggal 5 – 16 Juni 1972. Konferensi ini kemudian dikenal sebagai Konferensi Stockholm. Hari pembukaan konferensi ini, yakni 5 Juni, telah disepakati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Dalam konferensi tersebut telah disetujui banyak resolusi tentang lingkungan hidup yang digunakan sebagailandasan tindaklanjut. Salah satu di antaranya adalah didirikannya United Nations Environmental Programme (UNEP) yang merupakan badan khusus dari PBB yang ditugasi untuk mengurus permasalahan lingkungan. Badan ini bermarkas di Nairobi, Kenya.

BAGIAN II
LINGKUNGAN HIDUP KITA

Kita sudah mengetahui bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari ligkungan hidupnya. Apa sesungguhnya lingkungan hidup itu? Yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraaan manusia serta makhluk hidup lainnya (Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup)
Lingkungan hidup sama pengertiannya dengan biofera, karena biosfera berasal dari kata bio yang berarti hidup dan sphaira yang berarti lingkungan. Jadi biosfera berarti lingkungan hidup. Lingkungan hidup ini dalam pengertian geografi meliputi sebagian litosfer, atmosfer dan seluruh hidrosfer dengan segenap makhluk hidup penghuninya beserta segala aktiivtasnya. Pada litosfer makhluk hidup hanya dijumpai dari permukaan litosfer sampai beberapa ratus meter dalamnya dari permukan, pada atmosfer kehidupan hanya dijumpai sampai ketinggian 6.000 meter, sedang pada hidrosfer di palung laut paling dalam pun masih ada kehidupan.
Dari dua pengertian di atas dapat diketahui bahwa lingkungan hidup terdiri dari dua komponen utama, yaitu komponen biofisik dan komponen sosial budaya. Komponen biofisik tersusun atas semua benda (cair, padat, gas) dan makhluk hidup (hewan, tumbuhan, manusia) dengan segala daya, keadaan dan aktivitasnya. Komponen biofisik ini terdiri atas komponen biofisik alami dan komponen biofisik buatan. Sedangkan komponen sosial budaya dibentuk oleh susunan masyarakat manusia dengan segala aktivitasnya yang secara langsung maupun tidak langsung berperan terhadap individu maupun masyarakat lainnya.
Sebagai suatu totalitas atau kesatuan dari berbagai usur yang merupakan suatu sistem, kondisi lingkungan hidup dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang berpengaruh tersebut diantaranya adalah faktor fisis (abiotis) dan faktor biotis.
1. Faktor Fisis
Faktor-faktor fisis yang mempengaruhi keadaan lingkungan hidup adalah iklim, tanah, air dan relief.
Iklim terdiri atas beberapa unsur antara lain: suhu, sinar matahari, angin dan susunan udara. Suhu dan sinar matahari merupakan faktor yang penting untuk proses fotosintesis bagi tumbuh-tumbuhan. Tanpa adanya sinar matahari, zat hijau daun tidak dapat mengadakan proses fotosintesa. Hewan membutuhkan zat-zat organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan mengeluarkan CO2. sedangkan gas CO2 ini sangat berguna bagi proses transpirasi yang dilakukan oleh tumbuhan. Udara kering berguna bagi pembentukan bunga dan proses pematangan buah. Unsur-unsur iklim tersebut sangat berpengaruh terhadap penyebaran flora dan fauna di dunia.
Tanah merupakan tempat tumbuh dan tegaknya tanaman. Oleh sebab itu tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan. Selain itu tanah merupakan sumber air bagi kehidupan, karena di dalam tanah terdapat kandungan air yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup terutama tumbuh-tumbuhan. Tanah yang kering tidak akan ada tumbuh-tumbuhan, akibatnya juga tidak ada jenis-jenis hewan. Dengan demikian jelas tanah memiliki pengaruh yang sanat besar terhadap keadaan lingkungan hidup.
Air mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi sebagian besar makhluk hidup. Tanpa air vegetasi tidak mungkin dapat tumbuh. Bahkan ada jenis-jenis vegetasi tertentu yang justru harus tumbuh di dalam air. Misalnya enceng gondok dan ganggang,. Jenis-jenis vegetasi semacam itu tidak bisa tumbuh hanya dengan disiram atau mendapat air tanah. Hewan juga sangat terpengaruh oleh air, tanpa adanya air hewan akan mati kehausan. Bahkan banyak jenis-jenis hewan yang harus tumbuh di dalam air. Misalnya berudu (kecebong) dan jentik-jentik nyamuk. Berudu, harus hidup di dalam air, walaupun setelah dewasa mereka hidup di darat. Demikian juga dengan jentik-jentik nyamuk. Selain itu ada jenis-jenis hewan yang harus hidup di dalam air semenjak lahir hingga akhir hidupnya. Misalnya berbagai jenis ikan. mereka membutuhkan air yang banyak untuk berenang, bernafas dan berkembang biak. Tanpa air jenis-jenis ikan tersebut tidak dapat hidup. Manusia juga sangat memerlukan air dalam kehidupannya, baik untuk kebutuhan tubuh (minum) supaya badan kita tidak kekurangan zat cair atau untuk amandi, mencuci, beternak, bercocok tanam dan lain-lain. Tanpa adanya air jelas kehidupan manusia akan terganggu, bahkan dapat punah. Dari uraian ini jelas bagi kita bahwa makhluk hidup sangat dipengaruhi oleh air dan sangat tergantung pada air. Dengan demikian keadaan lingkungan hidup juga dipengaruhi oleh air.
Relief di samping sangat penting bagi pertumbuhan tanaman juga sangat berpengaruh terhadap banyak sedikitnya hujan pada suatu daerah. Relief juga berpengaruh terhadap temperatur, tenkanan udara, kelembaban di suatu daerah. Kondisi ini akan mengakibatkan adanya berbagai jenis tumbuhan dengan jenis-jenis tumbuhan tertentu pada suatu ketinggian yang tertentu pula. Hal ini akan lebih jelas jika kita melihat persebaran vegetasi menurut Junghuhn pada daerah pegunungan. Relief juga berpengaruh terhadap kebudayaan manusia atau setidak-tidaknya kebiasaan hidupnya. Orang yang tinggal di daerah pegunungan akan membuat rumah dengan sedikit ventilasi supaya udara di dalam rumah tidak dingin. Pakaian yang dipakai biasanya tebal atau hangat agar tubuh tidak kedinginan. Sebaliknya orang yang tinggal di dataran rendah akan membuat rumah dengan ventilasi yang banyak supaya udara dalam rumah tidak panas dan pakaian yang digunakan biasanya terbuat dari kain yang tipis supaya tidak merasa panas. Dari sini jelas bagi kita bahwa relief sebagai salah satu faktor fisik memiliki pengaruh terhadap keadaan lingkungan hidup suatu daerah.
2. Faktor Biotis
Faktor biotis yang berpengaruh terhadap lingkungan meliputi flora, fauna dan manusia. Tumbuh-tumbuhan yang besar dan berdaun lebar melindungi tumbuh-tumbuhan yang ada di bawahnya atau di antaranya. Hewan yang lebih besar sebagai tempat yang lebih nyaman bagi hewan yang lebih kecil. Di antara ketiga faktor biotis di atas, manusia memegang peranan yang sangat menentukan. Tanah yang tertutup hutan dengan baik, bisa menjadi gundul karena kelakuan manusia. Begitu juga sebaliknya, tanah yang semula tandus dapat menjadi hutan kembali karena perlakuan manusia pula.
Pada zaman modern ini, manusia menjadi pelaku yang menentukan bagi pertumbuhan. Tanaman padi yang tumbuh kurang baik, karena dipupuk, disemprot dengan obat pemberantas hama, disiangi dan diairi maka akan tumbuh dengan subur sehingga hasilnya memuaskan. Hutan yang berfungsi sebagai hutan lindung, karena perlakuan yang salah oleh manusia dapat menimbulkan banjir bagi daerah hilir. Jika menusia sadar akan arti lingkungan, maka hutan lindung tentu tidak akan dijadikan daerah pertanian apalagi dijadikan daerah industri. Dalam kaitannya dengan ini manusia sebagai pengatur pertumbuhan perlu di hati-hati dalam bertindak agar lingkungan hidup yang ada tidak menjadi rusak.

Gambar 1. Karena ulah manusia, hutan yang multi manfaat akhirnya menjadi rusak
Kalau kita berbicara tentang lingkungan hidup, kita tentu akan membahas pula tentang mutu dan kualitas lingkungan hidup. Apa maksudnya? Mutu atau kualitas lingkungan hidup mengandung pengertian suatu keadaan lingkungan yang ditinjau dari berbagai segiyang terutama dikaitkan dengan kepentingan hidup manusia. Suatu lingkungan hidup dikatakan bermutu atau berkualitas baik jika berpengaruh positif atau menunjang terhadap kepentingan hidup makhluk hidup pada umumnya dan manusia pada khususnya.
Pada awalnya masalah mutu atau kualitas lingkungan hidup dikaitkan dengan kepentingan manusia yang paling hakiki, yaitu kesehatan. Oleh karena itu maka kualitas lingkungan mula-mula diukur dari segi ini. Hal ini dapat dimengerti karena masalah kesehatan manusia adalah yang paling peka untuk dirasakan oleh manusia. Tingkat berikutnya, kualitas lingkungan menyangkut soal kenyamanan, keindahan, ketidakserasian, ketidaklancaran dan semua hal yang bersangkut paut denagn persepsi manusia atas lingkungan hidupnya. Tingkat yang paling tinggi adalah yang menyangkut fungsi ekosistem, yang secara tidak langsung akan berpengaruh pula terhadap manusia.
Kualitas lingkungan dengan demikian menjadi sangat subyektif penilainya dan sangat tergantung pada berbagai segi peningkatan. Jika kualitas lingkungan didasarkan imbangnya dengan derajat pencemaran yang ada, makin kecil pencemaran berarti makin tinggi kualitas lingkungan. Jika dilihat dari segi daya dukung, maka kualitas lingkungan dapat dipandang dari ukuran daya dukungnya, makin tinggi makin kualitasnya. Sementara itu, Otto Soemarwoto memberi pengertian secara sederhana bahwa mutu atau kualitas lingkungan yang baik ,membuat orang kerasan hidup dalam lingkungan tersebut. Perasaan kerasan itu bisa disebabkan karena orang mendapat rezeki yang cukup, iklim dan faktor alamiah lainnya yang sesuai dan masyarakat yang cocok pula. Dengan demikian persepsi orang per orang terhadap mutu atau kualitas lingkungan hidup sifatnya sangat subyektif.
Kualitas lingkungan hidup yang mula-mula lebih bersifat material kemudian bergeser pula pada nilai-nilai yang nonmaterial juga. Karena itu maka indikator-indikator yang dapat dipergunakan untuk menyatakan kualitas lingkungan juga akan sangat bervariasi. Secara umum indikator kualitas lingkungan ini dapat dibedakan atas indikator yang menyatakan ketersediaan Sumberdaya dan indikator yang menyatakan ketiadaan pencemaran, dan ini masih dalam kriteria material. Sebagai contoh misalnya kualitas air bagi perikanan antara lain ditentukan oleh kandungan oksigen terlarut (ketersediaan sumberdaya), dan kadar deterjen (bahan pencemar). Jika jumlah oksigen terlarut cukup banyak melebihi batas kebutuhan, maka dikatakan kualitas air tersebut bagi perikanan sukup baik, sedang jika kadar deterjen dalam air cukup tinggi maka dapat dikatakan bahwa kualitas air rendah.
Pengendalian kualitas lingkungan dikemudian hari akan merupakan bagian dari pembangunan yang tidak dapat dilepaskan dari pembangunannya itu sendiri. Kriteria kualitas lingkungan dapat dijadikan kriteria ukuran keberhasilan pembangunan itu sendiri.

BAGIAN III
LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI SUMBER DAYA

Dengan mengaitkan mutu atau kualitas lingkungan hidup dengan derajat kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (kebutuhan hidup yang esensial) berarti lingkungan itu merupakan sumberdaya. Dari lingkungan itu kita mendapatkan unsur-unsur yang kita perlukan untuk produksi dan konsumsi. Sebagian dari sumberdaya itu dimiliki oleh perorangan atau dan badan tertentu, misalnya lahan dan sepetak hutan. Sebagian lagi sumberdaya itu milik umum, misalnya udara, sungai, pantai, laut, ikan laut, tumbuhan laut dan sebagainya. Udara misalnya kita perlukan untuk menjalankan mesin kita, karena dalam udara itu terdapat gas oksigen. Jika tidak ada udara meisn tidak dapat berjalan.
Air adalah faktor lain yang kita perlukan untuk berproduksi. Perikanan, peternakan dan pertanian jelas tidak mungkin berjalan tanpa adanya air. Pabrik juga memerlukan air untuk memproses bahan baku menjadi barang jadi, untuk mendinginkan mesin dan untuk mengangkut bahan-bahan sisa atau limbah.
Udara dan air, kecuali sebagai faktor produksi merupakan juga unsur lingkungan yang kita konsumsi. Udara kita konsumsi untuk pernafasan kita dan air untuk kebutuhan minum, mandi, mencuci dan keperluan rumah tangga lainnya.
Sumberdaya milik umum dapat digunakan oleh semua orang tanpa dipungut bayaran, misalnya kita menggunakan udara untuk pernafasan, untuk pembakaran mesin dan sebagainya tanpa membayar. Kita juga dapat bebas memuat sumur dan menggunakan air tanahnya untuk keperluan kita. Kita dapat menggunakan sungai atau laut untuk pelayaran atau menangkap ikan serta menikmati hawa segar dan pemandangan indah daerah pegunungan.
Sumberdaya lingkungan milik umum sering digunakan untuk berbagai macam kebutuhan. Misalnya air sungai digunakan sekaligus untuk melakukan proses produksi dalam pabrik, untuk keperluan rumah tangga (mandi, mencuci, memasak dan kadang-kadang untuk minum), untuk mengangkut limbah, untuk pelayaran dan produksi ikan.

Gambar 2. Bagi penduduk, sungai sebenarnya banyak memberi manfaat.
Namun bila tidak dijaga kebersihannya, manfaat itu akan
terus berkurangnilainya, bahkan menjadi sumber penyakit.

Sumberdaya lingkungan secara garis besar dibedakan atas dua kelompok besar, yaitu :
1. Sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resources)
Sumberdaya ini sifatnya dapat terbarukan karena memiliki daya regenerasi dan asimilasi. Daya regenerasi artinya daya untuk mampu mengganti yang baru jika ada sudah diambil, sedangkan daya asimilasi adalah daya untuk menetralkan atau menghilangkan pengaruh-pengaruh negatif yang dapat merusak sumberdaya. Sebagai contoh, apabila ikan laut dieksploitasi, laut itu memiliki daya regenerasi sehingga ikan itu tidak habis. Demikian pula jika limbah dibuang ke sungai atau laut, sungai dan laut mempunyai daya untuk mengasimilasi limbah itu dan membuatnya menjadi tidak menganggu atau beracun.
Jenis sumberdaya yang dapat diperbaharui ini meliputi :
a. Sumberdaya energi, yaitu air, angin dan sinar matahari
b. Sumberdaya alam nabati, yaitu hasil-hasil pertanian, perkebunan dan hutan.
c. Sumberdaya hewani, yaitu peternakan dan perikanan.
Meskipun sumberdaya yang dapat diperbaharui ini memiliki daya regenerasi dan asimilasi, namun daya regenerasi dan asimilsi juga ada batasnya. Selama eksploitasi dan permintaan pelayanan ada di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, sumberdaya terbaharui itu dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi jika batas itu terlampaui, sumberdaya itu akan mengalami kerusakan dan fungsi sumberdaya itu sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan.
2. Sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources)
Sumberdaya jenis ini memang tidak dapat dipulihkan kembali setelah digunakan, atau jika dipulihkan tidak menguntungkan karena biaya pemulihan lebih besar dari pada hasilnya. Sumberdaya ini meliputi :
a. Sumberdaya mineral
Misalnya timah, alumunium, tembaga, emas, perak, nikel, nijih besi, magnesium, seng, mangan dan sebagainya.
b. Sumberdaya energi
Meliputi : minyak bumi, gas alam dan batubara.
Pemanfaatan jenis sumberdaya ini harus lebih hati-hati dan efisien. Sebab dengan adanya pemborosan pemakaian jenis sumberdaya ini akan berakibat fatal yaitu jenis Sumberdaya ini akan habis dan sebagai gantinya sulit sekali dicari. Sebagai contoh pemborosan pemakaian minyak bumi akan mengakibatkan persediaan jenis sumberdaya ini cepat habis sehingga akan terjadi krisis energi. Begitu juga dengan barang tambang yang lain misalnya bijih besi, nikel, mangan dan sebagainya. Pengurasan Sumberdaya mineral ini dapat menyebabkan persediaan di alam cepat habis dan gantinya tidak mungkin terbentuk dalam waktu yang singkat karena mineral-mineral tersebut terbentuk melalui berbagai proses geologi yang rumit dan lama. Menyadari akan hal tersebut, disamping manfaat jenis sumberdaya mineral dan energi ini sangat besar bagi kehidupan dan sangat berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak, maka pengelolaannya dapat terkontrol serta dapat dipertanggungjawabkan.
Dari dua jenis sumberdaya tersebut sebagian memang merupakan sumberdaya lingkungan milik umum yang dapat digunakan tanpa atau hanya dengan pungutan bayaran yang ringan saja. Akibatnya unit produksi maupun unit konsumsi cenderung memaksimumkan pemanfaatannya, sehingga mudah terjadi pemanfaatan yang tidak rasional. Misalnya, orang menangkap ikan dengan racun hama atau dengan bahan peledak dengan maksud untuk mendapatkan hasil yang besar dengan mudah dalam waktu singkat. Namun dengan cara ini, ikan-ikan yang kecil dan jenis makhluk hidup yang lain yang sebenarnya tidak ingin ditangkap dan dimanfaatkan ikut mati. Habitat ikan itu pun mengalami kerusakan. Teknologi modernpun dapat juga menyebabkan pemanfaatan yang tidak rasional. Misalnya pukat harimau dalam perikanan menyebabkan penangkapan ikan yang berlebih. Akibatnya stok ikan akan terus menurun, karena tak mampu untuk meregenerasi diri dari eksploitasi yang berlebih itu. Oleh sebab itu penggunaan pukat harimau dilarang di Indonesia.
Pembuangan limbah ke udara dan ke perairan (danau, sungai, laut) oleh pabrik-pabrik juga terus bertambah. Pada banyak tempat telah tampak adanya gejala-gejala bahwa daya udara dan air untuk mengasimilasi limbah itu telah dilampaui dan menghadapkan kita pada masalah pencemaran. Dengan adanya pencemaran itu peruntukan undara untuk pernafasan dan peruntukan air untuk rumah tangga telah terganggu.
Hal yang memprihatinkan adalah meskipun masing-masing unit produksi dan unit konsumsi berusaha untuk memaksimumkan keuntungan dari pemanfaatan sumberdaya milik umum itu, namun mereka sedikit atau tidak bertanggung jawab atas pemeliharaan sumberdaya itu. Ketiadaan atau sedikit adanya perasaan bertanggung jawab itu mengakibatkan pula pemanfaatan sumberdaya yang tidak rasional. Oleh sebab itu untuk menghindari penggunaan yang tidak rasional itu diperlukan campur tangan pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya alam itu.

BAGIAN IV
INTERAKSI MANUSIA DENGAN LINGKUNGANNYA

Masalah lingkungan hidup pada hakekatnya tidak pernah lepas dari aspek manusia, karena pada dasarnya manusia dengan lingkungan selalu terjadi hubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Kalau kita mempelajari sejarah peradaban manusia, ternyata terlihat adanya usaha manusia untuk selalu meningkatkan dan menyempurnakan kesejahteraan hidupnya, yaitu dalam rangka mempertahankan jenisnya. Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup itu mereka berhubungan dengan lingkungannya.
Semula peradaban manusia itu dimulai dari hidup mengembara (nomaden), hidup dari hasil perburuan, mencari buah-buahan, dan umbi-umbian yang terdapat dalam hutan. Mereka belum mengenal bercocok tanam. Hidup mereka dalam kelompok-kelompok kecil dengan tempat tinggal di gua-gua atau di bawah pohon besar. Mereka tidaklah menetap, melainkan selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mulai berpindah jika hewan buruannya mulai berkurang.
Lambat laun populasi mereka bertambah banyak, akibatnya cara hidup yang sangat sederhana di atas mulai dirasakan tidak memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mulailah mereka mencoba hidup dengan bercocok tanam sekalipun masih dalam taraf yang paling sederhana. Hal ini didukung oleh perkembangan peradaban yang memungkinkan mereka menemukan alat-alat pertanian walaupun masih dalam tingkat sederhana. Mereka mulai membuka hutan untuk dijadikan ladang dan ditanami tanaman yang biasa mereka makan seperti umbi-umbian dan buah-buahan. Tempat tinggal mereka juga sudah menjadi sebuah rumah yang dibuat dari kayu dan atapnya terdiri dari daun-daunan. Jika tanah tidak lagi menghasilkan atau berkurang hasilnya, mereka berpindah ke tempat yang baru. Di tempat yang baru tersebut mereka menebang hutan lagi untuk selanjutnya ditanami sejenis tanaman seperti yang mereka tanam sebelumnya. Demikian terus menerus, sampai pada suatu saat mereka kembali pada tanah pertama yang telah mereka tinggalkan belasan atau puluhan tahun yang lalu. Cara bertani yang demikian disebut sistem ladang.
Pada periode bertani sistem ladang mereka sudah mulai memperhatikan ada tidaknya sumber air. Agaknya mereka menyadari pentingnya sumber air ini bagi usaha-usaha pertanian mereka. Oleh sebab itu mereka suka memilih daerah-daerah yang dekat dengan sumber air, seperti daerah yang dekat sungai atau dekat danau. Di samping mereka bercocok tanam, mereka juga mulai mengenal pekerjaan memelihara ternak.
Sistem ladang ini semula memiliki siklus yang cukup lama, yaitu sekitar 20 tahun mereka baru kembali ke tanah semula. Namun akibat jumlah penduduk yang selalu bertambah, maka siklusnya semakin pendek, yaitu hanya sekitar 15-16 tahun sudah kembali ke tanah pertama yang pernah mereka tinggalkan.
Dari semua pengalaman di atas, lalu mereka berusaha bertempat tinggal secara tetap. Mereka mulai lebih baik, misalnya bersawah, menanam palawija dan sebagainya. Pada saat inilah manusia mulai mengenal lingkungan hidupnya.
Pada saat manusia telah mulai mengenal dan mengatur lingkungannya, berarti saat itu peristiwa interaksi dan interdependensi semakin jelas terlihat. Adanya hubungan timbal balik ini menimbulkan dampak. Dampak merupakan akibat adanya campur tangan manusia pada lingkungan hidupnya. Jadi dapat dikatakan dampak tidak mesti positif, namun juga negatif.
Pada tahap berikutnya penduduk mulai mengenal pertukangan, pertambangan dan industri sehingga pengolahan sumber-sumber alam semakin meningkat. Kenyataan terebut akan menambah kesejahteraan penduduk. Namun adanya kesejahteraan yang meningkat ternyata diikuti oleh pertambahan penduduk yang cepat. Akibatnya sumber alam diolah secara cepat dan luas, terus menerus tanpa istirahat. Hal ini membawa dampak bagi penduduk. Dampak tersebut dapat positif dapat juga negatif. Berdampak positif karena dengan usaha tersebut dapat mendatangkan kemakmuran dan berdampak negatif karena dengan usha tersebut membawa konsekuensi kerusakan dan pengurasan sumber alam.
Dampak positif dari pemanfaatan sumber alam tersebut tidak menjadi masalah bagi manusia, namun dampak negatifnya perlu menjadi perhatian yang serius, karena dampak negatif ini akan menjadi masalah lingkungan hidup yang dapat mengganggu perkembangan atau bahkan mengancam kehidupan manusia.
Berbagai kasus telah membuka mata kita akan dampak negatif dari usaha-usaha manusia modern dalam memenuhi kebutuhan melalui kegiatan industri transportasi dan jasa serta limbah yang dihasilkan oleh penduduk itu sendiri. Sebagai contoh, orang Inggris menghasilkan limbah 680 gram per orang per hari, sehingga Pemerintah Indonesia kesulitan mencari tempat pembuangan limbah. Belum lagi masalah sampah yang mermbah hampir di semua negara atau daerah yang berpenduduk padat, termasuk di daerah perkotaan di Indonesia.
Sementara itu bahaya polusi makin hari makin serius. Semua kota seperti Sydney (Australia), Milan (Italia), New York, Los Angeles (Amerika Serikat) dan kota-kota lainnya di dunia menderita polusi akut, polusi udara, polusi air, pulosi suaran dan polusi budaya. Pada tahun-tahun terakhir ini London misalnya, smog pada tahun 1954 telah menyebabkan 4.000 penduduk meninggal. Peristiwa kebocoran pabrik di Baphal menyebabkan polusi udara yang merenggut banyak jiwa dan menyebabkan banyak manusia menjadi cacat. Juga peristiwa yang terjadi di Chernobyl (Kiev), karena bocornya pusat listrik tenaga nuklir menyebabkan beratus-ratus orang meninggal dunia dan akan banyak orang mengalami sakit yang menahun.
Suatu hal yang patut disayangkan, walaupun pada saat ini tingkat pendidikan dan ketrampilan penduduk sudah berkembang pesat, namun ternyata masih banyak penduduk yang kurang sadar akan arti lingkungan demi kelangsungan hidup mereka dan manusia pada umumnya. Beberapa penduduk, entah sadar entah tidak, melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat merugikan atau merusak lingkungan hidup yang justru dampaknya akan mereka rasakan sendiri. Misalnya :
1. Berburu binatang yang dilindungi undang-undang, sehingga mengancam kepunahan jenis binantang tertentu. Contohnya badak bercula satu di Ujung Kulon, banteng di Blauran, dan sebagainya. Perburuan kadang-kadang disertai pembakaran hutan. Akibatnya hutan menjadi rusak, kena erosi dan timbul banjir. Pada musim kemarau dapat kekurangan air karena sungai dan mata air mengering.
2. Menangkap ikan dengan bahan peledak, listrik atau dengan racun. Hal ini dapat mengakibatkan kelangsungan hidup bibit ikan terganggu.
3. Pencurian kayu hutan atau penebangan hutan secara sembarangan. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya erosi, tanah longsor, banjir, bahkan kekeringan dan tanah tandus.
4. Menggembala ternak secara sembarangan, sehingga merusak selokan air irigasi, pematang atau sengkedan.
5. Membuang limbah secara sembarangan, sehingga mencemari udara juga air, tanah, yang selanjutnya dapat mengganggu kesehatan penduduk.

Gambar 3. Akibat pembuangan sampah secara sembarangan, sungai yang
mestinya menjadi sumber kehidupan justru menebar bau taksedap.
Sekarang jelas kiranya, kegiatan yang dilakukan manusia memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan hidup di mana mereka tinggal. Meskipun demikian bukanlah berarti bahwa orang yang berdiam diri tidak membawa pengaruh pada lingkungan. Kiranya perlu kita ketahui bahwa berdiam diri pun menimbulkan dampak.
Dari uraian tersebut sekarang jelas sekali terlihat bahwa masalah lingkungan hidup tidak dapat terlepas dari masalah penduduk. Apalagi pada zaman modern ini pengaruh penduduk terhadap lingkungan terlihat semakin dominan. Oleh sebab itu berkaitan dengan masalah tersebut sebelum pembicaraan masalah lingkungan hidup di Indonesia, terlebih dahulu akan dibicarakan kondisi kependudukan di Indonesia baik kuantitas maupun kualitasnya.

BAGIAN V
MENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI
UPAYA MEMPERBAIKI MUTU HIDUP

Manusia modern dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat melepaskan diri dari penerapan teknologi, karena manusia modern tidak sekedar menjalani hidup akan tetapi telah menempatkan kenikmatan hidup sebagai salah satu sikap dan perilakunya dalam mencapai kebahagiaan. Sebagai konsekuensi dari perilaku manusia modern ini, maka kebutuhan untuk kehidupan yang dimabil dari lingkungannya tidak lagi sebatas subsistensi (jumlah yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi-fungsi hidup) akan tetapi telah meningkat pada jumlah kebutuhan yang berlebih. Jumlah sumberdaya alam yang dibutuhkan semakin diperbesar lagi oleh pertumbuhan populasi manusia dan penemuan-penemuan baru berkat perkembangan sains dan teknologi. Akibatnya, sumberdaya alam dikuras serta dari kegiatan produksi dan konsumsi benda-benda keperluan hidup sehari-hari akan dihasilkan hasil samping berupa limbah yang dapat mencemari lingkungan. Limbah tersebut dibuang ke media lingkungan, yaitu air, udara dan tanah. Sebagai akibat lebih lanjut dari pencemaran, terjadi kerusakan dan mungkin kepunahan komponen biotik dalam ekosistem. Komponen biotik ini meliputi hewan, tumbuh-tumbuhan, jasad renik dan manusia itu sendiri. Kerusakan komponen biotik menyebabkan daur biogeokimiawi, yaitu daur-daur materi dan aliran energi dalam ekosistem terganggu.
Ketimpangan daur ekosistem akan mengakibatkan sumberdaya alam semakin turun kualitasnya dan juga kuantitasnya, yang akan dipuncaki dengan kepunahan Sumberdaya alam tersebut. Jika hal ini terjadi maka daya dukung lingkungan untuk kehidupan mansuia dan makhluk hidup lainnya akan menjadi turun, sehingga (kelestarian) populasi manusia menjadi terancam. Dengan demikian untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi sampai pada akhir jaman perlu dilakukan pengelolaan lingkungan yang bijaksana.

Gambar 4. Kita harus bersyukur karena telah diberi anugrah berupa tanah
yang subur dan air yang melimpah. Ini harus dijaga kelestariannya,
agar dapat kita turunkan pada anak cucu kita.

Menurut Otto Soemarwoto (1989), pengelolaan lingkungan dapat diartikan sebagai usaha secara sadar untuk memelihara dan atau memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar manusia dapat terpenuhi sebaik-baiknya. Sedangkan menurut UU No. 4 Tahun 1982, pengelolaan lingkungan hidup diartikan sebagai upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan dan pengembangan lingkungan hidup. Dari pengertian tersebut ada dua hal yang harus ada dalam pengelolaan lingkungan hidup yang bijaksana, yaitu upaya pemanfaatan lingkungan untuk mencapai kebutuhan hidup dan usaha pelestarian lingkungan hidp agar tidak terjadi ketidakseimbangan ekosistem.
Perencanaan dan pengelolaan lingkungan hanya akan berhasil baik jika bertumpu pada pengembangan sains dan teknologi, sehingga penerapan teknologi pada masyarakat tidak semata-mata teknologi eksploitasi, melainkan juga teknologi yang mampu mengarahkan perencanaan dan pengelolaan lingkungan dan sekaligus memberikan koreksi terhadap ketimpangan daur ekosistem yang selama ini terjadi.
Pengelolaan lingkungan hidup yang dapat meningkatkan mutu kehidupan manusia tanpa merusak lingkungan pada masa-masa sekarang dan masa yang akan datang sangat diperlukan. Oleh sebab itu menurut Emil Salim, pemanfaatan sumberdaya alam harus bijaksana dan berwawasan lingkungan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup rakyat sepanjang masa. Berkaitan dengan masalah tersebut, maka dalam mengolah sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui, perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1. Terbatasnya jumlah dan kualitas sumberdaya alam.
2. Lokasi sumberdaya alam serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan masyarakat dan pembangunan daerah.
3. Penggunaan hasil sumberdaya alam agar tidak boros.
4. Dampak negatif pengolahan yang berupa limbah dipecahkan secara bijaksana, termasuk pembuangannya. Apakah ke dalam tanah, ke dalam sungai, ke udara, limbah buangan harus sudah dinetralisir sehingga tidak mencemari lingkungan hidup.
Sedangkan dalam pengolahan Sumberdaya alam yang dapat diperbaharui perlu memperhitungkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Cara pengolahan hendaknya dilakukan secara serentak disertai proses pembaruannya
2. Hasil penggunaannya sebagian untuk menjamin pembaruan Sumberdaya alam
3. Penerapan teknologi yang tepat sehingga teknologi yang dipakai tidak merusak kemampuan Sumberdaya alam untuk diperbaharui.
4. Dampak negatif pengolahannya ikut dikelola
Masih berkaitan dengan pengelolaan lingkugan hidup, agar dapat dicapai pengembangan lingkungan hidup yang ideal yang dapat dijadikan pedoman dalam pengelolaan lingkungan hidup, yaitu:
1. Bahwa segala zat, benda, organisme hidup dan lain-lain hal dalam lingkungan saling berkaitan sesamanya. Oleh karena itu setiap usaha yang menyangkut zat, benda dan organisme tertentu langsung berinteraksi dengan zat, benda dan organisme hidup lainnya di bagian lain dalam lingkungan. Hubungan interaksi ini bisa intensif dan segera terasa dalam waktu pendek, bisa pula bersifat tidak langsung dan baru terasa setelah lewat beberapa waktu.
Contoh pengaruh langsung yang segera terasa, yaitu penebangan hutan di hulu sungai, menyebabkan terjadinya erosi di bagian hulu dan besarnya pengendapan lumpur pada bagian hilir. Contoh pengaruh tidak langsung yang dalam jangka lama baru terasa akibat, yaitu tercemarnya air sungai oleh logam berat. Seperti kitaketahui bahwa dalam air hidup berbagai jenis ikan yang biasa dimakan oleh penduduk. Penduduk baru menderita penyakit puluhan tahun kemudian setelah memakan jenis ikan yang hidup pada air yang tercemar.
2. Bahwa sesuatu yang dibuang dalam lingkungan alam tidak akan hilang. Limbah industri yang dibuang bisa dianggap hilang oleh pengusaha industri. Namun limbah itu sebetulnya hanya pindah tempat, masuk ke lingkungan air, udara dan tanah. Hal ini dapat mengganggu kesehatan masyarakat di tempat atau lingkungan yang lain.
3. ekosistem terbentuk sebagai hasil perkembangan alam dalam ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun.
Untuk membuat lapisan lahan bagian atas setebal 2,5 cm, diperlukan waktu sekitar 300 tahun.
Karena ekosistem membutuhkan waktu yang lama proses pembentukannya, maka kita jaga kelestariannya.
4. bahwa stabilitas ekosistem berkaitan langsung dengan keanekaragaman isi lingkungan. Semakin beraneka ragam isi lingkungan dengan bermacam-macam fauna dan flora, semakin stabil ekosistem itu. Sebaliknya semakin seragam isi lingkungan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang sedikit jenisnya, semakin labil dan goyah ekosistem itu.
5. bahwa ekosistem yang beranekaragam dan stabil itu menumbuhkan kualitas hidup yang lebih tinggi dibadingkan dengan ekosistem yang seragam dan labil.
6. bahwa ekosistem yang kuat mendesak yang lemah. Kuat dalam makna fisik maupun intelengensi, mampu mendesak yang lemah.
7. tidak ada hal gratis dalam kehidupan lingkungan. Apabila manusia hanya memetik dari alam tanpa siklus kehidupan. Dan hal itu akan menimbulkan ketidakseimbangan dan muncul gangguan atau bencana di saat lain. Apa yang diambil dari lingkungan hidup harus disertai dengan usaha memberikannya kembali kepada alam.
Namun harus diingat bahwa untuk mematuhi ketujuh dalil lingkungan itu diperlukan sikap disiplin dan bertanggung jawab. Tanpa sikap disiplin dan bertanggung jawab, akan sulit dicapai pengembangan lingkungan hidup yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup yang baik. Menurut email salim, hal itu bisa dicapai jika pola pembangunan, pola produksi, pola pemasaran dan pola konsumsi dapat memberi kontribusi (dukungan) demi terpeliharanya dalil-dalil lingkungan tersebut. Atas dasar itu, maka pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan lingkungan hanya akan berhasil dengan baik jika didukung oleh semua penduduk. Dengan kata lain, kearifan terhadap lingkungan hidup harus menjadi milik setiap insan atau membudaya di dalam seluruh masyarakat.
Yang perlu kita pahami bersama adalah bahwa lingkungan hidup di Indonesia banyak memiliki permasalahan. Banyak kondisi lingkungan hidup di Indonesia yang telah rusak, dalam arti banyak lingkungan hidup yang tidak seimbang keadaannya, sehingga kurang ada manfaatnya lagi bagi kehidupan manusia.
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa permasalahan lingkungan hidup disebabkan oleh berbagai faktor terutama oleh penduduk dengan segala dinamika dan aktivitasnya dan pengelolaan Sumberdaya yang kurang bijaksana. Sadar akan hal itu pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah pasti dalam usaha pengelolaan lingkungan hidup untuk kesejahteraan manusia dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Langkah-langkah pasti dalam usaha pengelolaan lingkungan hidup untuk kesejahteraan manusia dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Lanhkah nyata pemerintah Indonesia dalam pengelolaan lingkungan hidup agar dapat dicapai engembangan lingkungan yang ideal adalah ditetapkannya Undang Undang No. 4 Tahun 1982 pada tanggal 11 Maret 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup. serta pengaturan biaya pembangunan lingkungan hidup.
Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkunngan hidup tersebut terdiri dari 9 bab, 24 pasal dan pejelasannya. Di dalam undang-undang tersebut sudah tercantum berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, mulai dari asa dan tujuan, hak kewajiban dan wewenang, perlindungan lingkungan hidup, kelembagaan, ganti kerugian dan biaya pemulihan sampai sampai ketentuan pidana bagi pelanggar. Dengan adanya undang-undang tersebut banyak langkah dan kegiatan yang telah diambil pemerintah dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup yang mendukung pelestarian lingkungan hidup. Di samping itu pemerintah juga mencanangkan “Pembangunan Berwawasan Lingkungan” yang sekarang semakin membudaya di kalangan masyarakat.

BAGIAN VI
MENGELOLA SUMBERDAYA HAYATI

Sumberdaya hayati merupakan komponen biotik di dalam ekosistem. Sumber daya hayati ini mendukung kehidupan manusia terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan. Selain itu diperlukan untuk membuat benda-benda keperluan hidup sehari-hari seperti : pakaian (wol dan kapas), perabot (kayu), obat-obatan dan sebagainya. Sebagian kecil, terbatas di beberapa daerah dan golongan masyarakat tertentu, sumberdaya hayati diperlukan untuk bahan bakar (kayu dan arang), transportasi (kuda dan sapi) atau tenaga kerja (sapi, kerbau) atau mungkin sekedar untuk kegemaran (ikan hias, burung) dan sebagainya.
Keberadaan sumberdaya yang terbesar terdapat di hutan dan lautan yang masing-masing dapat pula diangap sebagai ekosistem. Hutan dan laut ini menyimpan keragaman yang amat tinggi untuk flora dan fauna. Oleh sebab itu penebanagn hutan untuk pengambilan kayu dan pembukaan hutan untuk pertaian dan pemukiman, serta pengubahan lahan daerah pasang surut di pesisir yang sekarang kian meningkat telah menyebabkan keragaman sumberdaya hayati mengalami penurunan.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa sumbersaya hayati merupakan sumber daya yang dapat terbaharui (renewable). Oleh sebab itu pengelolaan dilakukan pemerintah dengan berprinsip pada keseimbangan antara konsumsi dengan pemulihannya. Maka konservasi sumberdaya hayati selalu diusahakan oleh pemerintah dengan dukungan dari segenap lapisan masyarakat.
1. Pengelolaan Pangan
Pangan merupakan kebutuhan pokok masunia sebagai makhluk hidup karena pangan diperlukan sebagai sumber energi dan pembangun tubuh, sehingga fungsi-fungsi tubuh yang mendukung kehidupan dapat berlangsung. Dalam kedudukan manusia sebagai salah satu di antara komponen penyusun ekosistem, bahan pangan adalah hewan dan tumbuhan yang diperoleh manusia melalui hubungan rantai makanan atau jaring-jaring kehidupan. Atas dasar itu, maka pengelolaan pangan meliputi pertanian, peternakan dan perikanan.
Dalam bidang pertanian, pada waktu-waktu dahulu di Indonesia menggunakan pertanian sistem lama yang masih sederhana. Untuk tanah-tanah yang dekat dengan mata air, selokan atau parit, petani menanam padi dua kali satu tahun. Pada tanah-tanah yang tidak bisa dioncor atau diairi,, hanya ditanami padi satu kali dalam satu tahun.sisa waktu jangka 6-7 bulan digunakan untuk bertanam kacang, kedelai, singkong, ubi jalar, dan lain-lain. Jadi petani hanya menanam padi pada waktu musim penghujan.
Pada saat sekarang, telah dilaksanakan sistem pancausaha dalam bidang pertanian, sehingga cara bertani yang dilakukan sangat intensif dan dapat panen 3 kali dalam setahun. Pancausaha dalam bidang pertanian meliputi :

a. Pengolahan tanah yang baik
Pengolahan tanah yang baik akan memperbaiki sifat-sifat tanah. Tanah menjadi gembur, mudah diolah dan cukup mengandung oksigen.
Pada tanah miring dibuat sengkedan atau teras-teras, sehingga tidak terjadi erosi dan tanah longsor. Pada tanggul atau tepi teras (galengan) perlu ditanami tanaman-tanaman berkayu keras, seperti : lamtara, turi, akasia dan sebagainya. Tanaman itu disamping dapat mencegah erosi dan tanah lonsor, daunnya dapat dimanfaatkan untuk mekanan ternak, biji buahnya dapat dibuat tempe dan bunganya dapat dibuat pecel.

Gambar 6. Meskipun berada di wilayah perbukitan, namun bila tanah
yang ada dikelola dengan baik, tetap akan memberikan hasil
yang bermanfaat untuk mendukung kehidupan.

Dalam pengolahan tanah yang baik juga memperhatikan cara membajak atau mencangkul. Dalam membajak tidak boleh membajak sejajar dengan kemiringan lereng. Cara membajak yang baik adalah dengan membuat larikan yang sejajar dengan garis kontur. Sejajar garis kontur berarti sejajar tanggul (talud, galengan) atau tepi teras. Hal ini juga sama dalam hal mencangkul. Dengan cara ini air yang mengalir dari teras bagian atas tidak akan langsung ke teras di bawahnya tetapi berputar dulu sejajar tanggul atau tepi teras. Hal ini untuk menjaag erosi pada teras-teras bagian atas. Dengan demikian erosi tidak akan terjadi sehingga kesuburan tanah pada teras bagian atas akan lebih terjaga.
b. Pengairan yang teratur
Bagi kegiatan pertanian yang baik, pengairan yang teratur sesuai dengan kebutuhan merupakan syarat mutlak. Sebab jika tidak, pertanian di daerah itu akan sangat tergantung pada air hujan. Berarti kegiatan pertanian hanya dapat dilakukan pada musim penghujan dan pada musim kemarau tiak akan ada kegiatan pertanian.
Pemerintah menyadari bahwa untuk bisa tercipta pengairan yang teratur, perlu sarana pengairan yang baik, yaitu saluran irigasi dan bendungan (dam). Berkaitan dengan ini pemerintah Indonesia telah melakukan perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi, pembangunan jaringan irigasi dan pembangunan dam.

c. Pemilihan bibit unggul
Bibit unggul selain tahan terhadap hama dan penyakit juga lebih menghasilkan. Berkaitan denagn maslah ini dengan penggunaan bibit unggul dalam bidang pertanian, maka hasilnya akan lebh memuaskan.
Pemerintah telah menganjurkan penggunaan bibit unggul dalam bidang pertanian dan banyak memberi penerangan dalam pemeliharaannya karena bibit unggul sering menuntut persyaratan tertentu. Jika persyaratan itu tidak dipenuhi maka hasilnya sering meleset, bahkan mengecewakan. Jenis-jenis bibit unggul untuk padi antara lain : PB 5, PB 8, IR, Pelita dan Cisadane.
d. Pemupukan
Pemupukan merupakan upaya yang harus dilakukan pada tanah-tanah yang kurang subur atau tidak subur lagi. Kurang subura atu tidak subur lagi pada tanah disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1) Kurangnya bunga tanah atau humus akibat selalu mengalami erosi. Ini bisa terjadi akibat kurangnya vegetasi penutup yag berfungsi mencegah erosi dan cara mengerjakan tanah yang kurang benar, khususnya pada tanah-tanah miring.
2) Kurangnya unsur hara akibat tanah selalu ditanami tanpa diberi tambahan pupuk. Seperti kita ketahui unsur hara adalah unsur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Jika tanah selalu ditanami tanpa diberi tambahan pupuk, maka unsur hara tersebut akan berkurang atau bahkan habis. Hal itu harus ditambah dengan unsur-unsur N, P, dan K sebagai unsur-unsur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.
3) Tanah kurang subur atau tidak subur karena terlalu asam. Tanah bekas rawa atau huutan pantai, biasanya bersifat terlalu asam. Hal ini bisa terjadi akibat adanya zat-zat organik yang terurai secara tidak baik.
Berdasarkan kondisi itu maka pemupukan sangat penting, namun harus memperhatikan sebab-sebab tidak suburnya tanah dan dalam pemakaiannya tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan pencemaran.
Untuk memenuhi kebutuhan pupuk dalam bidang pertanian pemerintah terus berusaha meningkatkan produksi pupuk dengan jalan membangun pabrik pupuk baru atau meningkatkan kapasitas produksi pabrik pupuk yang sudah ada.
e. Pemberantasan hama dan penyakit tanaman.
Pemberantasan hama dan penyakit tanaman perlu dilakukan jika tanaman yang ditanam ada tanda-tanda terserang hama atau penyakit tanaman. Namun jika tanaman yang kita tanam tidak ada tanda-anda terserang hama dan penyakit maka penyemprotan itu tidak perlu walaupun maksudnya untuk tindakan preventif. Jadi pemberantasan hama sebaiknya hanya dilakukan jika betul-betul dibutuhkan.
Dalam pemberantasan hama dan penyakit tanaan, harus dilakukan dengan hati-hati, sebab jikakurang hati-hati bisa membawa dampak negatif yang tidak diinginkan. Misalnya kita akan memberantas walang sangit denagn obat pemberantasan hama tanaman. Jika kurang hati-hati yang mati bukan hanya walang sangit, tetapi juga burung pemakan serangga, ular dan kucing yang sebetulnya justru membantu kita.
Sebab binatang-binatang itu sebetulnya merupakan predator alami (pembasmi alami) bebeapa hama tanaman. Belalang, predatornya dalah burung pemakan serangga. Hama tikus, predatornya adalah ular dan kucing.
Untuk keperluan pemberantasan hama dan penyakit tanaman ini pemerintah telah menganjurkan penggunaan berbagai obat pemberantasan hama tanaamn, seperti pestisida, insektisida, endrin, fungisida, dsb yang sekarang ini banyak dijual dipasaran dengan berbagai merk. Namun karena pemberantasan hama atau penyakit bisa berdampak negatif terhadap lingkungannya, maka pemerintah menganjurkan jangan melakukan pemberantasan hama dan penyakit tanaman jika tidak benar-benar dibutuhkan. Dengan kata lain tidak perlu adanya tindakan preventif dalam pemberantasan hama dan penyakit tanaman.
Dengan pancausaha tani tersebut maka hasil pertanian dapat ditingkatkan. Hal ini juga didukung oleh usaha pemerintah dalam peningkatan produksi pertanian melalui Bimas, Inmas, Insus dan Supra Insus dengan rekayasa sosialnya. Rekayasa sosial di dalam Insus dan Supra Insus menitikberatkan kerjasama para petani di dalam kelompoknya dan antar kelompok tani dalam berusaha tani seperti pengolahan tanah, tanam, pemeliharaan tanaman, pengaturan air, panen, pemasaran hasil, pengadaan peralatan, mekanisasi pertanian, pemupukan modal usaha tani pada Simpedes, kelompok tani dan sebagainya.
Berkat sistem pancausaha tani dan bimbingan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus, maka produksi per hektar untuk tanaman padi dan palawija di Indonesia dapat ditingkatkan yang berarti kemampuan lahan juga meningkat.
Hasil peternakan merupakan sumber protein bagi manusia. Oleh karena itu sehubungan dengan meningkatnya kuantitas dan kualitas kebutuhan, sumberdaya ini memang perlu mendapat perhatian.
Dalam bidang peternakan, pemerintah mendorong peternak untuk mengembangkan usahanya. Jenis ternak yang dikembangkan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu :
a. Ternak hewan besar, yaitu :
1) Sapi : ternak ini dapat diambil tenaganya, dagingnya dan susunya. Peternakan sapi banyak diusahakan di Jawa, Madura, dan Nusa Tenggara.
2) Kerbau : diambil tenaga dan dagingnya. Ternak ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia, misalnya di Jawa, Sumatra Barat, Aceh, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Flores.
3) Kuda : diambil tenaganya. Jenis-jenis kuda yang terkenal adalah :
Kuda batak, terdapat di Tapanuli
Kuda Makasar, terdapat di Sulawesi
Kuda sadel dan kuda bima, banyak terdapat di Nusa Tenggara (Sumbawa, Sawu, Roti dan Timor).
b. Ternak hewan kecil, yaitu meliputi :
1) Kambing dan biri-biri, banyak diambil daging, susu dan bulunya (untuk wool). Kambing dan domba (biri-biri) di Indonesia merupakan ternak keluarga, oleh karena itu hanya diambil dagingnya saja atau sebagai ternak simpanan yang sewaktu-waktu dapat dijual. Ternak ini banyak dijumpai di daerah pedesan Jawa.
2) Babi : ternak ini diambil dagingnya dan pada umumnya merupakan ternak keluarga. Tidak semua orang Indonesia makan daging babi karena diharamkan oleh agama Islam. Ternak babi banyak dijumpai di Bali, Nusa tenggara Timur, Kalimantan Barat, Tapanuli (Batak) dan Minahasa.
c. Ternak unggas
Jenis peternakan ini meliputi ternak ayam, puyuh dan itik. Hampir setiap keluarga di Indonesia memlihara ternak ayam karena ternak itu tidak memerlukan persyaratan khusus. Ternak unggas diambil daging dan telurnya. Selain itu sering pula diambil bulunya (ayam) untuk pembuatan kemucing atau sulak.
Dalam usaha mengembangkan peternakan di Indonesia, pemerintah telah berusaha membantu petenak melalui proyek Banpres (Bantuan Presiden) untuk itulah maka pemerintah banyak mendatangkan sapi-sapi bibit unggul dari Belanda atau Amerika, untuk dikembangkan di tanah air untuk dikawisilangkan dengan sapi-sapi lokal. Salah satu jenis sapi yang diimpor dari Amerika adalah sapi jenis Brahma, sapi ini dapat menghasilkan daging yang lebih banyak bila dibandingkan denagn sapi-sapi lokal. Sedangkan sapi unggul yang didatangkan dari Belanda adalah sapi ungul jenis Grinigen yang banyak menghasilkan susu. Sementara itu untuk pengembangan jenis ternak yang lain, pemerintah banyak menyeleksi jenis-jenis unggul yang dapat dikembangkan peternak denagn bantuan bimbingan dan penyuluhan dari pemerintah maak populasi ternak ini di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Begitu pula dengna hasil-hasil dari ternak tersebut (daging, telur dan susu) juga terus mengalami peningkatan.
Dalam bidang perikanan, Indonesia mempunyai perairan yang luas serta banyak memiliki danau dan sungai sehingga memungkinkan diusahakannya perikanan laut dan darat. Usaha ini akan menjadi sumber yang penting dalam memenuhi kebutuhan pangan serta akan menghasilkan devisa yang tidak kecil bagi negara.
Usaha perikanan pada prinsipnya di Indonesia dibedakan atas dua macam, yaitu :
a. Perikanan laut
Perikanan laut dibedakan atas perikanan rakyat dan perikanan industri.
Perikanan rakyau dilakuakn oleh para nelayan di sepanjang pantai dengan perahu-perahu sederhana. Perikanan rakyat tersebar hampir di sepanjang pantai di kepulauan Indonesia. Tempat-tempat yang ramai antara lain : Bagnsiapi-api, Bengkalis, Bawean, Madura, Tubah, Muncar (Banyuwangi), Kotabaru, Lumarep (Flores) dan Amon. Jenis-jenis ikan yang ditangkap :ikan tongkol, tengiri, kakap, gembung laying, teri dan trubuk.
Perikanan industry menggunakan perlatan lebih modern. Hasil penangkapan perikanan id\ndustri diperdagangkan dalam bentuk ikan segar, ikan asin dan ikan dalam kaleng. Daerah penangkapan perikanan industry yaitu Banagsiapi-api, Tegal, Kotabaru, Ujung Pandang dan Ambon.
b. Perikanan darat
Kegiatan perikanan darat meliputi :
1) Perikanan tambak (kolam berair payau), yang dilakukan di tepi pantai dengan hasil ikan bandeng dan udang. Daerahnya di Pantai Utara Banten, Jakarta, Cirebon sampai Pekalongan, Gresik sampai Surabaya, Pasuruan-Bangil-Probolinggo dan Pantai Utara Madura.
2) Perikanan kolam air tawar (empang), jenis-jenis ikan yang dipelihara antara lain :ikan emas, gurami, tawes, nilam, mujair, dan lele. Banyak dijumpai di Priangan (Jawa Barat) dan MInahasa (Sulawesi Utara).
3) Perikanan di rawa, waduk, danau, sungai dan genagan air lainnya. Misalnya perikanan di waduk Karangkates, Kedungombo, Sempor, danau Tempe, Towuti dan sebagainya.
4) Perikanan sawah dengan cara menebarkan benih ikan tawes atau mujair pada waktu tanam padi dan ditangkap apabila sawah harus dikeringkan.
Dalam pengolahan perikanan, pemerintah banyak memberi penyuluhan pada para nelayan atau pengelola perikanan tambak tentang pengelolaan ikan dengan tetap menjaga kelestariannya tetapi hasil yang diperolehnya meningkat.

Gambar 7. Waduk menjadi media untuk pengembangan atau budi daya
perikanan darat yang menjanjikan.

Dalam usaha perikanan laut, untuk meningkatkan hasil maka pemerintah mengadakan motorisasi memalui kredit pada para nelayan agar daya jangkau penangkapan ikan lebih besar dan waktu yang digunakan lebh sedikit namun hasil yang diperoleh lebih besar. Sementara itu, pemerintah juga melakukan pengendalian dalam penangkapan ikan untuk menjaga kelestarian ikan laut, misalnya dengan pelarangan penggunaan pukat harimau (trawl) yang dapat menangkap ikan baik besar maupun kecil sehingga tidak tersisa ikan lag. Akibatnya ikan di laut tidak mampu melakukan regenerasi. Dengan pelarangan tersebut maka kelangkaan ikan di laut dapat diatasi dan pemanfaatan atau pengambilan ikan tidak melampaui daya kemampuannya.
Dalam usaha perikanan darat, untuk meningkatkan hasil maa pemerintah banyak memberi penyuluhan tentang cara-cara beternak ikan yang baik yang diberikan meliputi kolam tempat ikan, kondisi air, makanan, cara perawatan dan sebaagainya sehingga hasil yang diperoleh akan meningkat.
Dengan pengelolaan perikanan yang baik dengan tetap menjaga kelestariannya, maka hasil yang diperoleh dalam perikanan darat dan laut mengalami peningkatan terus.
2. Pengelolaan Hutan
Hutan tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan sumberdaya hayati yang berupa flora dan fauna, namun lebih jauh lagi dalam hubungan ekoogik hutan berperan besar dalam menjaga kelestarian daur hidologik, daur oksigen, nitrogen, phosphor dan menjaga kelembaban dan suhu atmosfir bumi. Sejak manusia menjadi pemburu dan pengumpul hinggasekarang, masyarakat industri, hutan merupakan sumberdaya yang menopang kehidupan manusia. Justru pada masyarakat industri yang kian maju inilah penebangan hutan kian meningkat pula, sehingga dampak ekologinya yaitu efek rumah kaca kini sedang hangat dipersoalkan oleh para ahli lingkungan sedunia. Mereka meributkan efek rumah kaca yang menimbulkan kenaikan suhu udara dunia dan kenaikan permukaan air laut berbiang keladi negara-negara empunya hutan hujan tropik (termasuk Indonesia) yang telah melakukan penebangan hutan tanpa pengendalian.
Mengingat bahwa hutan berperan penting dalam kelestarain ekosistem dunia, maka hutan-hutan yang ada harus diselamatkan dari kerusakan dan kepunahan akibat pengambilan yang tidak terkendali.
Dalam hal ini pengelolaan hutan, pemerintah Indonesia tidak secara langsung menanganinya tetapi ditangani oleh pihak kedua, seperti HPH (Hak Pengusahaan Hutan) Perum Inhutani dan Perum Perhutani. Berhubungan pengelolaan hutan (khususnya hutan produksi) diserahkan pihak lain, maka pemerintah harus mempunyai pedoman pengendalian dan pengawasannya.
Untuk itu kantor menteri Negara Kependudukan dan LIngkungan Hidup bekerjasama dengan Departemen Kehutanan, Departemen Perindustrian, Departemen Keuangan serta Departemen lainnya juga beebrapa perguruan tinggi, terus melaksanakan studi untuk menyusun pedoman-pedoman baku mutu hutan produksi. Berhubung pedoman pengelolaan hutan produksi masih sangat langka padahal keperluannya sangat mendesak dan sangat luas wilayahnya maka penyusunan baku mutu hutan produksi diprioritaskan lebih dahulu.
Sasaran yang diharapkan tersusunnya baku mutu hutan tersebut adalah:
a. Perbaikan mutu tagakan dan lingkungan melalui usaha-usaha pelestarain pemanfaatan hasil.
b. Alih teknologi tepat lingkungan yang berorientasi pada pelestarain lingkungan.
c. Pembebanan masyarakat di sekitar hutan dari belenggu kemiskinan.

Dengan kekayaan hutan tropis kita, di samping memberi manfaat dan rasa kebanggaan tersendiri juga akan ditemui permasalah-permasalahan dalam menyusun baku mutu hutan tersebut seperti penerapan model dalam kaitannya dengan keanekaragaman ekosistem.

Gambar 8. Banyaknya potensi hutan di Indonesia telah meyakinkan kita
akan kekayaan alam kita. Semuanya ini harus kita jaga
kelestariannya agar memberi manfaat sebesar-besarnya
bagi penduduk.

Meskipun demikian tim antara departemen telah meneliti jalan untuk merumuskan konsep tolok ukur yang akan dikembangkan lebih lanjut menyangkut antara lain :
a. Bidang pemanfaatan ruang dan sumberdaya hutan seperti :
1) Tertib operasi pembalakan
2) Keseimbangan tingkat industri pengelolaan kayu
3) Tertib pelaksanaan tata usaha pengambilan hasil hutan
b. Bidang pelestarian seperti :
1) Kegiatan reboisasi
2) Kegiatan konservasi flora dan fauna
c. Bidang prasarana dan pengusaha hutan seperti tertib pembukaan wilayah hutan dengan sarana dan prasarananya.
d. Bidang sosial seperti penyediaan fasilitas yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk peningkatan kesejahteraannya.
Dengan adanya pedoman baku mutu hutan diharapkan tidak terjadi penebangan yang semena-mena yang mengancam kelestarain hutan. Penyelamatan hutan dari kerusakan ini memiliki tujuan antara lain :
a. Menjaga kelestarain plasma nutfah
Flora dan fauna merupakan kekayaan plasma nutfah yang terkandung di dalam unggun gena. Mempertahankan keanekaragaman populasi beserta varias-variasinya semua janis makhluk hidup berarti melestarikan plasma nutfah. Barnagkali kita sering menganggap bahwa jenis tanaman atau hewan yang tidak berguna bagi manusia lebih baik jika dimusnahkan atau tidak usah diberi kesempatan tumbuh dan berkembang biak di lahan tertentu sehingga lahan dapat digunakan seluruhnya untuk budidaya sumber hayati yang dapat dimanfaatkan. Namun, pernahkah terlintas di benak kita bahwa seandainya jenis padi liar yang hidup di India telah lama dimusnahkan sehingga penduduk daerah tropik, seperti Indonesia dan sekitarnya tidak lagi mengenal beras sebagai bahan makanan pokok sehari-hari? Ya, kemungkinan besar tanaman padi kini hanya tinggal nama saja karena telah dipropagandakan oleh hama wereng. Namun berkat penemuan tanaman padi jenis VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng), seperti IR dan PB, oleh IRRI di Philipina samapi sekarang kita masih mengenal beras. Penemuan VUTWadalah berkat jasa padi liar yang tumbuh di India tadi, karena VUTW merupakan hasil pembastaran yang mengambil sifat tahan wereng itu dari gen-gen yang terkandung dalam tanaman padi liar tersebut.
Banyak jenis tanaman dan hewan yang kita anggap tidak berguna dan bahkan merugikan. Mestikah mereka juga harus dimusnahkan? Namun menjaga Harimau Jawa yang dikabarkan tinggal lima ekor di kawasan PPA Meru Batiri, Jawa Timur harus dilestarikan walaupun harus mengorbankan perkebunan karet dan kopi beserta pemukiman yang dihuni oleh pekerja perkebunan dan keluarga di kawasan Meru Batiri untu dpindahkan? Atau apa arti penting penggiringan populasi gajah di Sumatra Selatan yang memakan biaya, tenaga dan waktu yang tidak sedikit itu? Kegiatan-kegiatan itu tidak lain adalah untuk menghindarkan kepunahan jenis flora dan fauna sebagai akibat kegiatan-kegiatan manusia yang makin meluas dan membutuhkan lahan-lahan baru. Konservasi sumberdaya hayati yang meliputi semua jenis makhluk hidup harus menjadi acuan kita untuk mewujudkan “sustainable earth” yakni bumi yang mendukung keterlaluan jutaan hidup manusia dari generasi ke generasi. Konservasi ini mempupnyai arti bahwa pelestarian plasma nutfah yang di masa depan berkat penelitian dan pengembangan yang tiada henti dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dengan tidak mengesampingkan kepentingan ekosistem secara keseluruhan.
b. Menjaga keseimbangan daur hidropologik
Semua makhluk hidup memerlukan air dan tidak terkecuali manusia. Bagi manusia, air di samping dibutuhkan sebagai unsur nutrien dan pembangun tubuh tetapi karena kebudayaannya air dibutuhkan manusia untuk pembangkit tenaga listrik, proses-proses dalam industri dan bahkan dibutuhkan untuk kebutuhan olah raga dan rekreasi. Oleh karena itu air dibutuhkan manusia sepanjang masa.
Hutan di daerah hulu sungai merupakan pengatur daur ulang hidrologik (air) karena penakaran tanaman hutan dan seresah (humus) mampu menahan air hujan dan erosi tanah. Gejala kekeruhan air sungai akibat lumpur dan perbedaan debit air yang sangat mencolok antara musim kemarau dan musim penghujan menunjukkan bahwa keadaan hutan kita sudah semakin menipis karena penebangan-penebangan yang tidak terkendali. Oleh sebab itu pengembangan DAS (Daerah Aliran Sungai), penghijauan dan reboisasi menjadi ihktiar yang sangat menentukan bagi kelangsungan hidup masyarakat di daerah ini.
c. Menjaga keseimbangan daur oksigen
Oksigen diperlukan oleh makhluk hidup sebagai pembaka dalam proses pernafasan dan dalam proses ini dibebaskan ke udara (media lingkungannya) baahn buangan berupa zat asam arang (CO2). Bagi tumbuhan, selain pernafasan, dalam kedudukannya sebagai prosedur di dalam ekosistem terjadi proses fotosintesis yang membutuhkan CO2 yang diambil dari udara. Fotosintesis ini berlangsung dengan bantuan energi cahaya matahari. Dari proses fotosintesis dihasilkan oksigen (O2) yang dibuang ke udara. Dengan demikian antara semua tumbuhan dengan semua makhluk hidup terjadi interaksi yang saling mengontrol akan kebutuhan oksigen dan zat asam dengan perantaraan media lingkungannya.
Namun kegiatan manusia dalam kehidupan tidak hanya bernafas seperti layaknya sebagai makhluk hidup, akan tetapi dari alat-alat teknologi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari berlangsung proses pembakaran yang menghasilkan limbah CO2. Kegiatan-kegiatan itu antara lain adalah memasak makanan yang menggunakan bahan bakar, pengoperasian mesin-mesin motor bakar di bidang industri atau transportasi, pembakaran sampah atau jerami sebagai limbah pertanian dan sebagainya. Semua kegiatan ini menyebabkan konsentrasi CO2 di atmosfer menjadi makin meningkat.
Peningkatan konsentrasi CO2 akan segera dinetralkan kembali oleh proses fotosintesis tumbuhan hijau dan kemudian dihasilkan O2 yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Namun jika areal hutan berkurang, maka keseimbangan konsentrasi antara O2 dan CO2 menjadi tidak seimbang. Sebagai dampak ekologinya, penyempitan areal hutan tropik adalah penipisan persediaan O2 dan makin meningkatnya lapisan CO2 di atmosfer yang menimbulkan efek rumah kaca. Dengan demikian penyelamatan hutan memiliki arti penting dalam menjaga keseimbangan daur oksigen.
d. Pemeliharaan kelembaban udara
Proses fisiologik yang lain dari tumbuhan hijau adalah transpirasi (penguapan air dari daun) yang menhasilkan uap air untuk dibuang ke media udara atmosfer. Peristiwa ini menyebabkan peningkatan kelembaban di udara. Hal ini dapat kita rasakan bahwa terdapat perbedaan kenyamanan udara yang mencolok antara tempat-tempat yang gersang dengan tempat-tempat yang banyak ditumbuhi oleh sejumlah vegetasi dan kemudian hubungkanlah
e. Menjaga daur-daur ekologik yang lain
Daur-daur ekologik lain yang penting dalam kehidupan ekosistem, selain daur hidrologik dan daur oksigen, adalah daur nitrogen (N), karbon (C) dan Phospor (P). Daur – daur itu berlangsung melalui piramida makanan dan jaring-jaring kehidupan pada komponen biotik yang juga melibatkan media lingkungannya.
Hutan merupakan penyimpanan komponen biotik dalam jumlah yang besar, sehingga keanekaragaman jenis (species) makhluk hidup yang dimiliki oleh hutan merupakan media (perantara) bagi kelangsungan daur-daur itu.
Mengingat begitu pentingnya penyelamatan hutan sebagaimana yang telah dikemukakan dimuka, maka pemerintah Indonesia melakukan pengaturan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sebagai berikut:
a. Hutan lindung dengan luas 47 juta hektar diserahkan kepada Perum Perhutani dan Dinas Kehutanan.
b. Hutan PPA (Perlindungan dan Pelestarian Alam) dengan luas 10 juta hektar pengelolaan dan penjagaannya diserahkan kepada Dinas Kehutanan dan Perum Inhutani serta Pengusaha HPH terdekat yang bonafid.
c. Hutan Produksi dengan luas 40 juta hektar dalam pengusahaannya oleh Departemen Kehutanan diserahkan kepada PN atau PT Swasta dan Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) oleh Gubernur diberikan kepada penduduk setempat.
Pengelolaan hutan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Hal ini terlihat jelas pada perkembangan luas pembangunan hutan produksi khususnya Hutan Tanaman Industri (HTI). Hutan ini dibangun untuk pengediaan bahan baku industri seperti kertas, minyak, karet dan sebagainya.
3. Pengelolaan Laut
Laut merupakan habitat yang mengandung keragaman hayati yang besar. Kelimpahan makhluk hidup di laut ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya: cahaya matahari, nutrien (bahan makanan), suhu, pasang surut air dan gelombang. Wilayah laut yang produktif adalah daerah eufotik, yaitu daerah fotosintetik. Daerah ini berkedalaman kurang dari 100 meter dan daerah ini merupakan habitat untuk sekitar 90% dari seluruh makhluk hidup lautan.
Daris seluruh daerah eufotik itu yang menjadi bagian terpenting pendukung kehidupan laut adalah daerah payau (eustarine), yaitu daerah sepanjang pantai yang merupakan pertemuan air tawar dari sungai dengan air garam. Daerah ini umumnya meliputi pasang-surut, teluk, selat dan hutan bakau di sepanjang pantai. Miller (1982) menyatakan bahwa daerah perairan payau adalah daerah perairan paling rawan terhadap pencemaran air laut oleh limbah industri maupun kegiatan manusia lainnya. Padahal sebagai daerah yang produktif, air payau merupakan habitat plankton dan tempat pemijahan berbagai hewan laut. Lebih celaka lagi bahwa kegiatan manusia telah mengubah lahan-lahan sepanjang pesisir, yang merupakan daerah perairan payau, menjadi daerah tambak-tambak udang atau bandeng dengan membuka hutan bakau. Dengan demikian, pengubahan peruntukan lahan di daerah perairan payau akan mengubah ekosistem laut, terutama akan mengganggu kelangsungan biota laut.
Berdasarkan kenyataan di atas, pemerintah telah mengambil tindakan dan langkah-langkah untuk pengelolaan laut, antara lain:
a. Dalam upaya penanggulangan pencemaran laut, pemerintah telah merintis pembentukan jaringan stasiun pencemaran air laut di seluruh Indonesia untuk monitoring secara berkesinambungan pada daerah-daerah yang dinilai rawan terhadap pencemaran.
b. Untuk perlindungan hutan bakau dari kerusakan yang lebih parah maupun kepunahan, maka atas prakarsa KLH telah berhasil diadakan rembug antara sektor pertanian/perikanan dan sektor kehutanan tentang perlunya dipertahankan jalur hijau di sepanjang pantai sebagai pengaman. Untuk itu telah berhasil dikeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan yang tertuang dalam keputusan: Penyediaan lahan hutan untuk pengembangan usaha budidaya pertanian.
c. Pemerintah menciptakan kawasan konservasi laut yang terdiri dari cagar alam laut, suaka marga satwa laut dan taman nasional laut.

BAGIAN VII
MENGELOLA MEDIA LINGKUNGAN

Media lingkungan diidentifikasikan sebagai udara, air dan tanah. Pengelolaan media lingkungan bertujuan untuk menjaga kualitas dan kuantitasnya. Kualitas media lingkungan meliputi masalah baku mutu, antara lain membebaskan media ini dari pencemaran, sedangkan kuantitas meliputi masalah keberadaan dan kelengkapan komponen penyusunnya, sehingga kualitas dan kuantitas media lingkungan memberi jaminan kelestarian kehidupan manusia dan ekosistem secara terus menerus.
1. Pengelolaan Air
Sejak zaman dahulu air merupakan sumberdaya alam yang amat vital bagi kehidupan, karena air sebagai bahan pelarut dan sarana pengangkutan unsur makanan dari tanah ke dalam tumbuhan dan hewan, melarutkan bahan-bahan buangan, sebagai bahan mentah fotosintesis dan sebagai salah satu faktor penentu pola cuaca dan iklim dunia.
Bagi manusia, menurut Darmanto (1984), kebutuhan air menyangkut dua hal: pertama, air untuk kebutuhan manusia sebagai makhluk hayati dan kedua, air untuk kehidupan manusia sebagai makhluk berbudaya. Dalam kehidupannya manusia menggunakan air tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mencuci, mandi, untuk air minum dan sebaaginya. Di samping itu dengan semakin berkembangnya kebudayaan, air dibutuhkan untuk keperluan pengairan, untuk pembangkit tenaga listrik, maupun untuk keprluan industri (untuk pemrosesan produksi, pendinginan mesin-mesin dan pembersihan air limbah).
Begitu pentingnya masalah air bagi manusia, maka sangat wajar jika pemerintah Indonesia sangat memperhatikan tentang pengaturan sumberdaya air, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Salah satu buktinya adalah terlihat pada pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi :
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”
Dalam kaitannya dengan pengelolaan air, Miller (1982), menyebutkan ada tiga metode dasar yang dapat digunakan yaitu :
a. Pendekatan Input
Pendekatan input merupakan pengelolaan air yang bertujuan untuk memperbesar persediaan air untuk kawasan tertentu dalam kaitannya dengan tata guna air, yaitu dengan membangun bendungan, waduk dan penataan sungai, penggunaan air tanah, penaaran air dari laut, pencairan gunung es dan sebagainya.
b. Pendekatan Output
Pendekatan output ii dilakukan dengan cara mengurangi laju penguapan dan membersihkan dari zat-zat pencemar pada persediaan air yang telah ada.

c. Pendekatan Throughput
Pendekatan through yaitu pemeliharaan (konservasi) air dengan cara mengurangi rata-rata penggunaan per kapita.
Untuk pengelolaan air yang efektif tiga pendekatan tersebut tidak dilakukan secara terpisah, akan tetapi dilakukan secara terpadu.
Pengelolaan air di Indonesia sudah menerapkan ketiga pendekatan di atas. Adapun langkah-langkah dan kegiatan yang dilakukan pemerintah adalah sebagai berikut :
a. Pendekatan Input
Pendekatan input dalam pengelolaan air untuk memperbesar persediaan air yang selama ini telah dilakukan adalah pembuatan bendungan dan waduk, penataan sungai dan penggunaan air tanah. Sementara penawaran air laut dan pencairan gunung es tidak dilakukan. Penawaran air laut untuk menambah persediaan air tidak dilakukan karena terdapat beberapa kendala. Di antaranya adalah besarnya biaya yang diperlukan, kemampuan teknologi belum menjangkau dan dilihat dari kepentingannya masih ada alternatif lain untuk memperoleh air dengan biaya yang murah dan teknologi lebih sederhana di samping kekeringan di Indonesia belum mencapai tahap yang parah meskipun pada musim kemarau panjang pada daerah-daerah tertentu di Indonesia (misal Gunungkidul) mengalami kekeringan. Namun kebutuhan air tawar masih dapat disuplai dari daerah sekitarnya. Sedangkan pencairan gunung es tidak dilakukan karena juga tidak efektif dilihat dari segi biaya, waktu dan tenaga. Kita dapat membayangkan betapa besar biaya, waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk mencairkan gunung es/ salju di Puncak Jaya, Irian Jaya guna mengambil air kemudian dikirim ke daerah yang kekeringan di wilayah tertentu di Indonesia (Gunungkidul) dengan armada truk tangki air atau dengan pesawat terbang. Apakah tidak lebih baik, efisien dan murah dengan mengambil air dari daerah sekitarnya yang persediaan airnya masih melimpah?
Pembangunan dam dan waduk di Indonesia pada prinsipnya untuk pengendalian banjir dan mengatasi kekeringan pada musim kemarau. Namun sebenarnya pembangunan bendungan dan waduk memiliki beberapa keuntungan yang lain, seperti :
1) Meningkatkan pengendalian air untuk pengairan, industri, dan penggunaan domestik (rumah tangga) di daerah hilir.
2) Menyediakan sarana olahraga dan rekreasi.
3) Dapat digunakan untuk membangun instalasi pembangkit tenaga listrik.
4) Memberi pekerjaan tambahan (bagi yang menginginkan) berupa pekerjaan mencari ikan yang hasilnya dapat digunakan untuk menambah penghasilan.
Sampai dengan saat ini pemerintah telah membangun sebanyak 4.117 bendungan dan waduk dengan berbagai ukuran. Bendungan atau waduk yang besar diantaranya telah dibangun di antaranya adalah Bendungan Asahan di Sumatera Utara, Waduk Jatiluhur di Jawa Barat, Sempor dan Gajahmungkur di Jawa Tengah, Karangkates di Jawa Timur. Waduk dan bendungan ini m,emiliki fungsi ganda, disamping untuk mengendalikan banjir dan keperluan irigasi, juga untuk pembangkit tenaga listrik, pengembangan perikanan darat dan pengembangan pariwisata.
Selanjutnya pemerintah juga menyadari bahwa sebagian persediaan air di Indonesia sebagian berasal dari air sungai. Di samping untuk keperluan irigasi, air sungai banyak digunakan sebagai bahan baku air minum di daerah perkotaan setelah diolah oleh Perusahaan Air Minum (PAM). Oleh sebab itu pemerintah melakukan penataan sungai agar debit air sungai dapat dinaikkan sehingga persediaan air dapat diperbesar. Cara yang dilakukan misalnya dengan pengerukan dan pembenahan tebing sungai (diberi beteng) sehingga aliran sungai lebih teratur, erosi dapat dicegah dan penggunaan untuk keperluan lain lebih mudah. Penataan sungai di daerah perkotaan sebagian sudah cukup baik, khususnya sungai-sungai yang mengalir di daerah-daerah kota besar, seperti: Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Medan dan sebagainya. Namun penataan sungai di daerah perkotaan biasanya terbentur oleh kurangnya kesadaran masyarakat kota yang membuang limbah dan sampah ke sungai yang mengakibatkan pencemaran dan sungai cepat dangkal dan penuh oleh sampah.
Selain air sungai, kita juga mengguakan air tanah untuk berbagai keperluan. Saat ini penggunaan air tanah terutama untuk memenuhi kebutuhan air minum. Namun dimungkinkan pula untuk keperluan yang lain, bahkan untuk industri. Jika kegiatan-kegiatan ini, terutama untuk kegiatan industri lebih bertumpu pada penggunaan air tanah maka pengambilannya harus memeperhatikan potensi atau ketersediaannya.
Air tanah yang melebihi batas akan menimbulkan masalah seperti :
1) Penipisan persediaan air tanah
2) Permukaan tanah menjadi amblas
3) Air tanah di daerah pantai menjadi asin, karena intrusi air laut ke dalam air tanah.
4) Air tanah terkontaminasi oleh limbah dari kegiatan manusia.
Untuk memperoleh air tanah yang lebih banyak sehingga dapat mencukupi kebutuhnan penduduk baik di perkotaan (terutama) dan pedesaan, pemerintah pernah memberi bantuan kepada penduduk berupa sumur pompa. Sedangkan pada daerah-daerah yang sering terlanda kekeringan, misalnya Gunungkidul bantuan tidakberupa sumur pompa biasa tetapi merupakan sumur pompa khusus yang digerakkan dengan diesel untuk menyedot air tanah yang terdapat pada gua atau sungai bawah tanah (kapur). Disamping itu juga diberi bantuan berupa bak penampungan air hujan untuk mengatasi kekurangan air tanah pada musim kemarau.
b. Pendekatan Output
Pendekatan output dalam pengelolaan air adalah berupa pembersihan air dari zat-zat pencemar pada persediaan air yang sudah ada. Dan ini biasanya dilakukan dengan pihak-pihak yang terkait atau pihak-pihak yang berkepentingan menggunakan air tersebut, seperti PAM, atau pihak pabrik yang ingin menggunakan airnya.
Di samping melkukan tindakan kreatif tersebut, pemerintah juga melakukan tindakan preventif guna mencegah tercemarnya air yang belum tercemar atau mencegah pencemaran yang lebih parah pada air yang sudah tercemar. Wujud tindakan ini adalah dicanangkannya Program Kali Bersih (Prokasih) oleh pemerintah sejak tahun 1989 yang pada intinya mengajak segenap warga negara dan pengusaha industri agar secara bersama tidak membuang liumbah ke sungai karena dapat mencemari air sungai, sehingga air tersebut tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Dalam kaitannya dengan ini pemerintah memberi peringatan kepada pengusaha-pengusaha yang masih membuang limbahnya ke sungai tanpa mengalami pengolahan yang cukup atau tanpa pengolahan sama sekali untuk membenahi limbahnya sampai tidak mencemari air sungai sampai batas waktu bulan Juni 1991. Oleh sebab itu, pabrik-pabrik yang memanfaatkan sebagai tempat buangan limbahnya, diwajibkan mempunyai Waste Water Treatment ( alat pengolah limbah cair).
Proyek kali bersih yang merupakan program nasional yang diprakarsai oleh Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup ini memiliki tujuan untuk menurunkan beban pencemaran dari limbah sektor industri. Selain itu mengamankan dan menjaga kebersihan sungai itu dari bahan beracun yang kita kenal sebagai Bahan Berbahaya Beracun (B3). Prokasih ini memiliki jangkauan hingga tahun 2000. Sebagai realisasi dari Prokasih ini, pemerintah telah mengambil tindakan atas pelanggaran peraturan yang diberikan pemerintah dalam pengelolaan limbah setelah batas waktu yang ditetapkan untuk membenahi limbah buangannya berakhir. Tindakan yang diambil pemerintah ada dua macam, yaitu tindakan administrasi dan tindakan hukum.
Disamping langkah-langkah yang telah ditempuh di atas, dalam pengelolaan air, pemerintah juga menetapkan standar baku mutu air minum dan standar baku mutu buangan air limbah. Penetapan standar baku mutu tesebut tidak lain agar bertujuan untuk untuk pedoman dalam pengelolaan sumber daya air agar kesehatan masyarakat umum lebih terjaga. Standar baku mutu air minum tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.01/BIRHUKMAS/1/1975 tentang standar kualitas air minum yang kemudian diperbaharui mulai tanggal 3 September 1990 dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416/MenKes/Per/IX/1990.
c. Pendekatan Throughput
Meskipun pengelolaan air dengan pendekatan Throughput belum ditunjukkan peraturan yang pasti dan mempunyai kekuatan hukum di Indonesia, namun langkah-langkah menuju penghematan air sudah mulai tampak, Dari pihak pemerintah melalui instansinya yang terkait seperti seperti Kantor Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, atau Balai Teknik Kesehatan Lingkungan telah banyak memberi penerangan tentang masalah sumber daya air di Indonesia, Dari penerangan dan penyuluhan tersebut sebenarnya memiliki tujuan akhir di samping warga negara ikut memikirkan dan berpartisipasi dalam mengurangi masalah pencemaran air yang memepertipis persediaan air bersih, juga bertujuan agar warga negara juga menghemat air demi kelestarian sumberdaya air. Penerangan dan penyuluhan tentang hemat air di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi terintegrasi dengan dengan pemberian materi PKLH (Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup) yang cakupannya sampai dengan masalah air.
Bagi masyarakat kota masalah penghematan aiar sudah membudaya di kalangan yang menggunakan jasa Perusahaan Air Minum (PAM) dalam memperoleh air. Hal ini akan terlihat jelas jika musim kemarau panjang dan pipa ledeng sering mati. Memang hal ini akan lebih baik jika hematair tersebut juga dimasyarakatkan pada musim penghujan. Sehingga mengurangi jumlah atau volume air yang sudah kotor atau tercemar dan persediaan air bersih tetap melimpah.
2. Pengelolaan Tanah
Sebagaimana telah dikemukakan di muka, permasalahan yang berkaitan dengan tanah pada prinsipnya menyangkut hal-hal sebagai berikut:
a. Banyaknya lahan (tanah) yang mengalami erosi berat akibat hilangnya vegetasi atau tanaman penutup tanah.
b. Adanya tanah longsor atau gerakan tanah akibat topografi yang terlalu miring atau kondisi geologi yang memungkinkan peristiwa tersebut, yang dipercepat oleh kelalaian manusia dalam pengelolaan tanah (pengelolaan tanah salah)
c. Semakin meluasnya tanah yang tidak subur akibat pencemaran baik pencemaran oleh limbah domestik maupun oleh limbah industri, atau karena keasamannya yang ekstrim.
Ketiga faktor di atas menyebabkan banyak tanah kritis di Indonesia. Atas dasar itu maka pengelolaan tanah di Indonesia untuk masa-masa sekarang dan yang akan datang lebih mengarah pada usaha-usaha pengolahan tanah yang baik yang tidak merusak tanah dan usaha-usaha menjadikan tanah yang sudah kritis menjadi subur kembali atau setidak-tidaknya kondisinya semakin baik.
Usaha-usaha penanganan tanah kritis yang telah edilakukan antara lain adalah sebagai berikut:
a. Membuat sengkedan pada tanah yang miring (terasering)
Tanah yanng letaknya miring, jika tidak diperlakukan dengan baik maka kesuburannya lebih mudah hilang, diabandingkan dengan tanah-tanah yang datar karena mudah terjadi erosi. Tetapi hal itu tidak akan terjadi, jika tanah sebelum ditanami terlebih dahulu dibuat sengkedan-sengkedan. Dengan adanya sengkedan, kecepatan air mengalir di permukaan akan dikurangi, sehingga erosi dapat ditekan sekecil mungkin. Karena air mengalir secara lambat, maka peresapan air ke dalam tanah akan lebih mudah, sehingga air di dalam tanah yang diperlukan tersedia lebih banyak.
Berdasarkan kemiringan tanah, teras atau sengkedan ada beberapa macam, diantaranya:

1) Sengkedan datar
Sesuai dengan namanya, sengkedan ini hanya cocok untuk tanah di daerah kering dan agak datar dengan derajad kemiringan 0 – 3% saja. Tujuannya untuk memperbaiki pengaturan air dan pembasahan tanah.
2) Sengkedan kredit
Sengkedan ini cocok untuk tanah landai dan berombak dengan kemiringan 3 – 10%. Tujuannya terutama untuk mempertahankan kesuburan tanah. Bedanya dengan sengkedan datar terutama terletak pada jarak antara dua guludan atau pematang yang lebih lebar dan pada tiap pematang harus diperkuat dengan rerumputan, sisa-sisa tanaman atau batu, maksudnya untuk menahan dan menyaring lapisan tanah yang tererosi.
3) Sengkedan pematang
Sengkedan pematang ini dibuat pada tanah yang lebih miring lagi, yaitu dengan derajad kemiringan 10 – 15%. Tujuannya ialah untuk mengurangi kecepatan air yang mengalir bila turun hujan, sehingga erosi dapat dicegah dan peresapan air ke dalam tanah dapat diperbesar. Beda antara sengkedan pematang dengan sengkedan kredit ialah adanya saluran pembuangan air yang terletak di sebelah dalam pematang. Di sepanjang bagian atas guludan di tanam tumbuhan penguat sengkedan. Jarak antara dua pematang hampir sama dengan pada sengkedan kredit.

4) Sengkedan bangku
Sesuai dengan namanya bentuk sengkedan itu seperti bangku. Bidang olahnya berbentuk hampir datar, sedikit miring ke arah dalam. Antara dua bidang olahnya dibatasi oleh terjunan, yaitu batas tanah yang dibuat tegak, yang sekaligus berfungsi sebagai pematang. Sebagaimana sengkedan pematang, sengkedan bangku juga mempunyai saluran pembuangan air, tetapi tidak di sebelah luar, melainkan di sebelah dalam bidang olah sengkedan. Sengkedan bangku ini cocok untuk daerah lereng dengan kemiringan 10 – 305. Daerah-daerah persawahan di pegunungan menggunakan bentuk sengkedan bangku.
b. Membuat saluran irigasi
Saluran irigasi sangat penting sebagai prasarana pengairan. Dengan jaringan irigasi yang baik maka pengairan juga akan lebih teratur sehingga tanah yang agak jauh dari sumber air mendapatkan pengairan yang cukup untuk pertanian. Dengan demikian kesuburan tanah akan terus terjaga.
Saluran irigasi yang telah dibangun oleh pemerintah sampai dengan saat ini paling tidak telah mencapai kawasan seluas 1.575,2 ribu hektar. Sementara perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi telah mencapai kawasan seluas 3.333,1 ribu hektar. Pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi ini akan terus berlanjut untuk masa-masa yang akan datang sesuai dengan gerakan sistim Panca Usaha Tani yang dicanangkan oleh pemerintah.

c. Penanganan Tanah Asam
Tanah yang asam memiliki pH yang rendah dan sanitasi yang jelek. Tanah asam banyak terdapat di Kalimantan, atau di daerah lain yang berawa dan selalu tergenang air.
Tanah asam menunjukkan bahwa tanah tersebut kekurangan unsur kapur atau sulfur. Oleh sebab itu dalam perbaikan kadar asam (mengurangi keasamannya) dilakukan dengan jalan pemberian batu kapur pada tanah yang asam, atau dengan cara membuang tanah yang asam tersebut.
d. Pemberian pupuk
Pada tanah-tanah yang kesuburannya berkurang, pemberian pupuk merupakan kegiatan yang penting dilakukan dan hal ini sudah membudaya di kalangan petani di Indonesia. Pemberian pupuk ini pada prinsipnya untuk menambah unsur – unsur yang diperlukan oleh tanaman (Nitrogen, Phosphor, dan Kalium) dan bahan organik tanah yang kedapatannya sudah berkurang khususnya pada tanah-tanah kritis. Pupuk yang digunakan oleh petani pada prinsipnya terdiri atas dua macam, yaitu pupuk kandang dan pupuk buatan. Pupuk kandang berupa kotoran hewan ternah dan sisa-sisa makanan hewan, sehingga disebut juga pupuk hijau. Sedangkan pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik dan biasanya untuk tiap jenis pupuk memiliki komposisi unsur tertentu yang dominan (misal : pupuk nitrogen, pupuk kalium, dan sebagainya).

e. Mengadakan reboisasi atau penghijauan
Pada lahan-lahan yang kritis, reboisasi atau penghijauan dengan menanami pohon-pohon sangat penting artinya. Pohon – pohon ini kelak akan mampu mengatur air tanah, serta akan menghasilkan humus yang akan menyuburkan tanah. Di samping itu dengan reboisasi akan mencegah erosi tanah lebih lanjut.
Usaha reboisasi yang dilakukan oleh pemerintah terus mengalami kemajuan, sehingga tanah kosong (tanah kritis) yang berhasil dihutankan kembali terus meningkat. Secara kumulatif luas reboisasi pada Pelita I sekitar 10 ribu hektar pada saat ini sudah mencapai lebih dari 1.750 ribu hektar.
Di samping itu dalam rangka penghijauan, pemerintah telah membangun Unit Pelestarian Sumberdaya Alam (UPSA) dan Unit Pertanian Menetap (UPM) sebagai unit-unit percontohan.
3. Pengelolaan Udara
Manusia dan makhluk hidup lainnya memerlukan udara yang sehat, yaitu udara yang tidak mengandung unsur-unsur pencemar yang dapat mengganggu unsur-unsur pencemar yang dapat mengganggu kesehatan. Semua makhluk hidup memerlukan oksigen dalam pernafasannya, dimana oksigen ini merupakan hasil proses fotosintesis dari tumbuhan hijau. Proses fotosintesis akan berjalan lancar jika sinar matahari dapat bebas mencapai bumi.
Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa udara yang bersih berarti terhindar dari pencemaran udara. Oksigen di udara diperoleh dari proses fotosintesis tumbuhan hijau dan usaha-usaha penghijauan. Kelancaran proses fotosintesis sangat tergantung kepada intensitas cahaya matahari, dari intensitas cahaya matahari sangat tergantung kepada kondisi cuaca dan udara.
Pada waktu teknologi belum semaju sekarang, udara yang bersih merupakan sumberdaya yang sangat mudah didapat. Namun setelah teknologi bertambah maju, kebudayaan manusia makin berkembang, terjadilah pencemaran terhadap udara. Pencemaran udara banyak yang mengakibatkan gangguan terhadap kesehatan, sehingga manusia perlu mengeluarkan dana untuk mempertahankan kebersihan udara demi kesehatan manusia.
Sebagaimana telah dikemukakan pada bab terdahulu, pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia telah mencapai taraf yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Oleh sebab itu pemerintah telah mengambil langkah-langkah dan kegiatan-kegiatan dalam rangka pengelolaan udara, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Pemerintah melakukan gerakan penghijauan dan reboisasi untuk mengurangi kadar CO2 di udara dan menambah kadar O2 (Oksigen)
b. Pemerintah melakukan gerakan “hemat energi” yang salah satu tujuannya adalah mengurangi peningkatan pencemaran udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor, mesin-mesin pebrik dan alat-alat rumah tangga, serta alat-alat lain yang menggunakan BBM (Bahan Bakar Minyak) sebagai bahan bakar yang dapay menimbulkan pencemaran udara.
c. Pemerintah telah menetapkan peraturan mengenai baku mutu udara sebagai dasar pengaturan perlindungan lingkungan hidup. Dalam konsep baku mutu udara tersebut dibedakan sumber pencemar atas dasar stasioner dan sumber bergerak. Sumber stasioner adalah rumah tangga dan industri, sedang sumber bergerak adalah kendaraan lalu lintas.
Baku mutu di Indonesia dibedakan atas baku mutu ambient dan baku mutu emisi. Parameter yang ditetapkan untuk baku mutu ambient adalah SO2, Oksidant, NOx, CO, H2S, NH3, Hidrokarbon dan debu. Sedanng parameter yang ditetapkan untuk baku mutu emisi di bedakan atas baku mutu emisi pada sumber titik dan sumber bergerak. Parameter yang ditetapkan pada sumber titik meliputi SO2, NO2, gas-gas berbau, gas-gas berbahaya, partikel dan asap, sedang pada sumber bergerak SO, NOx, Hidrokarbon, SO2 dan Partikel.

BAGIAN VIII
MENGELOLA SAMPAH

Sampah merupakan limbah padat hasil sampingan dari proses konsumsi dan produksi. Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, sampah banyak memberi dampak yang negatif terhadap lingkungan terutama berupa pencemaran dan pemandangan yang tidak sedap. Pencemaran sendiri dapat meliputi pencemaran air jika sampah dibuang ke media air, pencemaran tanah dan pencemaran udara (bau busuk).
Atas dasar kenyataannya di atas pemerintah melalui pihak-pihak yang terkait mencari jalan cara mengelola sampah agar tidak mengganggu lingkungan atau menimbulkan efek-efek negatif yang lain. Bahkan juga diusahakan bagaimana caranya mengelola sampah agar dapat bermanfaat bagi manusia dan dapat menambah kesejahteraan penduduk. Adapun cara pengelolaan sampah yang telah dilakukan umumnya masih menggunakan teknologi sederhana. Cara-cara yang telah dilakukan tersebut diantaranya:
1. Resikling
Resikling adalah pemanfaatan kembali barang-barang yang terbuang. Resikling atau daur ulang ini ada yang secara langsung, dan ada yang secara tidak langsung. Yang langsung misalnya sampah berupa botol dibersihkan dan digunakan kembali untuk lampu maupun keperluan yang lain. Yang tidak langsung misalnya botol tersebut bersama pecahan beling yang lain, diolah kembali menjadi barang-barang baru seperti asbak, gelas dan sebagainya.
Dengan cara resikling ini sampah dapat dimanfaatkan kembali. Di kota-kota besar bahkan menjadi lapangan pekerjaan. Pada saai ini sudah tidak terhitung orang yang berprofesi sebagai pemulung atau pedagang sampah yang beberapa diantaranya dapat menjadi kaya raya.
Di kota Solo, kota kabupaten di Jawa Tengah, di sana bisnis sampah ini dapat menghidupi ribuan orang (pemulung). Umumnya sampah hasil resikling ini dijual secara besar-besaran ke Surabaya. Tiap hari peredaran uang sampah dapat mencapai puluhan juta rupiah. Dari kenyataan ini kita dapat membayangkan untuk kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang dan sebagainya, berapa banyak orang yang dihidupi dari bisnis sampah itu.
Meskipun demikian kiranya perlu dicegah terlibatnya anak-anak usia sekolah dalam usaha ini, sebab pekerjaan ini tidak layak untuk mereka di samping mereka sebenarnya memiliki tugas yang lebih luhur yaitu belajar dengan giat untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
2. Insinerasi
Insinerasi adalah menanggulangi sampah dengan cara pembakaran. Insinerasi yang sebenarnya, adalah pembakaran sampah dengan menggunakan dapur bakar. Dengan cara ini memang banyak keuntungan yang diperoleh diantaranya:
a. Mengurangi akibat buruk karena timbunan sampah
b. Mengurangi volume sampah sampai 80%nya
c. Sampah yang campur baur itu dapat langsung dikerjakan, tanpa harus dipisah-pisahkan terlebih dahulu.
d. Sisa pembakaran dapat digunakan kembali
Namun sayangnya insinerasi yang dilakukan di Indonesia masih sangat sederhana, yaitu hanya berupa pembakaran biasa yang mempunyai efek samping berupa asap yang bergumpal-gumpal dan mengganggu pernafasan serta sampah tidak terbakar sempurna. Dengan demikian memang perlu kiranya pemerintah memikirkan untuk pembuatan dapur bakar sehingga kerjanya lebih efektif dan efisien.
3. Briket Arang
Briket arang pertama kali ditemukan oleh Prof. Dr. Ir. Herman Johanes. Cara penanggulangan sampah dengan cara dibuat briket arang memiliki keuntungan ganda pula. Di satu pihak masalah menumpuknya sampah dapat diatasi, di pihak lain briket dapat digunakan unruk berbagai keperluan, seperti memasak, menyetrikan dan sebagainya, sehingga lebih menghemat kayu bakar dan arang kayu. Dengan demikian untuk jangka panjang penggundulan hutan karena pengambilan kayunya unruk bahan bakar dapat dicegah. Cara ini untuk di Indonesia memang masih perlu dikembangkan lebih lanjut, jika perlu diusahakan secara besar-besaran.
Dalam kaitannya dengan ini, langkah yang dilakukan oleh Sri Langka patut dicontoh. Disana sudah ada perusahaan briket arang yang menghasilkan 4.000 kg briket arang tiap hari dalam delapan jam kerja. Pabrik yang baru sedang didirikan lagi, sehingga dengan produksi briket arang ini akan menghemat sepertiga kebutuhan BBM negara dan pengamatan yang paling besar adalah di sektor kayu bakar. Diperkirakan, Sri Langka akan mengalami penggundulan hutan secara total pada tahun 2000 nanti, namun karena briket arang sudah dimasyarakatkan kejadian itu kemungkinan besar dapat dicegah.
4. Kompos
Cara penanggulangan sampah dengan sistim menjadikan sampah menjadi pupuk kompos sudah umum di Indonesia khususnya di daerah pedesaan yang mayoritas penduduknya masih petani. Namun usaha secara besar-besaran kiranya belum dimasyarakatkan, apalagi untuk usaha komersil. Sebagai negara agraris sebenarnya pupuk kompos akan sangat diperlukan, sehingga pengusahaan pupuk kompos (khususnya di daerah perkotaan yang sampahnya menumpuk) untuk mengatasi masalah sampah penting artinya dan perlu menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menanggulangi masalah sampah di Indonesia. Sebagai pupuk, kompos sangat baik untuk memulihkan kesuburan tanah. Keuntungan kompos untuk pemulihan kesuburan tanah adalah sebagai berikut:
a. Kompos merenggangkan tanah sebagai sepon, sehingga banyaknya usara dan air didalam tanah menjadi seimbang. Kompos dapat mengurangi derai tanah pasir. Maka dengan kompos tanah menjadi gembur dan subur.
b. Kompos dapat meningkatkan daya ikat tanah terhadap zat-zat makanan. Sehingga butir-butir makanan tersebut tak mudah larut oleh air. Dengan demikian tanaman tidak kehilangan zat makanan yang sangat dibutuhkan itu.
c. Kompos berfungsi mempertajam daya tanah untuk menyerap kadar air dan mempertahankannya. Akibatnya tanah mampu melayani tanaman dengan air yang cukup.
d. Kompos mampu membantu pupuk pabrik meningkatkan daya kesuburannya. Jadi kompos dapat kerja sama dengan pupuk pabrik tersebut.
5. Konsumsi Ternak
Banyaknya sampah pertanian yang berupa daun jagung, jerami padi, kedelai, kacang tanah dan ketela pohon di daerah pedesaan di Indonesia, mendorong timbulnya gagasan pada Lembaga Kimia Nasional dalam Lingkungan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk mengadakan uji coba memanfaatkan sampah tersebut untuk bahan campuran makanan ternak yang dicampur secara kimiawi, yang akan menjadi makanan ternak yang bermutu. Berdasarkan percobaan tersebut, seekor lembu yang dikonsum dengan bahan olahan ini sehari beratnya dapat naik antara 0,4 – 0,95 kg.
Sebagai tindak lanjut dari pemanfaatan nsampah untuk konsumsi ternak, pada tahun 1981, di Gunungkidul didirikan Stasiun Bahan Makanan Campuran Ternak yang memanfaatkan daun jagung, jerami padi, daun ubi jalar, daun kacang tanah, daun kedelai, daun tebu dan daun lembayung sebagai bahan baku.

6. Penimbunan
Cara ini paling kuno dan paling mudah untuk menanggulangi masalah sampah. Dengan cara ini sampah ditimbun di suatu tempat dan penimbunannya dapat dengan terbuka atau tertutup. Namun untuk masa-masa sekarang dan yang akan datang meskipun lebih murah, cara ini akan menimbulkan masalah tersendiri. Jika sampah tidak dikumpulkan secara seksama, kemudian ditimbuni tanah dengan baik, maka akan berakibat buruk bagi manusia. Sebab sampah akan menjadi sarang binatang seperti tikus dan serangga lainnya. Bahkan menimbulkan bau busuk yang memualkan. Di samping itu pembuangan sampah semacam itu mudah terbakar. Maka wajar tempat pembuangan sampah demikian tidak disukai oleh penduduk sekitarnya. Makin menciutnya lokasi, makin bertumpuknya dan makin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan yanng baik, menyebabkan sulit sekali mencari tempat pembuangan sampah. Namun cara ini masih umum dilakukan, sehingga untuk mengurangi efek negatifnya cara ini sedapat mungkin dikurangi dan jika dapat dihilangkan diganti dengan cara lain yang lebih efektif dan tidak mengganggi kesehatan lingkungan.
7. Kantong Plastik
Gubernur DKI Jakarta pernah menyarankan untuk menggunakan kantong plastik dalam pembuangan sampah. Dengan cara ini sampah dimasukkan kedalam kantong plastik, sehingga mudah diamankan. Bila hujan dimasukkan ke tempat kering. Bila ada kesempatan lekas dibuang ke tempat pembuangan yang tersedia. Dengan jalan gaya kantong plastik ini sampah terpelihara dan lingkungan hidup terjamin kesegarannya.
8. Reklamasi Pantai
Pada awal tahun 1983, Menteri Pekerjaan Umum menyodorkan cara penanggulangan sampah untuk reklamasi pantai. Cara ini menurutnya dapat mengatasi dua masalah sekaligus, yaitu mengatasi onggokan sampah yang menggunung dan dapat mengembalikan kondisi pantai yang geripis tipis akibat abrasi pantai.
Reklamasi pantai adalah mengatur pantai yang rusak dengan menguruk. Dalam hal ini yang dipakai untuk menguruk adalah sampah. Dengan reklamasi pantai nantinya dapat dijadikan hutan lindung atau dijadikan tanah pemukiman. Sebagai contoh di Muara Angke dan Cilincing mampu menampung sampah DKI Jakarta selama empat tahun. Tidak hanya tanah pantai. Rawa-rawa, tetapi tanah yang gersang pun dapat direklamasi dengan sampah-sampah itu. Sehingga tanah yang gersang itu dapat ditanami dengan rumput atau tanaman penghijauan lainnya.
Cara-cara penanggulangan sampah di atas yang sering digunakan di Indonesia, yang pada umumnya teknologinya masih sederhana. Sebenarnya masih banyak cara lain dalam penanggulangan masalah dengan menggunakan teknologi yang lebih tinggi. Cara ini memang mahal namun hasilnya akan lebih memuaskan. Cara tersebut diantaranya adalah cara destilasi dan cara pirolisa.
Destilasi adalah cara pemusnahan sampah dengan memasukkan sampah ke dalam ruangan tertutup. Kemudian dipanasi tanpa diberi udara. Dengan cara demikian, maka sampah yang dipanasi akan mengeluarkan bermacam-macam gas. Gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Misalnya digunakan untuk pembangkit tenaga listrik dan sebagainya. Karena dilakukan dalam ruang tertutup, maka cara destilasi ini tidak menimbulkan akibat sampingan yang mengganggu manusia.
Penanggulangan sampah dengan cara pirolisa adalah pemanasan sampah dilingkungan kurang udara. Derajad panasnya sampai mencapai 400 – 1000°c. Hasilnya tergantung dari bahan yang digunakan dan tergantung pada situasi dan kondisinya. Tetapi secara umum pembakaran pirolisa ini akan menghasilkan arang, minyak dan gas. Dengan demikian pirolisa ini mempunyai hasil yang ganda.
Di samping cara yang modern tersebut, ada cara sederhana yang dapat lebih besar kemungkinannya dilaksanakan di Indonesia yaitu dengan cara gunung sampah. Cara ini telah diterapkan di Amerika Serikat. Di Cicago, Amerika, terdapatlah tanah buruk tempat pembuangan sampah. Berdasarkan pemikiran pemerintah di sana, sampah yang dibuang ke tempat pembuangan tersebut ditimbun dengan tanah lumpur atau tanah waled yang diperoleh dari pengerukan lumpur di waduk yang banyak mengalami pendangkalan. Maka terjadilah gunung yang tadinya tempat buangan sampah. Gunung itu saat ini indah sekali karena ditanami pepohonan yang indah dan dapat tumbuh dengan subur, sehingga akhirnya menjadi tempat wisata yang mengasyikkan. Tanah buruk itu sekarang diberi nama Mount Trashmore, yakni gunung sampah.
Di Indonesia, biaya untuk pengelolaan sampah tidaklah sedikit. Sampai-sampai pemerintah menyisihkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mengelola sampah. Jelas bahwa sampah sudah menjadi masalah nasional. Melalui dana APBN di bidang persampahan telah dibelikan peralatan untuk pengumpulan dan pengangkutan sampah untuk 13 kota di seluruh Indonesia.
Selain itu melalui dana APBN dengan menggunakan bantuan luar negeri, telah diberikan pinjaman bagi kota-kota tertentu untuk meningkatkan pelayanan persampahan. Kota-kota tersebut diantaranya Denpasar, Bandung, Surabaya dan Jakarta.
Di Surabaya, biaya untuk 1 m3 sampah memerlukan uang sebesar Rp. 450,00. Dan setiap harinya mengeluarkan biaya untuk mengelola sampah sebesar Rp. 2.500.000,00 (baca: dua juta lima ratus ribu rupiah). Maka dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Pemerintah Daerah Kotamadya Surabaya harus menyisihkan uang sebesar 200 juta rupiah untuk sampah. Anggaran sebesar 200 juta rupiah tersebut di luar bantuan dari Pemerintah pusat yang berupa peralatan angkutan sampah.

DAFTAR PUSTAKA

Amsyari, Fuad. 1981. Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan. Jakarta:Ghalia Indonesia

Bintarto. 1984. Interaksi Desa Kota dan Permasalahanya. Jakarta: Bina Aksara.

Daldjoeni. 1982. Penduduk, Lingkungan dan Masa Depan. Bandung: Penerbit Alumni.

Daldjoeni. 1986. Manusia Penghuni Bumi. Bandung:Penerbit Alumni

Darmanto, Darmokusumo. 1984. Permasalahan Lingkungan Sumberdaya Air. Yogyakarta: Fakultas Pasca Sarjana UGM.

Dirdjosumarto, Soendjojo. 1986. Ekologi Lanjutan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Hutabarat, Sahala dan Evans, S. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta: UI Press.

Mahida, UN. 1986. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Jakarta: CV Radjawali.

Mardiya. 1992. Lingkungan Hidup, Permasalahan dan Pengelolaannya di Indonesia. Yogyakarta: SMA N 7 Yogyakarta.

Martopo, Sugeng. 1989. Masalah Lingkungan di Indonesia. Yogyakarta: PPLH UGM.

Resosudarmo, dkk. 1984. Pengantar Ekologi. Badung. Remaja Karya

Salim, Emil. 1985. Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.

Salim, Emil. 1986. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Jakarta: LP3ES.

Soemarwoto, Otto.1989. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Soerjani, dkk. 1985.Lingkungan Hidup. Yogyakarta: PPLH UGM.

Suhadi. 1984. Sampah dan Lingkungan Hidup Manusia. Jakarta: Penerbit Kucica

Sukarni, Mariyati. 1994. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Thohir, Kaslan A. 1985. Butir-butir Tata Lingkungan. Jakarta: Bina Aksara.

Undang-Undang No 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan.

Wuryadi. 1990. Lingkungan Hidup. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta

Zen, MT. 1982. Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup. Jakarta: PT Gramedia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s